Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Terkejut


__ADS_3

Yevi yang merasa diabaikan oleh Zakka, ia tidak menyerah untuk mendekatinya.


"Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkannya." Gumam Yevi sambil mengepalkan kedua tangannya yang merasa kesal.


Zakka yang sudah menghampiri sang ibu, ia pun ikut membantu Beliau.


"Cepat amat ngobrolnya, tumben. Biasanya kalau ada cewek, kamu itu lumayan bisa mendadak pura pura amnesia loh, lah ini anak Mama kenapa?"


"Mama ih, biasa aja dong. Zakka tetap pada satu perempuan aja lah, Ma. Ngapain harus mengoleksi banyak perempuan, bukan tipe Zakka." Jawab Zakka sambil membantu sang ibu menuju kasir.


Sambil ngantri, Zakka mengarahkan pandangannya kesana kemari. Ia kembali teringat saat dirinya harus dikerjain oleh kakak nya sendiri.


'Lama amat lah, aku kan harus pergi. Aku sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar Aish, aku yakin jika anak itu tambah cantik aja pastinya.' Batin Zakka yang tidak sadar jika ibunya telah selesai.


"Zakka, mana kartunya. Melamun aja dari tadi, hei." Panggil sang ibu semakin geram, sedangkan Zakka masih senyum senyum tidak jelas. Semua orang menahan tawa tatkala melihat Zakka yang terlihat sangat aneh dengan senyumnya yang tidak jelas.


Puk!


"Zakka!"


"Aaaa iya ya ya ya, Ma. Sudah selesai semuanya, Ma?" sambil garuk garuk kepala, Zakka memperjelas pandangannya pada sosok ibunya.


"Mana kartunya? hem." Tanya sang ibu sambil menengadahkan tangannya untuk meminta kartu tanpa batasnya pada Zakka.


"Eh Bu! kalau tidak punya uang itu tidak usah bergaya, pakai anaknya disuruh main drama segala. Jangan jangan mau kabur, lagi." Ucap seseorang dengan berani.


Sedangkan seseorang yang tidak jauh jaraknya dengan Zakka, kini ada Yevi yang tengah memperhatikan anak dan ibu mendapatkan cibiran dari seseorang yang sama sama mengantri.


'Jadi penasaran dengan Zakka, benarkah dia orang kaya? atau ... hanya jadi orang dengan sejuta gengsinya.' Batin Yevi penuh tanda tanya.


"Jaga mulut Anda didepan kami, mau bisa bayar atau tidak! itu bukan urusan Anda. Jangan menilai seseorang itu dari gayanya, tapi lihat dulu isi dompetnya." Sahut Zakka yang mulai geram ketika dirinya dan sang ibu hanya dijadikan bahan lelucon, pikirnya.

__ADS_1


Semua orang yang ada disekelilingnya pun terdiam, bahkan tidak ada satu pun yang berani berucap. Karena malas berhadapan dengan orang lain, Zakka akhirnya menyerahkan kartu tanpa batasnya pada salah satu kasir.


"Ini, kartu nya." Ucap Zakka sambil menyodorkan sebuah kartu dan diperhatikan oleh semua orang yang ada disekelilingnya. Zakka tidak mempedulikannya, ia tetap menunggu sampai selesai pembayaran. Setelah itu, Zakka dan sang ibu segera pulang ke rumah.


Sedangkan Yevi yang penasaran, dirinya ikut mendekati orang orang yang tengah berkerumunan didepan kasir.


"Kalau boleh tau, kok sepertinya kartunya sangat bagus dan lain dari yang lain." Seseorang yang baru saja mencibir Zakka dan ibunya pun, orang tersebut merasa penasaran ketika melihat Zakka menyodorkan sebuah kartu nya pada kasir.


"Oooh tadi itu Kartu tanpa batas, Pak." Jawabnya dengan jujur, seketika orang orang yang mendengarnya pun tercengang, termasuk Yevi.


"Kartu tanpa batas? berarti .... Zakka dari golongan orang yang sangat tajir dan bukan kaleng kaleng." Gumam Yevi, kemudian ia langsung pergi untuk mengejar Zakka sampai di parkiran.


Dilihatnya dari kejauhan, namun masih kurang dekat dan akhirnya Yevi mencoba memastikannya lebih dekat lagi.


