
Aish masih merasa tidak percaya, jika ayah mertuanya adalah seseorang yang akan menjadi Bos nya. Seketika, ingatannya kembali kepada Zakka yang tidak lain adalah putranya.
'Jangan jangan ... Zakka lah yang akan memimpin Kantor ini, terlihat jelas dia menerimaku tanpa bersyarat.' Batin Aish mencoba untuk menebaknya.
"Nona, mari ikut saya untuk menemui Beliau." Ajak nya yang sudah berulang ulang memanggil Aish dengan sebutan Nona. Disaat itu juga, Aish tersadar dari lamunannya.
"Ya, Mbak." Jawab Aish, kemudian mengikutinya dari belakang. Saat sampai didepan pintu, pintu pun terbuka cukup lebar.
"Silahkan masuk, Nona." Ucapnya dengan hormat dan juga santun, Aish mengangguk dan mengiyakan. Dengan jalannya yang lambat dan juga sedikit ada rasa takut, Aish berjalan mendekati ayah mertuanya sedikit menunduk karena malu.
"Permisi, Tuan." Ucap Aish sedikit menunduk.
"Panggil saja Papa, karena kamu adalah menantuku. Terkecuali ada Zakka, kamu berhak memanggil dengan sebutan yang kamu suka." Ucap sang ayah mertua.
"Ya, Pa." Jawab Aish
"Papa memanggilmu kemari karena ada beberapa pesan yang ingin Papa sampaikan pada kamu, duduk lah." Kata Tuan Ganan, Aish sendiri hanya bisa nurut.
"Karena sudah terlanjur mendaftar dan juga sudah terlanjur bertemu, maka kamu akan tetap bekerja di Kantor ini untuk menjadi sekretaris nya Zakka. Kamu tidak perlu khawatir, Rey tidak akan mempersalahkan nya. Tapi tetap saja, Rey yang mempunyai sejuta cara untuk mengawasi kamu. Papa hanya mengingatkan kamu, agar kamu bisa menjaga jarak dengan Zakka." Ucap Tuan Ganan mengingatkan sekaligus memberi pesan kecil untuk menantunya.
"Ya, Pa. Sebisa mungkin saya akan menjaga jarak. Tapi ... kalau saya tidak mampu menghindari Zakia, maka saya memilih untuk berhenti bekerja di Kantor ini." Jawab Aish sebaik mungkin.
__ADS_1
"Ya, Papa tidak melarangmu untuk berhenti bekerja di Kantor ini. Dan kamu tidak perlu khawatir, Rey akan terus memberimu nafkah. Jadi, kamu tidak perlu takut untuk kebutuhan kamu dan Tante kamu sehari harinya. Satu lagi, kamu tidak perlu cemas. Papa pastikan, jika Rey tidak akan lama berada di luar Negri, Papa sudah memberikannya saran untuk melalui jalur singkat. Doakan suami kamu, semoga berhasil menggapainya cita citanya untuk sukses kedepannya dan segera kembali pulang." Ucap ayah mertua panjang lebar, Aish hanya bisa mengangguk dan mengiyakan.
"Karena sudah tidak ada lagi yang mau diobrolkan, kamu boleh keluar sekarang juga. Oh ya, soal identitas mu tadi sudah ada yang menggantinya, siapa lagi kalau bukan ulah kaki tangan suami kamu sendiri yang melakukannya." Ucap ayah mertua, Aish pun kaget mendengar soal identitas yang tiba tiba telah berubah dengan waktu yang begitu singkat.
"Terima kasih atas penyampiaian dari Papa, sebisa mungkin Aish akan terus berusaha untuk menjaga jarak. Aish pamit, Pa." Jawab Aish dengan sedikit menunduk, ayah mertua mengangguk dan tersenyum.
Usai mengobrol dengan ayah mertua, Aish segera keluar dan menemui kedua temannya di tempat semula ia menunggu.
"Aish! dari mana saja sih, kamu ini? dari tadi kita berdua bolak balik mencarimu, tau." Panggil Yunda mengagetkan Aish yang tengah celingukan.
