
"Zakka," panggil sang ibu menghentikan langkah kaki putranya yang hendak menapaki anak tangga. Zakka pun menoleh ke arah sumber suara.
"Mama, ada apa?" tanya Zakka.
"Kamu dipanggil Papa dan Kakek di ruang kerja Papa, cepat temui mereka." Jawab sang ibu, Zakka pun mengangguk.
"Memangnya ada apa lagi, Ma?" tanya Zakka penasaran, lalu ia berjalan mendekati ibunya.
"Nanti kamu akan mengetahuinya setelah menemui mereka, ada yang ingin disampaikan oleh Papa dan Kakek. Jadi lebih baik sekarang kamu temui Papa dan Kakek di ruang kerja Papa." Jawab Bunda Maura, lagi lagi Zakka hanya mengangguk. Rasa kecewanya masih ia rasakan sakit hatinya pada Aish dan juga sang kakak.
Karena penasaran dengan apa yang disampaikan Ibundanya, akhirnya Zakka segera menemui sang ayah dan juga Kakek Angga. Sedangkan Bunda Maura merasa khawatir jika tidak terimanya ketika melihat putranya semakin teriris hatinya saat melihat dan mendengarkan bukti yang sebenarnya.
Karena rasa takut yang terus menghantui pikiran Bunda Maura, akhirnya Beliau berharga jaga di dekat ruang kerja suaminya.
Dengan langkah kakinya penuh keraguan untuk masuk kedalam ruang kerja orang tuanya, Zakka memberanikan diri untuk berhadapan dengan Sang Kakek maupun ayahnya sendiri.
"Permisi, Pa ... Kakek, ada apa ya?"
__ADS_1
"Zakka, akhirnya kamu mau menemui Papa dan Kakek. Duduk lah, ada yang ingin Papa dan Kakek sampai sama kamu. Kuatkan hatimu, kamu tidak sendirian. Masa depan kamu tidak melulu hanya pada satu patokan, kamu masih mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan yang lebih baik lagi." Kata sang ayah memulai obrolannya.
Zakka yang merasa kedengaran serius, akhirnya dia duduk dihadapan Kakek dan ayahnya. "Siapkan hatimu, jangan mudah terprovokasi oleh emosi kamu sendiri." Ucap Kakek Angga ikut menimpali, Zakka mengangguk pelan.
Karena tidak ingin putranya menunggu lama, Tuan Ganan segera memperlihatkan sebuah rekaman CCTV dari awal dan akhir. Yakni rekaman yang dimana Rey diminta untuk menjaga Aish, dan segala sesuatu tentang Aish diserahkan semua pada Rey, saudara kembarnya Zakka.
Dengan seksama dan begitu jeli, Zakka melihat dan mendengarkan rekaman CCTV tersebut. Bergemuruh didalam dada nya itu sudah pasti, ditambah lagi dengan napasnya yang tiba tiba mendadak terasa sesak dan sulit untuk bernapas.
Ingin berteriak, itu tidak mungkin. Zakka hanya bisa menyimpan rasa campur aduknya sendiri. Ingin marah, dengan siapa ia harus marah? kecewa? itu sudah pasti. Tapi apa lah daya, semua yang sudah terjadi tidak bisa ia rubah dengan kemauannya. Menyesal, entah apa yang ada dibenak pikirannya yang sekarang. Mengikhlaskan atau justru akan membalaskan dendamnya karena kecewa.
"Zakka, bagaimana? apakah sudah cukup jelas kebenarannya? katakan pada Papa dan Kakek. Papa mohon, terimalah apapun kenyataannya. Kamu masih bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dari istri Kakak kamu, percayalah sama Papa. Lapangkan hatimu, jangan bersikap egois dan ingin menang sendiri." Ucap Tuan Ganan mencoba untuk meredakan emosi putranya.
"Yang dikatakan Papa kamu itu ada benarnya, Zakka. Lapangkan hati kamu, jangan kotori dengan emosimu. Jangan kamu ulangi kisah Kakek yang kedua kalinya, cukup Kakek dan Kakek Zio yang mengalaminya. Jangan kamu lanjutkan keegoisan mu itu, Kakek mohon. Bersikap lah dengan dewasa, seperti usiamu. Jangan jadikan permusuhan hanya karena perempuan, itu sangat merugikan diri kamu sendiri. Percayalah sama Kakek, jika kamu pasti akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari istri Kakak kamu. Intinya kamu harus bersabar dan menerimanya dengan lapang, atas semua yang kamu ketahui saat ini." Ucap Kakek Angga ikut menimpali.
