Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Mencari solusi


__ADS_3

Setelah itu, Aish mengajak Sela untuk jalan jalan pagi ditaman belakang rumah, keduanya mengitari taman belakang sambil berbagi cerita satu sama lain.


"Sela, kok kamu tidak bilang bilang sama Kakak kalau kamu ada hubungan dengan Zakka. Takut ketahuan, ya? hayo ngaku."


"Kak Aish bisa aja deh, tau aja kalau Sela itu. malu dan takut ketahuan." Kata Sela yang akhirnya memulai drama barunya bersama Zakka, yakni yang sebentar lagi akan menjadi suami sementaranya.


"Pasti berawal dari Toko kueh, ya 'kan?" ledek Aish sambil senyum senyum pada Sela.


"Kak Aish mah bisa aja kalau ngeledek deh, Sela kan jadi malu Kak." Kata Sela sambil jalan beriringan.


"Ehem, lagi ngomongin siapa nih?"


Seketika Aish dan Sela dikagetkan dengan suara yang ada dibelakangnya, keduanya pun akhirnya menoleh kebelakang.


Alangkah terkejutnya ketika Aish dan Sela mendapati dua sosok laki laki yang sudah berada dibelakangnya.


"Kalian?" Aish membulatkan kedua bola matanya seperti tidak percaya, disaat itu juga Aish langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut. Apa yang ia lihat benar benar sangat nyata dan tidak ada yang salah dengan penglihatannya.


"Hem, ya sayang. Aku dan Zakka yang sedari tadi ngikuti kalian dari belakang. Rupanya kalian berdua ini sangat cocok untuk jadi kakak beradik." Ucap Rey berada dibelakang Zakka.


Sedangkan Sela semakin bingung untuk melanjutkan dramanya, untuk bersikap akrab pun tidak mungkin, pikirnya.


Seberapa banyak jurus yang ia pikirkan, tetap saja Sela merasa canggung untuk memulai. Tanpa ada kode dari Zakka, Sela memilih untuk bersikap biasa biasa saja dihadapan keluarga Wilyam.


"Oooh rupanya kalian berempat ada dibelakang rumah? pantas aja didalam rumah sangat seperti, ternyata kalian ada disini." Ucap Bunda Maura mengagetkan.


"Mama, ngagetin aja. Ya nih Ma, kita sedang mencari udara segar." Jawab Rey.


"Nah ... gini dong, Mama kan adem lihatnya." Ucap Bunda Maura sedikit ada kelegaan ketika melihat kedua putranya kembali baikan tanpa saling diam.


"Ya dong Ma, kita saudara. Masa ya, kita harus berantem terus, tidak baik dong Ma." Kata Zakka ikut menimpali.

__ADS_1


"Karena waktu kita tidak banyak, ayo kita sarapan pagi terlebih dahulu. Setelah itu kita bersiap siap untuk mengantarkan Sela ke rumahnya, sekaligus Papa kalian mau melamar Sela. Bukankah begitu, Zakka? jangan pura pura lupa loh ya."


"Ah ya, yang dikatakan Mama sangat benar. Hari ini Zakka mau mengantar Sela, sekaligus meminta restu." Ucap Zakka yang juga memulai sandiwaranya.


"Baik lah demi adikku, ayo kita sarapan dan bersiap siap, ok." Kata Rey menimpali.


"Nah, kek gini nih yang Papa idamkan. Dari tadi Papa nyariin kalian semua, rupanya ada disini. Ada Mama juga, pantes aja betah." Ucap Tuan Ganan yang akhirnya menyusul ke taman belakang.


"Papa bisa aja, ayo Pa kita sarapan pagi dulu. Bukankah kita akan ke rumah Sela? Papa bilang mau melamar Sela dan sekaligus menikahkan mereka berdua secepatnya." Kata Bunda Maura.


"Bukan kata Papa, ih! Mama ini. Tetapi kata Zakka, hem."


"Ah ya, Mama baru ingat. Yang mau nikah kan Zakka, kenapa larinya ke Papa ya."


"Hem, ledek terus ledek terus ..." sahut Zakka ikut menimpali.


"Sudah sudah, ayo kita sarapan dulu. Nanti kita bisa terlambat." Ucap Bunda Maura untuk menengahi.


