
Sela kembali takjub saat melihat isi didalam rumah, Sela kembali tercengang melihatnya.
'Benarkah ini rumah milik suamiku? mana ada suami, pernikahan ini kan tidak lepas dari kata balas budi. Sela, sela, jangan bermimpi yang berlebihan. Tujuan kamu menikah itu, tidak lain membalas budi untuk menjadi perawat dari kak Zakka.' Batin Sela sambil berjalan bersama suaminya menuju kamar.
"Sela, kalau kamu capek, kamu istirahat saja. Biar Aidan yang akan mengurus suami kamu." Ucap bunda Maura, Sela pun tersenyum.
"Tidak apa apa kok, Bu. Lagian Sela sudah terbiasa bekerja ikut orang." Jawab Sela dengan polos.
"Jangan panggil ibu, panggil saja mama. Kamu sudah menjadi bagian keluarga Wilyam, kamu istrinya Zakka. Ya sudah, kalian berdua istirahat lah. Nanti kalau badan sudah terasa enakan, kita makan malam bersama." Ucap bunda Maura.
"Ya, Bu. Maksud Sela, Mama." Kata Sela malu malu, setelah itu segera masuk kedalam kamar bersama suami.
Detak jantung yang awalnya hanya biasa biasa saja, kini berubah menjadi tidak karuan ketika dirinya masuk kedalam kamar yang hanya dihuni oleh sepasang suami istri. Zakka pun mengunci pintunya. Semakin kuat degupan detak jantungnya yang terasa mau copot.
Pelan pelan Sela menarik napasnya dalam, kemudian membuangnya dengan pelan. Rasa ingin menjerit, Sela sendiri tidak mampu untuk melakukannya.
"Kamu kenapa? takut? tenang saja, aku tida akan menyentuhmu. Aku tahu batasannya, meski kita sudah menikah, kita akan berjaga jarak." Ucap Zakka membuyarkan lamunan istrinya.
Sela menoleh kebelakang, sebisa mungkin untuk tetap tenang.
"Maaf, aku sedikit melamun." Kata Sela yang tidak mempunyai alasan yang lain.
"Kamu pasti lelah, mandilah. Pakaian kamu ada di lemari itu, semua sudah lengkap. Kamu tinggal pilih untuk kamu kenakan, aku mau ke ruang kerjaku. Jika kamu sudah selesai, kamu bisa langsung beristirahat. Tidur lah di tempat tidur, jangan menghukum diri kamu untuk tidur di sofa." Ucap Zakka dan menunjuk pada sebuah lemari yang berisi pakaian istrinya.
Sela mengangguk, hanya itu yang bisa ia jawab. Sedangkan Zakka masuk ke ruang kerjanya. Duduk dengan santai sambil menyalakan layar lebarnya.
__ADS_1
Pandangannya lurus, tapi pikirannya entah kemana.
"Aku sudah menikah, apakah ini keputusan yang benar untuk melupakan Aish? kak Rey sedang bahagia, bahkan sangat bahagia. Sedangkan aku, bahagia di hadapan orang orang. Namun, tidak untukku." Gumam Zakka sambil menatap lurus pada layar lebarnya.
Sedangkan Sela masih kebingungan dengan isi didalam kamar mandi, pasalnya baru kali ini ia menginjakkan rumah yang begitu mewah fasilitasnya.
"Ini kamar mandi saja bagusnya minta ampun, lalu apa kabarnya dengan kamar ku dan ruang tamu?" gumam Sela sambil menanggalkan pakaiannya.
Karena tidak ingin berlama lama berada didalam kamar mandi, akhirnya Sela cepat cepat untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Sela segera keluar dari kamar mandi. Kemudian, dengan gugup membuka lemari yang ditunjukkan oleh suaminya.
"Apa! baju dan semuanya sebanyak ini? benar-benar sudah seperti butik saja." Gumam Sela dengan terkejut.
Karena tidak ingin Zakka masuk ke kamar, Sela asal mengambil baju tidurnya. Setelah memakai baju tidur, Sela menyisir rambut sebahunya.
