
'Oooh rupanya lelaki ini sangat tajir, pantes aja dengan mudahnya mengeluarkan uang 10 juta dimuka. Rupa rupanya boleh juga nih untuk dijadikan penghasilanku setiap bulan, lumayan lah.' Batinnya dengan senyum penuh kemenangan.
Zakka kembali fokus dengan setir mobilnya setelah memberikan uang tunai pada perempuan yang sudah berani menghadangnya itu.
"Mulai sekarang bersiap siaplah ketika kamu memasuki hotel yang akan kita jadikan tempat menghabiskan satu malam, aku rasa perempuan sepertimu itu tidak pernah masuk kedalam hotel. Jadi wajar lah jika aku mengingatkan kamu mulai dari sekarang, aku tidak mau kamu membuatku kecewa apalagi malu. Oh ya, siapa nama kamu? jangan pernah memberikan nama palsu. Karena apa? aku bisa saja menjebloskan mu kedalam penjara." Sambil berbicara dengan sedikit penekanan, Zakka tetap pada pandangannya lurus kedepan. Sedikitpun ia tidak sudi ketika berbicara menatap perempuan yang ada disebelahnya.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa memasuki Hotel. Ah ya, namaku Rena." Jawabnya dengan santai dan juga percaya diri.
"Nama yang cukup bagus, masuk ke hotel sebagai apa?"
"Tidak sebagai apa apa, lupakan saja. Namanya buat penginapan, ya menginap." Katanya dengan senyumnya yang sedikit dibuat manis, namun sayangnya Zakia tidak sudi untuk menatapnya.
"Oooh, ya ya ya ya." Ucap Zakka, kemudian ia menambah kecepatan laju mobilnya. Namun sebelumnya, Zakka membuka pesan masuk yang sedari tadi belum ia buka.
Usai membuka pesan masuk, Zakka mulai mencari ide untuk mengelabuhi perempuan yang tengah satu mobil dengannya.
Sedangkan diperjalanan arah yang berbeda, Rey dan Aish tengah menuju ke rumah sakit. "Sebenarnya ada apa sih? kamu sedang tidak mengerjaiku, 'kan."
"Tentu saja tidak, sayang. Untuk apa aku mengerjaimu, istri sendiri kok dikerjain. Aku hanya ingin memberi kejutan untuk kamu, tapi ..." ucapannya pun terhenti begitu saja.
"Tapi kenapa, sayang? kamu sedang tidak memberi kabar buruk padaku, 'kan." Tanya Aish yang tengah mencurigai ucapan dari suaminya yang mendadak terhenti.
"Tidak apa apa, nanti kamu juga akan mengetahuinya sendiri. Yang jelas ada bahagianya untuk kamu, aku hanya bisa berharap bahwa kamu bisa menyikapinya dengan baik." Ucap Rey berusaha untuk tidak terlihat gelisah maupun cemas.
"Jadi penasaran deh, Awas ya kalau kamu sampai bohong sama aku. Aku tidak akan segan segan memberi hukuman sama kamu, titik." Ancam Aish pada suaminya.
__ADS_1
"Ya, sayang ..." kata Rey dan memeluk istrinya.
Tidak lama kemudian, Rey dan Aish telah sampai didepan rumah sakit. Aish memperhatikan disekelilingnya, sepi.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo kita turun, ada Papa yang sudah menunggu kita didalam sana." Ucap Rey mengajak istrinya untuk segera masuk kedalam rumah sakit, Aish pun mengangguk pelan sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Saat sudah berada pintu masuk, Rey tidak lupa untuk menggandeng tangan istrinya. Sedangkan didalam ruangan tunggu, Tuan Ganan dan Pak Soni tengah duduk bersama sambil mengobrol masa lalunya masing masing dan tidak lupa mengingat kembali masa mudanya.
"Maafkan aku ya Son, sejak ibu mertuaku berpulang, aku sudah tidak pernah datang ke kampung halaman istriku. Aku disibukkan dengan pekerjaanku yang benar benar sangat padat saat itu dan sampai sekarang ini. Ditambah lagi dengan bisnis orang tuaku yang berada di luar negri, rupanya telah membuatku kualahan untuk mengatasinya. Dan sekarang ini, aku mulai merasa lega. Putriku yang sudah menikah, dan putraku yang pertama juga sudah menikah. Aku akan urus kembali yang ada di kampung halaman setelah urusan kamu ini selesai dengan mantan istri mu dan juga menantuku." Ucap Tuan Ganan yang merasa bersalah karena telah mengabaikan pesan dari Kakek Wilyam.