'Kak Aish ada yang bisa dibanggakan, sedangkan aku apa? sekolah aja hanya berhenti sampai di abu abu. Semua demi adik adikku memiliki masa depan, tidak sepertiku.' Batin Sela sambil berjalan beriringan masuk kedalam rumah.


Sampainya di ruang makan, Aish mengambilkan sarapannya untuk sang suami. Sedangkan Bunda Maura mengambilkannya untuk suaminya. Begitu juga dengan Zakka yang tengah diambilkan sarapan paginya oleh Sela.


'Bagaimana ini? kenapa aku menjadi gugup seperti ini.' Batin Sela sambil mengatur napasannya agar dapat terhindar dari kegugupannya itu.


Hening, suasana di ruang makan tidak bersuara. Bahkan tidak ada satupun yang bersuara sepatah katapun.


Setelah menikmati sarapan pagi, semua kembali ke kamarnya masing masing, termasuk Sela yang mau mengambil tas bawaannya yang semalam. Sedangkan Rey membantu sang adik untuk mengantarkannya sampai didalam kamarnya lewat jalur pintas, yakni lewat lift.


"Zakka, kamu mau pakai baju warna apa?" tanya Rey sambil berjalan menuju lemari baju saudara kembarnya.


"Warna navy aja Kak," jawab Zakka yang lagi lagi mengingatkan sesuatu pada dirinya sendiri dimasa lalunya.

__ADS_1


"Ooh, ya." Jawab Rey dan mencarikan warna baju yang disebutkan dari saudara kembarnya.


"Ini, benar 'kan?" tanya Rey sambil memperlihatkan satu stel baju beserta celana panjangnya.


"Ya, biar aku saja yang pakai sendiri. Lebih baik Kakak kembali ke kamar, biar Zakka yang meminta bantuan Aidan saja." Jawab Zakka yang tidak ingin merepotkan saudara kembarnya, pikir Zakka.


"Tidak apa apa, selama kamu sakit aku tidak pernah memperhatikan kamu. Biarkan aku ikut menebusnya, jangan banyak protes." Kata Rey yang tetap bersikukuh untuk membantu saudara kembarnya mengenakan pakaiannya.


Zakka yang tidak bisa berbuat apa apa dan tidak ingin menambah masalah, Zakka lebih memilih untuk nurut dan pasrah.


Dengan telaten, Rey membantunya hingga selesai. Bahkan untuk menyisir rambutnya pun, Rey yang melakukannya.


"Sempurna!" kata Rey.


"Oh ya bagaimana dengan kaki kamu, Zakka? apakah belum juga ada perubahan?"


"Belum, aku pasrah. Entah mau sampai kapan aku akan terus bertahan seperti ini, mungkinkah ini hukuman untukku karena terlalu serakah." Ucap Zakka sambil menunduk.


"Bukan begitu jawabannya, aku yakin jika kaki kamu ini masih bisa untuk disembuhkan. Jangan nyerah gitu dong, kamu kan belum berusaha lagi. Buktinya saja kaki Afna bisa sembuh, ya 'kan? coba kamu ingat lagi." Kata Rey yang teringat dengan musibah yang dialami saudara dari keluarga Omma nya.


"Tapi kaki aku ini sudah di operasi Kak? mana mungkin bisa untuk dilakukan pemijatan, sangat mustahil." Jawab Zakka tidak bersemangat.


"Jangan begitu dong, kita konsultasi dulu sama Dokter. Lagi pula sudah lama dilakukan operasi, apa salahnya jika kita lakukan tahapan demi tahapan lebih dahulu." Kata Rey mencoba untuk mencari solusi.


"Tahapan yang seperti apa itu, Kak?"


"Kalau tidak sih ...." ucap Rey sambil berpikir dan menghentikan kalimatnya.


"Apa, Kak?" tanya Zakka semakin penasaran.


"Ah ya, aku ingat sekarang. Afna menghindari kursi roda, ya! kur-si ro-da." Jawab Rey yang mulai teringat dengan saran yang pernah dikatakan oleh Kakek Ferdi, pikir Rey dalam ingatannya.

__ADS_1


__ADS_2