
Pagi hari, Zakka sudah terbangun dari tidurnya. Zakka tengah mengganti pakaiannya dibantu oleh sang ayah. Sedangkan Bunda Maura membereskan tempat tidurnya.
Sedangkan diluaran sana, tepatnya berada di kediaman keluarga Tuan Ganan. Ada Aish yang baru saja pulang dari jalan jalan pagi bersama sang suami. Keduanya segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Sayang, bagaimana dengan Sela? aku ingin sekali menemuinya." Tanya Aish sambil melepaskan kerudungnya yang hendak masuk ke kamar mandi.
"Hari ini aku akan mengajakmu ke rumah sakit
Selain untuk memeriksa kandungan kamu, kita akan menemui Sela dan orang tuanya. Tapi, disana ada Zakka yang juga dirawat di rumah sakit." Jawab Rey menjelaskan, Aish memilih untuk diam sejenak.
"Terus ...."
"Kita periksanya di lain tempat saja, bagaimana? soal untuk menjenguk orang tua Sela, kita nunggu pulang saja." Kata Rey yang tidak ada pilihan lain selain mencegah itu lebih baik, pikirnya.
"Ya sudah tidak apa apa, aku nurut saja sama kamu." Jawab Aish dengan nurut.
"Ah! ya, aku baru sadar."
"Ada apa, sayang?" tanya Aish dengan penasaran.
"Hari ini adalah hari pernikahan Yunda dan Afwan, hampir saja aku lupa." Jawab Rey yang baru saja teringat akan sebuah pesan dari teman sekolah dulu bersama sang istri.
"Yunda dan Afwan menikah? kata siapa? mana mungkin mereka berdua menikah." Kata Aish setengah tidak percaya, yang dia tahu keduanya tidak memiliki rasa apapun selain bersahabat dan berteman.
"Hem, kamu kurang update kek nya. Makanya, sahabatnya menikah tidak tahu. Aku saja tahu, hem."
"Bukankah aku tak pegang ponsel? pegang aja cuman ada nomor kamu dan punya karyawan kepercayaan, hem." Kata Aish yang tiba tiba teringat daftar kontak diponsel pemberian suaminya dulu.
"Ah ya, aku sampai lupa. Semua itu karena aku tak ingin ada yang mengganggu konsentrasi kamu untuk mencintaiku, walaupun kenyataannya seperti jemuran baju yang lupa untuk diangkat." Ucap Rey disertai tawa kecil, Aish hanya mengerucutkan bibirnya.
Karena mendapatkan kesempatan emas, Rey langsing menc*ium bibir manis milik istrinya itu.
"Sudah lah, lupakan masa lalu. Kita jalani yang sekarang ini, ada aku, kamu, dan calon buah hati kita." Ucap Rey sambil mengusap perut istrinya yang sudah terlihat jelas jika istrinya tengah mengandung anaknya.
Aish pun tersenyum bahagia mendengarnya, setelah itu Aish langsung memeluk erat suaminya dan kembali melepaskan pelukannya.
Dilihat lah wajah tampan milik suaminya itu, kemudian Aish membelai pipinya.
"Terima kasih banyak atas perhatian dari mu, sayang." Ucap Aish dan tersenyum manis, sedangkan Rey langsung mencium pipi kanan milik istrinya dengan kecupan yang lembut. Merah merona kedua pipi Aish.
"Nanti kita terlambat kalau bermain drama seperti ini, sayang. Lebih baik kamu sekarang buruan mandi, aku sudah siapkan baju untuk kamu. Baju yang terasa nyaman untuk perempuan hamil seperti mu." Kata Rey, lagi lagi ia mencium pipi milik istrinya dan tersenyum bahagia. Aish mengangguk disertai senyumnya, lalu ia segera masuk ke kamar mandi.
Saat Aish sudah berada didalam kamar mandi, tiba tiba Rey kembali teringat sesuatu. Rey merasa berat untuk menghadiri acara pernikahan kedua sahabat istrinya itu, Yunda dan Afwan.
Setelah cukup lama menunggu istrinya selesai mandi, akhirnya Aish keluar juga dari kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah selesai."
"Ini, baju yang sudah aku siapkan. Maaf, jika modelnya sedikit berkerut. Aku tidak ingin calon buah hati kita terasa terganggu ketika kamu mengenakan pakaian yang pres pada bagian pinggang." Kata Rey sambil menyodorkan sebuah gamis yang terlihat elegan.
