Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Karena penasaran


__ADS_3

Masih berada di rumah sakit, Sela dan Ibu Melin memilih untuk kembali ke ruang rawat sebelumnya.


"Tante, kok Papa belum dipindahkan ya? perasaan sudah setengah jam deh." Tanya Sela mulai khawatir.


"Ya juga ya, seharusnya Papa kamu sudah di pindahkan di ruang rawat. Tapi, kok sampai sekarang belum juga dipindahkan." Jawab Ibu Melin yang juga ikut khawatir dengan keadaan pak Ramdan.


Sela yang tidak lagi bisa tenang, akhirnya memilih untuk menemui Dokter.


"Tante, Sela pergu dulu ya. Sela takut jika terjadi sesuatu sama Papa, Sela mau menemui Dokter sebentar." Ucap Sela yang sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan orang tuanya.


"Ya, Tante tunggu kamu disini." Jawab Ibu Melin, Sela sendiri segera bergegas pergi untuk menemui sang Dokter di ruang kerjanya.


Saat hendak mau melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang Dokter, langkah kakinya pun terhenti ketika seorang perawat berjalan mendekati.


"Maaf, apakah Nona anak dari pasien yang bernama pak Ramdan?" tanya nya untuk memastikan.


Sela pun mendadak terkejut ketika didatangi seorang perawat menyebut nama ayahnya.


"Ya, saya anaknya dari pak Ramdan." Jawab Sela sedikit gugup.


"Begini Nona, pak Ramdan sudah dipindahkan ke ruang rawat yang dipesankan oleh Tuan Ganan. Mari, saya antarkan Nona." Ucapnya.


"Tunggu sebentar ya, Sus. Saya mau ambil bawaan saya terlebih dahulu." Jawab Sela, kemudian segera ia kembali ke ruang pasien untuk mengambil barang barang bawaannya dan dibantu oleh Ibu Melin. Setelah itu, Sela dan Ibu Melin mengikuti arah kemana seorang perawat memberi petunjuk jalan menuju dimana orang tua Sela berada.


"Silahkan masuk, Nona, Ibu." Ucapnya setelah membukakan pintunya.


"Terima kasih banyak, Sus." Jawabnya, kemudian Sela dan Ibu Melin masuk kedalam ruangan yang cukup luas. Bahkan ruangannya cukup mewah dan terasa nyaman untuk menunggu orang yang sedang sakit.


"Tante, mewah banget ya ruangannya." Kata Sela sambil memperhatikan disetiap sudutnya.


"Namanya juga orang berduit, Sel. Yang pastinya pelayanannya sangat mewah dan juga terjamin, berbeda untuk model kek kita." Jawab Ibu Melin yang juga ikut memperhatikan disetiap sudutnya, begitu luas dan dengan fasilitas yang cukup memadai.


Sedangkan di kediaman keluarga Danuarta, ada Zakka yang masih berada didalam kamar barunya itu. Yang dimana ia tengah menonton televisi ditemani dengan cemilan yang disediakan oleh Ibundanya.


Berbeda dengan ruangan keluarga, ada Tuan Ganan dan istrinya serta Omma Qinan dan Kakek Angga yang tengah duduk santai sambil menikmati cemilan buatan asisten rumah.


"Bagaimana dengan kondisi Zakka? apakah ada peluang untuk kesembuhannya dalam waktu dekat?" tanya Kakek yang ingin tahu keadaan cucu laki lakinya.


Tuan Ganan dan Bunda Maura saling menatap satu sama lain, seakan meminta izin untuk menjelaskan semuanya. Bunda Maura yang tak mampu untuk menjelaskannya secara detail, ia lebih memilih menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah suaminya untuk memberi sebuah kode.


Kakek Angga dan Omma Qinan yang sekilas melihat anak dan menantunya seperti memberi kode, akhirnya menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar.


"Untuk mengenai kesembuhan Zakka dengan waktu dekat, kemungkinan jauh dari perkiraan, Pa." Jawab Tuan Ganan yang tidak berani untuk mendongakkan pandangannya ke arah Kakek Angga maupun Omma Qinan.


"Terus ... apakah tidak ada cara lain untuk kesembuhan Zakka?" tanya Kakek Angga.

