
Setelah kepergian Zakka dan Rey, Yahya maupun ketiga temannya segera masuk kedalam mobil milik Yahya.
"Kita mau kemana?" tanya Aish membuka suara.
"Kita akan pergi ke Mall, aku akan mentraktir kalian untuk berbelanja." Sahut Afwan sambil menyetir mobilnya.
"Jangan berlebihan, aku tidak suka pemborosan. Lebih baik uangnya kamu pergunakan dengan hal yang positif, itu akan jauh lebih baik manfaatnya. Bukankah kamu akan melanjutkan pendidikan kamu di luar Negri? kamu pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di traktir makan gratis saja sudah jauh lebih dari cukup." Sahut Aish menimpali, ia merasa tidak enak hati mendapatkan traktiran yang menurutnya sangat berlebihan.
"Aku tidak berlebihan, jugaan ini baru pertama kalinya aku mentraktir kalian. Jadi, jangan pernah menolakku." Ucap Yahya dengan santai.
"Iya Aish, sesekali tidak apa apa jika Yahya mau mentraktir kita. Jugaan besok pagi Yahya sudah bersiap siap untuk berangkat ke luar Negri, kita bisa bertemu dengannya saja entah kapan. Bisa jadi satu tahun lagi, dua tahun lagi, bahkan tiga tahun lagi." Sahut Yunda ikut menimpali.
"Terserah kalian aja, yang terpenting aku sudah mengingatkan kalian." Ucap Aish sambil menatap lurus kedepan.
"Sudah sudah, sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Yahya tidak ingin ada perdebatan diantara Yunda, Afwan, dan juga Aish.
Tidak lama kemudian, mobil yang di kemudian oleh Yahya kini sudah berada di parkiran. Setelah itu, ke empatnya segera turun dari mobil.
Saat Yahya dan Afwan juga Yunda baru satu langkah, Aish masih berdiam diri.
"Aish, ayo kita masuk." Ajak Yahya, entah kenapa Aish masih terasa enggan untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam Mall.
"Aish, kamu ada masalah?" tanya Yunda yang sudah berada didekat sahabatnya.
"Tidak apa apa kok, Yun." Jawab Aish dengan datar.
"Kirain ada apa apa, kalau begitu ayo kita masuk." Ajak Yunda dan menggandeng tangan milik sahabatnya, mau tidak mau Aish tidak dapat menolaknya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam Mall, Aish dan Yunda berkeliling jalan jalan. Aish belum mengambil barang belanjaan satu pun, sedangkan Yunda sudah mengambil beberapa barang yang diambilnya.
"Aish, kamu ambil kek itu baju. Atau ... pilih pilih kerudung atau khimar, atau sepatu buat kuliah." Ucap Yunda sambil meraih sebuah tas cantik.
"Aku tidak pingin beli, Yun. Aku masih ada semuanya di rumah, termasuk baju, kerudung, khimar, dan juga sepatu." Jawab Aish yang tidak ingin mendapat traktiran yang tidak masuk akal.
"Yunda," panggil Afwan sambil berjalan mendekati.
"Apaan?" sahut Yunda sambil mengecek sebuah tas yang ia pilih.
"Temanin aku, yuk." Ajak Afwan seakan memberi kode pada Yunda.
"Aku mau memilih celana dan baju kemeja, kamu kan jagonya memilihkan setelan baju untuk ku." Kata Afwan beralasan. Yunda yang mendapati kode dari Afwan pun, ia segera mengiyakan ajakannya.
"Tapi Aish sama siapa?" tanya Yunda.
"Tapi ... kenapa mesti berpencar? kita bisa beli bersama, 'kan? bisa gantian jugaan." kata Aish menimpali ucapan dari ketiga temannya.
"Kamu ini gimana sih, Aish? Yahya mau membelikan sesuatu sama kamu. Jadi, tentu saja kita berdua dilarang untuk menguntit kalian berdua. Sudah sana kalian berdua pergi, biar Yunda saja yang menemaniku." Sahut Afwan dan segera menarik lengan baju milik Yunda, mau tidak mau lagi lagi Aish hanya bisa pasrah.
