Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Akhirnya merasa lega


__ADS_3

Sampainya didalam kamar, Zakka dibantu Sang ayah dan asisten rumah untuk memindahkan Zakka ke tempat tidurnya.


"Untuk sementara, kamu akan tidur dikamar ini. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu tinggal tekan tombolnya." Ucap Tuan Ganan dan menunjukkan tombol panggilan untuk Zakka.


"Tidak apa apa kan, sayang? nanti kalau sudah mendingan kamu bisa pindah ke kamar kamu lagi." Timpal ibunda Maura sambil meletakkan air minum dimeja kecil yang ada disebelah putranya.


"Tidak apa apa kok, Ma. Zakka ngerti kok maksud kalian semua, pasti demi kesembuhan untuk Zakka, kan? em ... bolehkah Zakka untuk sendirian? Zakka ingin sendirian dulu." Ucap Zakka, kemudian dengan cara halus ia mengusir kedua orang tuanya dan sang kakek maupun Omma Qinan.


Karena tidak ada alasan selain menuruti keinginan dari Zakka, akhirnya semuanya keluar dari kamar dan meninggalkan Zakka didalam kamar sendirian.


"Istirahat lah, sayang." Ucap sang Ibu, kemudian segera keluar dari kamar dan juga yang lainnya termasuk Tuan Ganan.


Setelah tak ada lagi yang ada didalam kamar selain Zakka, akhirnya ia mencoba memejamkan kedua matanya. Mata terpejam bukan berarti tidur, melainkan ingin melupakan segalanya yang sudah masuk dalam memori hatinya dan juga ingatannya.


Pelan pelan Zakka menarik napasnya panjang, kemudian ia membuangnya dengan kasar. Zakka kembali membuka kedua matanya dan menetap lurus pada langit langit kamar sementaranya.


"Inikah sulitnya melupakan dari pada mencintai? menyakitkan namun tidak terlihat, terluka namun tak berdarah." Gumam Zakka masih menatap langit langit kamar.


Disaat itu, Zakka menoleh kearah sebelahnya. Dilihatnya sebuah benda pipih diatas nakas, lalu mencoba merubah posisinya untuk bersandar pada kepala ranjang tempat tidurnya. Kemudian diraihnya benda itu, dan diperhatikannya dengan seksama.


Senyum dicampur dengan perasaan sedih, Zakka mengusap layar kuncinya. Karena tidak ingin menjadikan sebuah kenangan akan selalu menghantui pikirannya, Zakka membuka galeri didalam ponselnya itu.


Saat pertama ia buka, muncul lah sebuah foto yang sangat ia rindukan masa masa yang penuh kenangan. Yang dimana dulunya Zakka selalu mencuri waktu untuk mengambil gambar seorang perempuan yang sangat ia kagumi hingga kini tak mampu berbuat apa apa selain menjaga hatinya sendiri terluka.


"Aishwa, kamu sudah mencuri separuh hatiku ini. Aku tak tahu siapa yang akan menggantikan hilangnya separuh hatiku ini, akankah aku akan terus merasa kehilangan? tidak! aku masih ingin menunjukkan pada semua orang jika aku mampu untuk melewatinya." Gumamnya sambil menatap sebuah foto yang hanya bisa dijadikan kenangan pahitnya.


Zakka yang tidak ingin terganggu dalam masa kesembuhan atas luka pada kaki kanannya, Zakka memilih untuk menghapus semua foto yang dapat mengingatnya kembali.


"Aku harus melupakannya, aku harus bisa berjuang demi aku bisa bahagia seperti yang lainnya." Ucapnya yang tanpa sadar jika Bunda Maura sudah berada di dekatnya.


"Itupun tidak cukup jika kamu harus melupakan semuanya tanpa adanya sebuah pengganti, Zakka." Ucap Bunda Maura mengagetkan, Zakka pun lamgsung menoleh kearah sumber suara yang tidak lain sudah berdiri disebelahnya sendiri.


"Mama, kenapa Mama sudah ada disini?" tanya Zakka yang terkejut saat mendapati ibunya sudah berada di dekatnya.


"Mama hanya ingin melihat kamu saja, tidak lebih. Ah ya, ini ada cemilan untuk kamu biar tidak kesepian saat berada di kamar sendirian." Jawab Bunda Maura, kemudian menyodorkan nya pada Zakka.

