
Hari berganti hari telah dilalui oleh Zakka selama satu bulan, tidak ada kata lelah maupun menyerah untuk meraih keberhasilan ketika belajar untuk berjalan.
Semangat membara kini telah menguasai semangat Zakka untuk bisa sembuh, dukungan demi dukungan telah Zakka terima dari keluarga Wilyam maupun dari keluarga Danuarta.
Zakka masih selalu dipantau dan juga selalu dalam pengawasan beberapa orang kepercayaan orang tuanya.
Begitu juga dengan Sela yang sebentar lagi akan menghadapi yang namanya sebuah pernikahan, sesuatu yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Usianya yang masih dibawah dua puluh tahun, usia yang masih mempunyai banyak mimpi dan cita cita.
Tidak, untuk selasa. Justru di usianya yang masih belasan tahun sudah menjadi tulang punggung orang tuanya sejak sang ayah sakit sakitan. Meski sudah mendapatkan penanganan khusus, Sela harus berjuang deni masa depan kedua adik adiknya yang terbilang masih kecil. Meski berbeda ibu, Sela tetap menyayanginya. Bagi Sela, adik tetap lah adik. Entah dari mana asal usulnya, pikir Sela yang tetap bersikap adil kepada kedua adiknya.
Pagi yang cerah secerah harapan Sela, meski terasa penat dan runyam sekalipun. Sedikitpun, Sela tidak pernah menunjukkan apapun tentang kesedihannya. Sela tetap bersikap ceria dihadapan siapa saja, termasuk terhadap orang lain.
Dengan keluarga saja, Sela selalu menutupi kesedihannya, apa lagi dengan orang diluaran sana.
"Sela, cie .... yang sebentar lagi mau menikah, selamat ya Sel. Kak Winda ikut bahagia, semoga tidak ada halangan apapun sampainya hari pernikahan kamu nanti." Ucap Winda sambil mengemasi barang barang bersama Sela untuk dilakukan pengiriman.
"Kak Winda ini sukanya ngeledek, tapi terima kasih sudah ngasih ucapan selamat serta doa yang baik untuk Sela. Begitu juga dengan kak Winda, semoga disegerakan jodohnya." Kata Sela yang juga tidak lupa memberi doa serta semangat untuk Winda.
"Terima kasih juga atas doa dari kamu, Sel. Oh ya, kalau kamu sudah menikah, kamu tidak ada di Toko kueh ini lagi dong." Ucap Winda yang tiba tiba merasa kehilangan.
Sela yang mendapatkan pertanyaan dari Winda, pikirannya kembali tidak tenang. Yang dapat ia pikirkan akan menjadi seorang pengasuh orang sakit, pikir Sela. Tetapi dirinya pun teringat kembali dengan sebuah balas budi mengenai kesembuhan orang tuanya.
Bagi Sela tidak ada seujung kuku dengan apa yang Sela lakukan untuk seseorang dari keluarga Wilyam, siapa lagi kalau bukan Zakka. Lelaki yang belum cukup bisa untuk berjalan sendiri. Langkah kaki yang tertatih tatih dengan bantuan alat penyangga nya, dan tidak ada lagi kursi roda yang digunakan oleh Zakka.
Zayen sudah melarangnya dengan keras, jika kursi roda hanya akan membuatnya malas dan akan selalu kehilangan semangat untuk bisa sembuh. Dan benar saja, kini berkat alat penyangga yang menjadi alat bantunya, Zakka mulai terbiasa untuk melangkahkan kakinya walau dengan tertatih tatih.
"Sela, kok melamun?" tanya Winda yang tiba tiba mendapati Sela tengah melamunkan sesuatu.
"Ah ya, Sela ngelamun ya kak. Duh, Sela kan jadi malu sama kak Winda." Kata Sela yang tersadar dari lamunannya itu.
"Sela mah sudah sering ngelamun itu, kak Win. Biasa lah, bentar lagi kan mau menikah. Yang pastinya tidak bisa tidur, dianya." Sahut Didin ikut menimpali, Sela hanya menatapnya tajam.
Tetap saja, tatapan tajam dari seorang Sela tidak akan manjur jika yang ditatap itu Winda dan Didin. Keduanya tahu persis siapa itu Sela, dan kapan dia marah, begitu pikir kedua temannya.
"Didin mah gitu, seneng banget dah mojokin akunya. Awas ya Din, aku bakal kerjain kamu."
"Nah kan, Sela mulai ngancam. Tapi sayangnya ancaman darimu tidak tergapai, keburu sibuk mikirin babang tamvan." Ledek Didin dengan bersemangat.