Zakka masih terdiam, ia masih berpikir apa yang harus dikatakan untuk menjawab pertanyaan dari orang tuanya. Dalam dalam Zakka menarik napasnya, kemudian dengan pelan ia membuang napasnya dalam mata terpejam.
"Terima kasih banyak atas penjelasan dari Papa dan Kakek, Zakia tahu maksudnya. Maafkan Zakka yang sudah berambisi untuk menang sendiri tanpa memikirkan perasaan yang lainnya. Zakka akan mengikuti nasehat dari Papa dan juga Kakek, sekarang juga Zakka tidak akan mengusiknya lagi. Mungkin memang Aish lah jodoh Kak Rey, bukan untuk Zakka." Jawab Zakka dan menarik napasnya panjang, berharap ia bisa tegar ketika menjawab pertanyaan dari orang tuanya.
__ADS_1
"Syukur lah, jika kamu mau menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang. Kakek bangga sama kamu, Kake doakan untuk kamu agar segera mendapatkan perempuan sesuai harapanmu. Yang bisa menerima kamu apa adanya, dan juga mempunyai sifat baik dan budi pekerti." Kata Kakek Angga yang kini mulai merasa lega ketika mendengar jawaban dari cucunya.
Begitu juga dengan Tuan Ganan, perasaan Beliau ikut merasa lega ketika putranya dengan terang terangan telah merelakan sesuatu yang bukan miliknya.
"Papa juga bangga mempunyai anak laki laki seperti mu, bukan dendam dan amarah yang kamu tunjukan pada kami, tetapi jawaban yang cukup santun untuk diterima. Papa doakan, semoga kamu disegerakan untuk mendapatkan jodoh sesuai harapan mu. Kamu anak Papa yang sama suksesnya seperti Kakak kamu, dan pastinya ada saatnya kamu dipertemukan dengan perempuan yang akan menjadi jodohmu." Ucap Tuan Ganan ikut menimpali, Zakka pun tersenyum mendengarnya. Meski senyumnya itu masih terasa pahit untuk ia lakukan.
"Papa tidak perlu khawatirkan Zakka, mulai sekarang Zakka tidak akan menggebu gebu untuk mencari pasangan. Ada waktunya sendiri jika sudah berjodoh, Zakka mau memperbaiki diri terlebih dahulu." Kata Zakka berusaha untuk terlihat kuat dihadapan ayah dan kakeknya.
"Papa sudah cukup lega sekarang, Papa tidak bisa berkata apa apa lagi selain merasa lega dan tenang." Ucap Tuan Ganan yang kembali merasa lega.
"Zakka memperbolehkan kak Rey untuk pulang bersama istrinya, tidak ada larangan untuk mereka berdua tinggal di rumah ini. Papa dan Kakek tenang saja, Zakka bisa mengendalikan diri kok. Zakka janji untuk tidak menjadi pengganggu rumah tangga kak Rey, jugaan Zakka akan menyibukkan diri luar rumah." Kata Zakka, Tuan Ganan dan Kakek Angga saling menatap tidak percaya ketika mendengar penuturan dari Zakka.
"Kamu serius? yakin? pikirkan baik baik, Papa tidak ingin terjadi kesalahan yang kedua kalinya." Tanya Tuan Ganan yang takut akan hancurnya rumah tangga putra pertamanya.
"Serius lah Pa, memangnya sejak kapan Zakka tidak serius? Zakka sudah merelakannya untuk Kak Rey. Jadi, Zakka sudah menganggapnya kakak ipar." Jawab Zakka memastikan kepada orang tuanya dan juga sangat Kakek.
"Baik lah, Papa akan tanyakan dulu sama Mama, Omma, dan juga Kak Rey. Bukannya Papa tidak percaya dengan kamu, Papa hanya tidak ingin adanya kesalahpahaman dan berakibat fatal, itu saja yang Papa khawatirkan." Ucap Tuan Ganan.
__ADS_1