
Karena tidak mempunyai pilihan yang lain, akhirnya Sela menerima tawaran dari Tuan Ganan dan Bunda Maura.
Setelah berpamitan untuk beristirahat, Sela diantar oleh salah satu pelayan sampai di kamar tamu.
Betapa terkejutnya ketika masuk kedalam kamar yang sangat mewah itu. Seumur hidupnya, baru pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di rumah yang sangat mewah dan megah. Bahkan jika dibandingkan dengan luas kamarnya, tidak ada apa apanya dengan mewahnya kamar tamu yang ia tempati saat ini.
Sepasang matanya memperhatikan pada setiap sudut kamar, warna yang tidak begitu cerah, namun tetap terlihat elegan.
"Selamat beristirahat, Nona." Ucapnya, Sela pun mengangguk dan tersenyum.
"Selamat beristirahat juga Mbak." Jawab Sela dengan ramah.
Setelah itu, pintu pun Sela kunci dari dalam. Takut, jika sewaktu waktu yang masuk kedalam kamarnya. Berjaga jaga itu jauh lebih baik daripada mengabaikannya, kata salah dalam pribahasa.
Dengan pelan, Sela duduk di pinggiran tempat tidur. "Sangat empuk, nyaman banget ya jadi orang kaya itu." Kata Sela saat mencoba duduk ditepiannya.
"Ini kamar tamu, terus buat kamar pemilik rumah sih seperti apa mewahnya ya. Wah! aku seperti masuk ke dunia halu ini mah, aku pasti sedang berhayal, sampai sampai bisa berada di rumah kak Rey. Mimpi buruk kah, ini? benar benar seperti banyak alkohol ini tubuhku." Gumam Sela sambil perlahan ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Sempurna! ya, sangat sempurna. Ya Tuhan, apakah aku ini sedang bermimpi? jika ia, semoga aku lupa bangunnya. Dan ketika bangun, aku sudah bersama pangeranku." Lagi lagi Sela bergumam dengan setengah kesadarannya karena rasa kagum bercampur dengan rasa kantuk nya yang sudah tidak dapat tertahan lagi. Tidak ada sebuah pilihan selain tidur dengan pulaanya, hingga tidak sadarkan diri dan lupa dengan semuanya.
Sedangkan dikamar yang lain, ada Zakka yang masih bersandar di kepala ranjang tempat tidurnya. Zakka tengah menyibukkan diri dengan benda pipihnya karena rasa kantuk yang tidak kunjung datang.
"Benarkah apa yang sudah menjadi pilihanku ini? apakah pilihanku ini akan merubah segalanya? termasuk untuk melupakan Aish. Setelah aku bisa melupakannya, aku akan segera menceraikan Sela sesuai perjanjian. Setelah semua beres, aku akan pergi ke luar Negri untuk menyusul Paman Alfan dan tante Zeil. Mungkin di luar Negri aku akan mendapatkan kehidupanku yang baru dan menatanya menjadi lebih baik lagi." Gumam Zakka sambil mencari jalan keluarnya untuk bisa lepas dari belenggunya sendiri.
Lambat laun, rasa kantuk telah menguasinya. Karena tidak ingin bangun kesiangan, Zakka segera membenarkan posisinya dan memejamkan kedua matanya hingga terlelap dari tidurnya.
Begitu juga dengan Rey dan Aish yang sudah terlelap dari tidurnya. Rey yang awalnya sering gelisah ketika tidur, kini tidak lagi ia rasaka. Beban yang pernah menumpuk dalam ingatannya dan dalam pikirannya kini perlahan berkurang bebannya.
*****
Tidak terasa ketika melewati malam yang panjang, adzan subuh tengah berkumandang dan membangunkan Aish dari lelap tidurnya.
"Sayang, sudah adzan subuh." Bisik Aish didekat daun telinga suaminya, dengan malas Rey membuka kedua matanya pelan pelan.
