Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Dihadang


__ADS_3

Aish yang mendengar nasehat dari sang ayah pun hanya mengangguk, setelah itu Aish mencuri piring kotornya. Kemudian, segera ia kembali ke kamarnya.


Didalam kamar, Aish mengganti pakaian kesehariannya. Lalu, Aish kembali merebahkan tububnya diatas tempat tidur yang berukuran kecil. Tanpa Aish sadari tengah tertidur pulas sambil memeluk foto mendiang ibunya.


Sedangkan di tempat Asrama, tepatnya Reyhan dan Zakka kini sedang berkeliling di Area Asrama. Lokasinya tidak begitu jauh dari sekolahan yang akan dijadikan tempat belajar oleh keduanya.


"Kak Rey," panggil Zakka yang tertinggal di belakang.


"Hem." jawabnya berdehem.


"Kak, kita pulang saja yuk. Tidak enak tau tempatnya, semua laki laki. Lihatlah, mataku benar benar sepet nih, Kak. Satu cewek bening saja tidak nampak, menyeramkan." Ucap Zakka yang sifatnya mudah berbaur dan tidak dingin seperti Reynan.


"Kalau mau pulang, tinggal pulang saja. Tidak perlu mengajakku, aku tidak mau pulang." Jawab Rey yang membuat Zakka tidak habis pikir dengan saudara kembarnya itu.


"Serius kah? bahwa kakak mau tetap bertahan disini? sepi, sunyi dan hening. Oh, no! aku tidak sanggup. Setiap hari harus melihat sesama jeruk tanpa diembeli yang bening bening, setidaknya kita melihat sosok wanita yang bisa nyuci mata." Ucap Zakka yang terus membujuk sang kakak, namun sayangnya Rey tetap pada pendiriannya untuk bertahan.


"Zakka! kamu itu, wanita dan wanita terus yang ada di dalam pikiran kamu itu. Kamu itu seharusnya fokus belajar, kamu itu masih kecil." Bentak Reynan yang terasa bising mendengar ocehan dari sang adik, Rey pun segera pergi meninggalkan saudara kembarannya itu yang masih dilingkungan Asrama.


"Sebenarnya ada apa sih dengan kak Rey? sejak lulus sekolah perasaan banyak diam, apa ada sesuatu yang dipendam? jadi penasaran." Gerutu Zakka sambil mengacak rambutnya yang sudah rapi.


Karena tidak ada kegiatan, Reynan kini sudah kembali didalam kamarnya. Segera ia membuka laptopnya. Alih alih dirinya mencari bahan untuk belajar, agar pikirannya tidak merasa jenuh berada di dalan Asrama yang tidak kalah bedanya dibalik jeruji besi.

__ADS_1


Begitu juga dengan Zakka yang akhirnya memilih untuk kembali ke kamarnya, lalu meraih laptopnya dan menyibukkannya diatas tempat tidur.


Zakka sendiri tidak bisa diam, ia terus menyibukkan dirinya dengan laptopnya. Dengan kecerdasannya, Zakka mulai belajar tentang bisnis dan lain sebagainya. Meski diusianya yang masih terbilang sangat muda, Zakka tidak kalah pintarnya dengan sang kakak. Hanya saja, Zakka lebih banyak bicara daripada saudara kembarnya.


Dilain tempat, yaitu di dalam rumah yang sangat sederhana sekali ada sosok gadis remaja tengah bersiap siap untuk pergi mengaji.


"Aish ... jika kamu pulangnya kemalaman, kamu bisa mampir di rumah tante kamu. Nanti Papa yang akan menjemput kamu, dan kamu tidak perlu diantar oleh Yahya. Papa tidak menyukai hal seperti itu, lagian masih ada tante kamu yang rumahnya bersebelahan dengan pak Yai." Ucap sang ayah mengingatkan.


"Iya Pa, nanti Aish akan mampir di rumah tante. Kalau begitu, Aish berangkat mengaji dulu ya, Pa." Jawab Aish, kemudian berpamitan dan mencium tangan milik sang ayah.


Lalu, segera ia keluar dari rumahnya, dan melangkahkan kakinya yang lumayan tidak terburu buru.