"Tuh, kan .... Didin mah gitu sih." Kata Sela dibuat cemberut.
"Sudah dong, kalian berdua ini selalu bertengkar ketika berhadapan. Dimana ada Didin, disitu ada Sela yang sedang menyerang." Kata Winda ikut menimpali.
"Hem, sudah lah kalau gitu. Sela mau beres beres, biar kerjaan cepat selesai."
"Pasti babang tamvan mau datang, yakin itu."
"Sok tahu kamu ini, Din. Sudah sana kerjakan tugas kamu, hari ini akan ada pengiriman barang ke Kantor. Dan kamu yang mengantarkannya, tidak untuk denganku." Kata Sela mengingatkan pada Didin.
"Cih, ditulisan itu sudah tertera nama kamu juga yang diminta untuk mengantarkan kueh nya." Jawab Didin sambil berjalan mengambil sebuah catatan.
"Nih, baca. Dibaca baik baik, dan ini pesan yang masuk dari kak Aish. Kurang jelas bagaimana nih, memang enak." Kata Didin sambil menyodorkan sebuah bukti dan juga menunjukan sebuah pesan singkat dari Aish untuk dirinya.
"Hem, ya ya ya. Semoga aja aku tidak mengalami kesialan kek dulu lagi." Gerutu Sela yang tanpa sadar dapat ditangkap oleh Didin.
"Kamu bilang sial waktu itu? enak saja, yang ada tuh aku yang sial. Nunggunya lama, tidak tahunya aku dusuruh pulang lebih awal. Itu namanya sangat menyakitkan ku, Sela." Ucap Didin kembali teringat ketika dirinya tengah mondar mandir saat menunggu Sela ke luar dari dalam rumah, dan kenyataannya dirinya dihampiri oleh orang yang berpenampilan serba hitam tengah berpesan untuk pulang duluan.
"Sudah sudah, cepat selesaikan pekerjaannya. Waktu kita sudah mempet." Kata Winda, Sela hanya menghembuskan napasnya dengan kasar.
Saat itu juga, sebuah alarm peringatan tengah mengagetkan Sela yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Duh, ini ponsel kenapa lagi sih? ngagetin aku saja deh." Gerutu Sela yang merasa terganggu dengan suara alarm dari ponselnya sendiri.
"Palingan juga alarm pertemuan dengan banang tamvan, sudah biasa itu mah." Lagi lagi Didin kembali menimpali, Sela hanya mengerucutkan bibirnya.
"Apa!" teriak Sela hingga mengagetkan Winda dan juga Didin.
"Kamu ini kenapa sih Sel, bikin kita berdua jantungan saja. Untung saja ini kueh tidak terbang, bisa berabe urus urusannya. Mana sudah stok terakhir juga, kamu ini kebiasaan." Kata Didin dengan ekspresi dibuat sekesal mungkin.
"Ada apa sih Sel, kelihatan panik gitu."
__ADS_1
"Stop, stop sekarang juga. Aku mau pulang, aku tidak punya waktu lagi untuk melanjutkan pekerjaanku."
"Kenapa Sel? kamu ada masalah? orang tua kamu tidak kambuh lagi, 'kan?" tanya Winda dengan memberondong banyak pertanyaan.
"Tidak ada apa apa, nanti malam kak Winda dan Didin datang aja kerumah." Jawab Sela, yang langsung menyambar tas kecilnya.
Didin dan Winda dibuatnya bingung dengan sikap Aish yang mendadak aneh gitu.
"Itu anak kenapa sih kak Win, kaya ada sesuatu deh. Tapi kenapa meminta kita untuk datang ke rumahnya nanti malam, ya? aneh sih." Tanya Didin dengan banyaknya rasa penasaran terhadap Sela.
Disaat itu juga, suara ponsel tengah mengagetkan Didin. Dengan cepat kilat, Didin langsung membuka ponselnya. Terlihat jelas ada sebuah pesan masuk di ponselnya.
"Apa! nanti malam Sela menikah? terus kuehnya aku dan kak Win yang mengantarkannya ke Kantor." Gumam Didin sambil membaca pesan masuk diponselnya.
"Kenapa Din?" tanya Winda yang semakin penasaran.
"Kita yang diminta untuk mengantarkan pesanannya. Sedangkan nanti malam itu, Sela akan menikah." Jawab Didin sambil menatap layar ponselnya itu.
"Sela mau menikah nanti malam? yang benar aja kamu, Din."
"Ya kak Win, aku tidak bohong. Ini pesan dari kak Aish, ayo ah kita selesaikan. Nanti malam kita diminta untuk datang diacara pernikahan Sela di rumahnya." Jawab Didin sambil membantu Winda mengemasi barang barang yang akan diantarkan ke Kantor.