__ADS_1
"Sudah subuh ya, sayang?" tanya Rey sambil menyempurnakan penglihatannya.
"Ya, sayang. Sudah waktunya untuk shalat subuh, apakah kamu tidak ingin shalat berjamaah? sayang loh kalau sampai ditinggalkan." Jawab Aish sambil mengusap pipi suaminya, Rey tersenyum dan kembali memeluk istrinya.
"Kamu tidak pernah ada bosannya untuk membangunkan aku, maafkan aku yang sudah menjadikan kamu alarm waktu untukku." Kata Rey, kemudian mencium pucuk kepala istrinya Sungguh benar benar membuat Aish terasa sangat bahagia, sedikitpun Rey tidak pernah protes ketika istrinya membangunkannya.
Karena merasa sudah cukup untuk beristirahat, Aish bergegas bangun dari tempat tidurnya terlebih dahulu dan disusul suaminya. Setelah itu keduanya segera mencuci muka dan menggosok giginya dan membuang air kecil maupun hajat besarnya. Setelah itu Aish menyuruh suaminya untuk membersihkan diri terlebih dahulu, dikarenakan harus shalat berjamaah bersama pekerja dirumah yang sudah dibangunkan tempat beribadah untuk yang muslim.
Setelah selesai, kini giliran Aish untuk mandi. Dikarenakan badannya yang terasa tidak nyaman saat dirinya berada diacara ulang tahun suaminya.
Cukup lama membersihkan diri, Aish segera menyelesaikannya dan sekaligus mengambil air wudhu. Selanjutnya ia memilih untuk shalat berada di dalam kamarnya.
Sedangkan Sela yang juga sudah bangun pagi pagi, ia mencoba menyempurnakan penglihatannya. Seketika pandangannya tertuju pada sofa yang terlihat ada lipatan baju diatas sofa.
Sela yang penasaran, segera ia mencoba untuk memeriksanya. Saat sudah berada di dekat sofa, Sela fokus dengan lembaran kertas yang ada tulisannya. Kemudian diraihnya lembaran kertas itu dan ia baca dengan seksama.
"Baju ganti? perasaan tadi malam tidak ada baju gantinya deh, siapa yang masuk ya. Perasaan aku sudah mengunci pintunya, kenapa bisa ada baju macam ini? aneh." Gumam Sela dengan penuh tanda tanya.
Karena tidak ingin membuang buang waktunya hanya karena memikirkan baju, Sela segera bergegas masuk kamar dan segera membersihkan diri serta melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang sudah menjadi kewajibannya seorang muslim.
Sela benar benar tidak pernah menyangka jika baju yang ia pakai sangatlah bagus dan terasa sangat nyaman untuk ia kenakan.
"Wah ... bajunya tidak kaleng kaleng rupanya ya. Masih baru, lagi. Bagaimana dengan baju yang dikenakan kak Aish, ya? pasti semua bajunya tidak ada yang murah. Beruntung banget ya jadi kak Aish, dapat suami yang baik, keluarga suami baik banget, sempurna banget nasib kak Aish. Wajar saja jika kak Aish bahagia, perjalanan hidupnya saja banyak lika lakunya. Semoga saja nasib aku seberuntung kak Aish, aamiin." Gumam Sela yang terkadang masih terasa mimpi dengan apa yang ia terima.
Waktu yang hampir saja habis, Sela segera bergegas untuk menunaikan kewajibannya.
Setelah itu, ia hanya bisa berdiam diri didepan cermin sambil menyibukkan ponselnya. Niat hati ingin menghubungi Didin yang semalaman ia lupakan keberadaannya, tiba tiba Sela urungkan. Perasaan tidak enak pun mulai muncul dalam benak pikirannya.
"Didin marah besar, tidak ya? kasihan sekali anak itu, harus menungguku yang cukup lama. Semoga saja itu anak tidak mengeluarkan aku dari groupnya." Gumam Sela yang mulai kepikiran dengan Didin yang sudah ia abaikan ketika mengantarkan pesanan bersamanya.
