
Pagi yang cerah, tanpa terlihat awan di langit. Namun tidak secerah harapan dari seorang Yahya.
Sedari tadi, Yahya sibuk dengan persiapannya untuk berangkat ke sebrang sana. Tepatnya tempat dimana dirinya akan mengenyam pendidikannya di pondok pesantren. Meski sedikit berat untuk meninggalkan rumah, Yahya terpaksa untuk melakukannya.
Demi wanita yang ia cintai, Yahya rela meninggalkan kampung halamannya untuk menempati pesan dari ayah Aish.
"Yahya, cepatan. Nanti terlambat, Abi sudah menunggumu didepan rumah." Seru sang ibu memanggil putranya.
"Iya Umi, sebentar lagi Yahya keluar." Jawabnya sambil membereskan sesuatu yang akan dibawanya.
Setelah selesai bersiap siap, Yahya segera keluar dari kamarnya. Kemudian menghampiri ibunya untuk berpamitan.
"Umi, Yahya berangkat. Doakan Yahya, semoga pulang mendapatkan bekal ilmu yang bermanfaat. Dan, bisa pulang membawa keberhasilan." Ucap Yahya berpamitan.
'Iya, Nak. Kamu yang rajin belajarnya, jangan macam macam disana. Fokus dengan belajarmu, Mama yakin bahwa kamu tidak akan lama di pondok pesantren. Karena, setelah lulus nanti kamu akan diminta papa untuk melanjutkan ke Mesir." Jawab sang ibu menyemangati.
"Yahya tidak janji, Umi. Tapi, Yahya akan terus berusaha untuk mengenyam pendidikan semampu Yahya." Ucap Yahya, kemudian mencium punggung tangan milik ibunya.
"Hati hati diperjalanan, Nak ..." ucap ibunya, kemudian segera keluar dan masuk kedalam mobil.
Didalam perjalanan, Yahya hanya terdiam sambil menatap luar lewat jendela.
"Abi," panggil Yahya sedikit takut.
"Ada apa, Yah?" tanya sang ayah penasaran.
"Yahya boleh meminta sesuatu tidak, Bi?" jawab Yahya dan bertanya.
"Sesuatu? katakan saja, jika Abi tidak keberatan akan Abi penuhi permintaan kamu." Jawab sang ayah.
"Yahya ingin bertemu dengan ketiga teman Yahya, ada Afwan, Yunda, dan ...." ucap Yahya tiba tiba terasa berat untuk melanjutkan ucapannya.
"Bilang saja Aish, kenapa malu? Abi tidak melarangmu. Ingat, hanya sebentar." Jawab ayahnya yang mengerti maksud dari putranya.
"Abi tidak bohong, 'kan?" tanya Yahya yang masih tidak percaya.
__ADS_1
"Memangnya Abi kamu ini pernah berbohong? kamu itu masih kecil, bahkan kamu tidak memiliki apa apa. Jangan materi, ilmu saja kamu masih kosong." Jawab sang ayah mengingatkan.
"Yahya ini laki laki normal, wajar dong Bi ... jika Yahya tertarik dengan Aish. Selain cantik, Aish anak yang sholehah. Dia gadis yang benar benar sangat istimewa yang selama ini Yahya kenal, Bi ..." Ucap Yahya dengan jujur akan perasaannya tentang Aish. Sang ayah hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu itu masih kecil, bau kencur. Fokus saja dulu dengan pendidikan kamu, waktu kamu itu tidak pendek. Kamu masih belum menginjakkan kaki kamu di Mesir. Setelah itu, kamu akan terjun di lapangan. Kemudian baru Abi izinkan untuk meminang wanita yang kamu sukai." Jawab sang ayah mengingatkan putranya.
"Iya, Bi ... Yahya akan semangat untuk mengejar cita cita, dan juga wanita yang Yahya cintai akan Yahya perjuangkan." Ucapnya dengan semangat.
"Ini baru anak Abi, penuh semangat untuk berjuang." Ujar sang ayah, tanpa disadari telah sampai didepan pintu gerbang sekolahan.
"Abi, Yahya keluar dulu." Ucap Yahya sambil melepas sabuk pengamannya.
Dengan antusias, Yahya menunggu ketiga temannya didepan pintu gerbang. Senyum mengembang terlihat jelas dikedua sudut bibir milik Yahya saat melihat sosok Aish tengah berjalan beriringan dengan kedua temannya, yaitu Yunda dan Afwan.
"Aish, coba kamu lihat." Ucap Yunda yang tiba tiba menghentikan langkah kedua temannya.
