
Saat tidak ada lagi yang tertinggal, Rey mengajak istrinya untuk pulang ke rumah yang sudah di siapkan sejauh jauh hari. Aish yang memang pada dasarnya lebih banyak diam, sepanjang perjalanan pun tidak bergeming sepatah kata pun pada siang suami.
Selama perjalanan menuju rumah baru, Aish menatap lurus kedepan sambil memainkan ujung kerudungnya. Sedangkan Rey yang merasa gatal pada kedua tangannya, ia langsung meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dan meletakkannya pada bagian dada bidangnya.
"Kamu tidak marah, 'kan? jika aku tinggal pulang sebentar. Tidak lama kok, palingan sore juga sudah selesai acaranya. Aku tidak mau membuat Zakka mencurigai ku, jadi aku harus menghadiri acara keluarga sampai selesai." Ucap Rey sambil menatap wajah ayu istrinya.
"Aku tidak akan marah, lagian acara keluarga kamu. Jadi, sudah semestinya kamu ikut berkumpul sampai acaranya selesai." Jawab Aish sedikit gugup saat menatap wajah suaminya.
"Maafkan aku ya, sayang. Bukan maksud aku tidak berani mempublikan hubungan kita, aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mengakui semuanya. Kalau tidak ada Zakka, aku sudah terang terangan dari dulu. Kamu tidak perlu khawatir, Mama sudah tahu hubungan kita. Hanya saja, Mama belum berani untuk menemui kamu. Takut, jika Zakka yang tiba tiba mengetahuinya lewat Mama saat menemui kamu." Ucap Rey dan memeluk istrinya.
Aish yang tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menganggukan kepalanya dan bersandar pada dada bidang suaminya.
"Tuan, kita sudah sampai di depan rumah." Ucap Pak Dirwan.
Aish yang penasaran, ia langsung duduk dengan tegak dan melihat sisi kanan kiri. Dilihatnya halaman rumah yang cukup luas, bahkan bangunan rumah yang terlihat megah tengah menghipnotis kedua matanya.
"Kenapa kita ke Hotel?" tanya Aish seperti tidak percaya.
__ADS_1
"Kita tidak sedang di Hotel, tetapi kita sudah sampai didepan rumah kita. Ayo kita turun, waktuku tidak banyak. Aku takut, kecurigaan Zakka semakin menjadi jadi." Jawab Rey yang tidak ingin berlama lama, ia takut akan mendapatkan ancaman pada saudara kembarnya sendiri.
Aish yang masih seperti mimpi, dirinya hanya bisa nurut dengan ajakan suaminya. Karena tidak ingin suaminya dicurigai oleh saudara kembarnya, Aish segera turun dari mobil mengikuti suaminya yang sudah berdiri tegak didekat mobil mewahnya.
Saat berada disebelah sang suami, sepasang matanya menatap bangunan rumah yang cukup besar dan megah itu telah membuat Aish tercengang melihatnya. Benar benar tidak pernah disangkakan nya dengan rumah yang akan ditempati bersama sang suami.
Rey yang sedari tadi memperhatikan istrinya, ia langsung meraih tangan istrinya. Lalu ia langsung menggandeng dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.
"Ini rumah kita untuk sementara waktu. Setelah Zakka menemukan pendamping hidupnya, kita akan kembali ke rumah utama. Tetap saja, sekali kali kita akan menginap di rumah utama, tapi kita menunggu pengakuan kita pada Zakka." Ucap Rey sambil berjalan beriringan.
Rey yang mendengar pertanyaan dari istrinya pun, ia tersenyum melihatnya. "Ini rumah kita, bukan rumahku. Sebenarnya ini rumah hadiah dari Kakek, bukan hasil kerjaku. Kamu tahu sendiri jika aku sangat sibuk menyelesaikan pendidikanku di luar Negri." Kata Rey memperjelas penjelasannya.
"Oooh hadiah dari Kakek, seneng banget kamu masih punya Kakek. Tidak sepertiku, orang tua saja aku sudah tidak punya, apalagi kakek. Kamu sangat beruntung, ya. Mempunyai segalanya, jangan lupa untuk selalu bersyukur. Banyak loh, orang yang menginginkan di posisi kamu." Ucap Aish sambil berjalan menatap lurus kedepan.
