
Sampainya dibawah anak tangga, Sela berhadapan dengan seorang Ibu Dokter. Senyum ramah terlihat jelas pada Ibu Dokter dan juga Sela.
"Maaf Bu Dokter, apakah kedatangan Ibu Dokter adalah suruhan dari Kak Rey? maksud saya istri dari Kak Aish." Tanya Sela sedikit ada rasa takut, jika yang ada dihadapannya adalah Dokter palsu yang sengaja mau membuat gaduh, pikir Sela dengan sejuta pertanyaan yang ada benak pikirannya.
"Benar sekali, Tuan Muda meminta untuk mendatangkan seorang dokter untuk memeriksa istrinya." Timpal pak Dirwan yang tiba tiba sudah datang, Sela pun akhirnya bernapas lega ketika sosok pak Dirwan yang di kenalinya telah datang.
"Saya percaya, soalnya ada Pak Dirwan." Ucap Sela dengan senyum malu.
"Maaf Bu Dokter, saya sampai lupa. Kak Aish sedang berada di kamarnya, katanya sih mau istirahat." Ucap Sela yang hampir saja lupa untuk segera mengajak Ibu Dokter menemui pasien barunya.
Sambil melangkah pelan, akhirnya Aish didatangi oleh seorang Ibu Dokter untuk memeriksa keluhannya.
"Selamat pagi Nona," sapa Ibu Dokter dengan senyumannya yang ramah. Seketika, Aish terkejut saat melihat sosok perempuan seusianya yang terlihat sangat cantik.
"Pagi juga, Dok. Silahkan duduk, Bu Dokter. Perasaan saya tidak meminta Sela untuk menghubungi Dokter, deh." Jawab Aish dengan tatapan bingung, kemudian ia memperhatikan disekelilingnya.
Dan benar saja, pandangan Aish tertuju pada sosok Pak Dirwan yang tengah berdiri didekat Sela.
"Maaf Nona, saya diminta untuk mendatangi Nona dengan mengajak seorang Dokter untuk memeriksa keadaan Nona muda. Karena mbak Sela yang sudah memberi pesan pada Tuan Muda mengenai keadaan Nona saat ini, secepatnya saya segera datang. Takut, jika terjadi sesuatu pada diri Nona yang sekarang. Tidak perlu khawatir, sebentar lagi Tuan muda akan segera datang. Yang lebih utama asupan kesehatan Nona, saya minta kepada Nona untuk tidak berprasangka buruk pada suami Nona." Ucap Pak Dirwan panjang lebar pada istri Tuan nya.
Aish yang mendengar penjelasan dari Pak Dirwan secara detail, akhirnya tersenyum lega dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Maaf Pak Dirwan, terima kasih banyak dan saya minta maaf karena saya tidak tahu. Dan kamu Sela, terima kasih banyak juga karena kamu sudah perhatian dengan ku." Ucap Aish pada Pak Dirwan dan Sela secara bergantian ketika menatapnya.
"Kalau mau mengobrol terus, kapan akan dilakukannya pemeriksaan. Untuk Pak Dirwan, silahkan untuk keluar sebentar. Saya mau memeriksa pasien terlebih dahulu, silahkan untuk keluar." Ucap Ibu Dokter, pak Dirwan pun mengiyakan dan segera keluar dari kamar milik istri Tuan nya.
Kini, tinggal lah Aish ditemani oleh Sela untuk dilakukan pemeriksaan.
Cukup lama Ibu Dokter melakukan pemeriksaan, Aish pun tidak lepas untuk diajaknya mengobrol. Hingga keduanya terlihat akrab, bahkan tidak nampak rasa beban yang tersimpan dalam pikiran Aish.
Selesai pemeriksaan, kini telah didapatkan hasilnya.
"Selamat untuk Nona, Anda telah hamil." Ucap sang Ibu Dokter mengulurkan tangannya pada Aish memberikan ucapan selamat padanya.
Aish maupun Sela tercengang mendengarnya, ia seperti mendapat kejutan berharga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Benar, Nona. Untuk lebih jelasnya lagi, besok Nona bisa datang ke Rumah sakit, atau ... datang ditempat saya bersama suami Nona." Kata Ibu Dokter dengan senyum ramahnya.
