Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kedatangan seseorang


__ADS_3

Setelah lamaran diterima oleh bapak Ramdan, tanggal pernikahannya pun telah ditentukan waktunya.


'Semoga ini jalan yang terbaik untukku dan aku dapat melupakan kenangan masa laluku. Sakit, tapi apalah dayaku ini yang harus bisa untuk melewatinya.' Batin Zakka untuk meyakinkan dirinya sendiri agar jauh lebih baik lagi, piki Zakka yang penuh harap.


Karena sudah tidak ada lagi yang harus di obrolan, waktu juga sudah cukup lama berada di kediaman orang tuanya Sela.


Tuan Ganan akhirnya berpamitan untuk pulang, sedangkan Sela masih diberi kesempatan untuk berada di Toko kueh selagi masih buk ada ikatan pernikahan.


Sela masih dapat bernapas lega ketika dirinya masih bisa berkumpul bersama rekan rekan kerjanya. Mau bagaimanapun, Sela sudah merasa nyaman berada di Toko kueh. Banyak ilmu dan juga teman yang bisa dijadikan saudara, dan tentunya dapat menghibur hari harinya tanpa ada rasa bosan sedikitpun dan juga dapat menghilangkan kejenuhan.


Namun tidak untuk setelah menikah, bayangan bayangan yang entah seperti apa sedang Sela pikirkan. Sejauh ini Sela tidak pernah kepikiran jika dirinya akan bersuamikan orang kaya raya, hanya saja ada cidera pada calon suaminya.


Untuk soal asmara masa lalu Zakka, Sela tidak mengetahui sedikitpun. Yang Sela tahu hanyalah Rey yang rupanya suami dari Aish, perempuan sederhana dengan segudang prestasinya.


Tentu saja menjadikan Sela menjadi minder, sedangkan dirinya hanya sebatas anak sekolah yang putus dalam perjalanan. Ingin rasanya seperti yang lainnya hingga menggapai impiannya sangat tinggi, namun tidak untuk seorang Sela yang hanya menjadi seseorang pekerja keras demi menghidupi keluarganya.


Tidak pernah gentar bagi Sela untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Sela tetap bersemangat walaupun sesulit apapun yang harus ia hadapi dengan adanya kesendirian.


Setelah tidak ada lagi keluarga Wilyam di rumahnya, Sela segera membereskan ruang tamu. Kemudian ia mencoba melihat dapurnya untuk memasakkan sesuatu.


"Sela, kamu mau ngapain?" tanya sang ayah ketika mendapati putrinya yang hendak menuju dapur.


"Mau masak, Pa. Sela mau masak untuk makan siang, Pa." Jawab Sela.


"Untuk apa kamu masak? di dapur masih ada makanan, tadi pagi pagi sekali ada yang mengantarkan makanan kerumah. Katanya sih dari keluarga Wilyam." ucap pak Ramdan, Sela pun tercengang mendengarkannya.


"Duduk lah, papa ingin berbicara dengan kamu." Pinta pak Ramdan, sedangkan Sela hanya bisa nurut dan duduk didekat orang tuanya.


"Ya Pa, ada apa?" Sela balik bertanya kepada orang tuanya.


Gugup, itu sudah pasti yang sedang Sela rasakan saat ini.


"Kamu sedang tidak berpura pura dihadapan papa kan, Sela?" tanya pak Ramdan yang menyimpan rasa penasarannya.


"Tidak, Pa. Sela tidak sedang berpura pura, Sela berkata dengan jujur apa adanya. Tidak ada yang Sela tutup tutup, semua benar." Jawab Sela dengan beralasan, bagaimana pun caranya, pikir Sela yang memang pada dasarnya jika dirinya masih ada rasa takut jika harus berkata bohong.


Sedangkan pak Ramdan tidak mudah untuk dibohongi, apa yang sudah dikatakan putrinya memang ada yang membuat beliau penasaran.


"Papa tahu apa yang sedang kamu sembunyikan kepada papa, nak. Papa tahu maksud kamu tentang pernikahan kamu."


"Maksud papa?" lagi lagi Sela semakin penasaran dengan apa yang telah dikatakan orang tuanya.


"Papa tidak mempunyai maksud apapun sama kamu, sama sekali tidak." Kata pak Ramdan, disaat itu juga akhirnya Sela membuka suara untuk berterus terang dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya.

__ADS_1


"Maafkan Sela, pa." Jawab Sela yang tidak tahu harus berkata apa, pikirnya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf sama papa, karena hanya kejujuran yang papa minta, tidak lebih." Ucap pak Ramdan, Sela tersipu malu ketika kebohongannya harus diketahui oleh orang tuanya.


