Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Emosi


__ADS_3

"Sayang, jangan takut. Percayalah denganku, semua akan baik baik saja. Tidak perlu kamu mengkhawatirkannya, ada aku yang selalu berada disamping mu." Ucap Rey berusaha untuk meyakinkan istrinya, berharap tidak menaruh kesedihan yang mendalam dan kekecewaan.


Aish mengangguk pelan, ia percaya pada sang suami jika apa yang dikatakannya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Sayang, memangnya siapa yang sakit? Mama kamu?" tanya Aish memastikannya lagi.


"Bukan, Mama sedang berada di rumah bersama Omma." Jawab Rey sambil memegangi pipi mulus milik istrinya.


"Lalu, siapa yang sakit?" Aish masih terus bertanya. Rasa penasarannya benar benar mengganggu pikirannya itu. Rey langsung menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya untuk masuk ke ruang rawat pasien.


Tuan Ganan dan Pak Soni tengah khawatir ketika Aish terkejut saat melihat siapa orangnya yang berbaring diranjang pasien, keduanya tak mampu untuk membayangkannya lebih seram lagi. Bahkan cerita mistis masih kalah horornya dengan keterkejutan nya seorang Aish yang seperti mendapatkan kebohongan besar.


'Semoga saja menantuku mempunyai sikap bijak dalam menghadapi masalahnya sendiri, semoga. Aku tidak dapat membayangkannya jika menantuku tiba marah besar terhadap kedua orang tuanya dan juga padaku maupun suaminya sendiri.' Batin Tuan Ganan dengan kekhawatirannya.


Begitu juga dengan Pak Soni yang sama halnya seperti Tuan Ganan, keduanya sama sama mengkhawatirkan Aish yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


'Putriku, rasanya Papa ingin sekali memelukmu. Tapi apalah daya, Papa tak mampu untuk melakukannya. Papa hanya bisa berdoa, semoga Mama kamu masih mau menerima Papa kamu ini. Tapi ... Papa malu, Papa seperti lelaki pecundang yang tidak bisa bertanggung jawab atas anak dan istri. Maafkan Papa mu ini, Nak. Papa penuh penyesalan, semuanya seakan sirna begitu saja. Papa sangat merindukan kalian berdua, kamu dan ibu mu.' Batin Pak Soni penuh penyesalan, lagi lagi Beliau menitikan air mata yang penuh kerinduan dan juga penyesalan yang begitu dalam.


Rey yang sudah membuka pintu, kemudian ia masuk dan diikuti sang istri dari belakang.


Dilihatnya seorang Ibu paruh baya yang tengah berbaring diatas ranjang pasien dengan keadaan sakit akibat benturan yang cukup kuat. Rey semakin mengeratkan genggamannya, takut istrinya akan semakin sulit mengendalikan emosinya. Begitu juga dengan Aish yang sedari tadi berusaha untuk tetap tenang dan tidak lupa untuk berdoa. Berharap tidak ada sesuatu hal buruk pada keluarganya maupun keluarga suaminya sendiri.

__ADS_1


Semakin dekat, pandangannya Aish semakin terlihat jelas. Rasa penasarannya yang ingin memastikan kebenaran, Aish maju lebih dekat lagi untuk melihatnya.


Seketika, Aish terkejut melihatnya. Sepasang matanya mendadak tercengang saat melihat siapa orangnya yang tengah berbaring dengan kondisi yang sangat menyedihkan, pikir Aish dengan perasaan yang masih tidak percaya apa yang ia lihat.


"Tante!" panggil Aish dengan menitikan air matanya. Semakin mendekat dan memeluk Ibu Melin meski dengan cara membusungkan badannya, dan dengan posisi Ibu Melin yang sedang berbaring di ranjang pasien.


Aish menangis sesenggukan, Ibu Melin langsung mengusap punggung Aish dengan pelan.


"Sudah sudah, kamu jangan menangis. Tante baik baik saja kok, tidak perlu kamu khawatirkan." Ucap Ibu Melin dan mencoba untuk melepaskan pelukan dari Aish.