"Pantes aja Sela terburu buru gitu, pasti mau dilakukan perawatan itu anak." Kata Winda sambil menata barang untuk dimasukkan dalam kardus besar.
Sedangkan di kediaman pak Ramdan, Sela tengah bersiap siap untuk dibawa ke sebuah tempat yang entah dimana tempatnya. Sela hanya bisa pasrah diri dengan nasib selanjutnya.
Setelah sudah berpamitan dengan ayah dan kedua adiknya, Sela dibawa mobil dari keluarga calon suaminya. Selama perjalanan, Sela hanya berdiam diri. Pasalnya tidak ada yang bisa untuk dijadikan teman mengobrol.
Ingin ngobrol, tapi Sela merasa canggung. Karena ia tidak mengenali supir dari keluarga Wilyam.
Tidak memakan waktu lama, Sela celingukan memeriksa disekelilingnya.
"Pak, kita ada dimana?" tanya Sela yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kita berada di salon, Nona. Mari silahkan turun, Nona." Jawabnya dan meminta Sela untuk segera turun dari mobil, karena tidak mempunyai pilihan lain, Sela hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan pak supir. Dengan canggung dan juga ragu, Sela memaksakan diri untuk mengikuti langkah kaki pak supir yang mau masuk kedalam salon.
Dengan senyum yang ramah, Sela membalas sapaan dari beberapa orang yang menyambutnya dengan hangat.
"Nona, mari ikut saya." Ucap seseorang yang sudah ditugaskan bagian pekerjaannya masing masing.
Sela benar benar tidak menyangka jika dirinya diperlakukan bak orang yang sangat kaya raya.
'Aku sedang tidak bermimpi, 'kan? ah! ini mah seperti mimpi. Memang mimpi sih, pernikahan saja hanya sementara. Apa lagi yang sudah bisa berjalan menggunakan alat penyangga, tidak lama lagi juga sudah selesai tugas tugasku. Semoga saja tidak akan ada drama yang lainnya. Jika pun ada, entah lah. Aku habis bisa mengikuti alur cerita hidupku, selebihnya hanya bisa pasrah. Hanya bisa berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik, itu saja bagiku.' Batin Sela sambil berjalan mengikuti dari belakang.
"Nona, kenapa melamun?" tanyanya mengagetkan.
"Maaf," jawab Sela dengan malu.
"Mari, Nona. Silahkan duduk, kami akan melakukan perawatan untuk Nona." Ucap salah satu orang yang diperintahkan untuk melakukan perawatan.
"Mbak, kalau boleh tau mulainya jam berapa ya?" tanya Sela dengan perasaan yang gugup.
"Nona Sela tidak perlu cemas, acaranya masih nanti siang. Ini hanya perawatan saja kok Nona, untuk penampilan Nona nanti jika sudah berada di gedung. Nona tidak perlu khawatir dan juga cemas." Jawabnya.
"Tetap saja was was dan gugup dong mbak, soalnya tidak pernah perawatan." Kata Sela dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Nona tidak perlu khawatir, semua akan baik baik saja, Nona." Kata seseorang yang akan membantu Sela untuk melakukan perawatan.
"Ya deh mbak, saya nurut saja." Kata Sela dengan pasrah.
Sedangkan di kediaman keluarga Ganan, kini tengah disibukkan dengan persiapan untuk acara pernikahan Zakka dan Sela.
Zakka yang sedang berada didalam kamarnya, ia tengah duduk didepan cermin. Perasaan yang cemas pun tidak kalah beda dengan Sela, begitu juga dengan Zakka yang sedari tadi memikirkan pernikahannya.
"Apakah ini sudah menjadi pilihanku? mampukah aku untuk menjalani kehidupan baruku? terkadang aku masih terasa bermimpi ketika aku harus berhadapan dengan sebuah pernikahan." Gumam Zakka sambil menatap dirinya pada cermin.
Sedangkan di kamar, Tuan Ganan tengah mondar mandir terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Papa, kenapa melamun?" tanya bunda Maura sambil bersiap siap untuk menghadiri acara pernikahan putranya.
__ADS_1
"Papa sedang memikirkan Zakka, Ma." Jawab Tuan Ganan sambil memijat pelipisnya.
"Memangnya apa yang sedang papa pikirkan mengenai Zakka?" tanya sang istri dengan rasa penasarannya.
"Papa kepikiran sama Zakka soal pacar sementara, Ma." Kata Tuan Ganan.
"Pacar sementaranya Zakka? maksud Papa Sela? ada apa dengan Sela, Pa?" tanya bunda Maura sambil menyisiri rambutnya.
