Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Mencari alasan


__ADS_3

Zakka yang melihatnya sedikit menyimpan rasa kesal terhadap seseorang yang diberikan air minum oleh Aish.


'Kenapa bisa pas begini, tapi tidak menguntungkan ku.' Batin Zakka sambil meremat kedua tangannya sendiri.


"Bro! ayo kita pulang." Ajak Zakka yang sudah malas berada di warung makan.


"Aku belum menghabiskan makanan ku. Kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri." Sahutnya sembari melanjutkan makannya.


Sedangkan Aish memilih untuk kembali ke tempat duduknya bersama ketiga temannya.


"Aish, kamu ngapain sih pakai memberi air minum pada cowok kaku kek gitu." Ucap Yunda sambil menunjuk ke arah lelaki yang sudah Aish berikan air minum.


"Memangnya kalau mau menolong itu, harus orang orang yang ramah, begitu maksud kamu? hem."


"Iya bukan begitu, itu cowok kan dingin banget plus kaku kek jemuran kriting." Ucap Yunda yang masih membicarakan seseorang yang tersedak.


"Sudah lah, ngapain juga membahas cowok kek dia. Nih! sudah ada Yahya yang jauh lebih baik dari cowok dingin itu." Sahut Afwan ikut menimpali, Aish yang mendengarnya pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Yahya yang tidak mengenal lelaki yang sudah di tolong Aish pun hanya bisa diam dan tidak bisa memberi komentar apapun selain untuk diam, meski sedikit ada rasa penasaran pada lelaki itu.


"Benar sekali, bahwa Yahya itu cowok yang pas dan cocok untuk kamu." Ucap Yunda ikut berkomentar, lagi lagi Aish hanya berdiam diri. Bahkan senyumnya pun tidak terlihat walaupu hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


'Ada apa dengan Aish? saat Yunda memujiku, sedikitpun Aish tidak tersenyum. Tetapi ketika Afwan dan Yunda berkomentar tentang lelaki itu, Aish tersenyum tanpa beban. Apakah Aish menyukainya, bagaimana ini? aku urungkan saja apa, ya. Lebih baik aku mondok di sekitaran daerah sini aja, agar aku bisa mengawasi dan juga masih bisa bertemu dengannya.' Batin Yahya yang mulai cemas memikirkan perempuan yang ia sukai.


Karena takut makanannya tidak habis, Yahya maupun ketiga temannya segera menghabiskan makanannya masing masing.


Sedangkan di tempat duduk yang tidak jauh dari Aish dan ketiga temannya, dengan terburu buru Zakka segera menghabiskan makanannya.


"Kak, ayo kita pulang." Bisik Zakka yang sengaja tidak ingin percakapannya terdengar oleh Aish dan ketiga temannya.


"Iya ya ya, sudah sana dibayar dulu tagihannya." Perintah nya, kemudian segera menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit lagi." Sahutnya, dan tidak memakai waktu lama, piringnya pun telab di sapu bersih oleh nya.


Saat sudah berada didepan warung, Zakka berkali kali merogoh saku celananya untuk mencari keberadaan kunci mobilnya. Naas, Zakka sama sekali tidak menemukannya.


"Kak, kuncinya tidak ada. Bagaimana ini? apakah kuncinya ada sama kak Rey? aku lupa naroh nya tadi." Tanya Zakka yang sedikit kebingungan mencari kunci mobilnya yang entah dimana ia meletakkannya.


Sedangkan Zakka berkali kali memeriksa saku celananya maupun saku pada bajunya dan juga pada jaket nya. Kemudian membuka kedua telapak tangannya penuh rasa kecewa karena tidak juga ia temukan kunci mobilnya.


"Kunci kunci kunci kunci, dimanakah kamu oh kunci." Sambil berputar putar, Zakka sambil berpikir dan mengingat dimana dirinya meletakkan sebuah kunci mobilnya.


