Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Pulang


__ADS_3

Cukup lama dalam perjalanan pulang, Aish dan Rey telah sampai di rumahnya. Kemudian keduanya segera turun dan masuk kedalam rumah.


Sedangkan di rumah sakit, Zakka yang sudah siap untuk pulang bersama kedua orang tuanya.


"Ma," panggil Zakka sambil mengingat sesuatu.


"Ya, ada apa?" jawab sang ibu dan balik bertanya.


"Zakka ingin bertemu Sela, boleh kan Ma?" kata Zakka meminta ijin.


"Boleh, memangnya kamu ada perlu apa ingin bertemu Sela?" tanya sang ibu penasaran.


"Zakka hanya ingin bertemu saja, dan menjenguk orang tuanya yang sedang sakit." Kata Zakka penuh harap.


"Cuman itu? boleh." Ucap sang ayah ikut menimpali.


"Ya, Pa." Jawab Zakka.


"Ya sudah sini, biar Papa yang dorong kursi rodanya." Kata sang ayah, kemudian Beliau mendorong kursi rodanya menuju ruang pasien yang dimana orang tua Sela tengah dirawat.


Tidak begitu kuat dengan tenaganya, Zakka mengetuk pintunya dua kali. Disaat itu juga pintu pun terbuka dengan sangat lebar.


"Kak Zakka, em ... Tuan dan -- Nyonya. Maaf seblumnya, ada apa ya? saya benar benar tidak tahu." Panggil Sela pada Zakka sangat terkejut ketika mendapati sosok laki laki yang ada dihadapannya itu duduk dikursi roda, ingin bertanya namun tidak mempunyai keberanian apapun.


Diam, itu jauh lebih baik dari pada banyak bertanya dan takut menyinggung perasaannya.


"Silahkan masuk, mari." Dengan sangat hati hati, Sela mempersilahkan masuk kedalam ruangan pasien.


Tuan Ganan sambil mendorong kursi roda, Beliau mendekati ayah Sela dan diikuti sang istri dari belakang.


"Selamat pagi, Pak Ramdan. Bagaimana kabarnya? apakah sudah ada perubahan?" tanya Tuan Ganan, sedangkan pandangannya Sela tertuju pada kaki kanan milik Zakka.


"Lumayan mendingan, Tuan. Maafkan saya yang sudah banyak merepotkan keluarga Tuan, saya ucapkan banyak banyak terimakasih atas kebaikan yang diberikan untuk kami. Maafkan saya, karena saya tidak bisa membalasnya lebih." Ucap pak Ramdan yang tidak tahu harus berkata apa lagi selain ucapan terimakasih, pikirnya.


"Pak Ramdan tidak perlu membalasnya, ini sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Bapak." Kata Tuan Ganan sambil melangkah kedepan agar lebih dekat lagi.


Disaat itu juga, pandangan pak Ramdan tertuju pada sosok lelaki yang masih muda dihadapannya itu duduk dikursi roda. Begitu juga dengan Sela yang sedari tadi menyimpan rasa penasarannya pada kaki Zakka itu.


'Ada apa dengan kaki Kak Zakka, ya? perasaan kemarin itu masih sempat beli kueh.' Batin Sela penuh rasa penasaran.


"Maaf Tuan, kalau boleh tahu, anak muda ini siapa ya? kok sepertinya mirip suaminya Kak Aish." Tanya pak Ramdan memberanikan diri untuk bertanya.


"Namanya Zakka, putra kedua saya. Zakka mengalami kecelakaan belum lama ini, naas dan akhirnya harus dilakukan operasi." Jawab Tuan Ganan menjelaskannya.


"Semoga lekas sembuh ya, Nak. Berhati hatilah jika berkendara, sekarang ini di jalanan sudah dipacari kendaraan roda empat maupun roda dua." Kata Pak Ramdan, Zakka pun tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya, Pak. Begitu juga dengan Bapak, semoga lekas sembuh." Jawab Zakka tak lupa dengan senyumnya yang ramah.


Bunda Maura yang sedari memperhatikan Sela, Beliau mendekatinya. "Zakka, katanya mau menemui Sela. Kok jadi lupa, hem." Ledek Bunda Maura yang akhirnya membuka suara. Sela yang mendengarnya pun, mendadak berubah menjadi canggung.


"Ah ya, Zakka sampai lupa. Hai Sela, semangat ya buat merawat ayah kamu. Aku doakan, semoga ayah kamu segera disembuhkan dari rasa sakitnya." Kata Zakka yang memang pada dasarnya murah senyum dan juga mudah untuk akrab.