"Siapa yang melakukan semua ini? dimana Rena? kenapa tidak kelihatan batang hidung ya, Tante? apakah anak itu kabur? jawab, Tante." Tanya Aish memberondong banyak pertanyaan, sedangkan Ibu Melin tersenyum melihatnya.


"Ini yang kamu bilang kabar bahagia? hah. Jahat banget kamu bohongi aku, Tante Melin yang sudah bertanggung jawab atas aku, dan kamu dengan entengnya kabar bahagia dalam kondisi Tante Melin terbaring di rumah sakit."


"Jangan gegabah dulu, sayang. Ini memang bukan kabar bahagia, tapi dibalik insiden ini ada kabar bahagia untuk kamu. Kabar yang selalu kamu rindukan sebelumnya, percayalah padaku." Kata Rey yang terus mencoba untuk meyakinkan istri tercintanya itu.


"Omong kosong, kabar bahagia macam apa yang kamu maksud? hah. Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja, kamu tidak jauh dari seorang pembohong." Tuduh Aish yang mulai terbawa emosinya.


Bagaimana ia tidak emosi, yang Aish tahu bahwa dirinya akan mendapatkan kabar bahagia, namun kenyataannya kabar yang ia terima justru kabar yang sangat menyayatkan hatinya. Bahkan keberadaan Rena yang sedang ia cari pun, selintas saja tidak ia temukan batang hidungnya.


Aish menatap tajam penuh kekesalan pada suaminya itu, sedangkan Rey berusaha untuk meraih tangan istrinya untuk meminta maaf dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Aish, suami mu itu tidak bersalah. Mana mungkin suami kamu tega melakukan dengan terang terangan untuk membawa mu ke rumah sakit dalam keadaan yang sedang hamil, itu tidak mungkin suami kamu akan setega itu sama kamu. Minta maaf lah pada suami kamu, bijak lah dalam menerima kabar dalam kondisi kamu yang saat ini. Tante pun akan melakukan hal yang sama padamu, tidak mungkin setega itu untuk memberi kabar sedih ketika pasangan kita sedang hamil atau yang bisa memicu kesehatan. Jadi, berprasangka baik lah pada semua orang dan termasuk suami kamu sendiri." Ucap Ibu Melin ikut menimpali, sejenak Aish menundukkan kepalanya karena malu dan juga merasa bersalah pada suaminya.


Rey yang mengerti akan istrinya, dengan sigap ia langsung memeluknya. Aish tidak melakukan penolakan sedikitpun, justru Aish ikut memeluk suaminya karena sebuah penyesalan.


"Maafkan aku, karena aku terbawa emosiku." Ucap Aish dengan lirih, Ibu Melin tersenyum melihatnya. Tidak sulit bagi Ibu Melin untuk mengendalikan emosi yang dimiliki oleh Aish.


"Aku mengerti maksud mu, aku dapat memahaminya. Karena kamu begitu menyayangi Tante Melin, dan hanya Tante Melin lah tempat dimana kamu ingin bersandar." Ucap Rey sambil mengusap punggung istrinya berulang ulang, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah ayi milik istri tercintanya.


Pelan pelan, Rey mendaratkan ciumannya tepat di kening milik istrinya dengan lembut.


"Aku akan selalu berada di dekat mu, dan aku akan terus menyayangimu serta mencintaimu tanpa merasa lelah." Ucap Rey dengan ucapan manisnya, Aish pun tersenyum bahagia mendengarnya.


Setelah merasa lega, tiba tiba Rey teringat dengan seseorang yang sedang menunggu di luar. Dengan berani dan tekadnya yang sudah bulat, akhirnya Rey membuka suara kepada Ibu Melin.


"Tante," panggil Rey untuk membuka obrolannya.


"Ya, ada apa Nak Rey?" tanya Ibu Melin dengan suara yang lirih.


"Bagaimana keadaannya, Tante? apakah masih terasa sakit?"


"Sudah lumayan mendingan, Nak Rey. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan sama Tante?" jawab Ibu Melin dan bertanya karena rasa penasarannya. Siapa tahu aja ada kabar tentang Rena, pikirnya Ibu Melin yang dapat menangkap ekspresi dari suaminya Aish.

__ADS_1


__ADS_2