Aish masih seperti mimpi, berulang kali ia menepuk kedua pipinya berulang kali untuk memastikan mimpi atau memang benar benar nyata.
"Kak Aish, yang dikatakan Ibu Dokter memang nyata. Sela ikut bahagia mendengarnya, selamat ya Kak Aish. Mulai hari ini Kak Aish tidak akan Sela izinkan untuk melakukan pekerjaan, Kak Aish cukup menjaga kesehatan Kak Aish. Biar Sela yang menjadi tangan kedua Kakak, Sela ikhlas melakukannya." Ucap Sela dengan tulus, Aish pun menitikan air mata bahagianya.
Meski tidak mempunyai keluarga lengkap, Aish telah dihadirkan orang orang yang menyayanginya dengan tulus tanpa mengeluh, yakni seperti Sela, Ibu Melin, maupun yang lainnya.
__ADS_1
"Karena saya masih banyak tugas yang harus saya kerjakan, saya izin pamit untuk pulang. Saya minta sama Nona, jaga baik kesehatannya. Makan lah yang sehat sehat, jauhi makanan instan yang serba saji. Diperbanyak makan buah, sayur dan susu. Satu lagi, jangan lupa vitaminnya juga." Ucap sang Ibu Dokter berpamitan, serta memberi pesan baik untuk Aish.
"Baik Dok, terima kasih sudah mengingatkan." Jawab Aish diakhiri senyum ramah nya, sang Ibu Dokter pun menganggukkan kepalanya.
Usai berpamitan, Ibu Dokter segera keluar dari kamar Aish untuk pulang. Setelah itu, kini tinggal lah Aish dan Sela yang masih berada didalam kamar.
"Kak, sebentar lagi Kak Aish akan jadi Bunda Aish. Tidak hanya itu saja, Sela akan segera mempunyai keponakan yang lucu dan gemesin yang pastinya." Kata Sela dengan tawa bahagianya, Aish pun membalasnya dengan senyum bahagianya.
Disaat itu juga, Aish langsung memeluk Sela bak seperti adik kandungnya sendiri. "Kakak menyayangimu, terima kasih banyak karena kamu sudah memberi perhatian penuh sama Kakak." Ucap Aish dalam pelukan, kemudian Sela melepaskan pelukannya.
"Sela menganggap Kak Aish itu sudah seperti Kakak kandung Sela sendiri, Sela tidak akan membiarkan Kak Aish kelelahan. Oh ya, bagaimana kalau Sela buatkan sup untuk Kakak? kebetulan cuaca di luar sedang mendung. Sepertinya mau turun hujan, lebih baik Kak Aish istirahat dulu. Jangan banyak pikiran, soal Kak Rena tidak usah dipikirin. Kak Rey sudah mengetahuinya, kan ada CCTV dimanapun Kak Aish berada." Kata Sela, Aish pun tersenyum mendengarnya.
"Kamu itu ya, jangan jangan kamu itu bagian dari detektif suami Kak Aish, ya? hayo ngaku." Tuduh Aish dengan tawa kecil, Sela sendiri ikut tertawa mendengarnya.
Sedangkan di kediaman Tuan Ganan, Rey tengah berkumpul bersama kedua orang tua dan juga sang Kakek. Perasaan Rey semakin gelisah memikirkan keadaan istrinya. Berkali kali ia mencoba untuk menghubungi istrinya, tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Sedangkan Zakka sendiri masih sibuk didalam ruang kerja milik kakeknya. Apa yang ada didalam lemari, terus memeriksa isinya.
"Apa ini? kok ada amplop sebesar ini, tidak mungkin surat harta gono gini. Orang kaya tidak akan menyimpan hartanya dengan cara seperti ini, aku yakin ini sesuatu yang lain." Gumam Zakka dengan rasa penasaran.
Karena rasa penasarannya, Zakka langsung membukanya. Dengan hati hati, Zakka membuka amplop besarnya. Pelan pelan ia membukanya. Dilihatnya beberapa lembaran kertas didalamnya, sungguh membuat hati Zakka berdebar debar saat mulai membaca tulisan paling atas.
Berdebar debar bukan karena cinta, tetapi rasa penasaran yang membuatnya semakin tegang dan rasa ingin tahu.
__ADS_1
Dengan seksama, Zakka membacanya. Bahkan tidak ada satu kalimat pun yang ia lewatkan.