Disaat itu juga, Rey menghentikan langkah kakinya yang hendak menuju anak tangga. Rey memegangi kedua lengan istrinya dan menatapnya dengan lekat.
"Kamu masih mempunyai aku yang kapan aja aku akan sealu siap untuk menjadi pengganti orang orang yang kamu sayangi, yakni yang telah pergi lebih dulu. Aku yang selalu siap untuk menjadi sandaran keluh kesahmu, aku akan selalu berusaha memberimu waktu sesulit apapun keadaannya. Aku mencintaimu sejak pertama kali berhadapan dengan mu, dan sejak itu lah aku tidak akan berhenti menyerah untuk mendapatkan mu serta mendapatkan cintamu." Ucap Rey dan langsung memeluk erat istrinya, ia berterus terang akan perasaannya yang sudah sekian lamanya tertahan hingga bertahun tahu.
__ADS_1
"Apa yang kamu sukai dariku? kamu itu begitu sempurna untukku. Apa aku tidak salah dengar? jika kamu mengharapkan aku."
"Aku tidak butuh dengan pengakuan kamu, merespon saja aku sudah sangat bahagia. Apalah arti sebuah pengakuan, jika hasilnya hanya menyakitkan. Cukup diam, tetapi kamu meresponnya. Aku sudah sangat bahagia mendapatkan balasan darimu melalui sikapmu." Kata Rey yang masih dengan posisinya yang memeluk erat suaminya.
Karena tidak puas jika hanya berpelukan tanpa saling menatap satu sama lain, Rey langsung melepas pelukannya dan fokus melihat wajah ayu milik istrinya.
"Aku tidak membutuhkan pengakuan dari kamu, yang aku butuhkan hanya sikapmu yang mudah meresponku." Ucapnya lagi sambil menatap wajah istrinya, lalu tersenyum pada kalimat terakhirnya.
Aish yang begitu sulit untuk memahami akan perasannya, ia langsung memeluk suaminya. Entah ada angin apa, Aish selalu merasa nyaman ketika dirinya berada dalam pelukan suaminya. Rey tersenyum penuh kemenangan, sudah sekian lamanya menunggu dan kini membuahkan hasil yang cukup sempurna untuknya.
Rey yang sudah tidak sabar, ia langsung menggendong istrinya menuju kamarnya. Sampainya di depan pintu, Rey meminta istrinya untuk membuka pintu dengan kode yang diberikan darinya. Kemudian setelah pintu terbuka lebar, Rey menurunkan istrinya tepat diatas tempat tidur.
"Kalau kamu ingin istirahat, istirahat lah. Badan kamu pasti terasa sangat capek dan juga pegal pegal, maka dari itu lebih baik kamu istirahat saja. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu tinggal panggil pelayan dengan cara tekan tombol ini. Nanti ketika waktunya makan siang, makanan akan diantar ke kamar. Kamu tidak perlu repot repot untuk turun kebawah, disebelah kamar ada jalan pintas untuk turun ke bawah. Kamu tidak susah susah untuk menuruni anak tangga." Ucap Rey menjelaskan satu persatu.
Aish yang bingung karena masih seperti tidak percaya dengan ucapan suaminya, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban mengerti.
"Kalau begitu aku mau pamit pulang, jaga diri kamu baik baik di rumah. Aku usahakan untuk pulang lebih awal. Kalau kamu merasa jenuh di dalam kamar, kamu bisa kebelakang rumah. Disana ada kebon buah stroberi, kamu bisa mencuci mata kamu agar tidak terasa bosan dan jenuh. Banyak bunga bunga juga dibelakang rumah, yang pastinya kamu tidak akan merasa jenuh. Di rumah ini banyak pelayan yang siap menjadi teman kamu dan pelayan kamu untuk melayani apa yang kamu inginkan." Ucap Rey panjang lebar sebelum pergi dari rumah.
__ADS_1