Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Perseteruan


__ADS_3

Saat dalam perjalanan pulang, Aish masih lelap dalam dekapan suaminya. Sedangkan Rey sudah terbangun dari tidurnya.


"Maaf Tuan, kita mau pulang ke rumah yang mana?" tanya pak Dirwan sambil menyetir mobilnya.


"Kita pulang ke rumah yang dulu saja, Pak. Kasihan, jika istri saya tidur di Toko. Takutnya akan melakukan aktivitasnya ketika saya sedang tidak ada di rumah." Jawab Rey masih memeluk istrinya yang sedang lelap dari tidurnya.


"Baik Tuan," jawab Pak Dirwan.


Sedangkan di rumah Ibu Melin, Rena tengah bersantai santai sambil menyibukkan diri dengan benda pipihnya.


"Mau sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini? apa kamu tidak ingin mempunyai cita cita seperti Kakak kamu? cari pekerjaan kek, atau apa lah. Tidak bersantai seperti ini, kamu itu sudah besar dan tidak lagi remaja. Bahkan, kamu sudah lulus kuliah." Ucap Ibu Melin sambil membereskan ruang tamu.


"Mama ngapain sih, ngedumel terus terusan. Ngapain Rena harus kerja, kak Aish itu masih ada hutang sama Rena." Sahut Rena dengan santai, pandangannya pun tertuju pada sebuah ponsel yang beralih ke akun media sosialnya.


"Hutang? hutang apa? kamu jangan mengada ngada, Rena." Tanya sang ibu penasaran, Rena tersenyum tipis melihat ibunya terkejut mendengarnya.


"Kenapa Mama jadi lemot begini sih? ya hutang selama ikut Mama lah, emangnya hutang apa lagi. 6 tahun itu lama loh Ma, bayangin aja kalau dihitung jadi dwit perbulannya." Jawab Rena dengan tawanya seperti hilang akal sehatnya.


"Rena!! semakin kesini, kamu semakin tidak tahu diri. Jangan jangan kamu sudah mengancam Aish dengan yang kamu dapatkan itu, ayo! katakan sama Mama."


"Ya iya lah, uang mana lagi kalau bukan minta sama kak Aish dengan paksa. Kalau tidak begitu, Rena tidak dapat uang. Penghasilan Mama kan kecil, mana cukup." Sahut Rena dengan berani, bahkan ia tidak peduli siapa yang sedang diajaknya bicara.


Tanpa Rena sadari, jika perlakuannya terhadap ibunya selalu diawasi dengan CCTV. Salah satu anak buah Rey diminta untuk selalu mengawasi apa saja yang terjadi di rumah ibu Melin. Bahkan sudah mengantisipasi adanya sesuatu yang tidak diinginkan.


Ibu Melin yang terasa geram, Beliau berusaha untuk bersikap sabar atas perbuatan Rena yang begitu keterlaluan. Ingin rasanya memberi pelajaran untuk putrinya, namun Beliau selalu berusaha untuk mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Rena, hentikan perbuatan keji mu itu. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." Ucap Ibu Melin berusaha untuk mengingatkan putrinya, Rena tetap pada pendiriannya.


Karena malas berdebat dan mendapatkan nasehat dari ibunya, Rena memilih untuk pergi dari rumah agar tidak melulu mendapatkan ocehan dari ibunya. Entah kemana perginya, dan entah sandiwara apa yang dilakukan Rena. Tiba tiba ide dikepalanya muncul begitu saja, dan akhirnya Rena mengemasi baju bajunya untuk dimasukkan kedalam koper.


"Rena! kamu mau kemana? jangan pergi, Nak."


"Lepaskan! Rena bosan tinggal di rumah ini, Mama sama kak Aish itu sama saja. Mama itu lebih mentingin kak Aish ketimbang Rena."


"Rena! dengarkan dulu penjelasan dari Mama, kamu harus dengerin dulu, Nak." Ucap Ibu Melin mencoba menahan putrinya agar tidak pergi jauh.


"Tidak! sekali tidak! tetap tidak, Mama minggir."


