Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Pengakuan


__ADS_3

Sela yang benar benar tidak menyangka, ia sedikit geram atas bekas sisahan ulah suaminya. Namun, Sela tidak dapat berbuat apa apa. Selain memang sudah sah menjadi istri Zakka, Sela tidak hak untuk menuntutnya.


"Pantas aja, tadi mama senyum senyum tidak jelas. Ini rupanya, awas kamu kak Zakka. Kamu sudah membuatku malu, benar benar memalukan." Gumamnya lirih, kemudian ia segera membersihkan diri.


Setelah cukup lama berada didalam kamar mandi, Sela segera menyelesaikan ritualnya. Kemudian, ia bergegas keluar untuk mengeringkan rambutnya dan mengenakan pakaiannya.


Selesai mengenakan pakaiannya, Sela menyisiri rambut sebahunya itu dan mengucirnya.


"Tunggu, ini bagaimana cara menutupinya? ah! benar benar sial. Mau ditutupin pun, mama sudah tahu. Jika tidak, yang lainnya akan tahu juga jadinya." Gumam Sela sambil mrngusap bekas ulah dari suaminya berulang ulang.


Zakka tersenyum yang kini sudah berdiri di dekat istrinya dengan alat penyangganya.


Zakka segera melepaskan ikat rambut yang ada pada istrinya, kemudian rambutnya pun terurai dengan senyum yang mengembang.


"Jangan kamu ikat rambut kamu ini, biarkan seperti ini. Karena akan terlihat lucu ketika kamu harus mengenakan syal, yang ada kamu akan ditertawakan dan dikira ini musim dingin." Ucap Zakka, Sela hanya berdiam diri.


'Lihat lah, sedikitpun kak Zakka tidak merasa bersalah apapun padaku. Bahkan, dengan sangat santainya memberiku saran.' Batin Sela yang juga masih pada posisinya.


Karena takut dibilang tidak sopan, akhirnya ia memutar balikkan badan dan kini tengah berhadapan dengan suaminya.


"Katanya aku disuruh menemui kak Zakka, lantas kenapa kak Zakka masuk ke kamar?" tanya Sela mengalihkan topik.


Zakka tersenyum melihat serta mendengarkannya. "Suka suka aku dong, hem." Kata Zakka dengan santai.


"Ya juga sih," jawab Sela sedikit gregetan.


"Zayen sudah datang, ayo kita turun. Ingat, jangan panggil aku kakak." Ajak Zakka untuk segera keluar dari kamarnya.


"Ya kak, aku mengerti." Jawab Sela disertai anggukan.

__ADS_1


Setelah tidak ada yang kurang, keduanya segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan terlebih dahulu.


Sampainya di ruang makan, kedua orang tuanya dan Zayen sudah menunggunya.


"Maaf, jika kita berdua sudah membuat kalian menunggu." Kata Zakka sambil berjalan yang tinggal beberapa langkah sudah didekat tempat duduknya.


"Tidak apa apa, aku dapat memahami keadaan kamu kak Zakka." Jawab Zayen, sedangkan Sela membantu suaminya untuk duduk.


Entah ada angin apa, sedari tadi Zayen memperhatikan Sela. Namun pandangan tersebut seakan mengamatinya. Meski pernah bertemu diacara pernikahannya, Zayen tidak begitu paham. Dan saat ini benar benar natural tanpa adanya polesan apapun pada wajah milik Sela.


"Mama sampai lupa. Nak Sela, perkenalkan ini saudara sepupu suami kamu Namanya Zayen. Putra dari paman Alfan, suaminya Afnaya." Ucap bunda Maura memperkenalkan keponakannya kepada menantunya.


"Sela?" setengah terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh bunda Maura, Zayen sambil berpikir kembali dengan masa lalunya.


"Kamu kenapa, Zayen? kamu mengenal istriku?" tanya Zakka dengan ekspresi tidaj suka, lebih tepatnya sedikit cemburu.


"Sela, jawab pertanyaanku. Apakah kamu mengenal Zayen? jawab." Tanya Zakka sedikit dengan ekspresi tidak suka.