"Apa!! yang benar saja, bukankan itu logo mobil dari keluarga Wilyam? jadi, Zakka itu ... aaah! bo*dohnya aku. Kenapa aku sampai tidak tahu jika Zakka adalah bagian keluarga Wilyam, aku harus memastikannya. Tapi ... dengan cara apa agar aku bisa mendapatkan informasinya. Aaah iya, aku tahu sekarang. Aku harus mendatangi sekolahan yang dulu, aku harus memeriksanya." Gumam Yevi sambil berpikir untuk mencari kebenaran.


Karena tidak ingin lama lama dihantui rasa penasarannya, Yevi langsung pergi menuju sekolahan nya yang dulu. Yang dimana dirinya pernah mengenyam pendidikannya bersama Zakka dan lainnya, termasuk Rey dan juga Aish.


"Permisi Pak, bolehkah saya masuk?" tanya Via pada salah satu satpam sekolahan nya dulu.


"Maaf, Anda siapa dan ada tujuan apa datang kemari?" Pak Satpam pun bertanya balik pada Yevi.


"Saya alumni Sekolahan ini, Pak. Nama saya Yevi aura Pak, masa Bapak sudah lupa sama saya. Kita kan tetanggaan dulunya Pak, tolong lah Pak, bukakan pintunya." Jawab Yevi mencoba mengingatkan Pak Satpam nya.


"Oooh Yevi anaknya Pak Herman? iya ya ya, Bapak ingat sekarang. Ayo, masuk." Kata pak Herman yang baru saja teringat dengan Yevi, setelah itu pintu gerbangnya pun dibuka.


Dengan langkah kakinya yang terburu buru, akhirnya Yevi telah sampai di depan Kantor Dewan Guru.


"Permisi Pak, apakah saya boleh masuk?" tanya Yevi sedikit membusungkan badannya.


"Iya, ada perlu apa?" jawabnya dan bertanya.

__ADS_1


"Saya ingin menemui Bapak kepala sekolah, saya ada perlu, Pak." Kata Yevi sambil merendahkan suaranya.


"Oooh, silahkan masuk." Ucapnya mempersilahkan Yevi untuk masuk.


Sampainya di ruangan khusus Kepala sekolah, kini Yevi sudah duduk di hadapan Bapak Kepala Sekolah.


"Maaf Pak, kedatangan saya ini ingin mengecek nama nama murid siswa siswi kelas 12.A tahun pelajaran 2009 Pak." Kata Yevi beralasan.


"Untuk apa?" tanya Bapak kepala sekolah.


"Saya ingin mengadakan Reunian, Pak. Ada beberapa murid yang saya lupa, jadi saya memilih untuk datang ke Sekolahan. Agar saya lebih mudah untuk menyebarkan undangan nya, Pak." Jawab Yevi mencoba untuk meyakinkan.


"Oooh, nama kamu siapa?" tanya Bapak kepala sekolah.


"Yevi aura, Pak." Jawab Yevi sedikit cemas, ia takut jika kedatangannya akan ditolak oleh kepala sekolah, pikirnya.


'Semoga saja aku berhasil, kalau sampai aku tidak bisa menemukan kebenarannya, maka akan menjadi misteri untukku.' Batin Yevi penuh harap.


"Sebentar ya, akan Bapak carikan data datanya. Semoga saja masih ada, dan menyelip." Ucap Bapak Kepala Sekolah, kemudian Beliau segera mencari data data murid muridnya di tahun 2009 yang lalu.


Tidak memakan waktu lama, Bapak kepala sekolah akhirnya menemukan berkas berkas alumni yang dimaksudkan oleh Yevi.


"Kelas berapa tadi?" tanya Bapak kepala sekolah yang lupa dengan yang disebutkan Yevi.


"Kelas 12.A, Pak." Jawab Yevi dengan serius.


"Sebentar, Bapak cari dulu. Soalnya banyak banget kelasnya, dan data nya tidak berurutan. Mohon untuk bersabar, saya akan memeriksanya." Ucap Beliau sambil memeriksa data kelas yang dimaksudkan Yevi.


"Nah! ini datanya, coba kamu periksa sendiri." Udah Beliau dan menyodorkan satu lembaran kertas kepada Yevi.


Senyum merekah telah menghiasi wajah cantik milik Yevi aura. Dengan teliti dan dengan seksama, Yevi membaca satu persatu dari urutan paling atas.

__ADS_1


__ADS_2