
Ketika sang istri berada dalam pelukannya, pandangan Rey tertuju pada Yahya yang sedang berdiri mematung. Kenyataan yang benar benar harus diterima oleh Yahya saat melihat perempuan yang disukainya kini tengah berada dipelukan lelaki lain. Sakit, itu sudah pasti.
Merasa sudah cukup, Rey melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya yang terlihat jelas jika istrinya menyimpan penuh beban pikiran.
"Kamu mau pergi kemana? kenapa kamu membawa tas besar? apa kamu sedang ada masalah?" tanya Rey sambil menatap wajah istrinya. Entah kenapa, saat Aish menatap wajah suaminya serasa dalam hipnotisnya.
"Aku mau pergi ke Toko kueh, aku mau tinggal disana." Jawab Aish yang merasa bingung untuk menjelaskan permasalahannya. Sedangkan Yahya masih berdiri mematung memperhatikan Aish dan Rey.
"Tinggal di Toko kueh? memangnya ada masalah apa? sampai sampai kamu pindah tempat, apakah Tante Melin mengusir mu?" tanya Rey pura pura tidak tahu.
Aish masih saja diam, ia bingung harus menjelaskannya. "Em ...."
"Aish!" panggil seseorang turun dari mobil dan menghampirinya. Rey maupun Aish menoleh ke sumber suara.
Betapa terkejutnya antara Aish dan suami maupun yang memanggil namanya. "Zakka!" panggil Aish dan Rey bersamaan.
"Kak Rey? kalian berdua?" sambil menyebut nama sang kakak, Zakka melihat ada dua tas disebelah kanan kiri Aish dengan penuh tanda tanya didalam pikirannya. Pikirannya pun melancong kemana mana.
Yahya yang melihat pemandangan yang menurutnya sangat menyakitkan itu, ia memilih pergi untuk tidak membuat hatinya semakin terasa sakit saat melihat Aish dengan dua laki laki yang sama suksesnya dan juga sama tampannya.
"Bukankah kamu harus berada di Kantor? kenapa bisa bisanya kamu berada di jalanan? cepat pergi dan kembali lah ke Kantor." Ucap Rey setengah mengusir saudara kembarnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku harus mengawasi kalian berdua." Sahutnya dengan ketus.
"Kita berdua tidak perlu kamu awasi, kita normal. Jadi, kita berdua tidak bakal saling bun*uh memb*unuh." Kata Rey, Aish yang mendengar perdebatan kakak beradik segera mengambil dua tasnya dan pergi meninggalkan kedua lelaki yang terlihat tengah berdebat.
"Saya! ..." kalimat untuk memanggil istrinya pun tercekat ditenggorokan, bahkan disaat itu juga mulutnya pun menganga. Rey lupa posisinya berada di dekat saudara kembarnya, alhasil gagal saat ingin memanggil sebutan istrinya dengan panggilan sayang.
Zakka yang mendengarnya pun, merasa aneh dan bengong dengan arah pandangannya tertuju pada sang kakak.
"Saya! maksud Kakak?" tanya Zakka yang tidak sadarkan diri jika Aish sudah cukup jauh dari pandangannya.
"Tidak ada maksud, sudah sana pergi. Aku mau mengejar Zahra ku, kamu tidak perlu membuntitiku." Usir Rey dan segera berlari mengejar istrinya yang sudah lumayan jauh langkah kakinya. Sedangkan Zakka masih sibuk memikirkan sang kakak yang menyebut nama Aish dengan panggilan Zahra.
"Zahra? sejak kapan itu anak panggil Aish dengan nama Zahra, ah! kenapa aku tertinggal jauh. Sia*lan! mereka berdua sudah naik mobil, lagi. Lihat saja, aku akan mengejar mereka berdua. Enak saja mau merebut Aish begitu saja, tidak tahu perjuanganku yang sekian lamanya menunggu." Gumam Zakka sambil berkacak pinggang, setelah sadar dari lamunannya ia segera mengejar sang kakak yang sudah membawa kabur perempuan yang dicintainya.