Karena tidak ingin berada didalam kamar berjam jam tiada guna, akhirnya Sela memilih untuk segera keluar dari kamar.
Sampainya didepan pintu kamar tamu, Sela celingukan disekitar ruang tamu. Sela memperhatikan di setiap sudut ruangan tersebut, berharap tidak orang yang mengagetkannya.
__ADS_1
"Aku pergi ke dapur aja, apa ya?" gumamnya sambil memikirkan sesuatu untuk melakukan aktivitasnya.
"Nona, sudah bangun?" tanya seorang pelayanan perempuan yang tengah membereskan ruang tamu.
"Sudah, Mbak. Kalau boleh tahu, kok Mbak nya kerjanya pagi pagi sekali?" jawab Sela dan balik bertanya.
"Oooh, sudah menjadi peraturannya, Nona. Oh ya, Nona mau minum apa? ada teh hangat dan wedang jahe, Nona tinggal pilih mana yang Nona suka."
"Terima kasih, Mbak. Tapi maaf sebelumnya, saya tidak minum kedua duanya. Saya lebih suka minum air putih saja, itu sudah lebih dari cukup." Kata Sela berterus terang.
"Oh kalau begitu saya permisi, Nona. Masih ada banyak pekerjaan yang mesti saya kerjakan.* Ucapnya, Sela pun mengangguk dan tersenyum.
Karena tidak mempunyai kesibukan, Sela akhirnya memilih untuk pergi ke dapur.
"Sela," panngil Aish sambil berjalan menuju dapur.
"Kak Aish," Sela pun ikut memsnggilnya.
"Kirain kamu tidak berani keluar, bagaimana dengan bajunya? pas dipakai, 'kan?" tanya Aish sambil memperhatikan penampilan Sela.
"Bajunya sangat nyaman, Kak. Kalau boleh tahu, baju ini datangnya jam berapa ya Kak? soalnya Sela rasa semalam itu pintunya sudah dikunci deh. Tapi kok tiba tiba sudah ada baju diatas sofa deh Kak, kan aneh." Jawab Sela, kemudian ia mencoba untuk bertanya karena rasa penasaran nya.
"Semalam Kakak yang masuk ke kamar kamu, dan yang memberi tulisan kecil itu juga Kakak. Aneh ya, Sel. Di rumah ini, semua ruangan yang ada kuncinya itu tidak hanya satu atau dua, tetapi ada kode otomatis dengan sambungan kunci yang biasa." Jawab Aish menjelaskan, Sela hanya tersenyum malu karena tidak begitu memperhatikan dengan kunci pintu yang ada kodenya, pikirnya.
"Sudah lah jangan duat pusing, nanti jadinya migren. Lebih baik kamu temani Kakak ke taman belakang aja yuk, Kakak mau jalan jalan untuk olahraga. Sayang kan, kalau sinar matahari yang hangat disia siakan."
"Tapi Kak, Sela malu. Sela harus bantu bangun mbak mbak yang sedang bekerja, kasihan kalau tidak dibantu loh Kak."
"Kalau kamu mau bantu mereka mereka, yang ada kamu akan diusirnya. Mereka tahunya jt, kamu adalah calon istrinya Zakka, tentu saja kamu itu tamu kehormatan keluarga Wilyam." Kata Aish, Sela hanya bengong mendengarkannya.
"Tapi kan Kak, Sela kan ..." ucap Sela yang tiba tiba terhenti dari kalimatnya. Sela baru tersadar, jika drama yang ia miliki hanya dengan Zakka yang tahu tentang drama yang sudah menjadi perjanjian.
"Kamu kenapa?" tanya Aish penasaran.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa kok, Kak. Ya sudah kalau gitu, Sela mau menemani Kak Aish aja." Jawab Sela yang tidak mempunyai pilihan lain selain mencari sebuah alasan agar tidak ada yang mencurigainya.