
"Kemarilah Nak, sini mendekat di samping Papa." Panggil Tuan Ganan pada menantunya.
"Ya Pa," jawab Aish menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berdiri disebelah ayah mertuanya, sedangkan disebelah kiri ada Pak Soni.
Ibu Melin mulai bingung ketika Tuan Ganan memanggil Aish untuk berdiri di sebalah mantan suaminya itu. Disaat itu juga, Ibu Melin baru tersadar jika Tuan Ganan adalah pemilik Toko di kampung sebrang.
'Jadi, Tuan Ganan adalah putra dari Tuan besar yang bernama Angga Wilyam. Keluarga yang berbusanan dengan almarhumah Ibu Romlah, tepatnya almarhum pak Sobirun. Ya Allah, dunia ini memang sempit. Kenapa aku baru menyadarinya, kemana pikiranku selama ini. Jangan jangan, ayah mertua Aish mau membuka kunci rahasia kami pada Aish. Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan pada Aish, mungkin kah Aish akan marah besar terhadapku? jangan, jangan sampai terjadi. Aku harus menghentikannya, aku belum siap untuk mengakuinya.' Batin Ibu Melin sambil melamun.
"Sebenarnya ada apa ini, Pa? kenapa semuanya kelihatan tegang? apakah ada sesuatu yang dirahasiakan?" tanya Aish berbagai macam pertanyaan pada sang ayah mertuanya karena rasa penasaran yang ada dalam benaknya.
"Em ... begini Nak, apakah kamu merindukan seorang Ibu dan ayah?" tanya Tuan Ganan untuk membuka pembicaraannya. Aish semakin bingung dan juga tidak mengerti.
"Tentu saja, Pa. Aish sangat merindukan kedua orang tua Aish, tapi apalah daya Aish. Hanya bisa menahan rasa rindu yang tak berujung, Aish ikhlas menerimanya. Mungkin cara Allah agar Aish selalu dekat dengan Nya Sang Maha Pencipta dan selalu mengirim doa untuk kedua orang tua Aish." Jawab Aish setengah menunduk, ia merasa tidak seberuntung suaminya yang masih mempunyai kedua orang tua yang lengkap. Setelah itu, Aish mendongakkan pandangannya pada ayah mertuanya.
Tuan Ganan menepuk pelan pundak menantunya. "Bagaimana kalau kenyataannya kedua orang tua kamu masih hidup? apakah kamu akan bersujud syukur pada Sang Pencipta?" tanya Tuan Ganan dengan tatapan serius.
Aish menatap lekat wajah yang tidak lagi muda, yakni ayah mertua.
"Kenyataan, tidak ada sesuatu yang sudah tiada hidup lagi. Terkecuali orangnya tidak ditemukan karena hilang, dan tidak ada jejak apapun, kecil kemungkinan masih bisa dikatakan masih hidup atau pun masih ada." Kata Aish, ia merasa aneh dengan sebuah kata kata dari ayah mertuanya.
'Mana ada orang yang sudah meninggal dengan nyata dikatakan hidup, itu mustahil.' Batin Aish yang merasa janggal dengan ucapan ayah mertuanya itu.
__ADS_1
Pak Soni dan Ibu Melin saling menatap satu sama lain, keduanya terlihat sedang mengatur pernapasannya. Ibu Melin yang ingin menghentikan Tuan Ganan yang hendak membuka kebesaran, ingin rasanya menyambar ucapannya Beliau. Sayangnya, Ibu Melin tak mampu untuk melakukan itu semua. Akhirnya hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Tuan Ganan pada Aish, setidaknya menanganinya dengan bijak.
"Papa kan tanya, bagaimana kalau kenyataannya kedua orang tua kamu masih hidup? berarti Papa berkata?" Tuan Ganan memulai memberi pertanyaan yang cukup sulit untuk dicerna. Aish masih diam, ia masih mencoba mencerna pertanyaan dari ayah mertuanya sendiri. Pak Soni dan Ibu Melin hanya bisa diam, ia tidak berani berucap sepatah kata pun.
