
Waktu pun telah berganti, siang dan malam. Hari hari Zakka yang tidak lain hanya mengitari taman belakang dan ditemani sang ibundanya tercinta. Tidak hanya itu saja, Omma Qinan dan Kakek Angga maupun Tuan Ganan ikut andil dalam perannya untuk menemani Zakka.
Sedangkan Reynan, ia melakukan aktivitasnya sebagaimana dirinya menjadi kepala keluarga di rumahnya, meski calon buah hatinya belum hadir ke Dunia. Rey dan Aish sudah tidak sabar untuk menyambut hadirnya sang buah hati. Selain itu, Rey tak lepas dari kesibukannya dalam pekerjaannya di dunia Kantornya.
Hari berganti minggu, dan berganti bulan, Rey dan Aish menikmati hidupnya dengan caranya sendiri. Tetap saja, keduanya semakin kompak dan saling melengkapi satu sama lain.
Begitu juga dengan seorang gadis yang masih berusia belasan tahun, ia tak pernah merasa lelah dengan pekerjaannya. Pagi, siang, malam, hanya berapa jam untuk beristirahat. Namun tidak membuatnya patah semangat untuk menggapai cita citanya. Sela Ramdani, nama yang tidak mempunyai kepopuleran seperti orang orang ternama lainnya.
Sela menikmati perjalanan hidupnya dengan caranya tersendiri. Tidak munafik jika dirinya ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tapi apa daya yang hanya bisa berubah sebagaimana bisanya.
Pak Ramdan, selaku menjadi orang tua Sela. Beliau mempunyai dua anak perempuan dan satu laki laki. Sela anak yang pertama, namun nasibnya yang harus menjadi tulang punggung ketika ayahnya jatuh sakit.
Hari hari pak Ramdan hanya menjadi pengasuh kedua anaknya yang masih kecil. Hadirnya Sela seakan menjadi malaikat penolong bagi pak Ramdan.
"Papa, Sela berangkat dulu ya." Ucap Sela berpamitan dan tak lupa untuk mencium punggung tangan milik ayahnya.
"Ya, Nak. Hati hati dalam bekerja, jangan ceroboh." Jawab Pak Ramdan tak lupa untuk mengingatkan putrinya.
"Ya, Pa. Sela nitip adik adik dirumah, kalau Papa ada sesuatu yang sangat penting, Papa bisa hubungi Sela." Ucap Sela, kemudian mengulurkan tangannya pada kedua adik kecilnya. Sela tak pernah lupa untuk membiasakan mengajari adik adiknya untuk mencium tangan dengan takdzim.
Setelah berpamitan, Sela segera berangkat bekerja. Seperti biasa, Sela lebih memilih naik sepeda dari pada membawa motor matic nya.
"Cie ... udah segeran aja nih, menang undian ya Sel." Ledek Winda yang sudah dianggap kakaknya sendiri.
"Kak Winda, apa apaan sih. Tidak ada undian, yang ada mah capek doang, Kak." Jawab Sela sambil meletakkan tas kecilnya, kemudian tak lupa ia membuka pesanan apa saja yang sudah masuk di daftar pengiriman.
__ADS_1
Satu persatu, Sela membacanya dengan teliti. Bahkan tak ada satupun yang terlewatkan, dan akhirnya terkejut pada pesanan dinomor urutan yang terakhir.
"Pesanan kueh ulang tahun, Zakka Wilyam. Yang benar aja ini, aku sedang tidak salah membaca, kan ya." Ucapnyw dengan lirih, tetap aja masih dapat didengar sama orang yang ada didekatnya.
"Kenapa ekspresi kamu mendadak tak berdaya begitu, Sel."
"Kak Winda, tidak apa apa. Memangnya pesanan yang terakhir ini benar, ya. Maksud aku pesanan kueh ulang tahun yang tingginya satu meter, yang benar aja."
"Benar lah, ngapain juga untuk bohong. Cie ... yang bakal dapat undangan dari cowok idaman, bakal kek menang lotre nih." Lagi lagi Winda terus menggoda Sela, yang digoda justru bergidik ngeri mendengarnya.
"Dih, Kak Winda ini ada ada saja kalau meledek. Tidak ada efeknya loh kak, mau diundang ataupun tidak. Lagian juga siapanya Sela, kak? yang ada itu si Sela berhutang budi dengan keluarganya. Bukan berarti ada sesuatu didalam adonan kueh, Kakak Winda tercantik di Toko kueh ini." Sahut Sela tetap pada pendiriannya untuk tidak mudah terpancing dengan gurauan dari seorang Winda.
