Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Perjanjian


__ADS_3

"Kak Aish," panggil Sela sambil berjalan mendekat.


"Sela, ada apa?" tanya Aish sambil mengemasi pesanan kueh kering.


"Ada Kak Rey, suami Kak Aish." Jawab Sela diakhiri dengan senyuman, Aish pun membalasnya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu lanjutin aja kerjaannya. Kakak mau menemuinya sekarang, hati hati kalau mengemasi. Takutnya banyak kueh yang retak dan pastinya bisa membuat konsumen akan kecewa." Kata Aish berpesan, Sela pun menganggukkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu sudah da ..." ucapnya terkejut seketika terhenti saat sepasang matanya tertuju pada Zakka yang tengah berdiri disebelah suaminya.


"Maksud aku, kalian berdua ada perlu apa datang kesini? maaf, tadi Sela tidak mengatakan jika yang datang kalian berdua." Kata Aish berusaha untuk beralasan.


"Apa ada tempat lain untuk berbicara tiga orang?" tanya Rey tanpa canggung. Lagi lagi Zakka merasa ada yang aneh, antara sang kakak dan perempuan yang disukainya.


"Ada, disana." Jawab Aish dan menunjukkan tempat yang dimaksudkan.


Sambil berjalan, Rey dan Zakka mengikutinya dari belakang. Sampainya ditempat yang tunjukkan Aish, disaat itu juga Aish mempersilahkan kakak beradik untuk duduk. Karena tidak ada tempat lain yang bisa dijadikan untuk tempat duduk, akhirnya Aish terpaksa duduk disebelah Zakka. Meski tidak bersentuhan dan duduk ujung sama ujung, tetap saja membuat hati seorang Rey terbakar api cemburu.


"Kamu perempuan, tidak baik duduk bersebelahan dengan laki laki. Duduk lah ditempatku ini, biar aku yang akan duduk disebelah Zakka." Perintah Rey yang tidak dapat menahan kecemburuan nya itu.


Aish pun baru tersadar jika dirinya duduk disebelah adik iparnya. "Maaf, lupa." Kata Aish setengah membungkuk karena merasa bersalah pada suaminya.


Zakka yang memperhatikan nya pun mulai menyimpan sejuta pertanyaan pada Aish dan juga sang Kakak.


'Kenapa Aish begitu nurut pada Kak Rey? kenapa juga setengah menundukkan kepalanya. Apa ya, Kak Rey dan Aish mempunyai hubungan khusus? aku harus meminta orang orang suruhanku untuk menyelidiki nya lebih dalam lagi.' Batin Zakka dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, kedatangan kalian berdua kemari ada perlu apa, ya?" tanya Aish memberanikan diri. Meski gugup saat berhadapan dengan suaminya, Aish berusaha untuk tetap tenang.


"Zakka, ayo katakan apa tujuan kamu untuk menemui Aish. Waktu kita tidak lama, buruan kamu katakan."


Karena tidak ingin membuang buang waktu, akhirnya Zakka mencoba untuk mengatur pernapasannya sebelum bertanya untuk mendapatkan sebuah jawaban tanpa adanya rekayasa dari perempuan yang disukainya.


'Mungkin sekarang ini sudah waktunya yang tepat untuk mendapatkan jawabannya.' Batin Zakka, kemudian sorot matanya tertuju pada saudara kembarnya.


"Aku datang kesini untuk menanyakan sesuatu, apakah kamu bersedia untuk menjawabnya dengan jujur?" tanya Zakka membuka obrolan.


"Ya, tanyakan saja." Jawab Aish, kemudian pandangannya tertuju pada sang suami.


'Sebenarnya kedatangan mereka berdua ini ada apa? kenapa harus Zakka yang bertanya sesuatu?' batin Aish bertanya tanya. Bahkan ia sedikit kesal ketika tidak mendapatkan respek apa pun saat dirinya menyempatkan diri untuk manatap suaminya.


Seketika, Aish tercengang saat mendapatkan sebuah pertanyaan yang menurutnya sangat sulit untuk ia jawab. Aish yang tidak bisa memberi jawaban karena bingung dan juga takut, ia kembali menatap suaminya seakan meminta bantuan untuk memberi jawaban pada Zakka. Rey hanya menganggukkan kepala untuk menghindari jawaban dari saudara kembarnya.


