
Usai mengganti pakaiannya, kini penampilan Aish benar benar terlihat cantik dengan make up nya yang sangat membuat orang orang terkagum dengan penampilannya.
Saat melihat pantulan pada cermin, tiba tiba rasa rindu yang sudah sekian lamanya berpisah membuatnya ingin bertemu. Siapa lagi kalau bukan sang Ayah yang selalu menyemangati untuk menggapai cita-cita nya.
Ketika keberhasilan telah ia dapatkan, kini hanya menatap rindu tanpa bayang bayang dihadapannya.
"Aish, apakah kamu sudah siap?" panggil Ibu Melin yang sudah berdiri di belakangnya.
Disaat itu juga, Aish menoleh kebelakang. "Tante, Aish rindu." Ucap Aish dengan tatapan sendu nya.
Ibu Melin pun langsung memeluknya, berharap keponakan nya akan tabah menerima kenyataan yang harus diterimanya dengan ikhlas dan juga sabar.
"Aish pasti kuat, Tante yakin itu. Yang harus Aish lakukan adalah membuktikan, bahwa Aish mampu untuk melangkah satu langkah lagi untuk menjadi sukses." Kata Ibu Melin sambil mengusap punggung milik keponakan nya berulang ulang.
Karena tidak ingin drama menangis, Ibu Melin akhirnya melepaskan pelukannya. Kemudian menatap wajah Aish dengan anggukan dan tersenyum, sebuah anggukan disertai senyuman untuk menyemangati keponakannya yang hatinya tengah bersedih.
"Terima kasih ya, Tante. Selama Aish sendirian tanpa orang tua, Tante selalu menjadi penyemangat untuk Aish. Bahkan Tante Melin sudah seperti orang tua Aish sendiri, lebih tepatnya pengganti orang tua Aish. Maafkan Aish ya, Tante. Jika sampai sekarang ini Aish belum pernah membalas budi sama Tante, maafkan Aish." Ucap Aish merasa tidak enak hati.
"Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi anak Tante untuk selamanya." Jawab Ibu Melin berusaha untuk tersenyum.
Tidak terasa waktu pun sudah hampir telat, Ibu Melin akhir nya tersadar dari jadwal keponakan nya itu.
"Obrolannya dilanjutkan lagi nanti di rumah saja, sekarang ayo kita berangkat. Nanti terlambat, bagaimana? udah cantik begini loh." Ucap Ibu Melin, kemudian mengajak keponakan nya untuk segera pergi meninggalkan salon tersebut.
Disaat itu juga, Aish tersadar jika dirinya akan Wisuda. Rasa bahagia dan sedih harus tercampur menjadi satu.
__ADS_1
"Iya, Tante. Maafkan Aish yang terbawa suasana, Aish hanya rindu." Ucap Aish dengan pilu.
Karena waktu tidak ingin datang terlambat, Aish dan Ibu Melin segara berangkat. Selama perjalanan menuju Kampus, Aish hanya bersandar dan melamun.
'Andai saja, semua mimpiku nyata. Mungkin hari ini adalah hari bahagia untuk ku, tapi ... sepertinya itu tidak mungkin.' Batin Aish dengan lamunannya.
Selama perjalan sambil melamun, tidak terasa Aish telah sampai di area Kampus. Semua mahasiswa mapun mahasiswi terkagum kagum saat mendapati mobil mewah masuk ke area Kampus, semua bertanya tanya siapa pemiliknya dan seperti apa orangnya yang ada di dalam.
"Pak pak, kok kita berhenti didalam sih?" tanya Aish yang tiba tiba tersadar jika dirinya sudah berada di area Kampus.
"Maaf Nona, ini perintah dari Tuan. Nona jangan keluar dulu, biar saya yang akan membukakan pintu nya." Ucap pak supir, kemudian segera turun dari mobil dan langsung membukakan pintu nya untuk Aish.
