Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Harus diungkapkan


__ADS_3

Pak Soni mencoba mengatur pernapasan nya, cukup sulit untuk mengatakannya langsung. Ditambah lagi dengan kondisi mantan istrinya yang tengah berbaring, semakin tidak tega untuk membuat suasana menjadi keruh.


"Tidak jadi, maafkan aku." Ucap Pak Soni yang tidak tahu harus berkata apa dihadapan putrinya dan mantan istrinya. Begitu juga dengan Aish yang tengah menyimpan rasa penasarannya, malu tidak malu Aish membuka suara dan memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf, Bapak ini siapa? suami Aish kenapa tidak ikut masuk? kenapa juga membiarkan Aish tetap berada didalam ruangan ini? apakah kita ada keterikatan saudara? apakah lebih baik Aish keluar?" tanya Aish memberondong berbagai macam pertanyaan dengan berani.


Pak Soni maupun Ibu Melin saling menatap satu sama lainnya. Aish yang belum mendapatkan jawaban, ia langsung memutar balik badannya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


Sayangnya, Pak Soni yang lebih dulu memutar balikkan badannya. Aish tertegun melihatnya, kemudian pandangannya tertuju pada Ibu Melin dan mendekatinya.


"Pak Soni, kenapa keluar?" tanya Rey yang langsung berjalan mendekati Beliau.


"Soni, kenapa kamu keluar?" tanya Tuan Ganan yang sudah berdiri dihadapan Pak Soni.


"Saya tidak sanggup, Bos. Sepertinya saya menyerah, biar lah kerinduan ini saya pendam sendiri." Jawab Pak Soni menundukkan kepalanya, Tuan Ganan menepuk pundaknya.


"Mari ikut aku masuk kedalam, dan kamu juga Rey." Ajak Tuan Ganan pada Pak Soni dan putranya.


"Tapi Bos, saya belum siap."


"Mau sampai kapan kamu akan siap? hem. Sudah lah, ikuti saja caraku."


"Ya Pak Soni, lebih baik diselesaikan sekarang juga. Semakin ditunda, maka akan semakin panjang urus urusannya. Lebih cepat itu lebih baik." Ucap Rey ikut menimpali.


Karena tidak mempunyai pilihan lain, Pak Soni akhirnya mau mengikuti saran dari Tuan Ganan. Namun sebelumnya Pak Soni meminta duduk sejenak untuk mengatur pernapasan nya agar tidak banyak beban pikiran.


Sedangkan didalam ruangan, Aish duduk dan menemani Ibu Melin.


"Tante, dimana Rena? dari tadi Aish tidak melihatnya." Tanya Aish penasaran, pasalnya ia masih tidak melihatnya.


"Tante kurang tahu, Nak. Mungkin sedang sibuk mencari pekerjaan, kemarin sih bilangnya mau nyari pekerjaan." Jawab Ibu Melin beralasan, Aish hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Ibu belum makan, 'kan? Aish suapin Tante, ya."

__ADS_1


"Boleh, bantu Tante untuk duduk bersandar." Pinta Ibu Melin, Aish segera membantunya. Setelah itu, suapan demi suapan telah Aish lakukan untuk menyuapi Ibu Melin.


Perasaan bahagia terlihat begitu jelas pada Ibu Melin yang mendapatkan perhatian penuh dari Aish. 'Seperti ini saja aku sudah sangat bahagia, yakni perhatiannya.' Batin Ibu Melin sambil menerima suapan dari Aish, kemudian tersenyum melihatnya.


sedangkan dilain tempat, tepatnya masih dalam perjalanan. Zakia berulang kali mengitari jalanan yang menghubungkan jalur ke Hotel.


"Sebenarnya kita ini mau ke Hotel atau mangukur jalan sih? lelah nih." Kata Rena menggerutu.


"Biar kita pusing duluan, dari pada kita minum alko*hol, boros tau." Sahut Zakka sambil membelokkan setir mobilnya. Lagi lagi Rena semakin geram dibuatnya, bukannya manis tapi asam, pikirnya sambil membenarkan penampilannya biar terlihat cukup se*ksi.


Sayangnya, Zakka tidak menanggapinya. Dalka tetap fokus sesuai rencananya, ia tidak mungkin tergiur dengan godaan dari Rena si perempuan aneh.


"Sudah berapa jam, coba. Perasaan dari tadi belum juga sampai sampai, lama banget lah." Lagi lagi Rena menggerutu, disaat itu juga Zakka mempunyai ide cemerlang untuk memberi kejutan pada perempuan yang ada disebelahnya.