"Ya Pa, maafkan Sela yang sudah berbohong kepada Papa. Sela janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama maupun harus berbohong kepada papa. Sela menyesal, pa." Kata Sela merasa sangat bersalah.


"Papa sudah memaafkan kamu, papa mengerti dengan alasan kamu. Papa tidak ada hak untuk marah dengan kamu, dan papa tidak akan menyalahkan kamu maupun orang lain. Papa sadar diri, papa tidak bisa berbuat apa apa untuk kamu dan adik adik kamu. Lalu untuk apa papa harus memberontak? justru papa yang seharusnya meminta sama kamu, karena kamu harus bekerja keras dan rela melakukan apapun demi membalas budi kepada keluarga Wilyam." Ucap pak Ramdan yang merasa kasihan ketika harus menyaksikan langsung jika putrinya harus dijadikan umpan, pikir pak Ramdan dengan penuh kasihan dengan putrinya.


Nasi telah menjadi bubur, tetap saja untuk dinikmatinya. Begitu juga dengan keadaan keluarga pak Ramdan, tetap saja harus dijalaninya.


"Jadi Papa tidak marah sama Sela?" tanya Sela yang ingin memastikannya langsung.


"Tidak, untuk apa papa harus marah dengan kamu, nak. Tidak ada gunanya jika Papa harus marah dengan mu." Jawab pak Ramdan dan tersenyum pada putrinya, Sela pun merasa lega ketika tidak ada lagi beban yang bersemayam didalam pikirannya.


"Jika kamu sudah menjadi istri nak Zakka, tetaplah bersikap baik, ramah, sopan, dan tidak banyak bicara. Tunjukan bahwa kamu perempuan baik baik, meski kamu bukan mahasiswa tajir melintir sekalipun.


Setelah tidak ada yang kurang, Sela tersenyum lega ketika dirinya tidak ada beban yang menumpuk. Dan tidak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya. Setelah cukup lama mengobrol, Sela memilih untuk kembali ke kamar dan segera beristirahat.


Sedangkan dikediaman keluarga Ganan, Rey dan Zakka sedang mencari seorang Dokter yang handal dalam menangani pasien yang mempunyai luka pada kaki.


"Kak Rey," panggil Zakka sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Ya, ada apa?" tanya Rey yang juga tengah berkomunikasi dengan teman temannya yang berada di luar negri. Berharap akan segera menemukan cara yang bisa menangani Sally pada bagian kaki yang cidera.


"Aku belum menemukan orang yang pakar tentang cideranya kaki kamu, Zakka. Bersabarlah, kita pasti akan segera menemukannya." Kata Rey sambil fokus dengan layar laptopnya.


"Semoga saja Kak, Zakka akan terus berusaha." Ucap Zakka sambil mencari tentang pengobatan untuk kesembuhan kakinya.


Karena sudah mulai bosan ketika dirinya memaksakan diri untuk mencari keberadaan ponsel yang sesungguhnya, Zakka akhirnya memilih untuk pasrah.


"Sudah lah kak, tidak perlu untuk dicarinya lagi. Lagian juga masih ada Zayen yang masih bisa untuk dimintai minta tolong, kak Rey tidak perlu ambil pusing." Ucap Zakka yang memilih untuk mengikuti cara penyembuhan dari seorang Zayen, pikir Zakka yang tidak mau bertambah pusing.


"Baiklah jika memang itu yang sudah menjadi keputusan kamu, aku akan mendukungmu. Yang terpenting untuk kesembuhan kaki kamu agar kembali seperti dulu lagi." Kata Rey untuk memberi semangat kepada saudara kembarnya.


Zakka yang mendapat dukungan dan penyemangat dari saudara kembarnya pun, ia bertambah semangat dan yakin untuk bisa sembuh.


"Oh ya, tadi aku sudah meminta kepada Aidan untuk membelikan tongkat penyangga. Sebentar lagi akan segera datang, sekalian untuk praktik nanti malam bersama Zayen." Ucap Rey mengingatkan, Zakka menganggukkan kepalanya.


Karena sudah hampir sore, Rey berpamitan untuk membersihkan diri. Mau bagaimana pun, kebersihan dan kesehatan itu nomor pertama, sedangkan yang lainnya belakangan.


"Zakka aku kembali ke kamar, nanti akan ada Aidan yang akan membantu kamu segalanya untuk sementara waktu ini sebelum kamu menikah. Setelah kamu menikah, kamu tidak lagi kebingungan. Karena apa? karena Sela yang akan menemani kamu." Ucap Rey.


