Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kebahagiaan


__ADS_3

Betapa terkejutnya ketika dirinya sudah berada dihadapan beberapa banyak anggota polisi yang tengah duduk dan berdiri disekelilingnya.


"Tidak!!!!" teriak Rena dengan sangat kencang sambil menutupi kedua telinganya. Zakka tersenyum melihat Rena yang tengah berteriak karena merasa tertipu.


Disaat itu juga, Rena menoleh kearah Zakka. Ditatapnya dengan sangat tajam, perasaan senang kini berubah menjadi sebuah kebencian yang mendalam bagi Rena.


"Kau! terkutuk, Kau." Umpat Rena sambil menunjuk kearah Zakka yang tengah berdiri dengan tegak.


"Kamu yang terkutuk, kamu sudah mencelakai Ibu kamu sendiri. Kamu tahu? akibat perbuatan mu, Ibu Melin harus terluka karena mu. Dan sekarang kamu harus menanggung akibatnya, cam kan itu." Kaya Zakka dengan santai.


"Siapa kau sebenarnya, kau pasti suruhan suaminya kak Aish."


"Lebih tepatnya, aku adik dari suaminya Aish. Sekarang juga nikmatilah nasib mu ini, jangan pernah kamu sesali." Ucap Zakka dengan senyum nya yang menyeringai.


"Kepa*rat! Kau, aku pastikan aku akan membalasnya." Ancam Rena dengan tatapan kebencian, Zakka tidak mempedulikannya.


"Pak Polisi, tolong urus perempuan ini. Jangan sampai kabur, apa lagi berani menyogok. Tambahkan saja hukumannya." Ucap Zakka, kemudian ia segera berpamitan untuk pulang.


Setelah urusannya selesai, tidak terasa sudah hampir gelap. Seketika, Zakka teringat dengan sebuah pesan dari ibunya.


"Aduh! sampai lupa akunya, sudah mau malam, lagi." Gumam Zakka sambil berjalan menuju parkiran.


Karena tidak ingin mengecewakan sang ibu, bisa tidak bisa akhirnya Zakka segera mengendarai mobilnya menuju Toko kueh milik Aishwa.


Selama perjalanan, Zakka kembali teringat ketika dirinya berjuang untuk mendekati perempuan yang ia sukai. Namun apa daya, Zakka tak berhasil untuk mendapatkan cinta yang diharapkannya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Zakka telah sampai di depan Toko kue milik Aishwa. "Akhirnya, sampai juga di Toko Aish." Gumam Zakka bernapas lega.


"Andai saja dulu aku yang mendapatkan pesan itu, mungkin hidupku akan jauh lebih berwarna lagi. Sayangnya nasib baik tidak jatuh pada diriku, melainkan pada kak Rey." Gumam Zakka sambil melepaskan sabuk pengaman nya.


Karena tidak ingin berlama lama, Zakka memilih untuk segera membelikan kueh sesuai permintaan ibunya.

__ADS_1


"Hei, Sela. Masih jual kueh, 'kan? aku mau beli."


"Kak Zakka, tumben kemari. Mau pesen kueh apa ya? soalnya tinggal dikit." Tanya Sela.


"Apa aja boleh, seadanya." Jawab Zakka dengan singkat.


"Ditunggu sebentar ya, Kak."


"Ya, cepetan."


Dengan gesit, Sela segera mengemasi pesanan sesuai permintaan Zakka. Tanpa harus menunggu lama, akhirnya Sela dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.


"Ini kak kueh nya, maaf jika hanya ada ini saja." Kata Sela menyodorkan bingkisan kueh kepada Zakka.


"Berapa semuanya?"


"Gratis, kak Zakka tidak perlu membayarnya."


"Ini kan Toko kueh nya kak Rey, tentu saja gratis untuk kak Zakka. Bukan kah kak Rey adalah kakaknya Kak Zakka? saudara kembar, 'kan? hem." Kata Sela dengan sangat jelas, Zakka baru tersadar akan hal itu.


"Ah ya, tumben kamu pintar." Ucap Zakka dan segera meraih bingkisan kueh pesenan nya.


"Kalau begitu aku pamit, terima kasih banyak gratisannya." Kata Zakka, Sela mengangguk dan tersenyum ramah. Kemudian Zakka segera bergegas pergi dan pulang.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah yang kini sudah ditempati lagi oleh Rey dan Aishwa. Keduanya tengah berada dalam kamar sedari pulang dari rumah sakit untuk istirahat.