"Ya, Paman. Saya pernah menolong gadis kecil yang hampir tertabrak mobil karena telah menolong lelaki seumuran dengan Zayen, paman. Karena pada saat itu juga ada kericuhan dijalanan, akhirnya lelaki yang ditolong gadis itu pergi begitu saja. Mungkin juga ingin menghindari ada kericuhan itu, jadi terpaksa untuk pergi." Jawab Zayen.


Disaat itu juga, suasana berubah menjadi hening. Tak ada satupun yang bersuara, benar benar hening. Tidak cuman Zakka dan Sela, Tuan Ganan dan bunda Maura juga ikutan hanyut yang seakan sedang mengingat sesuatu.


Begitu juga dengan Sela, ingatannya kembali dimasa kecilnya. Diingat ingat, Sela mencoba untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Zayen.


Sedangkan Zayen merasa heran dengan suasana yang mendadak hening dan semuanya terlihat tengah memikirkan sesuatu pada ingatannya masing masing.


"Kak, kak Ayen." Tiba tiba Sela tanpa sadar menyebut nama Ayen, sedangkan Zayen membelalakan kedua matanya.


Namanya disebutkan oleh Sela begitu jelas, Zakka dan Tuan Ganan serta bunda Maura menoleh kearah Sela. Disaat itu juga, Zakka kembali menundukkan kepalanya, tiba tiba ia tidak berani untuk menatap istrinya.

__ADS_1


Zayen mengarahkan pandangannya ke Zakka dan seperti menaruh kecurigaan kepada sepupunya sendiri. Begitu juga dengan Sela, ia menoleh kearah suaminya.


"Berarti benar, kamu Sela yang aku tolong." Ucap Zayen dengan yakin, "tapi ... kamu kenapa, kak Zakka? kenapa kak Zakka tiba tiba menunduk?"


"Ya Kak, aku Sela yang pernah kak Ayen tolong. Terimakasih banyak sudah menolong Sela waktu itu, maafkan Sela yang sudah merepotkan Kakak." Ucap Sela merasa malu. Sedangkan Zakka mendongakkan pandangannya saja pun tidak.


Tuan Ganan dan bunda Maura juga masih diam, tentunya membuat Zayen menjadi penasaran.


"Kak Zakka, jawab pertanyaanku. Apakah lelaki yang ditolong Sela adalah kak Zakka?" tanya Zayen yang penuh dengan rasa penasaran.


Tidak peduli apapun tanggapannya, setidaknya Zayen merasa lega ketika meluapkan rasa penasarannya. Sedangkan Sela semakin bingung mendengar pertanyaan dari Zayen atas insiden masa lalunya.


Zakka yang merasa malu seakan tidak ada berterima kasihnya dengan seseorang yang sudah menolongnya, mendongakkan pandangannya saja pun tidak.


"Zakka, jawablah pertanyaan dari Zayen." Kata bunda Maura pada putranya untuk menjawabnya dengan jujur. Zakka sendiri masih menguatkan hatinya jika akan mendapatkan kekesalan dari istrinya.


Pelan pelan, Zakka menarik napasnya panjang. Kemudian ia membuangnya dengan kasar dan mendongak kearah Zayen.


"Ya, aku orangnya." Jawab Zakka yang akhirnya mengakui atas apa yang dilakukannya dimasa lalunya yang sudah pergi begitu saja tanpa berterima kasih.


Sela yang mendengar pengakuan dari suaminya pun, kedua matanya membulat sempurna. Seperti mimpi ketika mendengar pengakuan dari suaminya.


Rasanya ingin marah, namun tidak ada artinya untuk marah dan juga membencinya.


'Rupanya suamiku sendiri yang sudah membuatku tidak bisa berjalan cukup lama, dan kak Ayen lah yang bertanggung jawab atas pengobatan kakiku ini.' Batin Sela kembali teringat masa lalunya.


"Jadi, gadis kecil itu ... kamu nak Sela?" bunda Maura memperjelas kebenarannya.


"Ya, Ma. Dulu kak Ayen yang menolong Sela dan juga memberi pengobatan gratis untuk Sela." Jawab Sela sebaik mungkin, takut jika ucapannya akan menyudutkan suaminya sendiri.

__ADS_1


Zakka yang merasa benar benar malu, dirinya masih belum juga berani untuk menatap istrinya. Entah ucapan apa yang akan keluar dari mulutnya kepada istrinya yang sudah menyelamatkan nyawanya dari insiden dimasa lalunya itu.


__ADS_2