Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Tidak disangka


__ADS_3

Didalam ruangan yang dimana anggota keluarga Tuan Ganan tengah berkumpul, ada Zakka dan yang lainnya.


"Kak Zakka," panggil Sela dengan gugup.


Zakka menoleh disebelahnya, dilihatnya Sela yang tengah meremat jari jemarinya karena menahan kegugupannya. Zakka segera meraih tangan Sela dan menggenggamnya cukup erat.


Seketika, Sela terkejut dibuatnya. Dengan reflek, Sela menatap wajah Zakka dengan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang tidak karuan.


"Jangan gugup, ikutin saja apa yang aku perintahkan. Semanis mungkin kamu menunjukkan kepada semua orang, termasuk Kak Rey dan istrinya." Ucap Zakka setengah berbisik didekat daun telinga milik Sela.


"Ya, Kak." Jawab Sela dengan singkat, ia tidak tahu harus berkata apa selain menuruti kemauan dari Zakka.


'Drama akan segera dimulai, Sela. Persiapkan diri kamu untuk membalaskan budi orang tua kamu kepada keluarga Wilyam.' Batin Sela dengan perasaannya yang tidak karuan.


"Bagus lah, setelah ini kita akan keluar. Kamu akan terus berada disampingku. Ingat, tetap fokus dengan tujuan." Bisiknya lagi untuk mengingatkan Sela, dengan gugup Sela menganggukan kepalanya.


Sedangkan Rey masih menggandeng tangan milik isyrinya sampai berada di sebuah ruangan tempat berkumpulnya anggota keluarganya.


"Selamat malam semuanya, maaf jika Rey dan Aish datang terlambat." Ucap Rey yang tidak begitu memperhatikan saudara kembarnya tengah duduk berdekatan dengan perempuan yang sebenarnya sangat dikenalinya.


Bersamaan itu juga, seorang perempuan yang ada didekat Zakka semakin gugup dan juga malu, serta ada ketakutan didalam pikirannya.


Aish dan Rey segera mendekati anggota keluarganya dari yang paling tertua, yakni Kakek Angga, Omma Qinan dan lanjut ke arah kedua orang tuanya. Aish mengikutinya dari belakang suaminya untuk mencium punggung tangan secara bergantian.


"Omma, apa kabarnya?" sapa Aish dengan ramah.


"Kabar Omma seperti yang kamu lihat, Nak. Kabar Omma baik baik saja, kamu sendiri bagaimana kabarnya bersama calon buyut Omma? semoga kamu dan calon buah hati didalam perut sini baik baik ya, Nak." Ucap Omma Qinan, tidak lupa mencium kedua pipi milik Aishwa dan tidak lupa juga mengusap lembut perut besarnya dengan senyumnya yang ramah.

__ADS_1


"Terima kasih, Omma. Alhamdulillah kabar Aish juga baik baik saja, Omma." Jawab Aish sebaik mungkin.


Setelah itu, Aish membalasnya dengan hal yang serupa. Aish mencium kedua pipi Omma Qinan secara bergantian, kemudian ia lanjut mendekati ibu mertuanya.


"Mama, apa kabarnya?" sapa Aish dengan ramah dan mencium punggung tangan milik Bunda Maura.


"Kabar Mama baik baik saja, sayang. Kamu, bagaimana kabarnya? semoga baik baik saja bersama calon cucu Mama." Jawab Bunda Maura, kemudian Beliau juga melakukan hal yang sama seperti Omma Qinan, yakni mencium kedua pipi milik menantunya secara bergantian.


"Kabar Aish juga baik baik saja, Ma. Alhamdulillah juga kabar calon cucu Mama baik baik saja, tinggal menunggu pagi, siang, sore, dan malam untuk menanti kehadirannya." Jawab Aish sekaligus memberi kabar pada ibu mertuanya.


"Benarkah, sayang? Mama tambah bahagia mendengarkannya. Semoga dilancarkan persalinannya ya, sayang." Ucap Bunda Maura sambil mengusap perut milik menantunya.