"Kenapa sih, kamu kok jadi royal begitu sama Yunda dan juga Afwan. Jugaa itu uang bukan milik kamu, tapi ada hak kedua orang tua kamu. Selebihnya pada ayah kamu, jadi jangan kamu hamburkan uangnya." Ucap Aish yang takut jika dirinya akan dibilang perempuan yang suka memanfaatkan keadaan.
"Kata siapa aku menghamburkan uang, aku sedang tidak menghamburkan uang. Semua ini atas izin dari kedua orang tuaku untuk mentraktir kalian bertiga, lagian juga kita bertemunya lagi masih lama. Jadi apa salahnya jika setahun sekali aku mentraktir kamu, Yunda dan juga Afwan. Jadi, kamu jangan berpikiran yang aneh aneh. Sudah lah, ayo ikut aku. Aku akan membelikan sesuatu untuk kamu." Jawab Yahya menjelaskannya, Aish hanya mengangguk.
Setelah Aish menyetujuinya, Yahya dan Aish akhirnya berjalan beriringan. Tanpa Aish sadari, ada sepasang mata yang tengah mengawasinya.
"Yahya? kamu Yahya, 'kan?"
__ADS_1
"Maula? iya, aku Yahya." Sahut Yahya.
"Iya, aku Maula. Sampai lupa aku sama kamu, padahal belum lama kita tidak bertemu. Oh iya, kamu kapan berangkatnya?" tanya Maula yang terlihat akrab dengan Yahya. Sedangkan Aish merasa minder saat mendengar percakapan Yahya dengan perempuan yang terlihat cantik dan juga terlihat sosialita nya tinggi.
"Aku mau ke toilet sebentar, permisi." Ucap Aish yang tiba tiba berpamitan undur diri dari hadapan Yahya.
"Aish, kamu ..."
"Cuman sebentar, aku tidak lama kok, serius." Sahut Aish, dan dengan terburu buru Aish segera menyingkir dari hadapan Yahya sejauh mungkin.
"Siapa dia? pacar kamu?" tanya Maula menebak.
"Bukan, tetapi perempuan yang aku sukai dan akan aku jadikan istriku. Kita berdua tidak ada pacaran, yang ada jika aku menyukai perempuan akan aku jadikan istriku. Tapi bukan untuk sekarang, tetapi setelah aku menyelesaikan pendidikan ku." Jawab Yahya dengan jelas.
Sedangkan Aish hanya memperhatikannya dari jauh, tanpa disadari sudah ada yang berdiri disebelahnya.
"Kenapa kamu bersembunyi? cemburu? makanya, kalau ada rasa cemburu itu mendingan fokus sama masa depan kamu. Jadi, konsentrasi belajar kamu tidak terganggu." Ucapnya membuat Aish kaget, disaat itu juga Aish langsung menoleh ke sumber suara.
"Kamu!! ngapain sih kamu selalu menguntit aku terus, hah?"
"Siapa juga yang mengikuti kamu, aku ke Mall karena aku sedang berbelanja. Apa kamu tidak lihat di sekeliling kamu? hem, yang ada tuh kamu mengikuti aku." Ucap nya yang tidak mau kalah dan masih terus bersikukuh atas pendiriannya.
Seketika, Aish terbelalak melihat orang orang disekelilingnya banyak laki laki di sekitarnya yang sedang memilih ****** *****. Disaat itu juga, Aish segera pergi dari tempat tersebut dengan rasa malu setengah mati.
Sayang disayang, Aish bingung mencari keberadaan ketiga temannya termasuk Yahya. Berkali kali ia celingukan kesana kemari, tetap saja tidak menemukan keberadaan salah satu temannya. Dengan prustasi, akhirnya Aish berjalan dengan perasaan khawatir jika dirinya tidak bisa pulang. Ditambah lagi dirinya tidak membawa uang lebih, pikirannya semakin was was dan juga cemas tentunya.
"Kemana lagi aku harus mencari mereka dengan luasnya Mall ini? mana baterai ponselku sudah habis, lagi." Gumam Aish prustasi.
__ADS_1