"Awwww!!!!!" teriak Ibu Melin sambil memegangi kepalanya yang terbentur sebuah tembok yang cukup kuat itu, dan seketika itu juga, Ibu Melin jatuh pingsan. Rena yang melihat ibunya jatuh pingsan, ia langsung pergi dari rumah untuk kabur. Dirinya takut jika dijadikan tersangka, namun sayangnya Rena lupa jika di rumah Ibu Melin sudah terdapat CCTV sejak hadirnya Aish di rumah Ibu Melin.


Hening, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Berulang kali mencoba mengucapkan salam, masih saja hening.


Dengan pintu yang terbuka, Lelaki paruh baya itu terus memanggil nama Ibu Melin. Tetap saja tidak mendapatkan jawaban dari pemilik rumah.


Karena tidak ada sahutan, akhirnya menyebut nama Ibu Melin untuk meyakinkan jika yang mengucapkan salam adalah tamunya. Tetap saja hasilnya nihil dan tidak mendapatkan sahutan dari dalam rumah.


Sedangkan seorang yang mendapatkan tugas dari Rey, begitu terkejutnya saat melihat perlakuan seorang anak gadis yang tega mencelakai ibunya. Dengan sigap dan langsung mendatangi rumah Ibu Melin secepatnya, takut nyawanya Beliau tidak tertolong.


Sesorang yang ingin bertamu di rumah Ibu Melin, terus dan terus memanggil nama Ibu Melin. Berharap panggilannya yang terakhir akan mendapatkan jawaban.


"Melin! Melin!" panggilnya lagi dengan suara yang cukup nyaring, tetap saja tidak mendapatkan respon.

__ADS_1


Disaat itu juga, tiba tiba datanglah ambulan dan beberapa orang dan juga polisi yang datang mengagetkan.


"Loh loh loh loh, ada apa ini Pak polisi?" tanyanya yang mendadak terkejut saat mendapati beberapa anggota polisi yang sudah berada didepan rumah Ibu Melin.


Tidak hanya itu saja, para tetangga pun dibuatnya heboh ketika mobil ambulan datang beserta beberapa anggota polisi. Dengan sigap, beberapa anggota polisi langsung masuk ke dalam rumah untuk menyelidiki kasus tersebut.


"Maaf, anda siapa?" tanya salah satu anggota polisi.


"Sas -- saya Pak Oni, saya adalah tamu dari kampung, Pak Polisi. Maaf sebelumnya Pak, memangnya ada kasus apa ya? kenapa rombongan Bapak tiba tiba datang ke rumah ini?" tanya Pak Oni mendadak penasaran.


"Maaf, saya tidak mempunyai waktu. Saya harus mengurus masalah ini agar segera terselesaikan dan dapat ditemukan pelakunya." Ucap Pak Polisi.


Seketika, Pak Oni terkejut melihat perempuan yang ingin ia temui tidak sadarkan diri masuk kedalam mobil ambulan.


"Melin!!!! Melin!!!" teriak Pak Oni dengan kencang, kemudian Beliau berlari untuk mengetahui keadaan Ibu Melin. Sayangnya, Pak Oni dilarang untuk mendekati Ibu Melin.


"Lebih baik Bapak ikut kami, anda harus kamu tahan." Ucap Pak Polisi yang langsung memborgol kedua tangan milik Pak Oni untuk dilakukan penyelidikan. Mau bagaimana pun, tetap saja dijadikan tersangka. Karena apa? Pak Polisi belum mengoreksi rekaman CCTV.


"Salah saya apa, Pak? saya ini tamu dari kampung sebrang. Saya bukan tersangka, kedatangan saya ke Kota untuk menemui mantan istri saya. Mana mungkin saya mencelakai mantan istri saya sendiri, itu tidak mungkin."


"Jangan banyak bicara, suami saja bisa membunuh istrinya. Apalagi mantan, bisa saja ada udang dibalik batu. Jangan melawan! apa lagi untuk kabur." Sahut Pak Polisi dengan suara yang cukup tegas saat memberi ancaman pada tersangka, Pak Oni hanya bisa pasrah atas sangkaan dari pihak Polisi pada Beliau.


Karena tidak mempunyai pilihan, Pak Oni hanya diam tanpa bersuara. Beliau memilih untuk tetap tenang dan tidak untuk melawan.


Siapa ya Pak Oni? ada yang masih ingat? dari sebrang loh, di novel masa mudanya Tuan Ganan nih , eh eh, eh, siapa siapa?

__ADS_1


__ADS_2