Disaat itu juga, Rey tengah memperhatikan Bunda Maura ketika memperlakukan istrinya dengan baik. Tanpa disadari juga, ada seseorang tengah memperhatikan Aish dengan kondisi perut yang semakin membesar.


Siapa lagi kalau bukan Zakka yang memperhatikannya dengan rasa sesak didadanya, dan juga napasnya berubah terasa panas. Ingin rasanya berteriak, namun sebisa mungkin untuk tidak mudah terpancing emosinya sendiri.


Setelah itu, Rey mendekati Bunda Maura. Tatapan yang dingin, sedingin kerinduan.


"Apa kabarnya, Ma?" sapa Rey menatap Bunda Maura dengan suara lirihnya.


"Baik, Sayang. Kamu apa kabarnya? selamat hari ulang tahun ya, Nak. Semoga dihari ulang tahun mu ini semoga panjang umur, diberi kesehatan dan semakin bertambah kedewasaan kamu, selamat juga yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Mama ikut bahagia, maafkan Mama yang tidak bisa memberi hadiah yang bermakna untuk kamu, hanya doa yang terbaik untuk kamu." Ucap Bunda Maura, kemudian Beliau mencium kening putranya dan kedua pipinya layaknya usia yang masih sangat dini.


Selanjutnya, Rey langsung memeluk Bunda Maura sangat erat dan tidak dapat dipungkiri jika ia menitikan air mata bahagianya, meski tidak sepenuhnya.


Semua memperhatikan nya dengan haru, lagi lagi Zakka kembali terasa terbakar ketika melihat saudara kembarnya tengah mendapatkan perhatian penuh dari Ibundanya.


Kekesalan yang tengah menguasai emosinya, Zakka semakin terasa terbakar hatinya.

__ADS_1


'Semua tidak ada yang adil, Kak Rey mulai merebut Mama dariku setelah merebut Aish dariku. Aku tidak akan membiarkan semua berpihak pada diri kak Rey.' Batin Zakka dengan penuh kekesalannya.


Karena tidak sanggup melihat pemandangan antara Ibu dan anak, Zakka mengepalkan kedua tangannya penuh kekesalannya. Terasa berat untuk Zakka ketika menarik napasnya, panas dan juga sesak yang dirasakannya saat ini.


Dengan pikirannya yang sedang dikuasai emosinya, Zakka langsung melajukan sendiri kursi rodanya.


Semua tengah terkejut saat mendapati Zakka yang melajukan kursi rodanya yang cukup kencang.


"Minggir!!" teriak Zakka dan berusaha untuk melepaskan pelukan antara Rey dengan Ibundanya.


Rey langsung terkejut ketika celana panjangnya tengah ditarik kuat oleh saudara kembarnya sendiri.


"Aw!!" pekik Rey yang hampir terjatuh kebelakang akibat tenaga Zakka yang kuat karena terbawa emosinya.


"Zakka!" panggil Tuan Ganan setengah berteriak karena kaget.


"Jangan sentuh Mamaku, sudah cukup kamu menjadi seorang perebut dariku. Aku tidak akan sudi berbagi Mama dengan kamu, Kak Rey." Ucap Zakka dengan suara yang cukup lantang. Disaat itu juga, semua tercengang mendengarkannya.


Tidak hanya anggota keluarganya saja yang terkejut atas penuturan dari seorang Zakka, tetapi ada Sela yang benar benar tidak menyangka nya jika suasana akan terjadi ricuh.


Sela yang mencoba untuk mencernanya, tetap saja ia tidak mampu untuk mendapatkan jawabannya.


Rey yang mendengarnya pun terasa gondok, amarah yang ingin ia luapkan atas apa yang sudah ia tahan dan ia simpan dalam dalam di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak mampu untuk melakukannya.


Rey hanya menunduk dengan segala emosinya yang ia tahan agar tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Begitu juga Bunda Maura yang merasa bingung dengan apa yang tengah dilakukan oleh putranya itu. Sungguh membuat pikiran Bunda Maura terasa runyam untuk mengetahui atas kebenarannya.


Aish yang melihat suaminya seperti tengah menahan emosinya, ia langsung mendekati sang suami untuk mengajaknya menyingkir dari hadapan saudara kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2