
Yunda masih memasang muka juteknya, sedangkan Afwan hanya menatapnya dengan rasa ketidaksukaannya.
"Kamu ngapain sih! Zakka, perasaan kamu ini suka banget gangguin kita. Aku peringatkan, ya. Kamu jangan gangguun Aish lagi deh, dia itu sangat dijaga ketat oleh Papanya. Jadi, plis deh! jangan gangguin kita kita ini." Ucap Yunda memberi peringatan.
"Aku hanya ingin berteman aja sama kalian, tidak lebih." Jawab Zakka dengan tatapan serius.
"Sudah deh, Yun. Kita tidak usah ladenin ini anak, ingat sama Yahya. Ayo, kita masuk ke kelas." Ucap Afwan, kemudian mengajak Yunda untuk segera masuk ke kelas.
"Hei! ngapain aja kamu, Zakka. Ayo! masuk ke kelas, cepetan." Perintah sang kakak yang sudah berdiri sedekat Zakka.
"Kak Rey, ngapain sih masih ngikutiku." Jawab Zakka dengan tatapan tidak suka.
"Zakka! apa kamu lupa, tujuan kita disini untuk sekolah. Belajar dan belajar, bukan untuk membuang waktu yang tidak ada gunanya." Ucap Rey dengan suara sedikit meninggi.
Zakka yang mendapat teguran dari sang kakak pun tidak menghiraukannya, Zakka memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan kakaknya.
"Zakka, Zakka, kamu masih aja tidak pernah berubah." Ucap Rey menggerutu.
Karena terdengar suara bel masuk tengah berbunyi, Rey segera masuk ke dalam kelas.
Semua murid kini telah berada di dalam kelas masing masing, suasana menjadi hening tatkala seorang guru tengah memulai materi pelajarannya dan memberi tugas untuk dikerjakan.
Zakka bukannya menyelesaikan tugasnya, justru disibukkan dengan memperhatikan Aish. Tanpa Zakka sadari, bahwa sang guru tengah berada di sebelahnya.
"Zakka, apakah tugas kamu sudah selesai?" tanya sang guru mengagetkan.
"Apa!!" teriak Zakka spontan.
"Sekarang juga, kamu bersihkan toilet. Cepat!! atau ... Bapak kasih tugas tambahan."
"Pak Guru, ampun deh Pak ... jangan hukum Zakka. Janji, Zakka janji untuk tidak mengulanginya lagi." Ucapnya minta ampun.
"Tidak ada kata ampun untukmu, Zakka. Sekarang juga, cepat! keluar."
"Kak Rey, ayolah temani aku." Ajak Zakka pada sang kakak.
"Itu kan hukuman kamu, terima sendiri aja akibatnya." Jawab Rey, kemudian ia kembali mengerjakan tugasnya.
"Zakka! cepat keluar, atau Bapak panggil orang tua kamu."
'Mam*pus aku! jika sampai Papa datang, perkedel perkedel dah! sial! apes bener gua ini."
__ADS_1
"Zakka!"
"Aaaa ia, Pak. Permisi ..." sahut Zakka, kemudian ia segera keluar dari ruang kelasnnya.
"Untuk kalian semua kalau tidak ingin seperti Zakka, jangan berani beraninya mengabaikan pelajaran Bapak, mengerti! kalian."
"Mengerti Pak Guru ..." jawab semua murid dengan serempak.
Sedangkan Rey yang sudah menyelesaikan tugasnya, ia segera menukarkan bukunya dengan milik Zakka. Entah kebetulan atau tidak, tulisan keduanya sama persis. Bahkan setiap guru sering terkecoh jika ada dua buku yang sama persis dengan satu tulisan, mungkin saja ulah Zakka yang super lihai.
Sedangkan Zakka kini tengah menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh guru mata pelajarannya.
"Untung aja aku punya kak Rey, yang super bisa aku andalkan. Untungnya lagi, aku pandai meniru apa yang kak Rey bisa." Ucapnya lirih sambil membersihkan toilet.
"Haduh! Pa, aku ini anak yang paling tampan dan anak Sultan. Eeeeh! jadi ngenes kek gini, mimpi apa, aku ini." Ucapnya sambil menggerutu.
"Anak Sultan kamu bilang, Zakka. Mimpi kamu terlalu tinggi, jangan mimpi tinggi tinggi deh. Kalau jatuh, baru tahu rasa kamu nanti." Sahut dari salah satu murid yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Sialan kamu, Afwan. Emang salah, jika aku menghayal anak Sultan. Cih! bukan urusanmu, mau aku anak Sultan kek, mau anak tukang bangunan kek, bukan urusan kamu. Minggir, nih! lanjutin." Jawab Zakka dan meninggalkan teman sekelasnya.
