
Tuan Ganan dan istrinya sebisa mungkin untuk menunjukkan sikapnya yang biasa biasa saja didepan putranya, takut sesuatu yang disembunyikan dapat diketahuinya.
"Tidak ada apa apa," jawab keduanya dengan kompak.
"Ma, Pa." Panggil Ney pada kedua orang tuanya.
"Ada apa, Ney?" tanya sang ibu.
"Ney mau ke tempat latihan, Ma." Jawab Neyla penuh harap.
"Memangnya kamu tidak ke Kantor? bukankah ini masih hari sabtu?" tanya sang ibu.
"Hari sabtu waktunya cuman sebentar, Ma. Ney sudah izin untuk tidak berangkat, absen. Mama tenang aja, sekretaris Neyla dapat diandalkan." Kata Neyla dengan senyumnya yang mengembang.
"Hem, terus ... mau sampai kapan kamu tidak akan berubah? apa kamu tidak ingin menikah? hem. Afna sudah menikah, sedangkan kamu masih sibuk dengan latihan mu itu. Kamu bukan lagi anak muda, kamu sudah dewasa. Coba kamu ingat, usia kamu berapa? hem." Kata sang ibu yang tidak ingin putrinya membuang buang waktu kosong nya.
"Ya tuh, Afna sudah menikah loh. Apa kamu ingin menjadi gadis tua? atau ... mau nunggu kakak menikah? sayang banget loh, nanti kamunya keburu berkaratan, bagaimana? sayang banget." Ledak Zakka pada adik perempuannya tanpa takut.
"Dih! gadis tua, tidak akan! wek ..." sahut Neyla, lalu menjulurkan lidahnya setelah ucapan terakhirnya.
"Sudah sudah sudah, kalian berdua ini kenapa selalu berdebat, hah! kembali ke tempat kalian masing masing. Dan kamu Zakka, cepat ganti pakaian kamu. Hari ini kamu banyak tugas di Kantor, kamu Papa larang untuk libur."
"Tapi, Pa ..." rengek Zakka pada sang ayah.
"Liburnya besok aja, sekalian akan ada acara kumpul bersama dengan anggota keluarga besar kita. Jadi ... hari ini kamu tidak perlu libur, kamu mengerti? jika kamu sudah mengerti, ayo bersiap siap lah untuk berangkat." Ucap sang ayah yang tetap bersikukuh untuk mengajak putranya masuk ke Kantor.
"Ya ya ya, Pa." Jawab Zakka sambil menunjukkan muka masamnya.
"Semangat kak, semangat. Siapa tau aja nanti di Kantor bertemu bidadari cantik ala ala dracin loh." Goda Neyla sambil mengedipkan matanya, sedangkan Zakka menatapnya tajam saat adik perempuannya bergurau.
__ADS_1
"Tidak lucu," jawab Zakka dengan ketus.
"Sudah sudah, Mama bilang sudah ya sudah. Masih aja, kalian berdua ini tidak bisa diam. Neyla, masuk ke kamar. Cepetan ganti baju kamu itu, hari ini Mama melarang kamu untuk pergi keluar." Perintah sang ibu, sedangkan Zakka memilih segera bergegas masuk kamar dan bersiap siap untuk berangkat ke Kantor.
Neyla yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau dirinya hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan ibunya.
Cukup lama semuanya terkurung dalam kamar, antara Neyla dan Rey. Keduanya merasa bosan dan ingin beraktivitas, namun tidak mempunyai cara lain untuk keluar dari rumahnya. Mau tidak mau keduanya hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyibukkan diri dengan layar lebarnya masing masing.
Sedangkan di tempat lain, yakni di rumah Ibu Melin ada Aish berada dirumah sendirian. Saat hendak mau pergi ke kamar mandi, Aish mendengar suara mengetuk pintu dari luar.
"Siapa ya? apa pesanan makanan dari suamiku? mungkin aja." Gumam Aish, kemudian ia segera melihat siapa orangnya yang datang.
"Rena! kamu?" sebut namanya seperti mimpi.
"Ya Kak, aku Rena. Apa kabarnya Kak Aish? Mama mana? kok sepi." Tanya Rena yang langsung masuk ke rumah.
"Sedang ada acara bersama Ibu Ibu lainnya, katanya sih liburan ke Pantai." Jawab Aish masih merasa bingung saat mendapati sepupunya yang tiba tiba datang begitu saja, bak Jailangkung.
"Kabarku baik, Ka. Oh ya Kak, kamarku yang mana? masih yang dulu 'kan?" tanya Rena sambil menuju kamarnya.