"Wah, ini mah cantik banget. Aku sangat menyukainya, kelihatannya sangat nyaman untuk dipakai. Terima kasih banyak ya, sayang." Jawab Aish setelah menerima pakaian gamis dari suaminya itu yang sudah ia lihat dan juga ia pegang.
"Sudah, sayang ... buruan ganti pakaian mu. Nanti kita bisa terlambat loh, kita kan mau periksa dulu ke Dokter kandungan."
"Periksanya besok aja, bagaimana? aku baik baik saja kok. Sekalian, besok kita pergi ke Toko kueh." Kata Aish yang segera mengganti pakaian gamisnya yang diberikan dari suaminya.
"Ya ya ya ya, sayang. Sudah sana cepetan ganti pakaian mu, aku mau mandi.", Perintah dari Rey, kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aish yang tengah sibuk mengganti pakaiannya, ia menatap lurus pada cermin. Tiba tiba ia teringat dengan sosok ayah yang selama ini sudah membesarkannya.
Aish menitikan air matanya tatkala sebuah kerinduan mengingatkannya akan sebuah kenangan dimasa lalunya. Aish mengerutuki f
dirinya sendiri, merasa bersalah dan juga penuh penyesalan.
Tidak hanya sampai kerinduan yang mengganggu pikirannya, Aish juga merasa bersalah karena tak mampu membalas jasa Beliau semasa hidupnya yang begitu tulus membesarkannya dari kecil hingga menjadi seorang gadis remaja yang menginjak dunia kedewasaannya.
Sakit hingga tembus ke ulu hatinya, itu sudah jelas pasti. Susah senang, Aish melewati hidup hanya berdua. Seorang ayah yang sangat menjaga kehadiran Aish hingga menjadi anak kebanggaannya Almarhum.
Tak cukup hanya mengingat masa lalu, Aish merasa begitu sesak ruang napasnya, seakan tercekik dan sulit untuk menarik napasnya.
"Pa, Maafkan Aish yang belum sempat membahagiakan Papa. Aish benar benar menyesal, kenapa dulu Aish mengijinkan Papa untuk keluar rumah. Padahal, kita baru saja pulang. Maafkan Aish, maafkan Aish." Gumam Aish didepan cermin, tak sadar juga jika suaminya sudah berdiri dibelakangnya.
"Semua orang punya penyesalan, termasuk aku. Maka, berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri. Mau sampai kapan kita akan terus menerus meneror diri kita ini dengan sebuah penyesalan? hem, lupakan sejenak masa lalu kita, tetapi dijadikan lah sebuah pelajaran yang sangat berharga." Kata Rey setengah berbisik pada istrinya.
Aish langsung memutar balikkan badannya dihadapan suaminya. "Penyesalan apa yang kamu punya? apakah kamu menyesal telah menikahiku? jawab saja dengan jujur.
Seketika, Rey terkejut mendengar pertanyaan dari istrinya. "Penyesalan ku, maksud kamu? ada ada saja kamu ini. Mana ada aku menyesal menikahimu, jelas jelas aku menyukaimu sejak kita selalu bertemu di sekolahan." Jawab Rey tak lupa dengan senyumannya.
"Terus, penyesalan apa yang kamu punya?"
"Sini, aku peluk kamu sebentar."
"Tidak mau, jawab dulu pertanyaanku tadi."
"Kamu beneran ingin tahu penyesalanku? hem, baik lah aku akan berkata jujur denganmu."
"Sudah cepetan berkata jujur, jangan banyak drama deh." Kata Aish dibuat jutek, Rey pun tertawa kecil ketika melihat istrinya mulai terpancing dengan ulah darinya.
"Penyesalanku itu, kenapa tidak dari dulu aku selalu bersama mu."
"Hem, itu kan kesalahan kamu sendiri. Kenapa harus pergi ke Luar Negri, jelas jelas istrimu ini sangat ingin mendapatkan perhatian penuh darimu."
__ADS_1
Seketika, Rey seperti tidak percaya ketika mendengar pengakuan dari istrinya itu.
"Jadi ...." ucap Rey semakin mendekatkan diri pada istrinya, semakin dekat semakin tak ada jarak diantara keduanya. Rey yang hatinya semakin berbunga bunga, dirinya langsung mencium bibir milik istrinya dengan rakus.
Disaat itu juga, Rey sadar jika dirinya mengajak istrinya menghadiri acara pernikahan teman suaminya seperti yang sudah ia sepakati bersama isttinya untuk segera berangkat.
"Nanti terlambat, ayo kita bersiap siap. Sini, aku hapus air mata mu ini. Sudah dong, jangan memikirkan yang aneh aneh. Doakan untuk Papa Burhan, semoga tenang di Alam sana." Ucap Rey yang mendadak berhenti dengan candunya. Kemudian, ia segera mengajak istrinya untuk bersiap siap.