"Maaf, tadi aku sedang mencari angin. Habisnya gerah banget, sampai lupa untuk kembali. Oh ya, bagaimana hasil tes nya? berhasil, 'kan?"
"Alhamdulillah kita berdua berhasil, dan besok kita sudah diminta untuk mulai bekerja." Jawab Yunda dengan wajahnya yang berbinar.
"Kita kan sudah beres nih, urus urusannya tentang pekerjaan. Oh ya, kalau pulangnya kita mampir dulu di warung dekat rumah kita, bagaimana? apakah ada yang setuju? sudah lama loh, kita tidak kumpul bareng seperti masih sekolah." Ajak Yunda penuh harap.
"Boleh banget, aku sangat setuju. Aku juga sudah rindu sama masa masa kita masih sekolah dulu, penuh drama tahu tidak sih." Sahut Afwan menimpali.
"Hem, drama yang bagaimana lagi maksud kamu?" timpal Aish ikut meninmbrung.
"Ada deh, yang jelas sekarang ini tambah ganteng aja orangnya. Eh, ngomong ngomong si Rey yang super dingin itu, kemana ya? bukankah kemana mana sama Zakka? jadi penasaran sama itu anak. Apa masih dingin seperti dulu, atau ... sudah berubah drastis. Aku rasa masih sama deh, orang dingin itu susah berubah." Kata Yunda yang tiba tiba teringat pada sosok Rey yang terkenal super dingin itu.
__ADS_1
Aish yang mendengarnya pun hanya bisa diam, dirinya tidak tahu apa yang harus ia jawab. Mau ikut menjawab, takut salah tanggap oleh kedua sahabatnya. Diam itu akan jauh lebih baik, pikirnya.
"Jangan jangan kamu naksir Rey, ya Yun?" ledek Afwan pada Yunda. Aish yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan memilih untuk berjalan menuju parkiran.
Selama perjalanan pulang, tidak sengaja lewat didepan rumah Yahya. Aish mendadak tercengang ketika melihat ada tenda yang biasa dipakai untuk orang berduka didepan rumah Yahya.
"Yun, tenda apa itu?" tanya Aish penasaran.
"Kamu belum tahu, ya. Tenda yang ada didepan rumah Yahya itu, adalah tenda duka kepergian orang tuanya Yahya." Jawab Yunda dengan suara yang lirih dan sedikit menunduk.
"Apa! orang tuanya Yahya? maksud kamu, Abi nya Yahya?" Aish masih tidak percaya mendengar kabar duka orang tua dari Yahya.
"Ya, benar. Setelah ijab Qobul selesai, Abi nya Yahya telah menghembuskan napas terakhirnya." Jawab Yunda memperjelas ucapannya.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un." Ucap Aish dengan lirih.
"Umur kita tidak ada yang tahu, kita cukup memperbaiki diri dan mempertebal iman kita. Tapi ... kita manusia yang tidak luput dari lupa dan juga kesalahan. Setidaknya kematian adalah teguran untuk kita, agar kita bisa memperbaiki diri lebih baik lagi." Kata Yunda sedikit memberi nasehat kecil untuk dirinya dan yang mendengarkannya.
Disaat itu juga, ia kembali teringat suaminya yang dengan terang terangan tidak pernah menjalankan shalat. Aish merasa berada dititik yang cukup rumit. Meski kesolehan seseorang tidak menjamin surga, setidaknya mengingat siapa Sang Pencipta Nya.
"Aish, kenapa kamu melamun? lagi ada masalah? atau ... kamu teringat Yahya, ya? apa teringat dengan Zakka?" tanya Yunda sembari menebak.
__ADS_1
"Tidak dua duanya, aku hanya melamun saja. Untuk apa aku memikirkan laki laki yang sudah sah milik perempuan lain, dan jugaan laki laki yang bukan mahram ku. Aku sedang memikirkan yang nyata nyata saja, dan yang pastinya tidak memikirkan laki laki lain." Jawab Aish memang pada kenyataannya dirinya memikirkan suaminya sendiri.