Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Berangkat


__ADS_3

"Yunda, Afwan, kalian sudah datang?" tanya Aish sambil berjalan mendekat. Sedangkan Yunda bergegas berdiri yang juga mendekati Aish.


"Ya, Ish. Maaf ya, untuk yang semalam." Kata Yunda tidak enak hati.


"Tidak apa apa, lagian juga aku baik baik saja." Ucap Aish sambil menarik kursinya, lalu keduanya duduk bersama.


"Kalau begitu, Ibu tinggal dulu ya Wan, Yun. Jika mau berangkat, berangkat saja. Karena Ibu mau pergi ke pasar. Dan kamu Aish, jangan lupa pintunya dikunci." Ucap Ibu Melin pada Aish dan kedua sahabatnya.


Setelah tidak ada Ibu Melin, kini tinggal lah bertiga yang masih duduk di ruang tamu.


"Jadi tidak nih, untuk daftar di Perusahaan ternama itu?" tanya Afwan.


"Jadi dong, tidak tahu kalau Aish." Timpal Yunda.


"Ya, aku ikut daftar pekerjaan bersama kalian. Aku juga sudah bersiap siap untuk berkas berkas lamaran kerjanya. Aku sudah menyiapkannya sejauh jauh hari." Jawab Aish, tanpa disengaja sepasang mata Yunda dan Afwan tertuju pada jari manis Aish ada yang melingkar sebuah cincin yang sangat bagus dan harganya pun sangat mahal, pikir Yunda dan Afwan.


"Aish, boleh tanya?" tanya Yunda penasaran.


"Ya, boleh. Memangnya kamu mau tanya apa, Yun?" tanya Aish.


"Itu cincin dari siapa, Aish? perasaan kamu tidak pernah pakai cincin deh. Bukan cincin pertunangan, 'kan? atau ... dari orang tua kamu?" tebak Yunda untuk memastikan.


Aish yang mendengar pertanyaan dari Yunda, perasaannya mulai tidak tenang. Jujur, itu tidak mungkin. Aish masih berusaha untuk menutupi statusnya demi kebaikannya dari orang orang yang bisa saja ada yang tidak menyukainya.


"Em ... iya, ini cincin dari Almarhum Papa aku. Aku memang sengaja tidak memakainya, karena aku masih sekolah. Sekarang kan aku sudah tidak lagi menjadi mahasiswi lagi, bebas." Jawab Aish dengan beralasan.


"Kirain, kita berdua kan penasaran. Siapa tahu saja, kamu memang sudah bertunangan sama pilihan Papa kamu sebelum meninggal. Karena Yahya kan sudah menikah, lalu kamu menerima perjodohan dari Papa kamu. Duh, kenapa aku jadi menebaknya sejauh ini." Kata Yunda menebak.

__ADS_1


"Ya, Ish. Aku juga ngiranya seperti yang Yunda katakan, tidak tahunya salah besar." Timpal Afwan.


"Tidak apa apa, namanya juga rasa penasaran. Wajar saja jika kalian berdua merasa ingin tahu, aku memaklumi nya. Oh ya, jadi berangkat tidak nih? nanti kesiangan loh." Kata Aish.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat. Takutnya nanti kita kebagian urutan nomor antriannya panjang, kelamaan." Ajak Afwan.


"Aku ambil tas aku dulu, ya. Aku mau ambil berkas berkas pendaftarannya, tunggu sebentar." Kata Aish yang hendak masuk ke dalam kamar.


"Ok, kita tunggu di teras rumah." Sahut Afwan, Aish pun mengangguk dan segera mengambil apa yang mau dibawa. Sedangkan Yunda dan Afwan sudah menunggu di teras rumah Aish.


Aish yang masih berada didalam kamar, buru buru ia mengambil tas dan berkas pendaftarannya. Sebelum berangkat, Aish menatap foto Kedua orang tuanya.


"Ma, Aish mau memulai perjalanan hidup Aish yang baru. Aish mau tunjukkan keberhasilan Aish pada kalian berdua, Papa dan Mama akan tetap menjadi semangat hidup Aish. Meski sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi tetap ada dihati Aish." Gumam Aish sambil memandangi sebuah foto kedua orang tuanya.