Setelah selesai bersiap siap, Rey dan Aish segera turun dari lantai atas. Tepatnya keluar dari kamar pribadinya.
Sampai di bawah anak tangga, Rey dan Aish mengenakan sandal dan sepatunya masing masing.
"Loh loh loh, kalian berdua mau pergi kemana? kok kelihatannya rapi banget." Tegur Omma Qinan yang mendapati Rey dan Aish yang terlihat lain dengan penampilan yang seperti biasanya.
"Omma, ngagetin aja. Rey dan Aish mau pergi ke acara Pernikahan teman sekolah, Omma." Jawab Rey memberi penjelasan untuk Omma nya.
"Oooh mau menghadiri acara pernikahan? kirain Omma mau kemana, Omma kira ada acara pembukaan usaha baru atau selebihnya. Rupanya acara pernikahan, Omma tidak tahu soalnya. Ngomong ngomong kalian berdua tidak sarapan dulu nih? Omma sendirian loh. Kakek sudah berangkat dari tadi ke rumah sakit."
"Tidak ada acara pembukaan usaha baru kok, Omma. Yang ada cuman acara pernikahan saja, tidak ada acara yang lainnya. Kalau soal sarapan itu sudah pasti, Omma." Jawab Rey sambil mengenakan jam tangannya setelah mengenakan sepatunya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita sarapan terlebih dahulu. Setelah sarapan, kalian berdua bisa berangkat." Ucap Omma, Rey dan Aish menjawab bersamaan.
Sampai di ruang makan, Aish melayani Omma terlebih dahulu dengan sangat hati hati. Setelah itu, ia baru lanjut ke suaminya. Rey tak mempermasalahkan untuk tidak didahulukan. Menurut Rey, orang yang lebih tua yang didahulukan.
"Omma masih bisa ambil sendiri kok, Nak Aish. Lebih baik kamu layani suami kamu, itu lebih utama." Kata Omma Qinan.
"Di rumah ini, Omma lah yang harus diutamakan. Kalau soal Rey, masih ada waktu untuk bergantian." Sahut Rey menimpali, Omma Qinan mendengar penuturan dari cucu pertamanya. Meski dengan sikap dingin dan kaku, Rey tak pernah lepas untuk mengutamakan keluarganya yang paling tua.
Namun tidak untuk perasaannya sendiri, Rey akan terus berjuang untuk mendapatkannya. Meski terkadang ia sendiri lupa siapa yang menjadi lawannya itu. Meski ada penyesalan, Rey tidak melulu terus terusan untuk menyalahkan diri sendiri.
"Kamu dari dulu tidak pernah berubah, selalu aja mengalah. Bahkan kamu cukup banyak mengalah dengan Zakka dimasa lalu kalian, namun tetap saja kamu selalu menutupinya. Pantas saja, Kakek kamu begitu sayang padamu." Kata Omma Qinan yang teringat masa lalu cucunya.
"Ah sudah lah Omma, itu kan masa lalu. Lagian juga usia Rey masih kecil, itu hal yang sangat wajar." Jawab Rey yang tak ingin mengingat masa lalunya dimasa kecilnya sendiri.
Meski usianya yang terbilang baru menginjak usianya yang berumur belasan tahun, Rey tak lupa dengan semuanya.
Aish yang dapat menangkap ekspresi suaminya yang mendadak aneh, ia segera menghabiskan makanannya. Berharap agar cepat cepat pergi dari rumah dan dirinya dengan leluasa dapat bertanya pada siang suami mengenai ekspresi yang membuatnya penasaran.
Sambil menikmati sarapan pagi, suasana menjadi hening. Tak ada yang bersuara diantara ketiganya sampai selesai sarapan pagi.
Karena tidak ingin datang terlambat, Rey dan Aish segera berpamitan untuk berangkat keacara pernikahan teman sekolahnya.
"Omma, kita berangkat dulu, ya." Ucap Rey berpamitan.
"Ya, hati hati dalam perjalanan. Ingat pesan Omma, jangan kebut kejutan. Ingat juga, Aish sedang hamil, kesehatan dan keselamatan jauh lebih penting dari apapun." Kata Omma Qinan memberikan sebuah pesan setan nasehat juga." Ucap Omma Qinan mengingatkan.
__ADS_1
"Ya, Omma." Jawab keduanya bersamaan, Aish dan Rey mencium punggung tangan milik Omma Qinan secara bergantian.