"Tetaplah bersamaku, sampai kapanpun." Ucap Rey sambil menggenggam erat tangan milik istrinya.
Aish yang mendengar ucapan dari suaminya seakan terhipnotis dan luluh begitu saja, bahkan detak jantungnya berdegup kencang dan tangannya ikut berkeringat. Malu, itu sudah pasti dan tidak bisa untuk mengelaknya.
'Kenapa aku merasa begitu nyaman saat dia berada didekatku, tatapannya saja mampu meluluhkan hatiku dan juga seakan menghipnotis ku.' Batin Aish sekilas menoleh kearah suaminya yang tengah fokus dengan setirnya.
Tidak lama kemudian, Aish dan suami telah sampai berada didepan Toko kuehnya. "Kita sudah sampai." Ucap Rey, kemudian menoleh kearah istrinya dan lagi lagi Rey mendaratkan sebuah ci*umannya tepat pada bibir milik Aish dengan lembut dan terasa hangat dalam benak pikiran istrinya.
__ADS_1
Sejak dirinya mendapatkan izin dari istrinya, Rey merasa jika istrinya bagaikan candu untuknya. Aish yang mendapatkan ciuman dari suaminya serasa malu, bahkan dirinya belum terbiasa untuk melakukannya.
"Ayo kita turun." Ajak Rey yang hendak membuka pintu mobilnya, Aish pun mengangguk dan segera turun dari mobil.
Ketika sudah keluar dari mobil dan berjalan menuju ke dalam Toko kueh, secara mendadak Zakka sudah berada disebelah Aish. Ketiganya berjalan beriringan, Rey semakin geram dibuatnya. Namun mau bagaimana lagi, ada sang adik yang belum mengetahui hubungannya dengan istrinya. Mau tidak mau, Rey harus menjaga jarak pada istrinya.
Aish yang merasa risih ketika sebelah kanan dan kirinya ada seorang laki laki yang berjalan beriringan dengan nya. Sebisa mungkin dirinya untuk menghindarinya. Aish tidak ingin akan di cap buruk oleh karyawan di Toko kueh nya.
"Stop! silahkan duduk, aku mau membuatkan minuman untuk kalian berdua. Jadi, tetap lah berada disini." Ucap Aish dengan tatapan serius pada Zakka maupun suaminya sendiri secara bergantian.
Rey yang hanya bisa nurut pada perintah istrinya, mau tidak mau hanya pasrah. 'Selagi Zakka tidak bersikap kurang ajar, aku masih memaklumi nya. Jika Zakka bersikap tidak tahu diri, siap siap aku akan menghajarnya.' Batin Rey mengarahkan pandangannya kearah lain.
"Kak Aish, tunggu." Seru salah satu karyawan kepercayaan Aish tengah memanggilnya sambil berjalan terburu buru.
Aish yang berjalan sambil membawa nampan yang ada dua gelas minuman teh panas, segera ia menghentikan langkah kakinya tepat di dekat suaminya dan Zakka. Setelah itu ia menoleh ke sumber suara.
"Sela, ada apa? jalannya kenapa terburu buru?" tanya Aish sambil memegangi nampan.
"Kata Kak Aish hari ini mau libur kerja, kenapa berangkat kerja? oooh ada karyawan baru?" tanya Sela dan pandangannya mengarah ke Zakka dan Rey yang sedang duduk di kursi dengan jarak sekitar satu meter.
Aish tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Sela.
__ADS_1
"Iya, kita berdua karyawan baru yang ingin mendaftar pekerjaan." Sahut Zakka menimpali dan bangkit dari posisi duduknya, lalu mendekati Aish. Rey yang tidak terima istrinya didekati saudara kembarnya, dirinya ikut bergegas mendekati sang istri. Takut, jika saudara kembarnya terang terangan ingin mencari perhatian dari istrinya.
'Gawat! kalau Zakka beneran bekerja di Toko kueh milik istriku bisa bisa Zakka mempunyai kesempatan untuk deketin istriku terus terusan, oh! tidak akan.' Batin Rey yang mulai gelisah jika sang adik akan beralih untuk bekerja di Toko milik istrinya sendiri.