"Bagaimana kalau kenyataannya, kedua orang tua Aish masih hidup?" Aish mengulang pertanyaan dari ayah mertuanya. Aish terus berpikir atas sebuah pertanyaan yang membuatnya semakin rumit untuk ia cerna.
"Sayang, masa ya kamu tidak bisa mencerna pertanyaan dari Papa. Kenyataannya kedua orang tua kamu itu masih hidup, berarti?" Rey mencoba membuka teka teki pertanyaan dari ayahnya itu.
"Kedua orang tuaku itu sudah meninggal, bahkan aku menyaksikannya langsung waktu itu. Bahkan aku sempat pingsan waktu itu, lalu kenapa tiba tiba kenyataannya kedua orang tuaku masih hidup? itu tidak mungkin." Ucap Aish dengan pendiriannya.
Rey mulai mendekati istrinya, digenggam lah erat tangan miliknya. Kemudian menarik napasnya dalam, berharap ia mampu mengatakannya langsung atas kebenaran yang ada. Tuan Ganan bergeser dari posisi berdirinya, Beliau memberi ruang untuk putranya berdiri disebelah istrinya.
Aish bingung dengan sikap suaminya, kemudian ia menatapnya dengan lekat.
"Katakan padaku, ada apa dengan semua ini? kenapa tiba tiba suasana menjadi hening? Tante Melin yang dari tadi hanya diam, dan Bapak paruh baya yang tidak aku kenali juga berdiri didekat Tante Melin. Papa juga, kenapa Papa ikutan diam? tolong katakan padaku." Tanya Aish dengan rasa penasarannya, Rey masih menatap wajah ayu nya sang istri tercintanya.
"Ini Pak Soni, mantan suaminya Tante Melin." Kata Rey memperkenalkan sosok Pak Soni pada istrinya.
"Terus ... apa hubungannya denganku? katakan lagi padaku dengan jujur." Tanya Aish dan meminta suaminya untuk berterus terang padanya, Rey mengangguk pelan.
"Pak Soni dan Ibu Melin adalah ...."
__ADS_1
"Cukup!" Ibu Melin langsung menyambar ucapan dari Rey yang hendak mengatakannya dengan jujur.
"Kenapa?" tanya Tuan Ganan ikut menimpali.
"Jangan diteruskan, itu sangat sakit untukku." Jawab Ibu Melin dengan perasaan takut, jika Beliau akan mendapatkan amarah dari putrinya.
"Mau sampai kapan kamu akan menyembunyikan kebenarannya? apakah kamu akan hidup dalam sebuah kebohongan terus menerus? jadilah seseorang yang bertanggung jawab, meski itu sangat menyakitkan sekalipun." Tanya Tuan Ganan dengan berani dan siap menanggung resiko yang terjadi.
Ibu Melin dan Pak Soni masih sama diamnya, sedangkan Aish semakin bingung dibuatnya.
"Pa, tolong jelaskan pada Aish. Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Aish tidak mengerti." Pinta Aish penuh harap sambil mengatupkan kedua tangannya, Tuan Ganan masih diam.
"Mereka berdua adalah ...." ucap Tuan Ganan menggantungkan kalimatnya.
"Kedua orang tua kamu, ya! Pak Soni dan Tante Melin adalah kedua orang tua kamu." Ucap Rey melanjutkan kalimat yang terputus oleh ayahnya.
Seketika, Aish tercengang mendengarnya. Dengan spontan, Aish menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ibu Melin dan Pak Soni yang mendengar ucapan dari Rey, disaat itu juga tenggorokannya terasa tercekik. Begitu sulitnya untuk menelan salivanya. Begitu juga dengan Aish, terasa tersambar petir disiang bolong.
Apa yang ia dengar dari mulut suaminya seakan hanya sebuah mimpi, Aish benar benar seperti tidak percaya mendengarnya. Ingin berteriak, ia sendiri tidak mampu untuk melakukannya. Rey semakin erat menggenggam tangan milik istrinya, kemudian menuntunnya untuk mendekati kedua orang tuanya.
Mau bagaimana pun, orang tua tetap lah orang tua. Apapun kesalahan orang tua, tetap lah orang tua.
__ADS_1