Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Menyelidik


__ADS_3

Usai berpamitan dengan sang istri, Rey bergegas pergi untuk pulang. Tinggal lah Aish dirumah sendirian dan hanya ditemani oleh beberapa pelayan dirumah.


Karena penasaran dengan isi didalam kamarnya, Aish memperhatikan disetiap sudut ruangan. Sepasang matanya tertuju pada Balkon, lalu ia berjalan dan ingin mengetahui keadaan rumah yang ia tempati.


"Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?" gumam Aish sambil melihat apa yang dapat ia tangkap lewat kedua matanya. Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang tengah pergi melewati pintu gerbang yang kokoh dan tinggi.


"Rumahnya saja besarnya seperti ini, lantas bagaimana dengan rumah orang tuanya? aku benar benar seperti mimpi berada di rumah ini. Sangat jauh berbeda dengan rumah yang aku tempati, bahkan masih bagusan tempat security." Gumam Aish dengan takjub dan juga kagum.


Dikarenakan masih pagi dan sudah merasa bosan tidak ada suami ataupun orang yang ia kenal, Aish memilih untuk keluar dari kamar. Berharap ia menemukan orang yang cocok untuk dijadikan teman mengobrol.


Dengan pelan, Aish menuruni anak tangga. Dilihatnya beberapa asisten rumah tengah sibuk melakukan pekerjaannya masing masing. Bahkan satu pun tidak ada yang mengeluarkan suara, semua bekerja dengan situasi hening.


Saat hendak berada di urutan tangga yang terakhir, sepasang mata Aish tertuju pada dua orang yang mencuri perhatian Aish, yakni dua orang asisten rumah yang terlihat hanya mondar mandir bak mandor. Disaat itu juga, salah satu asisten rumah menghampirinya.


"Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sedikit membusungkan badannya ketika berada di hadapan istri dari Tuan Muda nya.


"Tidak ada kok, Mbak. Saya merasa bosan saja didalam kamar, soalnya tidak ada teman." Jawab Aish diakhiri dengan senyum manisnya.


"Kalau Nona tidak keberatan, Nona bisa lihat lihat kebun di belakang rumah. Siapa tahu saja bisa dijadikan tempat untuk cuci mata." Ucapnya.


"Ah ya, saya sampai lupa. Mbak nya bisa temani saya, 'kan? saya masih belum terbiasa di rumah sebesar ini." Kata Aish sedikit canggung, mau bagaimanapun Aish orang baru didalam rumah suaminya sendiri.


"Tentu saja, Nona. Saya selalu bersedia untuk menemani Nona, mari Nona." Jawabnya seramah mungkin, Aish pun membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


'Sepertinya istri Tuan Rey baik orangnya, semoga saja.' Batin nya sambil berjalan menuju belakang rumah.


"Kalau boleh tahu, nama Mbak nya siapa ya? biar lebih jelas dan lebih akrab lagi, sepertinya juga kita satu umuran deh. Perkenalkan namaku Aishwa, kerap dipanggil Aish. Jangan panggil Nona, ya. Panggil saja Aish, kita temenan. Aku dan kamu, biar enak untuk dijadikan teman mengobrol." Ucap Aish mengajaknya untuk berteman.


"Tapi Nona, kalau ketauan Tuan Muda bagaimana? bisa bisa nanti saya dipecat." Jawabnya merasa tidak enak hati, dan tentunya takut disangkakannya tidak ada sopan dan santunnya pada sang majikan, pikirnya.


"Kamu tidak usah takut, suamiku orangnya baik. Cuman sekedar panggilan dan menjadi teman itu tidak merugikan, kamu bisa panggil aku Nona jika dihadapan keluarga suamiku. Terasa jauh jika kamu memanggilku dengan sebutan Nona, yang ada hanya rasa sungkan dan sungkan." Kata Aish yang terus merayu nya.