"Tidak apa apa kok Bos, yang terpenting bangunannya masih ada. Jugaan masih dihuni oleh warga yang tidak mempunyai tempat tinggal akibat bencana alam yang melanda kampung saya."
"Bangunannya masih ada?" tanya Tuan Ganan terkejut.
"Benar kok Bos, bangunan Toko dan juga rumah milik almarhum Pak Sobirun masih ada." Jawab Pak Soni meyakinkan.
Disamping untuk mensejahterakan kampung halaman istrinya yang sempat tertimpa bencana alam, Tuan Ganan berharap putranya dapat melupakan masa lalunya. Yakni agar dapat melupakan perempuan yang kini sudah sah menjadi istri putra pertamanya, yakni Reynan Wilyam.
"Bos Ganan serius?" tanya Pak Soni penasaran.
"Aku serius, itupun kalau kamu mau. Jika kamu tidak mau, lantas siapa orangnya yang bisa aku percaya. Bondan saja sudah ikut putranya di Kota, apakah kamu sudah mengetahui kabarnya sekarang? sekarang putranya sudah menjadi bagian keluargaku, termasuk kamu."
"Apa! putranya Bondan yang bernama Viko menjadi bagian keluarga Bos Ganan? apakah Viko juga menikah dengan putri mu, Bo?"
"Bukan, tetapi dengan keponakanku sendiri." Jawab Tuan Ganan.
__ADS_1
"Permisi Tuan," sapa seorang perawat yang tiba tiba tengah mengagetkan Tuan Ganan dan juga Pak Soni.
"Iya Sus, ada apa ya?" tanya Tuan Ganan penasaran.
"Pasien sudah sadarkan diri dari tadi, Tuan. Sedari tadi pasien Ibu Melin memanggil nama Aishwa tidak ada henti hentinya, apakah diantara salah satu dari Tuan berdua suaminya Ibu Melin? jika ya mari ikut saya. Setidaknya orang terdekat Ibu Melin." Jawabnya, Tuan Ganan dan Pak Soni saling menatap satu sama lain.
"Kami berdua bukan suaminya, melainkan Pak Soni ini adalah mantan suami Ibu Melin. Sedangkan saya sendiri hanyalah besan nya, Sus. Apakah kita berdua diizinkan untuk masuk kedalam ruang rawat pasien dengan cara bersamaan? jika diperbolehkan, kami akan masuk. Dan jika tidak diizinkan, maka mantan suaminya lah yang saya suruh untuk masuk kedalam menemui mantan istrinya." Ucap Tuan Ganan yang tidak mempunyai cara lain selain meminta izin terlebih dahulu, dikarenakan menantu perempuannya yang juga belum kunjung datang.
"Papa," panggil Rey yang tiba tiba sudah berada di dekat Beliau.
"Akhirnya, kalian berdua sudah datang." Ucap Tuan Ganan merasa sangat lega, begitu juga dengan Pak Soni. Beliau memperhatikan Aishwa yang tidak pernah disangkakan nya telah tumbuh dewasa. Ingin rasanya untuk memeluk putrinya yang dirindukan, namun apalah daya angannya yang tak sampai.
"Pa, bagaimana keadaannya? sudah sadarkan diri?" tanya Rey khawatir.
"Sudah, Tuan. Sekarang juga saya minta salah satu diantara Tuan untuk masuk kedalam ruang rawat pasien." Sahut seorang perawat ikut menimpali.
"Baik, Sus. Sebentar lagi diantara kami akan masuk kedalam ruang rawat pasien." Timpal Tuan Ganan dengan anggukan.
"Baik lah Tuan, jangan lama lama karena pasien sudah menunggu. Kalau begitu saya permisi, Tuan." Sahutnya dan segera kembali kerja.
Aish yang mendengarnya pun, ada sedikit rasa penasaran dibenak pikirannya. Karena rasa ingin tahu, akhirnya Aish memberanikan diri untuk bertanya.
"Memangnya siapa yang sakit, Pa?" tanya Aish pada ayah mertuanya.
"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri, Aish. Lebih baik sekarang kamu dan suami kamu yang masuk lebih dulu. Nanti Papa dan teman Papa akan menyusul kalian, cepat masuk lah." Jawab Tuan Ganan dan menyuruh anak dan menantunya untuk segera menemui Ibu Melin.
__ADS_1
"Baik, Pa. Kalau begitu Rey dan Aish masuk duluan, permisi Pak Soni." Kata Rey yang juga dengan sopan ia berpamitan pada ayah mertuanya sedikit kaku.