
Tuan Ganan berjalan mendekati putra keduanya, kemudian kedua tangan Beliau memegangi tangan milik putranya.
"Marah lah dengan Papa, bukan pada Kakak kamu. Karena Papa yang menyetujui pernikahan Kakak kamu dengan perempuan yang kamu sukai, yakni Aishwa teman sekolah kalian berdua." Ucap Tuan Ganan dengan tatapan yang serius.
Zakka yang mendengar penuturan dari sang ayah, tatapannya berubah menunduk. Tanpa bersuara, Zakka langsung pergi begitu saja tanpa berucap sepatah kata pun.
"Zakka, tunggu." Panggil Rey sambil mengejar langkah kaki saudara kembarnya.
Disaat itu juga, Zakka berhenti. "Mau apa lagi? aku sedang tidak ingin diganggu, pergilah." Ucap Zakka tanpa menolah kebelakang.
"Aku bisa jelaskan semuanya, masih ada bukti yang harus kamu tahu." Kata Rey mencoba untuk menunjukkan bukti yang sebenarnya.
"Apa yang mau kamu jelaskan, aku tidak butuh penjelasan dari mu. Yang jelas, aku tidak lagi percaya dengan mu. Kamu tidak berbeda jauh dengan pecundang, yang bermain dari belakang, paham." Ucap Zakka sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan juga dengan sorot matanya yang tajam menatap lurus kedepan.
"Zakka, aku mohon izinkan aku untuk memjelaskannya padamu. Aku akan menunjukkan sebuah bukti agar kamu percaya denganku, ayo lah dengarkan penjelasanku terlebib dahulu. Kamu hanya melihat bukti pernikahan ku saja, tapi kamu tidak mendengar alasannya." Kata Rey yang terus mencoba untuk membujuk saudara kembarnya, Zakka akhirnya menoleh kebelakang.
"Bukti, bukti apaan? alasan, alasan apa lagi? ingat ya! aku sudah tidak mempercayai kata katamu lagi. Walaupun kamu sebagai Kakak sekalipun, aku tidak akan percaya dengan omongan busuk mu itu." Ucap Zakka sambil mendorong saudara kembarnya hanya dengan jari telunjuknya, Rey hanya diam menatap adik laki lakinya.
Karena rasa sakit hatinya begitu dalam akibat kekecewaan yang ia dapatkan, akhirnya Zakka pergi tanpa berpamitan. Entah kemana ia pergi, Zakka tidak luput dari pengawasan orang tuanya.
"Zakka, Zakka! Zakka." Panggil Rey berulang ulang, berharap sang adik mau mendengarkan penjelasan serta menunjukkan sebuah bukti alasan ia menikahi perempuan yang sama sama disukainya.
__ADS_1
"Cukup, Rey. Biarkan Zakka pergi, dia butuh waktu untuk menenangkan diri serta membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan." Kata sang Kakek mencegah cucu pertamanya agar tidak gegabah melakukan sesuatu yang cukup rumit untuk diselesaikan.
Rey yang tidak lagi melihat bayangan saudara kembarnya, ia kembali mendekati Kakek Angga dan Ayah nya. Kemudian, Bunda Maura dan Omma Qinan menghampirinya.
"Kenapa kamu tidak mencegah Zakka? kalau dia berbuat nekad, bagaimana?" tanya Bunda Maura pada suaminya.
"Kamu tidak perlu khawatir, langkah kaki Zakka selalu diikuti oleh anak buahku. Lebih baik kamu istirahat saja di kamar, nanti aku akan menyusul." Jawab Tuan Ganan meyakinkan istrinya.
"Tapi, aku sangat khawatir dengan keadaan Zakka. Kalau dia tidak bisa mengontrol emosinya, bagaimana? aku sangat takut terjadi sesuatu padanya." Ucap Bunda Maura penuh kekhawatiran.
Bagaimana tidak khawatir, tentu saja perasaan seorang ibu akan jauh semakin setres ketika memikirkan keadaan putranya yang tengah dirundung kesedihan.
"Percuma kita mengejarnya, emosi Zakka sedang meluap. Biarkan dia untuk menenangkan pikirannya, doakan saja yang baik baik." Jawab Tuan Ganan yang tidak ingin membuat istrinya terlalu mengkhawatirkan dan mengakibatkan kesehatannya menurun.