"Lihat apaan sih, Yun?" tanya Aish penasaran.
"Iya nih, Yunda. Ada apaan sih? serius amat." Ucap Afwan menimpali.
Dengan seksama, Aish dan Afwan tengah memperhatikannya.
"Iya Yun, itu Yahya. Ada apa, ya? aku juga penasaran." Ucap Afwan penuh heran.
"Iya, itu Yahya." Ucap Aish dengan lesu.
"Kok kamu tidak bersemangat gitu sih, Aish? kamu berantem?" tanya Yunda yang tiba tiba penuh heran dengan sahabatnya itu.
"Tidak ada apa apa kok, Yun ... oh iya, aku mau lewat pintu sebelah. Kalian temui saja Yahya, katakan saja padanya kalau aku ada perlu." Jawab Aish yang berusaha menghindar dari Yahya, ingatan Aish masih teringat jelas saat kejadian semalam.
"Serius nih? jangan begitu dong, Aish. Nanti kalau Yahya kecewa, bagaimana?" tanya Yunda semakin bingung.
"Iya nih, kamu ada masalah?" tanya Afwan yang juga penasaran.
"Tidak, kalau begitu aku pergi." Jawab Aish, kemudian segera meninggalkan kedua sahabatnya.
__ADS_1
Yahya yang melihat Aish menghindar, segera ia mengejarnya.
"Aish!!!" teriak Yahya sambil mengejar Aish. Sedangkan Aish terus mempercepat langkahnya setengah berlari.
"Aish!! tunggu." Teriak Yahya terus memanggil Aish dengan suara kencangnya.
BRUGG!!!
"Aw!!" Aish meringis kesakitan.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Aish merasa bersalah. Sedangkan laki laki yang seumurannya hanya diam dan tidak merespon, kemudian segera pergi meninggalkan Aish.
Aish sendiri merasa heran dengan sikap laki laki yang tengah di tabraknya. Yahya sendiri segera mendekati Aish yang sedang menahan sakit.
"Aish, mana yang sakit?" tanya Yahya sedikit cemas.
"Tidak ada yang sakit, aku baik baik saja. Maaf, aku harus masuk kedalam." Jawab Aish berusaha untuk menghindar. Dengan sigap, Yahya langsung menghadang Aish yang tengah pergi begitu saja.
"Aku mohon, jangan halangi aku." Ucap Aish yang terus berusaha untuk menghindar.
"Aku ingin bicara sama kamu, tolong berikan waktu untukku sebentar saja." Pinta Yahya penuh harap.
"Aku tidak mempunyai waktu banyak, cepat katakan." Ucap Aish tanpa curiga dengan penampilan Yahya tanpa pakaian seragamnya.
"Mulai hari ini, aku tidak lagi sekolah disini. Aku akan pergi ke seberang untuk tinggal di Pondok. Aku akan memenuhi permintaan Papa kamu, bahwa aku akan menemui kamu setelah aku mendapatkan bekal ilmu yang cukup. Aku mohon Aish, tunggu lah aku sampai aku kembali. Aku janji, aku akan menepati janjiku. Aku tahu, jika aku menyukaimu itu salah besar. Aku tahu itu, Aish. Maka dari itu, izinkan aku untuk melabuhkan perasaanku ini dengan anganku, dan aku yang akan menjadikan nyata di kemudian hari. Jawablah pertanyaanku ini, Aish." Ucap Yahya berusaha untuk mengungkapkan perasaannya, sedangkan Aish hanya terdiam.
Dirinya bingung harus menjawab apa, karena Aish sendiri menaruh hati pada Yahya. Hanya saja, Aish berusaha mengusir rasa itu agar tidak luput dari kesalahan besar dan terbuai akan sesuatu yang dapat mengganggu belajarnya.
"Aku ..." jawabnya terhenti, seketika itu juga terasa berat untuk berucap.
"Katakan saja Aish, aku akan terima jawaban dari kamu." Pintanya penuh harap.
"Aku tidak bisa janji, jika aku mampu menunggumu akan berusaha untuk menunggumu. Namun, jika aku tidak mampu maka maafkan aku." Jawab Aish dengan berat, Yahya yang mendengarnya pun tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Aish. Sekarang aku sudah lega, dan aku akan menepati janjiku ini padamu. Kalau begitu, aku pamit." Ucap Yahya senyum bahagia.
__ADS_1
"Cie ... akhirnya akan ada sesuatu yang spesial di kemudian hari." Ledek Yunda sembari senyum senyum.