__ADS_1


Omma Qinan yang tahu akan kesedihan menantunya, Beliau menggeser tempat duduknya dan duduk disebelah kanan Bunda Maura yang terlihat menyimpan kesedihannya yang begitu dalam.


Bagaimana tidak bersedih, kedua anaknya putra dan putrinya tengah bahagia dengan pernikahannya, sedangkan Zakka dalam keadaan yang memprihatinkan. Hati yang terluka, dan juga Fisik yang juga sama terlukanya. Omma Qinan pun langsung merangkul dan memeluk menantunya.


"Kamu, Ganan, dan juga Zakka pasti bisa melewati semua ini. Bersabarlah, semua akan ada waktunya untuk bahagia. Yang harus kamu lakukan, jadilah penyemangat untuk putramu." Ucap Omma Qinan, kemudian mengusap punggungnya perlahan.


Bunda Maura yang tak tahu harus berkata apa, Beliau hanya menangis sesenggukan ketika mengingat putra keduanya itu.


Setelah cukup membuat menantunya merasa tenang, Omma Qinan melepaskannya dan membantu mengusap air matanya.


"Zakka anak yang periang, dia juga mampu untuk menutupi kesedihannya. Tapi, kalian berdua tidak boleh lupa dengan perhatian yang cukup untuk Zakka." Ucap Omma Qinan yang terus mengingatkan anak dan menantunya.


"Ya, Ma. Untuk memberi perhatian, itu sudah pasti." Jawab Tuan Ganan.


"Ganan, bagaimana kalau Zakka dibawa ke Luar Negri untuk dilakukan pengobatan." Kata Kakek memberi sebuah saran untuk kesembuhan Zakka.


"Ya, Pa. Untuk sementara ini, kita tunggu hasil selanjutnya dulu. Apakah ada perubahan, atau tidaknya. Jika tidak ada perubahan sama kaki Zakka, maka jalan satu satunya kita akan membawa Zakka ke Luar Negri." Jawab Tuan Ganan.


"Ya, Mama juga setuju. Kita tunggu hasilnya saja terlebih dahulu, jika tidak ada perubahan, secepatnya Zakka dibawa ke Luar Negri." Sahut Omma Qinan ikut menimpali.


"Ya sudah kalau gitu, pokok intinya kita lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Zakka." Ucap Kakek Angga, semuanya pun menyetujuinya.


"Ya, setuju." Jawabnya bersamaan.


Tuan Ganan yang teringat dengan pekerjaan yang belum diselesaikan, akhirnya Beliau masuk ke ruang kerjanya. Sedangkan Bunda Maura memilih untuk beristirahat didalam kamar.


Sebelum masuk ke ruang kerjanya, Tuan Ganan mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


"Hari ini aku ada pekerjaan yang cukup padat untuk aku selesaikan, kalau kamu mau istirahat, istirahatlah." Ucap Tuan Ganan sambil melepaskan kemejanya dan mengganti baju santainya.


"Maukah aku buatkan minuman jahe?"


"Boleh, jangan manis manis."


"Baiklah, aku akan membuatkannya sekarang juga." Ucap Bunda Maura dan segera pergi kedapur, sedangkan Tuan Ganan masuk ke ruangan kerjanya.


Sampainya di dalam ruang kerjanya, pandangan Tuan Ganan tertuju pada satu lembar foto yang tergeletak disebelah laptopnya.


"Foto Maura, perasaan aku tidak menyimpan foto Maura yang ini." Gumam Tuan Ganan sambil memperhatikan foto istrinya.


Disaat itu juga, Tuan Ganan melihat satu lembar lagi foto yang ada dilantai yang tidak jauh dari sofa. Dengan rasa penasarannya, Tuan Ganan mengambilnya.


"Foto keluarga? Perasaan tidak ada yang masuk ke ruangan kerjaku ini, siapa yang masuk?" lagi lagi Tuan Ganan menaruh perasaan curiga.


"Papa, ini minuman jahe nya." Panggil Bunda Maura sambil berjalan membawa satu gelas minuman jahe, kemudian diletakkannya diatas meja kerjanya.

__ADS_1


"Papa kenapa? kok seperti ada sesuatu." Tanya Bunda Maura mendekati Beliau.


"Ini, ada foto kamu sama foto kita bersama ketiga si kembar." Jawab Tuan Ganan, kemudian memberikan dua lembar foto pada istrinya.