"Hem, sudah lah ayo kita lanjutkan tugas kita hari ini. Kalau untuk pesanan dari keluarga Wilyam, nanti malam untuk mengantarkannya kesana. Dengar dengar sih acaranya reoni satu sekolahannya di rumahnya, luas juga pastinya itu. Semangat dong Sel, nanti malam loh." Ucap Winda yang terus menggoda dan meledek.
"Sudah deh Kak, jangan dipanjang panjangin itu gosip, tugas kita ini menyelesaikan pekerjaan." Jawab Sela yang tidak ingin terus menerus membahas soal Zakka, pikirnya.
Sedangkan di kediaman keluarga Wilyam, Zakka berada di taman belakang. Tepatnya untuk duduk santai bersama sang ibu dan Omma Qinan.
"Zakka, teman teman kamu tidak ada yang lupa untuk diundang, 'kan?" tanya sang ibu untuk mengingatkan kembali pada putranya.
"Tidak ada yang tertinggal, Ma. Zakka sudah menghubungi Afwan dan Yunda untuk memastikannya lagi, dan katanya sudah cukup." Jawab Zakka yang masih duduk dikursi rodanya.
"Kamu serius nih, kita semua takut jika kamu tidak percaya diri jika bertemu dengan teman teman kamu. Ingat Zakka, kamu bisa pikirkan lagi." Tanya ibu mencoba untuk mengingatkannya, takut jika putranya akan merasa sakit hati ketika dirinya tak bernasib baik seperti teman teman sekolahnya.
"Zakka serius kok, Ma. Untuk apa merasa minder, jika memang ini kenyataannya. Zakka masih ada Mama dan juga ada Papa yang selalu menyemangati Zakka serta memberi perhatian penuh pada Zakka. Tidak hanya itu saja, ada Omma dan Kakek yang selalu mendukung Zakka." Jawab Zakka yang tidak lagi menunjukkan kesedihannya.
__ADS_1
"Mama sangat bangga sama kamu, sayang. Tetap semangat, ya. Percayalah jika kamu terus semangat, kamu pasti akan melewatinya tanpa beban yang berat. Namun jika kamu mudah menyerah dan hilangnya semangat, maka kamu akan menyudutkan diri kamu sendiri." Kata sang ibu yang terus menyemangati putranya.
"Bisik bisik nih, ada kabar apa lagi hari ini? kelihatannya senang banget nih."
"Papa, ngagetin aja deh. Kita berdua itu sedang menikmati pagi yang cerah, secerah harapan Zakka putra kita." Sahut Bunda Maura yang tidak lupa dengan senyum yang mengembang.
"Oh ya, bagaimana dengan pesanan kuehnya? sudah dipesan, 'kan?"
"Sudah, sejak semalam Mama sudah mengirim pesan ke Toko kueh nya Aish." Jawab Bunda Maura, sedangkan Zakka mencoba untuk mengatur pernapasannya.
"Kirain Papa belum, makanya Papa mengingatkan. Kalau begitu Papa berangkat ke Kantor dulu, ya. Zakka, baik baik di rumah. Dan buat Mama, jangan biarkan Zakka sendirian." Ucap Tuan Ganan berpamitan.
"Ya, Pa. Hati hati di perjalanan, jangan terlambat pulangnya ya, Pa." Jawab Zakka dan berpesan, Tuan Ganan pun mengangguk dan mengiyakan.
Setelah berpamitan, Bunda Maura dan Zakka tak lupa untuk mencium punggung tangan milik Tuan Dicko bergantian. Kemudian Tuan Ganan segera bergegas pergi ke Kantor setelah berpamitan. Kini tinggal lah Zakka dan Bunda Maura di taman belakang.
Setelah Tuan Ganan pergi ke Kantor, Bunda Maura mengajak putranya untuk masuk kedalam rumah.
"Zakka, ayo kita masuk ke rumah. Sinar matahari sudah mulai terasa panas, waktunya untuk membersihkan diri." Ajak Bunda Maura, Zakka pun mengiyakan.
Sampai didalam rumah, Zakka diambil oleh orang kepercayaan Tuan Ganan untuk merawat putranya.
"Zakka, kamu mandi dulu aja. Seperti biasa, Mama mau menyiapkan pakaian kamu." Ucap Bunda Maura yang selalu menyiapkan pakaian untuk putranya.
Sampainya didalam kamar putranya, Bunda Maura duduk sejenak di bibir tempat tidur.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini, Zakka? bukan tidak mau merawat kamu, tapi ... apakah kamu tidak akan bosan melewati hari harimu yang seperti ini tak ada perubahan. Apa perlu Mama carikan istri untuk kamu, Zakka. Agar hari harimu ada yang menemani dan menghiburmu dan menjadi penyemangat hidupmu sepenuhnya." Gumam Bunda Maura sambil menatap lurus pada tembok.