Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kejujuran


__ADS_3

Sampainya didepan rumah, Rey segera turun dari mobilnya. "Pak, tolong kopernya bawa masuk kedalam kamar." Perintah Rey pada pak Dirwan.


"Baik, Tuan." Jawab Pak Dirwan, kemudian segera membuka bagasi mobil. Sedangkan Rey masuk ke dalam rumah dengan santai.


"Sudah pulang aja nih, eh! tunggu tunggu tunggu. Sepertinya ada yang lain deh, ada apa dengan penampilannya kak Rey? nginep di Hotel lagi? hem." Tanya Zakka sambil memeriksa penampilan Rey yang terlihat baru saja mandi.


"Sok tahu kamu ini, udah kek peramal aja. Memangnya kalau ya, kenapa? hem." Kata Rey sambil berjalan menuju tangga.


"Ya tidak kenapa kenapa, penasaran aja. Kenapa mesti ke Hotel? padahal banyak anak buah yang bisa jemput. Lagian juga tidak hujan dan tidak ada petir juga, hem." Tanya Zakka sedikit menyelidik karena penasaran.


"Cuci dulu itu, otak kotor mu. Pikiran kamu terlalu jauh, sudah sana pergi. Aku mau istirahat, jangan ganggu aku." Sahut Rey, kemudian menapaki anak tangga.


"Bukannya nemui Mama kek, atau basa basi apa lah. Eeeh slonong masuk kamar begitu saja, hem." Gerutu Zakka sambil berkacak pinggang.


"Ada apa Zakka? kok kedengerannya kamu ngomong sendirian, ada masalah?"


"Itu Ma, Kak Rey sudah pulang. Bukannya nyariin Mama atau basa basi apa gitu, main slonong aja dia." Kata Zakka, sang ibu hanya tersenyum mendengarnya.


"Kenapa Mama tersenyum?" tanya Zakka tidak mengerti.


"Nanti juga bakalan nemuin Mama, tuh kak Rey udah keluar dari kamar." Jawab sang Ibu, kemudian menunjuk pada putranya yang tengah menuruni anak tangga dengan wajah yang terlihat segar.


Zakka yang melihat kakak nya pun merasa ada yang berubah pada sosok saudara kembarannya.


'Kenapa wajah Kak Rey terlihat segar begitu, ya? seperti orang tengah bahagia. Eh, apa jangan jangan nginap di Hotel habis nganu? ah! kenapa bisa bisanya aku punya pikiran kotor kek gini.' Batin Zakka dengan pikiran kotornya.


"Apa kabarnya, Ma?" sapa Rey dan memeluk Ibundanya. Kemudian setelah itu, Bunda Maura melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan milik putranya.


"Kabar Mama baik baik saja, Nak. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?"

__ADS_1


"Kabar Rey juga baik, seperti yang Mama lihat."


"Ya ya ya ya, anak kedua dicuekin." Timpal Zakka sambil memutarkan badannya menuju tangga.


"Zakka, tunggu." Panggil Ibundanya, yang dipanggil pun menoleh kebelakang.


"Kamu mah setiap hari bareng Mama, hem."


"Ah ya, kenapa aku baru kepikiran." Kata Zakka sambil nyengir pasta gigi, Rey hanya mengerutkan dahinya.


"Sudah sudah sudah, kalau kalian disatulan dalam satu ruangan yang ada berantem. Lebih baik kalian berdua berpencar, Mama tidak mau mendengar keributan dari kalian berdua." Ucap sang Ibu setengah memberi gertakan.


"Tidak Ma, Tidak." Jawabnya serempak, kemudian mengikuti langkah kaki ibunya dari belakang sudah seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya. Tidak hanya itu saja, Neyla pun mengikutinya dari belakang.


Disaat itu juga, Bunda Maura menoleh kebelakang. Dilihatnya ketiga anaknya yang sudah berdiri dihadapannya dengan urutan yang paling tertua dan paling muda, ketiganya langsung memeluk Bunda Maura dengan erat.


"Kalian bertiga sudah besar semuanya, tumbuh dewasa dan dengan cara berpikir kalian yang berbeda. Sehat sehat selalu untuk anak anak Mama, kesayangan Mama." Ucap Bunda Maura ketika mendapat pelukan dari ketiga anak kembarnya.