"Aku tidak ada hubungan apa apa dengan Rey, kenapa?" jawabnya balik bertanya. Meski terasa berat untuk berbohong, Aish tidak mempunyai cara lain selain ikutan berbohong seperti suaminya.


"Yakin? jangan bohongi aku, Aish. Jika aku mendapati kebohongan dari kalian berdua, hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua? jawab pertanyaanku." Tanya Zakka untuk memastikannya kembali, ia benar benar ingin memastikan atas kebenarannya.


Disaat itu juga, Rey dan Aish saling menatap satu sama lain dengan sekilas. Keduanya sama takutnya jika sesuatu yang ditutupinya akan terbongkar terlebih dahulu oleh Zakka.


"Kenapa kalian berdua saling diam? ayo katakan dengan jujur."


"Em ... terserah kamu saja mau memberiku hukuman apa padaku, aku akan menerimanya." Jawab Rey dengan santai, bahkan seakan akan sedang tidak ada apa apa.

__ADS_1


Aish yang sudah mendengar jawaban dari suaminya, ia mulai berpikir untuk menjawabnya tanpa ada rasa gugup sama sekali.


"Jawaban aku sama dengan Rey, terserah kamu yang akan memberi hukuman padaku. Karena aku sendiri tidak tahu, apa yang harus aku katakan atas hukuman untukku. Aku menerimanya dengan ikhlas, apapun itu hukumannya." Ucap Aish menimpali dengan perasaannya yang mulai gemuruh diambang ketakutan. Seumur hidupnya baru pertama kalinya ia harus berbohong mengikuti suaminya.


"Aku pegang omongan kalian berdua, aku sudah merekamnya." Kata Zakka sambil mengeluarkan benda pipihnya yang dibuat untuk merekam selama pembicaraan berlangsung.


Rey dan Aish pun tercengang mendengar ucapan dari Zakka. Keduanya sama sama menatap Zakka seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Kak Rey, ayo kita pulang. Aish, aku pamit pulang. Aku pegang omongan mu, aku percaya kok sama kamu. Aku yakin jika kamu tidak membohongiku, karena kamu ahli ibadah. Yang pastinya, kamu tidak akan pernah melakukan kebohongan. Jaga diri kamu baik baik, maafkan aku yang sudah mencurigai mu. Kamu tahu? aku menyukaimu dari dulu, aku berharap kamu akan mengerti dengan keseriusanku ini." Ucap Zakka berpamitan, sekaligus membuat hati Aish seakan teriris perih dan terasa sesak didalam da*danya ketika mendengar ucapan dari Zakka.


Begitu juga dengan Rey, dirinya pun ikut merasa tersentil hatinya. Kebohongan yang disembunyikan seakan menjadi bumerang untuk dirinya dan sang istri.


Karena tidak ingin menambah pikiran pada sang istri, Rey ikut berpamitan pulang.


"Aku ikutan pamit pulang, jaga diri kamu baik baik." Ucap Rey berpamitan dengan berat hari harus ikutan pergi bersama saudara kembarnya.


"Hati hati di perjalanan untuk kalian berdua, maaf jika aku sampai lupa tidak menyuguhkan kalian minuman." Jawab Aish yang tiba tiba teringat jika tamu nya tidak di suguhkan air minum.


"Tidak apa apa." Ucap keduanya dengan kompak, Aish pun tersenyum mendengarnya. Setelah itu, Rey dan Zakka segera pulang. Tanpa disadari oleh keduanya, bahwa selama perjalanan berangkat sampai pulang masih diawasi oleh sang ayah dan kakek Angga.


"Aku kira akan terjadi pertumpahan darah, syukur lah kalau mereka berdua baik baik saja." Kata kakek Angga merasa lega.


"Semoga saja tidak mengulangi masa lalu Papa dengan Paman Zio." Sahut Tuan Ganan sambil fokus dengan setirnya.


"Terus ... kapan waktunya untuk berterus terang pada Zakka? Papa masih mengkhawatirkannya." Tanya Kakek Angga yang kembali pusing untuk mencari waktu yang tepat, pikir Beliau.

__ADS_1


__ADS_2