Ssttttttt


Zakka langsung menghentikan laju mobilnya, kemudian ia menepikan sebentar.


"Karena aku ingin memberimu kejutan, aku harus menutup kedua matamu." Kata Zakka sambil mengambil penutup mata.


"Untuk apa? kenapa mesti tutup mata? kejutan, kita kan belum kenal."


"Justru itu, aku sangat tertarik denganmu. Kamu itu gadis cantik, dan pastinya bisa memua*skan aku nantinya. Maka dari itu, aku ingin memberi kejutan untuk mu."


"Kejutan, kejutaan apaan?" Rena yang masih penasaran, ia terus bertanya untuk mengetahui kejutan apa yang akan ia terima.


"Hotel yang sangat mewah, dan juga dengan pelayanan yang sangat bagus. Bagaimana, apakah kamu mau? Hotel nya tidak jauh dari sini." Kaya Zakka dengan senyumnya yang tak kalah menggoda.


Rena semakin bersemangat, ditambah lagi dengan ketampanannya. Rena seperti mimpi saja ketika mendapatkan cowok yang diluar dugaannya.


'Da*sar! lelaki bodoh, udah rabun kali ya. Padahal aku ini tidak cantik cantik amat, seperti kurang bel*aian saja ini orang. Tidak apa apa lah, yang terpenting uang mengalir.' Batin Rena dengan rada percaya dirinya.


Karena sudah menyanggupi permintaan dari Zakka, akhirnya Rena menurutinya.

__ADS_1


'Akhirnya aku berhasil juga mengelabuhi ini perempuan, bagus lah.' Batin Zakka penuh kemenangan.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Rena, akhirnya Zakka memulai untuk menutup kedua mata milik Rena. 'Berhasil,' begitu lah rasa kelegaan pada Zakka.


"Diam dan jangan banyak bicara, apakah kamu mengerti? nanti kalau kita sudah sampai didepan hotel, aku akan menuntunmu sampai didepan kamar." Ucap Zakka, Rena pun menganggukkan kepalanya.


"Bagus lah, aku akan melajukan mobilku." Kata Zakka, kemudian ia menambahkan kecepatannya.


Di rumah sakit, cukup lama Pak Soni ditemani Tuan Ganan dan menantunya. Beliau masih mencari cara agar tidak gugup.


"Sudah lama kita menunggunya diluar nih, ayo kita masuk dan temui mereka. Yakni, anak dan mantan istrimu." Ucap Tuan Ganan membuka suara, Pak Soni mengangguk pasrah.


"Ya Pak Soni, jangan menyia nyiakan waktu yang tepat ini. Tenang saja, Rey dan Papa akan menemani Pak Soni masuk kedalam." Kata Rey ikut menimpali.


"Baik lah kalau begitu, saya nurut saja." Ucap Pak Soni dengan yakin.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Pak Soni, Tuan Ganan berjalan didepan dan membuka pintunya lebih dulu dan diikuti oleh Pak Soni dibelakang Tuan Ganan dan Rey dibelakang Pak Soni.


Disaat itu juga, Aish dan Ibu Melin terkejut melihat siapa siapanya yang masuk kedalam. Aish yang tidak ingin mengganggu, ia memilih mendekati suaminya dan menggenggam erat tangan milik sang suami.


"Ada apa ini?" tanya Ibu Melin penasaran. Pikirannya mulai tertuju pada mantan suaminya.


"Tidak ada apa apa, maaf jika kedatangan kami ini mengganggu jam istirahatmu. Apakah aku diizinkan untuk mengatakan sesuatu? jawab ya jika memang ya."


Ibu Melin mulai gelisah, sedikit demi sedikit Beliau dapat menangkap pembicaraan dari Tuan Ganan tertuju kemananya. Pandangan Ibu Melin tertuju pada Aish yang sedang berdiri disebelah suaminya. Aish yang mendapatkan tatapan dari Ibu Melin, ia mulai bingung apa yang sebenarnya akan terjadi, pikir Aish dengan sejuta pertanyaan.


Tuan Ganan yang tidak ingin bertele tele, Beliau langsung menoleh kearah menantunya. "Aish, kemarilah." Panggil Tuan Ganan.


"Ya, Pa." Jawab Aish mengangguk dan mendekati ayah mertuanya.


"Kenapa kalian berdua diam?" tanya Tuan Ganan pada Ibu Melin dan Pak Soni.


"Sebenarnya ada apa sih, Pa? sepertinya sangat penting." Tanya Aish memberanikan diri, Tuan Ganan tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2