"Saya sudah terbiasa, Nona. Bukan berarti saya tidak mau jadi teman Nona, saya bersedia kok. Biarkan saja saya memanggilnya dengan panggilan Nona, takutnya nanti akan terasa kaku dan pastinya takut salah ucap ketika berada disekeliling keluarga besar Wilyam." Jawabnya yang tidak bisa dirubah, Aish pun hanya menanggukkan kepalanya. Ia tidak mempunyai hak untuk memaksanya, ditambah lagi mencari pekerjaan sangat susah. Aish tidak ingin orang yang dihadapannya itu kehilangan pekerjaan, Aish lebih memilih untuk mengalah.


"Nama Mbak nya siapa? biar lebih enak memanggilnya." Tanya Aish yang ingin tahu.


"Nama saya Widya, Nona." Jawabnya menyebutkan namanya, Aish pun mengangguk dan tersenyum sambil berjalan.


Tidak lama kemudian, akhirnya Rey telah sampai didepan rumah orang tuanya dengan pikirannya yang mulai was was dan campur aduk rasanya. Takut, cemas, gelisah, kini tengah dirasakan oleh Rey seorang diri.


"Tuan, tetap lah bersikap tenang. Jangan menaruh kecurigaan pada Tuan Muda Zakka, takutnya akan berurusan yang lebih panjang lagi." Ucap Pak Dirwan mengingatkan, Rey pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Rey langsung bergegas turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumah.


Saat mau memasuki ruang tamu, tiba tiba langkah kakinya terhenti begitu saja. Betapa tekejutnya saat melihat saudara kembarnya yang sudah berdiri tegak diambang pintu utama dengan tatapan yang tajam dan penuh menyelidik.


"Dari mana saja kak Rey? sampai sampai harus pulang sepagi ini." Tanya Zakka sambil memeriksa penampilan saudara kembarnya itu dari atas sampai bawah.


"Aku ada pertemuan dengan temanku di luar Negri, kebetulan aku malas pulang, jadi aku nginap di Hotel." Jawa Rey dengan tenang dan juga sangat santai, Zakka yang mendengarnya pun semakin penasaran dibuatnya.

__ADS_1


Tanpa Rey sadari, jawaban darinya akan dilakukan penyelidikan oleh saudara kembarnya sendiri.


Zakka yang masih terasa kesal saat berhadapan dengan sang kakak, ia lebih memilih untuk segera menyingkir dari hadapan saudara kembarnya.


Rey yang merasa aman dan tidak ada lagi keganjalan pada saudara kembarnya itu, ia langsung masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


"Syukur lah jika Zakka hanya merasa kesal saja, aku dapat bernapas lega." Gumam Rey sambil mengganti pakaiannya.


Berbeda dengan Zakka, justru dirinya tengah sibuk untuk menghubungi orang orang yang kini sudah menjadi orang suruhannya. Rasa penasaran dengan sosok sang Kakak, Zakka mulai melakukan penyelidikan layaknya musuh terpendam secara diam diam.


"Sedang apa kamu, Nak?" tanya sang ibu mengagetkan putra keduanya.


"Eh Mama, ngagetin aja." Sahut Zakka, kemudian ia langsung mematikan laptopnya.


"Keluarga Danuarta sudah datang tuh, apa kamu tidak ingin menemui Kazza? ada Afna dan suaminya juga loh. Kasihan mereka yang sudah pada datang, masa ya tamunya tidak kamu sambut dengan ramah. Ada Paman Tirta, kakek Zio dan ada paman Alfan juga dibawah, sudah sana turun." Ucap sang ibu, kemudian Bunda Maura segera keluar dari kamar putranya.


Zakka yang masih terasa malas untuk menemui keluarga besarnya, terpaksa ia segera keluar dari kamarnya.


Sedangkan Rey yang sudah mengganti pakaiannya, cepat cepat ia segera keluar dari ksmarnya.


"Mama, kirain siapa. Ngagetin aja, ada perlu apa Ma?"


"Keluarga besar sudah pada kumpul, buruan temui mereka."

__ADS_1


"Ya Ma, ini juga mau turun kebawah." Jawab Rey dengan aura wajah yang sangat berbeda dengan sebelumnya.


__ADS_2