Sesampainya di ambang pintu masuk, Aish memberi salam saat hendak memasuki ruang belajar. Semua yang berada didalamnya menjawab salam dari Aish, kemudian Aish segera duduk bersama anak anak yang lainnya.


"Tidak boleh berbicara seperti itu, Amel ... itu sangat berlebihan." Jawab Aish mengingatkan.


"Habisnya, seumuran kakak tidak ada yang mengaji di sini. Semua sibuk dengan kegiatannya masing masing, apa lagi kakaknya Amel. Sibuk bermain Game terus, Amel kesal melihatnya. Seandainya kakak Amel seperti kak Aish, pasti Amel sangat beruntung." Ujar gadis kecil yang dengan polosnya berkata jujur.


"Amel ... tidak baik kamu berbicara seperti itu. Doakan saja, semoga kakaknya Amel bisa berubah menjadi lebih baik lagi dan dapat meninggalkan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri." Ucap Aish berusaha untuk tidak menyudutkan seseorang.


Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam mengaji, tidak terasa kini sudah waktunya untuk pulang ke rumah masing masing. Sedangkan Aish kembali mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri.

__ADS_1


Aish masih berdiam diri dan mematung di depan ruangan mengaji, sedangkan anak anak yang lainnya satu persatu sudah pulang ke rumah masing masing. Sedangkan Aish masih berharap bahwa sang ayah akan menjemputnya di depan rumah milik pak Yai.


"Aish ... mari, ayo aku antar." Suara dibelakangnya tengah mengagetkannya.


"Tidak perlu, aku akan mampir ke rumah tanteku. Papaku sudah berpesan akan menjemputku di rumah tanteku, jadi terima kasih atas tawarannya." Jawab Aish berusaha untuk menolaonya, kemudian segera ia mendatangi rumah tantenya dan meninggalkan sosok laki laki yang tidak asing bagi Aish. Siapa lagi kalau bukan Yahya, sosok laki laki yang begitu tertarik dengan sosok Aish yang selalu mencuri perhatiannya. Meski terbilang masih sangat muda untuk mengenal cinta seperti orang dewasa, Yahya tidak dapat memungkiri jika dirinya adalah lelaki normal.


Yahya sendiri tidak melakukan pemaksaan jika Aish tidak pernah menerima bantuannya, Yahya mengerti akan perjuangan Aish untuk menjaga sesuatu yang sangat berharga. Diantaranya adalah keluarga, dan kehormatannya.


Setelah sudah berada didepan teras tantenya, Aish mencoba mengetuk ketuk pintunya. Namun, Aish sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah. Perasaannya pun campur aduk, ia takut jika akan diketahui oleh banyak orang.


Karena merasa lelah, akhirnya Aish memilih untuk berjalan kami menuju rumahnya. Dengan keberaniannya, Aish terpaksa pulang sendiri tanpa seorang pendamping.


Sedangkan Yahya sendiri sudah berada didalam rumah ketika mendapat penolakan dari Aish, namun tiba tiba perasaannya menjadi tidak enak dan terus kepikiran dengan wanita yang ia sukai.


Secepat mungkin, Yahya kembali keluar rumah untuk memastikan Aish yang sedang menunggu jemputan dari ayahnya.


Dengan seksama, Yahya mengamati rumah milik tantenya Aish. Namun, lampu rumahnya masih gelap dan tidak ada penerangnya. Seketika itu juga, Yahya segera mengejar Aish untuk memastikan keselamatan Aish.


"Benarkah Aish pulang bersama ayahnya? atau pulang sendirian? aaaaa!!! Aaaiissh!!! teriak Yahya sekencang mungkin, kemudian berlari kencang untuk mengejarnya.


Sedangkan Aish yang baru sampai dipertengahan jalan, tiba tiba dirinya dikagetkan dengan sosok laki laki yang tidak ia kenal. Seketika itu juga, tubuh Aish gemetaran saat dirinya dihadang oleh dua preman yang benar benar sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Aish ... benarkah kamu ini, Aish? wah ... cantik juga rupanya kamu. Ayo Neng, ikut kita bersenang senang." Ucap salah satu laki laki yang tengah menghadang Aish.


"Jangan mendekat! pergi kalian, aku tidak mengenal kalian." Bentak Aish disertai perasaan yang sangat ketakutan.


__ADS_2