"Sayang, kamu mandi duluan aja. Biar aku mandi di kamar sebelah, sudah waktunya mau shalat maghrib. Aku mau shalat berjama'ah dimasjid." Ucap Rey, disaat itu juga Aish seperti mendapatkan kabar gembira dari suaminya.


Perlahan Aish mendekatinya, lalu ia menatap wajah suaminya dengan lekat.


"Kamu serius? apakah kamu sudah belajar semuanya?"

__ADS_1


"Ya sayang, selama aku tidak menemanimu, aku sempatkan untuk belajar. Alhamdulillah aku lulus, ya ... walaupun masih kurang fasih. Aku akan terus belajar dan memperbaikinya pelan pelan." Jawab Rey sambil memegangi kedua tangan milik istrinya, Aish langsung memeluk suaminya dengan perasaan bahagia yang sulit untuk ia tuliskan serta ia gambarkan.


"Alhamdulillah, aku sangat bahagia mendengarnya. Terima kasih banyak ya sayang, kamu sudah memberi kebahagiaan yang berlipat ganda. Bahkan aku sampai tak mampu berkata apa apa selain mengucapkan puji syukur." Ucap Aish terharu ketika kebahagiaan telah ia dapatkan tanpa ia menduganya.


Rey melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap wajah ayu milik istrinya dengan lekat. Pelan pelan Rey mengecup kening istrinya dengan lembut dan pindah ke bibir ranum miliknya.


Rey maupun Aish sama sama bahagianya, keduanya kini telah berhasil menciptakan kebahagiaan seperti terucap dalam doanya masing masing.


"Nanti keburu iqomah, buruan mandi. Aku juga ingin segera mandi, badan aku sudah terasa lengket dan juga gerah." Ucap Aish, Rey mengangguk dan segera mandi.


Sedangkan di rumah kediaman keluarga Wilyam, Zakka baru saja sampai didepan rumahnya. Sambil menenteng sebuah plastik berisi bingkisan kueh, Zakka berjalan santai menuju ruang keluarga.


"Zakka, baru pulang?" tanya Bunda Maura sambil berjalan mendekati putranya.


"Tadi Zakka ada urusan, Ma. Maaf jika Zakka pulang nya terlambat, habisnya Zakka diminta bermain drama oleh Papa, Ma." Jawab Zakka sambil menyodorkan plastik berisi pesanan ibunya.


"Papa? memangnya kamu disuruh ngapain?" tanya Ibu nya yang juga belum mengetahui kebenarannya.


"Ceritanya panjang, nanti di kamar akan aku ceritakan. Ngomong ngomong itu apaan? makanan? kebetulan sekali, Papa sangat lapar." Sahut Tuan Ganan yang tiba tiba sudah pulang, Bunda Maura maupun Zakka sama kagetnya.


"Papa, sudah pulang?"


"Sudah tahu di rumah, masih nanya juga. Sudah cepetan itu bingkisan nya dibuka, Papa sudah lapar." Jawab Tuan Ganan dan berniat menyambar bingkisan yang ada pada istrinya.


"Ini tuh kueh, bukan nasi kotak. Aku sudah masakin untuk kalian berdua, lebih baik sekarang kalian itu mandi. Setelah itu kalian berdua beru boleh makan ini kueh sehabis makan malam, titik." Ucap Bunda Maura, Zakka dan sang ayah hanya bisa mengusap perutnya yang sudah minta berdemo.


Namun mau bagaimana lagi, keputusan dari Bunda Maura tak bisa untuk diganggu gugat. Mau tidak mau, Zakka dan sang ayah segera membersihkan diri.


"Nah, gitu dong. Itu baru yang namanya kebersihan diutamakan, bagus lah." Ucap Bunda Maura dan tersenyum mengembang.


Setelah sampai berada dalam kamar, bukannya langsung mandi, justru Zakka menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur. Ditatapnya langit langit kamarnya, tak lupa juga menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.

__ADS_1


Kegagalan yang pernah ia terima, benar benar tengah menguji kesabarannya. Mau bagaimana pun, Zakka tak ada hak untuk memaksakan yang bukan hak miliknya.


__ADS_2