"Pak Iron, Pak. Nih Afwan, dapat hukuman dari Pak Gunawan kenapa saya yang harus mengerjakannya. Mentang mentang saya bukan orang sini, memperlakukanku dengan seenaknya. Nih Pak, jangan lupa diawasi dan jangan sampai diberi ampun Pak." Ucap Zakka mengadu mengada ngada.
"Wek .... emang enak gua kerjain, rasain lu."
"Afwan! cepat selesaikan tugas kamu itu, buruan." Perintah pak Iron yang nurut saja dengan Zakka.
Dengan terpaksa, Afwan melakukannya.
'Awas! kamu, Zakka. Tidak aku beri ampun, lihat saja. Da*sar! bocah tengil, belagu.' Batin Afwan berdecak kesal.
"Aww!! sakit, kak. Lepasin, telingaku sakit." Ucap Zakka yang tiba tiba mendapat jeweran dari Rey, kakaknya.
"Selesaikan hukuman kamu, apa perlu aku adukan sama Pak Gunawan." Ancam Rey dengan serius.
"Iya, puas!" jawab Zakka. Mau tidak mau, Zakka kembali ke toilet untuk menyelesaikan hukumannya.
Usai dipergoki sang kakak, Zakka kembali ke toilet untuk menyelesaikan hukumannya.
"Sini, aku bantuin."
"Nih! tugasmu." Ucap Afwan dan melempar sikatnya tepat jatuh didepan Zakka, kemudian segera pergi.
__ADS_1
Rey yang merasa kasihan dengan sang adik, ia ikut membantu menyelesaikannya.
"Kak Rey tidak usah repot repot, aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Zakka sambil menyirami.
"Diam! jangan banyak bicara, apa kamu mau jika sikat ini melayang ke arah kamu? diamlah." Jawab Rey, Zakka sendiri tidak berani berkutik.
Usai menyelesaikan hukuman, Zakka dan Rey kembali ke ruang kelas. Semua murid perempuan terkagum kagum melihat sosok Rey dan Zakka yang sama tampannya dan mempesona.
"Lihatlah Kak, kita seperti artis. Semua terpesona dengan ketampanan kita, tidak sia sia aku terlahir jadi idola para wanita."
"Tidurmu terlalu miring, bangun!"
Ctak!! "aww! sakit, tau."
"Makanya jangan kegeeran." Jawab Rey setelah menyentil kening milik Zakka.
"Jangan ngikuti langkahku, sana pergi." Perintah Rey, kemudian keduanya berpisah dan tidak satu sejajar dalam melangkahkan kakinya.
Saat hendak mendekati pintu masuk, Rey melihat murid perempuan kesusahan membawa banyak buku. Rey segera menghampirinya.
"Sini, biar aku aja yang bawa." Ucap Rey langsung mengambil beberapa banyak buku ditangan murid sekelasnya.
"Kamu!" ucapnya sedikit canggung, tanpa disengaja Zakka tengah memperhatikannya.
"Sudah, jangan protes. Sini, aku bantu bawakan sampai didalam kelas." Ucapnya, kemudian membawa bukunya ke kelas setelah mendapatkan dari tangan Aishwa.
'Kak Rey, jangan jangan kak Rey juga menyukai Aish. Awas aja, kalau sampai menyukainya.' Batin Zakka berdecak kesal.
'Dulu yang sering bantu aku bawa buku yaitu Yahya, sekarang hanya orang kebetulan aja yang membantuku untuk membawakan bukunya.' Batin Aish tanpa menyadari jika masih tertinggal satu buku ditangannya.
"Reynan Wilyam, bukankah ini buku miliknya? penasaran deh sama tulisannya." Ucapnya lirih.
Dengan seksama, Aish membuka buku milik Reynan dengan sangat teliti.
"Tulisannya sangat rapi, bahkan tulisanku kalah jauh beda dengannya." Ucapnya lirih, kemudian ia membukanya begitu teliti.
"Eh! tunggu, tulisan apa ini?" Aish masih penasaran.
"Mentari pagi, tapi tidak secerah pagiku. Ada banyak cerita, namun tidak tentangku." Ucapnya Aish sesuai yang ada pada buku milik Reynan.
"Apa maksudnya? lucu sekali dia, puitis juga. Tapi sayangnya hanya dua baris, sulit untuk diartikan." Ucapnya lirih.
__ADS_1