"Yang dikatakan Mama itu ada benarnya, kejar lah Zakka. Kasihan putra kita, dia sedang tidak baik baik saja hatinya. Dia butuh penyemangat dari mu, jangan patahkan hatinya." Pinta Bunda Maura yang juga tidak tega melihat putranya larut dalam kesedihan.
"Ya Pa, yang dikatakan Omma memang benar. Ajak Zakka untuk pulang, kasihan dia. Ini memang salah Rey yang tidak berkata jujur dari dulu. Mungkin saja tidak akan semarah ini, jika Rey berterus terang padanya." Ucap Rey yang juga meminta sang ayah untuk segera menyusul saudara kembarnya.
"Semua memintamu untuk menjemput Zakka, cepat lah berangkat dan ajak putramu untuk pulang." Perintah Kakek Angga juga ikut cemas pada cucunya.
Tuan Ganan yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Beliau menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Tuan Ganan mengajak salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Beliau menjemput putranya.
__ADS_1
Rey yang baru tersadar dengan keadaan istrinya, ia segera menelpon Sela yang menjadi teman akrab istrinya.
"Ma, Kakek, Omma, Rey boleh pamit pergi, tidak?" pinta Rey meminta izin.
"Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Bunga Maura.
"Tadi Rey mendapatkan kabar, jika Istrinya Rey sakit. Jadi, Rey mau minta izin untuk menemuinya. Oh ya, Rey sampai lupa. Neyla dan Seyn, bagaimana dengan mereka berdua, Ma?" jawab Rey dan kembali bertanya mengenai adik perempuannya.
"Neyla dan Seyn baik baik saja, mereka berdua langsung pulang ke rumah. Istri kamu sakit? kenapa bisa bisanya kamu mengabaikan keadaan istri kamu. Cepat, temui istri kamu. Soal Zakka, kamu tidak perlu khawatir. Masih ada hari esok kamu bisa menemuinya, kamu masih ada waktu untuk berbicara dengannya. Tapi tidak untuk sekarang, kesehatan istri kamu jauh lebih penting dari apapun." Ucap sang Ibu.
"Benar, cucu ku. Jangan menunggu nanti, sekarang juga cepat lah berangkat temui istrimu. Kamu tahu? Omma dan Mama kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri kamu, perempuan yang diperebutkan oleh keduanya. Omma yakin jika istrimu sangat istimewa, buruan berangkat." Kata Omma Sinan ikut menimpali.
"Sudah sana pergi, buruan temui istri kamu. Yang pasti istrimu sangat mengharapkan kedatangan mu." Ucap Kakek Angga yang juga ikut menimpali, Rey pun mengangguk dan mengiyakan. Kemudian ia segera bergegas pergi menemui istrinya, sedangkan Bunda Maura segera kembali masuk ke kamarnya. Kini, tinggal lah Omma Qinan dan Kakek Angga.
"Masa lalu kita kenapa mesti terulang lagi? apakah ini sebuah kutukan untukku?" tanya Kakek Angga pada istrinya dan membuang napasnya kasar.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kita, antara aku dan kamu. Mungkin hanya kebetulan saja, jangan melibatkan sesuatu yang jauh dari nalar kita." Kata Omma Qinan sambil berjalan beriringan dengan Kakek Angga menuju kamarnya.
"Aku teringat saat aku menjadi orang yang paling egois dan juga bisa dikatakan cukup kejadian, bagaimana aku memperlakukan mu dulu yang bisa dibilang kejam." Ucap Kakek Angga kembali teringat akan kesalahannya dimasa lalunya.
"Kita sudah sama tuanya, kita sudah mempunyai cucu. Bahkan mungkin saja kita akan segera menerima cicit dari Rey, ya 'kan?"
__ADS_1
"Ya juga ya, rupanya kita tidak lagi muda." Ucap Kakek Angga sambil membuka pintu kamarnya.
Sedangkan dalam perjalanan, Rey tengah mengkhawatirkan keadaan istrinya. Secepat mungkin ia segera mengetahui keadaan istri tercintanya.