"Kenapa kalian berdua masih berada didepan warung? oh, kalian berdua lagi nunggu ojek ya? kasihan, makanya kalau sekolah jangan modal tampang saja. Begini nih jadinya, setelah lulus masih belum punya kendaraan sendiri." Ejek Afwan yang lupa akan siapa dirinya sendiri.


"Eh! punya mulut tuh dijaga, percuma kalian berdua sekolah tetapi sukanya nyinyir udah kek emak emak rempong." Sahut Zakka yang diterima atas perlakuan teman sekelasnya.

__ADS_1


"Zakka! diam. Ngapain kamu ngelayani orang kek dia, tidak ada mutunya. Nih! kunci mobilnya, buruan ayo kita pulang."


Deg!


Aish maupun ketiga temannya pun tercengang saat mendengar ucapan dari Rey pada Zakka.


Karena malas berdebat dan tidak ada gunanya sama sekali, Zakka dan saudara kembarnya segera masuk kedalam mobil. Sedangkan Zakka mulai melajukan mobilnya dan melambaikan tangannya pada Afwan dan yang lainnya termasuk Aish tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Disaat itu juga, Aish dan kawan kawannya ikut tercengang saat melihat Zakka dan Rey tengah menaiki mobil yang begitu mewah. Bahkan sangat mustahil jika Rey dan Zakka adalah anak orang kaya raya, bahkan selama sekolah hanya terlihat murid yang biasa biasa saja dalam segi penampilan dan yang lainnya.


Keduanya hanya menang dalam segi ketampanan, tapi tidak untuk gaya nya yang terbilang keren.


"Halah! palingan juga mobil majikannya, bukan kah begitu teman teman?" kata Afwan dengan rasa percaya dirinya. Sedangkan Aish tidak meresponnya, justru ia kembali teringat akan sesuatu hal, yakni pilihan yang harus ia Terima permintaan yang menurutnya sangat aneh, pikir Lunika ditengah tengah lamunannya.


"Iya, aku mikirnya juga begitu. Jaman sekarang banyak orang orang belagu yang begitu entengnya memamerkan kekayaan hasil jerih payah orang lain." Ucap Yunda ikut menimpali.


Yahya hanya diam, ia sendiri tidak tahu harus berkomentar apa untuk seorang Rey dan juga Zakka.


"Sudah lah, ngapain kalian berdua membicarakan orang. Lagian juga tidak ada untungnya bagi kalian untuk berkomentar tentang mereka berdua, yang ada kalian berdua akan mendapatkan dosa ghibah." Ucap Aish ikut menimpali, serta mengingatkan kepada kedua sahabatnya yang tanpa malu untuk menilai seseorang yang tidak diketahui asal usulnya.


Afwan dan Yunda yang mendapatkan teguran dari sahabatnya pun hanya menunduk dan terdiam, kalimat yang dilontarkan oleh Aish cukup menusuk hatinya dan tersadar atas perbuatannya yang begitu mudah untuk menilai seseorang.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku, Aish. Aku hanya berkomentar dengan apa yang sering terjadi pada jaman sekarang ini, yang dimana seorang anak yang tidak mau mengakui apa yang dimiliki oleh orang tuanya. Dan masih banyak lagi alasan alasan yang lainnya, termasuk tidak mau mengakui kedua orang tuanya karena merasa malu dengan status kedua orang tuanya yang tidak mampu. Begitu maksud aku, Aish ... bukan niat aku untuk mengejek Zakka maupun Rey." Jawab Yunda memperjelas apa maksudnya, entah apa alasannya karena kepergok atau alasan yang lainnya.


"Yang dikatakan Yunda itu benar, kita berdua tidak ada maksud untuk menghina Rey maupun Zakka. Aku hanya tidak ingin ada seorang anak yang suka membohongi publik, apalagi sampai menjadi sok kaya raya." Sahut Afwan ikut menimpali, entah apa alasannya, hanya Afwan yang dapat mengetahuinya.


__ADS_2