Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Berdebat


__ADS_3

Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada generasi penerusnya, kakek Angga segera menemui cucu keduanya.


"Zakka, buka pintunya. Ini Kakek ingin berbicara dengan mu." Panggil Kakek Angga setelah mengetuk pintu kamarnya.


Zakka yang baru saja menutup pintunya, ia harus balik lagi untuk membuka pintunya.


"Ada apa Kek?" tanya Zakka dengan lesu tidak bersemangat.


"Apakah Kakek boleh masuk ke kamar kamu?" Kakek Angga balik bertanya.


"Silahkan masuk, Kek." Kata Zakka, kemudian ia berjalan dan mempersilahkan Kakeknya untuk duduk disofa. Zakka pun ikut duduk disebelah sang Kakek, hanya saja tidak menatap Beliau. Pandangan Zakka tertuju pada sebuah lemari bajunya, sedangkan Kakek Angga tetap memperhatikannya.


"Kakek mau bertanya, kamu dan kakak kamu ada masalah apa? kenapa kalian berdua saling diam? apakah masalah perempuan yang sama?" tanya Kakek Angga membuka suara dengan pertanyaan dari yang dasar.


Zakka yang mendapatkan pertanyaan dari sang Kakek pun, ia langsung menoleh dan menatap serius pada Beliau.


"Ya Kek, Zakka tidak ingin Kak Rey yang memenangkannya. Apapun itu, Zakka tidak akan merelakan perempuan yang Zakka sukai didapatkan oleh kak Rey." Kata Zakka yang tetap pada pendiriannya.


"Redakan emosi kamu itu, perempuan tidak hanya satu. Masih banyak perempuan yang pantas untuk menjadi pendamping hidup mu, jangan buat masalah yang sudah sudah, Nak." Ucap Kakek Angga yang mencoba untuk mengingatkan cucunya.


"Yang dikatakan Kakek kamu itu ada benarnya, Zakka. Jaga emosi kamu, jangan sampai penyesalan yang kamu dapatkan." Sahut Tuan Ganan yang tiba tiba ikut menimpali.


"Kenapa sih, semuanya itu seakan akan mendukung Kak Rey. Oooh! mentang mentang Kak Rey anak yang berprestasi, jadi di nomor satukan. Ok! Ok! sekarang Zakka mengerti, semua yang ada di rumah ini berpihak pada kak Rey. Perse*tan! semuanya."


BUG!!


Sebuah tinjuan tengah melayang tepat pada sudut bibir Zakka hingga pecah dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Jaga! omongan kamu itu, Zakka! kamu tidak pantas mengumpat nya seperti itu. Mereka orang tua yang tidak pantas kamu perlakukan seperti itu."


"Ooh! mau jadi jagoan, aku tidak takut! hah. Lihat saja, kalau sampai ketahuan yang sebenarnya, jangan salahkan aku jika aku berbuat nekad." Ancam Zakka dengan sorot matanya yang tajam.


Rey yang mendengar ancaman dari saudara kembarnya, rasa takut dan khawatir pun telah muncul dalam pikirannya.


"Cukup! jangan dilanjutkan lagi perdebatan kalian semua. Dan kamu Zakka, redakan emosi kamu itu. Berkali-kali Mama sudah ingatkan kamu untuk tidak mudah emosi, tapi kenyataannya emosi kamu susah untuk dikendalikan." Timpal Bunda Maura ikut angkat bicara.


"Mama tidak tahu rasanya menjadi Zakka, yang selalu Mama pikirkan itu hanya Kak Rey Kak Rey Kak Rey ... terus. Kalian semua itu pilih kasih, tidak pernah menyemangati ku." Ucap Zakka dengan kekesalannya, perasaannya semakin dongkol.


Rey yang malas berdebat, ia memilih pergi dari kamar saudara kembarnya.


Acara yang baru saja selesai, kini berubah menjadi ricuh hanya karena seorang perempuan yang diperebutkannya.


Zakka yang mendapati sang Kakak pergi begitu saja dari kamarnya, dengan gesit ia langsung mengejarnya.


Rey langsung menoleh kebelakang, ditatap nya serius saudara kembarnya itu. "Aku tidak ada waktu untuk berdebat dengan mu, lepaskan tanganmu itu. Jika kamu ingin puas mendengar jawabannya, tanyakan saja langsung sama Aish. Bila perlu aku akan antarkan kamu dihadapan Aish, kita dengarkan jawabannya." Kata Rey yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau Zakka harus mengikuti caranya.