"Zakka juga masih selalu merepotkan Mama, dan belum bisa membuat Mama bahagia." Ucap Zakka yang juga ikut meraih kedua tangan milik ibunya.


Sedangkan Rey hanya berdiam, dirinya tak mampu untuk meraih kedua tangan milik ibunya. Disaat itu juga, Rey menitikan air matanya dengan napas yang terasa sesak didalam dadanya. Karena tak mampu untuk menatap wajah sang Ibu, Rey memilih angkat kaki dan masuk kedalam kamar dengan langkah kakinya yang cukup gesit.


Seketika, Bunda Maura terkejut melihat tingkah putra sulungnya yang tiba tiba membuat sang ibu menjadi khawatir pada putranya.


"Kalian lanjutkan aktivitas kalian, Mama mau menemui kak Rey." Ucap Bunda Maura dan segera menapaki anak tangga untuk mengejar putranya.


Rey yang merasa sangat bersalah besar, ia duduk termenung dibibir tempat tidur. Bunda Maura yang mendapati sikap putranya yang tidak seperti biasanya, Beliau segera mengunci pintunya dan duduk disebelah putranya.


"Sayang, ada apa dengan diri kamu? apa ada masalah? ceritakan sama Mama." Tanya sang Ibu dengan sangat hati hati, takut jika putranya masih dikuasai dengan emosinya.

__ADS_1


Rey yang mendengar pertanyaan dari Bundanya, ia menoleh kesamping. "Katakan pada Mama, masalah apa yang sedang kamu hadapi. Jujur lah sama Mama, ayo ceritakan." Ucap sang Ibu dengan suara yang lembut.


Entah ada angin apa, Rey langsung memeluk erat ibunya dan menitikan air matanya. Dengan sesenggukan, Rey menangis dipelukan ibunya dengan napasnya yang terasa berat.


"Ma," panggil Rey dengan suara yang lirih.


"Ya, ada apa Nak?" tanya sang Ibu sambil mengusap punggung milik putranya.


"Maafkan Rey, Ma. Jika selama ini Rey sudah berbohong besar sama Mama. Maafkan Rey yang tidak tahu diri ini, Ma." Ucap Rey yang merasa bersalah terhadap ibundanya.


"Kesalahan apa yang kamu buat, Nak?" tanya sang Ibu yang masih belum mengerti apa yang dimaksudkan putranya.


"Rey sudah menikah, Ma."


Seketika, Bunda Maura melepaskan pelukannya dan menatap wajah putranya dengan mukanya yang terlihat sembab karena menangis.


"Kamu bilang apa tadi? kamu sudah menikah?" tanya sang Ibu dengan tatapan tidak percaya. Sakit, namun tidak mampu untuk marah pada putranya. Rey pun menganggukan kepalanya dan memegang erat kedua tangan Ibundanya.


"Sejak kapan?" tanya sang Ibu ingin mendapatkan jawaban yang pasti.


"Sejak lulus sekolah," sahut Tuan Ganan yang tiba tiba sudah berdiri disebelahnya. Bunda Maura segera menoleh ke sumber suara.


Disaat itu juga, Bunda Maura bangkit dari posisi duduknya. "Kamu bilang lulus sekolah?" Bunda Maura masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari suaminya.


"Aku tidak menjelaskan, tapi bukti ini yang akan menjelaskannya." Ucap Tuan Ganan, kemudian berjalan menuju sofa dan meletakkan laptopnya dan membuka layar lebarnya dihadapan sang istri.


"Dengarkan dan lihat lah dengan seksama video ini sampai akhir, kamu akan menemukan jawabannya." Ucap Tuan Ganan pada istrinya, sedangkan Rey masih dengan posisinya duduk dibibir tempat tidurnya.


Setelah membuka layar lebarnya, Tuan Ganan mulai membuka beberapa video rekaman dimulai dari awal Rey mendapatkan sebuah amanah hingga pernikahannya sah secara hukum dan agama.

__ADS_1


Bunda Maura menatap layar lebar yang ada dihadapannya pun, Beliau terlihat sangat fokus.


__ADS_2