"Apa Mama tidak curiga? jika pernikahan Zakka tidak sementara?" jawab Tuan Ganan mengingatkan istrinya mengenai putranya.
"Pernikahan sementara? ya juga ya, Pa. Kemarin mama juga sempat kepikiran, jika Zakka ada yang disembunyikan. Tapi ... mama memikirkannya itu benar kemauannya Zakka." Kata bunda Maura.
"Kini harus bagaimana ini, ma? apa ya, kita biarkan mereka saja. Mama kasihan dengan Sela, jika hanya dijadikan istri sementaranya."
"Papa jangan memikirkan yang aneh aneh song, Pa. Kita doakan saja, semoga Zakka benar benar jatuh cinta dengan Sela." Ucap bunda Maura penuh harap.
"Semoga saja, Ma. Tapi ... kita harus mendukung mereka berdua untuk saling jatuh cinta satu sama lainnya." Kata Tuan Ganan yang akhirnya mencari ide untuk membuat sepasang pengantin akan sama sama jatuh cinta, pikir Beliau.
"Ya sudah kalau begitu, kita pikirkan nanti lagi Untuk sekarang ini, kita siap siap. Takutnya acaranya akan molor waktunya." Ajak bunda Maura untuk bersiap siap.
"Ya, Ma. Kalau mama sudah selesai, mama temui Zakka. Kasihan Zakka, dia pasti butuh teman untuk menjadi penyemangat nya.
"Ya, Pa." Jawab bunda Maura, kemudian segera menyelesaikan dandanannya. Setelah itu, bunda Maura segera menemui putranya.
Selesai berdandan, bunda Maura masuk ke kamar putranya. Dilihatnya Zakka yang sedang duduk di tempat tidurnya sambil menyibukkan benda pipihnya.
"Sayang, kamu sedang apa nak?"
"Mama, ngagetin aja. Zakka sedang santai, Ma. Mama sudah siap? cantik banget deh, Mama." Sahut Zakka, kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas yang berada disebelah tempat tidurnya.
"Ya dong, mama harus kelihatan cantik. Mama kan mau menemani kamu menikah, harus istimewa dong." Kata bunda Maura dengan senyum nya.
"Mama bisa aja deh," ucap Zakka tak lupa ikutan tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu, nanti biar Aidan yang akan bantu kamu keluar dari kamar." Ucap bunda Maura.
"Ya Ma, tidak apa apa." Kata Zakka dan tersenyum.
Dilain ruang, ada Rey dan Aish yang juga sedang di sibukkan untuk bersiap siap menghadiri acara pernikahan Zakka.
"Sayang, perut aku rasanya kok tidak enak gini ya." Kata Aish sambil memegangi perutnya yang sudah besar.
"Sakit?" tanya Rey yang tiba tiba berubah menjadi cemas.
"Tidak begitu, cuman tidak nyaman aja sih." Jawab Aish yang mulai merasa ada perubahan pada perutnya.
"Kamu tunggu disini dulu, biar aku Panggul Mama. Karena mama sudah berpengalaman, jadi kita tanya sama mama terlebih dahulu." Kata Rey, Aish hanya bisa mengangguk.
Karena tidak ada waktu lagi, Rey cepat cepat segera memanggil ibunya. Pikirannya mulai tidak karuan untuk memikirkan keadaan istrinya itu.
"Rey, ada apa? kok kelihatan buru buru gitu." Tanya bunda Maura penasaran.
"Aish Ma,"
"Kenapa dengan Aish? sakit?"
"Aish mulai merasa tidak nyaman pada bagian perutnya, Ma." Jawab Rey dengan gusar.
"Tidak nyaman dengan perutnya? maksudnya?" tanya bunda Maura sambil mencerna ucapan dari putranya mengenai menantunya yang sedang hamil tua.
Disaat itu juga, bunda Maura tersadar jika usia kandungan menantunya yang hanya menghitung pagi, siang dan malam.
"Jangan jangan itu tanda mau lahiran. Kamu ini, jadwalnya bagaimana? apa kamu sudah lupa?" kata bunda Maura setengah membentak putranya, tanpa pikir panjang beliau segera menemui menantunya.
Rey yang khawatir, ia pun ikut mengejar bundanya yang setengah berlari untuk mengetahui keadaan menantunya.
Sedangkan didalam kamar, Aish mulai merasakan rasa sakit pada bagian pinggulnya. Yang mana rasanya tidak dapat untuk dijelaskan.
Tidak hanya itu saja, Aish masih berusaha untuk menahan rasa sakit pada perutnya itu.
__ADS_1