Kini, tatapannya tertuju pada sebuah cermin yang sangat terang. Sela tertegun setelah menatap wajahnya sendiri. Tidak hanya itu saja, Sels benar benar tidak pernah menyangkanya jika dirinya telah bersuamikan yang sangat kaya raya.
"Kamu sedang tidak bermimpi, ini nyata adanya." Ucap Zakka, Sela pun terkejut mendengarkannya dan langsung menoleh kebelakang sambil memutar balikkan badan.
"Kak Zakka, maaf." Kata Sela, kemudian ia langsung menunduk.
"Istirahat lah sebentar, kamu pasti sangat kecapekan. Aku akan mandi, setelah itu aku menyusul kamu untuk istirahat." Ucap Zakka, lagi lagi Sela hanya mengangguk.
Karena badan terasa lengket dan tidak nyaman, Zakka bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sela yang tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya memilih untuk berbaring di atas tempat tidur dengan perasaan gugup dan tentunya sangat was was.
__ADS_1
Sela menatap langit langit kamar seperti mimpi. Kamar yang luas dan juga mewah, seakan mimpinya sulit untuk menjadi nyata.
Kekayaan yang benar benar sulit untuk dinilai, hingga disaat itu juga ia menyimpan sejuta pertanyaan yang ada didalam benak pikirannya.
'Kenapa tiba tiba aku menjadi penasaran sama kak Zakka ya? padahal tampan dan juga dari golongan orang kaya, kenapa memilih istri sepertiku? padahal dia seorang Bos. Kenapa juga tidak meminta tolong sama temannya atau yang lainnya atau yang setara derajatnya, aneh.' Batin Sela yang kini mulai mencurigai suaminya sendiri.
Karena tidak ingin menjadi pusing karena rasa penasarannya, Sela mengubah posisinya untuk tidur miring. Sebisa mungkin, Sela mencoba untuk tetap tenang dan memejamkan kedua matanya. Lambat laun, Sela akhirnya tertidur setelah ia memaksakan diri untuk memejamkan kedua matanya.
Disaat itu juga, Zakka telah selesai membersihkan diri. Kemudian ia mengambil baju tidurnya dan segera mengenakan pakaiannya.
Setelah itu, Zakka berjalan dengan menggunakan alat penyangganya menuju tempat tidurnya.
Dilihatnya sang istri yang sudah terlelap dari tidurnya. Pelan pelan Zakka menyelimuti tubuh istrinya. Kemudian ia lanjut untuk ikut berbaring disebelahnya. Pelan pelan Zakka meluruskan kedua kakinya, kemudian menutupnya dengan selimut tebalnya.
Pandangan disaat itu tertuju pada langit langit kamarnya, sungguh seperti mimpi bagi Zakka ketika ia berbaring disebelah istrinya.
'Seharusnya yang ada disampingku ini adalah Aish, tetapi kenyataannya bukan. Sakit, aku harus bisa untuk melupakannya.' Batin Zakka sambil menatap langit langit kamarnya.
Setelah itu, ia menoleh kearah istrinya yang kini posisinya sudah meringkuk. Zakka tersenyum, kemudian ia menyilangkan kedua tangannya diatas dada bidangnya.
Pelan pelan, Zakka menarik napasnya dalam dalam dan dibuangnya dengan kasar. Disaat itu juga, Zakka mencoba memejamkan kedua matanya dan berharap bisa tidur dengan lelap.
Sedangkan didalam kamar lain, Tuan Ganan dan bunda Maura tengah duduk santai diatas tempat tidur sambil bersandar. Keduanya tengah membicarakan pernikahan putra keduanya, yakni Zakka.
"Aku masih kepikiran sama Zakka dan juga Sela." Kata Tuan Ganan sambil menatap lurus pada dinding.
__ADS_1
"Ya, aku pun begitu. Aku takutnya diantara mereka berdua ada yang tidur disofa." Ucap bunda Maura yang juga ikutan kepikiran tentang pernikahan putranya.
"Ya, Ma. Aku takutnya juga begitu, karena diantara mereka berdua belum ada benih cinta. Makanya, aku sangat mengkhawatirkan. Aku takut akan bernasib yang sama seperti Papa dan Mama." Kata Tuan Ganan yang teringat kembali masa lalu orang tuanya.