Bunda Maura yang menyimpan rasa penasaran, segera dilihatnya foto miliknya dan juga foto keluarga kecilnya dahulu. Yang dimana ketiga anak kembarnya masih usia sepuluh tahunan.


"Bukankah ini foto yang disimpan sama Rey?"


"Rey, kamu bilang?" tanya Tuan Ganan dan mengernyitkan keningnya.


"Ya, ini foto pernah aku temukan di kamarnya. Kata Rey ini miliknya, dan dia bilang untuk dijadikan semangatnya." Jawab Bunda Maura sambil mengingatnya.


"Terus, kenapa tidak ada foto Papa yang sendirian?" tanya Tuan Ganan dengan rasa penasarannya.


"Kata Rey, Karena Papa sudah ada di foto ini. Begitu jawabnya sambil menunjuk ke foto kamu yang sedang menggendong Rey." Jawab Bunda Maura sambil memberikan sebuah penjelasan kepada sang suami.


'Aku yakin, Rey pasti masuk ke ruangan ini. Ada apa dengan Rey? ah ya, aku coba tanya aja sama Papa.' Batin Tuan Ganan mencoba mencernanya.


"Pa, kok diam?" tanya Bunda Maura.


"Tidak ada apa apa, aku hanya sedang pusing memikirkan pekerjaan ku yang sudah menumpuk. Kalau soal foto itu, berarti Rey yang masuk ke ruangan ini." Jawab Tuan Ganan menebaknya.


"Ah ya, mungkin saja." Jawab Bunda Maura tanpa ada rasa penasaran apapun pada putranya.


"Ya sudah kalau kamu ingin beristirahat, aku mau mengecek pekerjaanku. Kalau sudah dikerjakan oleh Rey, aku tidak akan meminta Seyn untuk datang ke rumah." Ucap Tuan Ganan, Bunda Maura hanya bisa nurut dan memilih untuk kembali ke kamar.


Sedangkan Tuan Ganan segera duduk dan membuka layar lebar nya untuk mengeceknya kembali.


Sedangkan di kamar ruang tamu yang dijadikan kamar barunya Zakka, akhirnya Zakka mulai merasa kantuk dan juga merasa sulit untuk membuka kedua matanya.


"Tumben banget dah, ngantuknya kebangetan. Apa karena kamar ini tidak pernah ditempati, ya. Benar benar seperti dihipnotis, susah untuk membuka mata." Gumam Zakka, kemudian ia meletakkan remot televisinya di atas nakas.


Karena sudah sangat mengantuk, Zakka memilih untuk beristirahat, pikirnya. Begitu juga dengan Bunda Maura, Beliau yang terasa pegal pegal pada bagian punggungnya, Bunda Maura segera beristirahat dan memejamkan kedua matanya.


Sedangkan yang masih berada di rumah sakit, Sela duduk disebelah orang tuanya setelah shalat dzuhur..


"Sela, kamu istirahat saja dulu. Ada tampat tidurnya juga loh, jadi kamu bisa tidur sebentar. Kasihan kesehatan kamu, pasti di rumah sakit kamu jarang beristirahat. Kamu tidak perlu khawatir, biar Tante yang akan menunggu Papa kamu, lebih baik kamu istirahat sajan. Lagian juga, suami Tante mau datang kesini. Jadi, lebih baik kamu istirahat." Ucap Ibu Melin mencoba untuk membujuk Sela.


"Sela tidak apa apa kok, Tante. Sela juga sudah terbiasa, Tante saja yang istirahat." Jawab Sela berusaha untuk menolaknya.


"Sela, kamu bandel ya. Sudah, cepetan istirahat beberapa menit. Lumayan loh, nanti malam kamu harus sendirian lagi, 'kan? mumpung ada Tante, kamu bisa istirahat sebentar." Perintah Ibu Melin, Sela menggelengkan kepalanya.


"Sela, kalau kamu tidak mau istirahat juga, Tante akan laporkan kamu ke Aish." Kata Ibu Melin yang akhirnya terpaksa memberikan ancaman pada Sela. Karena tidak ada cara lain selain untuk memberikan sebuah ancaman untuknya, pikir Ibu Melin dengan idenya itu.


Sela yang mendengar sebutan nama Aish, akhirnya mau tidak mau Sela nurut dengan apa yang diperintahkan oleh Ibu Melin.

__ADS_1


__ADS_2