Saat membuka kamar, betapa terkejutnya saat melihat kamarnya yang masih seperti dulu. Kemudian Rena keluar dari kamarnya dan mencoba melihat kamar milik Aish.
Saat membuka kamar milik sepupunya, Rena pun terkejut melihatnya. Meski dengan ruangan kecil, tetapi didalam kamarnya terlihat bagus dan juga sangat rapi. Tiba tiba rasa iri hati yang muncul dipikirannya berubah menjadi kesal dan juga geram.
"Kamar Kak Aish kok bagus banget sih! sedangkan kamarku sangat jelek." Ucap Rena dengan ketus.
Aish yang mendengarnya pun merasa tidak enak hati, takutnya apa yang ia miliki adalah hasil jerih payah Tantenya, pikir Aish dengan gelisah.
"Kenapa kamu tidak memberi kabar ke rumah? mungkin jika kamu memberi kabar bahwa kamu akan pulang, kamar kamu secepatnya pasti akan segera direnovasi." Kata Aish dengan sangat hati hati, takut jika ucapannya akan menyakiti saudara perempuannya itu.
__ADS_1
"Memangnya mesti kasih kabar, begitu maksud kamu Kak? setidaknya setiap satu bulan sekali dilakukan perubahan sesuai model tiap bulannya. Tidak membiarkannya bertahun tahun, semua hasil usaha Mama pasti Kak Aish yang menghabiskannya.Buktinya saja kak Aish bisa kuliah sampai selesai." Ucap Rena dengan berbagai tuduhan.
"Kakak tidak pernah memakai hasil usaha Mama kamu, Kak Aish serius tidak bohong. Bahkan sepeserpun, Kakak tidak memakainya." Jawab Aish dengan jujur, sedangkan Rena tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
"Alah! namanya bohong tetap aja bohong, pakai ngeles segala." Kata Rena masih tetap menuduh saudara perempuannya.
"Aku serius, Kakak kuliahnya secara gratis. Jadi, sepeserpun Kakak tidak menggunakan uang milik Mama kamu." Ucap Aish yang terus berusaha untuk menjelaskannya dengan jujur sejujurnya.
Disaat itu juga, terdengar suara orang memanggil begitu jelas dari luar rumah. Aish segera melihatnya siapa orangnya yang datang, takutnya yang datang yaitu pesanan dari suaminya.
Saat berada diambang pintu, Aish melihat ada seseorang yang tengah berdiri dengan membawa sesuatu didepan pintu.
"Permisi, Nona. Ini ada pesanan dari Restoran untuk Nona, silahkan diterima." Ucapnya sambil menyodorkan bingkisan tersebut, Aish pun menerimanya.
"Terima kasih banyak Pak, Ongkosnya berapa ya Pak?" tanya Aish.
"Nona tidak perlu membayarnya, semua sudah atas nama Tuan Muda." Pungkasnya, Aish pun tersenyum ramah dan mengucapkan terima kasih yang kedua kalinya.
Rena yang penasaran pun, ia segera melihatnya. "Apa itu? coba aku lihat." Tanya Rena dan langsung merampasnya, Aish hanya bisa nurut.
Setelah bingkisan itu direbut oleh Rena, cepat cepat ia membukanya. "Makanan! bergaya banget Kak Aish, pasti uang dari Mama. Sudah deh, ngaku aja. Bilang aja kalau uangnya Mama dipegang sama kak Aish, ayo ngaku." Lagi lagi Rena kembali berucap dengan segala tuduhannya pada saudara perempuannya.
"Bub -- bukan, Ren. Kakak tidak pernah memakai uang milik Mama kamu, kenapa kamu masih menuduh Kakak." Ucap Aish yang terus membela diri.
"Diam! makanan ini tetap menjadi milikku! kalau Kak Aish mau makan, masak aja sendiri." Kata Rena dengan rasa percaya dirinya.
Aish yang mendengar perkataan dari sepupunya, ia memilih pergi ke dapur untuk memasak mie instan. Mau bagaimana lagi, perut sudah terlanjur keroncongan, pikir Aish yang tidak ingin perutnya sakit.
Sedangkan di rumah Tuan Ganan, Rey yang sedari mengamati rekaman CCTV merasa geram dan ingin segera datang menemui istrinya.
__ADS_1
"Berani beraninya berhadapan dengan ku! aku pastikan bahwa kamu akan menyesal karena sudah menyakiti istriku." Gumam Rey dengan geram.