"Pak, saya bisa buka pintu sendiri. Bapak tidak usah repot repot untuk melayani saya, karena saya bukan siapa siapa pemilik mobil ini. Hari ini adalah hari terakhir saya untuk naik mobil mewah ini. Besok, semua sudah berakhir." Kata Aish yang tidak enak hati, namun tiba tiba napasnya terasa berat.
Setelah turun dari mobil, samua dibuat kaget oleh Aish. Satu pun tidak ada yang menyangkamya kecuali Afwan dan Yunda yang tidak lain sahabat dekatnya.
"Aish?" semua menyebut namanya dengan rasa penasaran dan bertanya tanya dalam hatinya masing masing.
"Yun, kamu merasa aneh tidak sih? kenapa Aish masih berhubungan dengan mobil itu? apakah Aish akan di persunting oleh Rey?" tanya Afwan yang semakin mencurigai.
"Iya juga ya, bagaimana ini? kita harus lapor ke Yahya. Jangan sampai si Rey duluan yang mendapatkan Aish, bisa berabe ini." Jawab Yunda yang juga ikut curiga pada sahabatnya.
"Ayo, kita samperin Aish." Ajak Afwan sambil menarik tangan Yunda.
"Aish, tunggu." Panggil kedua sahabatnya sambil berjalan dengan cepat, Aish pun berhenti dan mencari sumber suara.
__ADS_1
"Yunda, Afwan, kalian sudah berangkat?"
Seketika, Yunda maupun Afwan mendadak bengong saat melihat penampilan Aish yang benar benar terlihat sangat berbeda. Dari segi make up dan baju yang ia kenakan, benar benar diluar dugaannya.
"Aish, hari ini kamu cantik banget. Pantas aja semua terkagum melihat mu, kamu benar benar sangat berbeda." Kata Yunda memuji, sedangkan Afwan masih tercengang melihat sahabatnya dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Dulu kamu dijadikan bahan hinaan ketika kamu memasuki acara perpisahan, dan sekarang aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu." Gumam seseorang disudut ruangan sambil memperhatikan Aish yang tengah dipuji oleh teman teman seperjuangan nya, termasuk kedua sahabatnya sendiri. Setelah cukup puas, akhirnya memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.
Afwan yang tersadar akan kenyataan atas penampilan Aish, ia pun ikut memujinya.
"Iya Aish, kamu sangat cantik hari ini. Aku yakin jika Yahya akan kaget melihat mu secantik ini, bentar lagi dia juga akan menjemput mu." Kata Afwan yang keceplosan.
Aish hanya diam dan tidak menanggapinya, ia memilih berjalan untuk berkumpul bersama teman yang lain nya. Afwan yang merasa ucapan nya diabaikan, ia langsung menarik tangan Yunda untuk mengejar Aish.
Ibu Melin yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Semoga saja, Aish akan mengetahui kebenaran nya dan bisa memilih mana yang pantas dan mana yang tidak pantas." Gumam Ibu Melin yang tiba tiba merasa takut jika keponakan nya akan shock.
Sedangkan Afwan dan Yunda terus mengikuti langkah kaki Aish yang cukup lebar, hingga pada akhirnya Aish dan kedua sahabatnya sudah berdiri di dalam gedung yang sudah dipadati oleh mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Tidak hanya itu semua wali nya pun ikut hadir, semua terlihat sempurna dimata Aish.
Disaat itu juga, Aish menitikan air matanya. Perasaan sedih yang sudah mulai reda, kini harus kembali bersedih. Satupun tidak ada yang menjadikan penyemangat untuk nya, hanya Ibu Melin lah pengganti kedua orang tuanya. Sedih, itu sudah pasti Aish rasakan. Napasnya mulai terasa sesak ketika melihat pemandangan yang cukup padat didalam gedung tersebut.
Kedua sahabatnya pun dibuat bingung saat mendapati Aish tengah menitikan air matanya. Mencoba untuk mencerna nya, namun tetap aja tidak mendapatkan jawaban nya.
Saat pandangan Aish menuju pada orang tua masing masing mahasiswa dan mahasiswi, disaat itu juga Yunda dan Afwan dapat mengetahui maksud dari kesedihan Aish.
__ADS_1