Karena tidak ingin terlambat dan membuat kedua temannya menunggu lama, Aish segera keluar dari kamarnya.


"Ini mobil siapa? punya kamu, Yun?" tanya Aish penasaran.


"Bukan, tapi punya Afwan." Jawab Yunda.


"Ya, Ish. Ini mobil pemberian dari Ibu aku, katanya untuk bekerja. Kalau Papaku mana mau beliin aku mobil, yang ada istri barunya marah marah tidak jelas." Ucap Afwan menimpali.


"Ooh, jadi kedua orang tua kamu beneran berpisah? sedih sekali. Kamu yang sabar ya, Wan. Jadikan pelajaran untuk kehidupan kamu nantinya, jangan kamu jadikan acuan kebencian yang tidak ada gunanya." Jawab Aish.


"Ya, Ish. Kamu tenang saja, meski kedua orang tuaku berpisah, aku tidak akan terpengaruh. Terima kasih juga sama kamu, karena sudah mengingatkan aku." Kata Afwan.


"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Yunda yang takut terlambat.

__ADS_1


"Ayo, takutnya nanti kita mendapat nomor urut yang berkepanjangan." Kata Afwan menimpali.


Setelah itu, ketiganya segera berangkat ke tempat yang akan di tuju. Selama perjalanan, Aish dan Yunda berbagi cerita.


Sedangkan di perjalanan pulang ke rumah, Zakka nampak memikirkan sesuatu. Sang ibundanya pun merasa heran ketika melihat ekspresi dari putra nya.


"Zakka, kamu kenapa? perasaan dari tadi kamu itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apakah kamu sedang ada masalah? ayo lah ceritakan saja sama Mama. Katanya kamu menyukai perempuan yang sangat cantik, pintar, dan sederhana. Apakah kamu sedang memikirkannya? Mama hanya menebaknya loh." Tanya sang Ibu penasaran.


"Ya, Ma. Tapi sepertinya Zakkw masih kurang yakin, jika perempuan yang Zakka sukai itu belum menikah. Secara, ada seorang laki laki yang juga tidak kalah tampannya." Kata Zakka sambil fokus dengan setianya.


"Tampan, kalau belum mapan? sama saja." Ucap sang Ibu menoleh kearah putranya.


"Ya juga sih Ma, Zakka sendiri belum mapan. Yang ada mah cuman nebeng sama Paps dan Mama." Kata Zakka sambil nyengir pasta gigi.


"Makanya jangan malas malas, kamu ini. Mulai besok, kamu sudah diminta Papa untuk aktif di Kantor. Kejar lah kesuksesan kamu, agar ketika menikah, kamu tidak lagi risau untuk menafkahi istri kamu." Ucap sang Ibu mengingatkan.


"Ya, Ma. Terima kasih sudah mengingatkan Zakka, mulai besok Zakka akan semangat untuk mulai bekerja. Zakka juga tidak mau kalah dengan Kak Rey, satu satunya pesaing terberat Zakka ya Kak Rey. Jadi, Zakka harus bisa bersaing sehat dengan Kak Rey. Ya ... walaupun lebih pintar Kak Rey, Zakka akan tetap berusaha untuk sukses seperti Kakak." Jawab Zakka menyemangati diri sendiri, meski dirinya merasa minim untuk menjadi saingan Kakak nya sendiri.


Mau bagaimana lagi, Zakka yang tidak mempunyai segudang prestasi seperti sang Kakak. Namun dirinya tetap terus berusaha untuk menggapai cita citanya, pikir Zakka.


Tidak lama sambil mengobrol, akhirnya telah sampai di rumah. Zakka langsung masuk kedalam mobil, sedangkan belanjaannya dibawakan oleh salah satu asisten rumah sampai didalam kamar Beliau. Sedangkan belanjaan lainnya di antarkan ke dapur untuk makan siang.


"Mama, sudah pulang?" tanya Neyla sambil menuruni anak tangga.


"Sudah, kamu tidak ikut Papa?" tanya sang Ibu.


"Kata Papa disuruh besok aja, hari ini Papa ada kepentingan dengan rekan kerjanya. Jadi ... Nayla disuruh istirahat dulu, Ma." Jawab Neyla dan tersenyum mengembang.

__ADS_1


__ADS_2