__ADS_1


"Mama bisa aja deh, hem. Pokoknya terima kasih banyak deh buat Mama." Kata Zakka dan menerima satu wadah cemilan dari Bunda Maura yang tidak lupa juga ada buah disebelah cemilan yang dibawakan ibundanya dari dapur.


"Pokoknya kesehatan kamu itu jauh lebih penting dari memikirkan sesuatu yang tidak tidak, termasuk sesuatu yang tidak penting untuk kamu pikirkan." Ucap Bunda Maura mengingatkan, Zakka pun tersenyum mendengarnya.


"Ya, Ma. Tenang aja, Zakka akan menuruti apa yang sudah Mama ingatkan pada Zakka. Termasuk untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak penting, Zakka sudah memikirkannya matang matang kok, Ma." Kata Zakka tak lupa untuk tersenyum.


"Ya sudah, lebih baik kamu nikmati dulu cemilannya. Mama juga ingin istirahat, bau obat obatan di rumah sakit membuat kepala semakin pusing. Kalau begitu Mama tinggal dulu ya, sayang. Jika kamu ada apa apa, cukup tekan tombolnya." Ucap Bunda Maura, kemudian Beliau segera keluar dari kamar putranya itu. Sedangkan Zakka mengiyakan dan kini tinggal lah dengan kesendiriannya berada didalam kamar barunya.


Sedangkan di rumah sakit masih ada Sela yang tengah menemani sang ayah yang terbaring di ranjang pasien.


Waktu untuk jadwal operasi orang tua Sela akhirnya dipercepat demi keselamatan Beliau dari jeratan penyakitnya yang sudah memakan waktu cukup lama tanpa adanya pengobatan dengan rutin.


Karena keterbatasan sebuah dana untuk kesembuhan pak Ramdan selaku ayah Sela, mau tidak mau tak mampu untuk menolak bantuan orang lain.


"Pa, hari ini rupanya jadwal Papa untuk dilakukan operasi agar segera pulih dan sehat kembali." Ucap Sela penuh harap tentang kesembuhan sang ayah.


"Papa nurut kamu saja, Sela. Semua semata mata demi kesembuhan Papa dan juga terlepas dari penyakit yang Papa punya." Jawab Pak Ramdan meyakinkan putrinya, Sela hanya bisa menganggukan kepala.


Tidak lama kemudian datanglah beberapa perawat untuk dilakukannya operasi pada jantung milik orang tuanya Sela. Dengan perasaan lega, akhirnya Sela dapat tersenyum lega ketika orang tuanya tidak melakukan penolakan apapun demi kesembuhan Beliau.


Setelah semuanya beres, Sela mengikuti orang tuanya sampai berada didepan pintu. Disaat itu juga, perasaan Sela semakin tidak karuan ketika mendapati ayahnya yang sedang dilakukan operasi.


Cukup lama Sela menunggu ayahnya yang sedang mendapatkan penanganan dari beberapa Dokter yang tengah melakukan operasi pada jantung orang tuanya.


Sela yang sedari menunggu, ia tak lupa berdoa untuk kesembuhan orang tuanya. Tidak hanya kesedihan yang ia rasakan, air matanya pun turut membasahi kedua pipinya yang mulus itu.


"Sela," panggil seorang perempuan paruh baya memanggil namanya. Kemudian mendekatinya dan duduk disebelah Sela.


"Tante Melin," sebutnya terkejut.


"Ya, ini Tante Melin. Yang sabar, ya. Kamu pasti bisa untuk melewati ujian ini, kamu anak yang kuat dan juga tegar." Ucap Ibu Melin dan merangkul Sela dan memeluknya erat, dan tak lupa mengusap punggungnya.


"Sudah sudah, kamu jangan menangis terus menerus. Lebih baik kamu doakan Papa kamu, semoga Beliau diangkat penyakitnya dan lekas sembuh." Ucap Ibu Melin, kemudian melepaskan pelukannya.


Pelan pelan Ibu Melin mengusap air mata Sela dengan ibu jarinya, lalu mengajaknya tersenyum.