"Ya kak, silahkan." Jawab Rey dengan datar.

__ADS_1


Karena Rey juga butuh istirahat, Rey memilih untuk memijat dirinya sendiri. Setidaknya bagian kedua kakinya mendapatkan pijatan yang cukup untuk mengobati kecapekan.


Sampainya didalam kamar, Rey segera membersihkan diri.


"Sayang, kamu kenapa? perasaan dari tadi baik baik saja." Tanya Aish sambil menyisiri rambutnya yang baru saja ia membersihkan diri karena gerah dengan kondisi yang sudah hamil besar.


"Aku sangat mengantuk, sayang. Aku istirahat dulu ya, sayang." Jawab Rey, kemudian ia menjatuhkan diri ke tempat tidur. Tidak memakan waktu yang lama, Rey pun langsung terlelap dari tidurnya. Begitu juga dengan Aish, ia ikut beristirahat disebelah suaminya.


*****


Malam pun telah tiba, anggota keluarga Tuan Ganan tengah duduk santai diruang keluarga usai makan malam bersama.


Tidak lama kemudian seseorang yang sudah ditunggu tunggu akhirnya datang juga ke rumah Tuan Ganan, siapa lagi kalau bukan Zayen suami Afna.


"Zayen," panggil Tuan Ganan yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Paman, apa kabarnya?" sapa Zayen dengan ramah.


"Kabar paman baik, kamu?" kata Tuan Ganan balik bertanya.


"Kabar Zayen seperti yang paman lihat, baik baik saja, paman." Jawab Zayen sambil memperhatikan di sekelilingnya dan tidak lupa tersenyum ramah.


"Ah ya, paman sampai lupa. Mari, silahkan duduk." Ucap Tuan Ganan dan mempersilahkan duduk keponakannya yang baru saja datang.


"Terima kasih, paman." Jawab Zayen dan duduk di sebelah Zakka yang tengah berada dikursi roda.


"Kakek, apa kabarnya?" sapa Zayen kepada kakek Angga, Beliau pun tersenyum.


"Kabar kakek baik baik saja, Zayen. Oh ya, kenapa kamu tidak mengajak Afna? kasihan loh sendirian dirumah."


"Tidak mau, katanya kek. Katanya sih nunggu istrinya kak Rey lahiran." Jawab Zayen sesuai apa yang dipesankan oleh istrinya.


"Ya sih, sebentar lagi Aish mau lahiran. Oh ya, sebelumnya kakek mau meminta maaf sama kamu, jika kakek mau merepotkan kamu untuk mencoba membantu Zakka untuk belajar berjalan. Sebelumnya kamu bisa periksa dulu kondisi kakinya Zakka, takutnya kamu kesulitan."


"Baik kek, Zayen akan mencobanya. Semoga sakitnya tidak lebih serius dari Afna, jadi Zayen masih bisa untuk melakukan pelatihan berjalan pada kak Zakka." Jawab Zayen dengan serius. Setelah itu Zayen bangkit dari posisinya dan ia segera berdiri.


Dilihatnya ada satu alat penyangga yang sama persis dengan milik istrinya. Zakka berjalan dan mengambilnya. Saat mengambil alat penyangga nya, disaat itu juga Tuan Ganan mendekati keponakannya itu.


"Tolong ya, Zayen. Usahakan untuk kesembuhan Zakka, karena dalam waktu dekat ini Zakka akan menikah. Paman ingin ada perubahan pada kaki Zakka, paman tidak punya cara lain selain berharap untuk kesembuhannya. Paman yakin jika kamu bisa memberi perubahan kepada Zakka." Ucap Tuan Ganan setengah berbisik didekat daun telinga milik Zayen.


"Zayen akan mencobanya, paman. Doakan saja yang terbaik untuk putra paman, Zayen hanya bisa berusaha. Selebihnya ada pas diri Zakka untuk bisa sembuh atau bertahan dengan keadaannya itu." Jawab Zayen, Tuan Ganan menganggukkan kepalanya.


"Kalau boleh saran, bisakah dilakukan di ruang khusus, paman? Zayen takut, jika kak Zakka tidak sanggup untuk melakukannya dihadapan anggota keluarganya. Biarkan Zayen dan kak Zakka yang ada diruangan tersebut." Kata Zayen memberi saran kepada Tuan Ganan.

__ADS_1


"Baik lah, paman akan ikuti semua saran darimu. Demi kesembuhan Zakka, paman siap melakukan apapun untuknya." Jawab Tuan Ganan.


__ADS_2