Zakka yang mendapatkan tantangan dari sang Kakak, ia pun kembali berpikir untuk mencernanya. Takut, jika semuanya akan direkayasa oleh saudara kembarannya itu dengan sebuah ancaman pada perempuan yang ia sukai.


"Berikan ponsel mu padaku, aku akan menyetujui cara mu itu." Kata Zakka yang takut akan ada rekayasa untuknya.


"Kamu mencurigaiku? ambil lah." kata Rey sambil menyodorkan benda pipihnya, Zakka pun menerimanya dan mengantongi ponsel milik saudara kembarnya.


"Kalau begitu, aku akan mengajakmu untuk menemui Aish di Toko Kueh nya. Asal kamu tahu, Aish tidak lagi tinggal di rumah Tante nya, tetapi tinggal di Toko kueh." Ajak Rey, Zakka pun kaget saat mendengar ucapan dari sang Kakak.


"Di Toko kueh? oooh! pasti ini semua bagian dari rencana mu, ya 'kan? aku sudah yakin jika kamu sudah merencanakannya dari awal." Tuduh Zakka yang semakin terasa dongkol.

__ADS_1


"Katanya kamu selalu mendekati Aish, kenapa kamu tidak tahu keadaan Aish? hem." Tanya Rey menyudutkannya, Zakka yang merasa terpojok dengan ucapan sang Kakak, dengan kuat ia mengepalkan kedua tangannya. Seraya ingin melayangkan tinjuannya pada saudara kembarnya.


"Simpan dulu emosi kamu itu, kalau kamu ingin marah denganku, cari lah waktu yang tepat. Takutnya, kamu akan menyesalinya sendiri." Kata Rey sambil melirik ke arah sang adik, Zakka pun tidak mempedulikannya.


Karena tidak ingin berlama lama berbicara dengan saudara kembarnya, Zakka bergegas keluar dari rumah. Rey yang juga ingin cepat menyelesaikan masalahnya, ia pun langsung mengikutinya dari belakang.


Tuan Ganan yang merasa khawatir dengan kedua putranya, Beliau mengajak Kakek Angga untuk mengikuti kemana perginya Zakka dan Rey.


Selama perjalan, Rey tetap diam dan memilih untuk fokus dengan setir mobilnya dan fokus pandangannya lurus ke depan.


Zakka yang masih penasaran dengan Aish yang tidak lagi tinggal di rumah Tantenya, ingin rasanya untuk segera mengetahui kebenarannya.


'Untung saja, aku sudah meminta pak Dirwan untuk mengantarkannya kembali ke Toko kueh. Rupanya benar dugaanku ini, Zakka yang sudah mulai menyelidikiku.' Batin Rey sambil fokus dengan setir mobilnya.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya telah sampai didepan Toko kueh. Rey maupun Zakka segera keluar dari mobil.


Tuan Ganan dan Kakek Angga cukup ketakutan saat melihat dua anak muda yang sudah turun dari mobil dan hendak memasuki dalam Toko kueh.


Dengan santai tanpa beban, Rey berjalan kesana kemari didalam Toko kueh untuk mencari keberadaan sang istri.


"Kakak ganteng, mau cari Kak Aish, ya? loh! kok ada kakak yang ini juga." Tanya Sela dengan ramah sambil menunjuk ke arah Zakka, terlihat jelas jika Rey sudah dikenal di Toko kueh milik Aish ketimbang Zakka yang sering menemui Aish. Nasib yang berbeda karena Zakka tidak pernah ikut berkumpul bersama karyawan yang lainnya karena larangan dari Aish.


"Dimana kak Aish? suruh orangnya untuk kemari." Tanya Rey dan memintanya untuk menemuinya.


"Tunggu sebentar ya, Kak." Jawab Sela, kemudian ia bergegas pergi untuk memanggilnya.


Zakka yang penasaran, ia memperhatikan saudara kembarnya dengan heran. 'Kenapa Kak Rey terlihat sudah mengenal karyawan Aish? perasaan Kak Rey baru pulang. Aku harus menyelidikinya lagi.' Batin Zakka merasa mengganjal dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2