__ADS_1


"Papa kamu pasti sembuh, karena Papa kamu orang yang kuat. Oh ya, ini Tante bawakan makanan untuk kamu. Ayo Tante temani kamu makan siang, jangan menolak. Kamu tahu? kesehatan itu sangat lah penting, jangan kamu abaikan itu. Kalau kamu tidak mau makan, lalu siapa yang akan merawat Papa kamu? jadi, ayo Tante temani kamu makan siang. Ya ... walaupun belum jam dua belas siang, tapi sebaiknya kamu makan terlebih dahulu." Ucap Ibu Melin, kemudian Beliau mengajaknya untuk makan siang.


Sela yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya hanya bisa nurut sama Ibu Melin.


"Maafkan Sela yang udah ngerepotin Tante. Terima kasih banyak ya, Tante." Ucap Sela merasa tidak enak hati. Ingin menolak, tetapi ia sangat membutuhkannya.


"Jadi, ayo kita makan siang." Ajak Ibu Melin untuk makan siang bersama.


Karena tidak ingin melihat Sela terasa canggung, Ibu Melin memilih untuk ikut makan bersama. Selain itu, Sela tidak merasa sendirian ketika mengisi perutnya yang kosong.


'Kak Aish benar benar sangat beruntung, ya. Andai saja aku seberuntung kak Aish, masih mempunyai kedua orang tua yang lengkap. Bahkan memilki seorang suami yang begitu penyayang, itu pasti mimpi bagiku.' Batin Sela disela Sela ia menyuapi diri sendiri.


"Sela, makan kok sambil melamun. Nanti kamu salah ambil, tuh kan ... kamu hanya menyendoki nasinya saja." Tegur Ibu Melin untuk mengingatkannya, Sela pun tersenyum malu ketika dirinya tersadar yang sedari tadi hanya menyuapi dirinya itu dengan suapan nasi saja.


"Maaf, Tante. Sela hanya kepikiran Papa, Sela takut terjadi apa apa." Jawab Sela yang akhirnya ia terpaksa untuk beralasan, meski apa yang dipikirkan itu tak sama dengan alasan yang ia buat.


"Sudah Tante ingatkan, jangan memikirkan sesuatu yang berlebihan. Buat lah hatimu dengan tenang, percayalah sama Tante jika Papa kamu baik baik saja." Ucap Ibu Melin, Sela pun menganggukkan kepalanya.


"Sekarang habiskan dulu makanannya, setelah itu kita makan buah, ok. Jangan terlalu bersedih, yang ada nanti kesehatan kita ikut menurun." Kata Ibu Melin mengingatkan.


"Ya, Tante. Terima kasih banyak atas perhatiannya, Tante. Maafkan Sela yang sudah merepotkan Tante. Ini pasti kak Aish yang memberi kabar sama Tante." Ucap Sela merasa tidak enak hati, namun mau bagaimana lagi jika dirinya sangat membutuhkan bantuan, pikir Sela dengan pikirannya yang sedang penat dikepalanya.


"Ya, tadi Aish yang memberi kabar pada Tante. Kebetulan juga Tante tidak mempunyai kesibukan, akhirnya Tante langsung berangkat ke rumah sakit." Jawab Ibu Melin.


Setelah selesai makan siang, Sela ikut membereskan bawaan dari Ibu Melin. Kemudian lanjut makan buahnya sambil menunggu Pak Ramdan keluar dari ruang operasi.


Cukup lama menunggu jalannya waktu operasi, tidak memakan waktu yang lama, Sela pun langsung menghampiri seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Tersebut.


"Bagaimana dengan operasinya orang tua saya, Dok?" tanya Sela dengan perasaan campur aduk.


"Operasi berjalan dengan lancar, sekarang pasien akan dibawa ke ruang rawat." Jawab sang Dokter.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Dok." Kata Sela mengucapkan ra syukurnya.


"Ya, sama sama. Kalau begitu saya pamit untuk kembali ke ruangan kerja saya, permisi." Jawab sang Dokter sekaligus berpamitan.

__ADS_1


Sela tersenyum lega, apa yang ditakutkan kini tak menjadi pikiran buruknya.


"Tante, akhirnya yang Sela tunggu tunggu membuahkan hasil yang melegakan." Ucap Sela setelah menghampiri seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


__ADS_2