"Ya Kak, terima kasih banyak atas doanya. Begitu juga dengan Kak Zakka, Sela doain semoga kaki Kak Zakka segera sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasanya." Jawab Sela malu malu.


"Em ... karena Zakka harus pulang dan beristirahat, kami pamit pulang ya Pak. Nak Sela, dijaga ayahnya dengan baik ya." Ucap Bunda Maura berpamitan, Sela pun tersenyum.


"Ya, Nyonya. Terima kasih banyak sudah menyempatkan untuk datang kemari, Nyonya." Jawab Sela dengan canggung dan juga gugup, tentunya.


"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Tante atau Ibu." Ucap Bunda Maura yang menolak dengan panggilan Nyonya.


"Baik, Bu." Jawab Sela dengan lidah yang terasa kaku.


"Sela, aku pulang dulu ya. Semoga ayah kamu lekas sembuh, dan kamu bisa beraktivitas lagi di Toko kueh." Kata Zakka yang ikutan berpamitan pada Sela, begitu juga Tuan Ganan yang juga segera berpamitan dengan Pak Ramdan ayah Sela.


Setelah berpamitan pulang, Zakka dan kedua orang tuanya bergegas pergi dari rumah sakit. Kini tinggal lah Sela dan orang tuanya yang masih berada di dalam ruangan pasien.


"Zakka, kamu ..." panggil seorang perempuan yang tengah mendapati Zakka tengah duduk di kursi roda yang didorong oleh ayahnya sendiri.


"Yevi," Zakka pun menyebut namanya.


"Aku habis kecelakaan kemarin itu," jawabnya dengan malas.


"Kecelakaan, aku kira kenapa. Aku doakan, semoga kaki kamu cepat sembuh dan dapat beraktuvitas seperti biasanya. Kalau begitu, aku jalan duluan. Paman, Tante, permisi." Ucap Yevi dan langsung berpamitan. Zakka hanya mengangguk tanpa ada senyum sedikitpun.


Bunda Maura yang memperhatikannya pun merasa aneh ketika melihat ekspresi putranya itu.


"Kenapa muka kamu ditekuk begitu, Zakka? apakah kamu punya masalah dengan perempuan tadi?" tanya Bunda Maura ingin tahu.


"Yevi itu teman sekolah Zakka, kak Rey, dan Aish. Yevi dulunya menyukai kak Rey, tapi kak Rey selalu menghindar dan tidak pernah meresponnya. Dan pada akhirnya Yevi mencoba untuk mendekati Zakka, sayangnya Zakka tidak akan mudah untuk menyukai seorang perempuan selain ...." Jawab Zakka cukup panjang, seketika ucapannya berhenti begitu saja.


"Selain apa, Zakka?" tanya sang ayah ikut menimpali.


"Tidak ada, Zakka salah berucap. Ah sudah lah, Pa. Lupakan soal tadi, lebih baik sekarang ini kita langsung pulang. Zakka ingin segera beristirahat, badannya Zakka terasa capek banget, Pa, Ma." Jawab Zakka yang akhirnya mengalihkan pembicaraan atas perasaannya.


'Yakinlah jika aku mampu untuk melupakan mu, Aish. Mungkin memang benar, jika kita tidak lah berjodoh. Kamu memang ditakdirkan untuk berjodoh dengan kak Rey, dan aku akan ada waktunya entah kapan.' Batin Zakka yang mencoba untuk memantapkan hatinya agar tidak mudah untuk memikirkan seorang perempuan yang ia sukai dimasa lalunya.


Sedangkan di ruang rawat Pak Ramdan, Sela yang tersadar jika pintunya belum ditutup, segera ia menutupnya kembali.


"Sela, tadi itu anaknya Tuan Ganan?" tanya Pak Ramdan ingin memastikannya kembali.


"Benar, Pa. Kak Zakka adiknya suaminya kak Aish, mukanya saja hampir mirip." Jawab Sela menjelaskannya pada sang ayah.

__ADS_1


"Ya, Nak Rey dan yang tadi siapa namanya, Papa lupa."


"Zakka, Pa." Jawab Sela dengan jelas.


"Ya, Zakka. Papa sampai lupa, sudah tua sih ya. Kalau menurut Papa sih, Nak Zakka itu mirip Ibunya. Kalau Nak Rey, Papa rasa milik Ayahnya." Kata pak Ramdan mencoba menebak.


"Yang dikatakan Papa ada benarnya, sayangnya Kak Zakka itu belum punya pacar. Jangankan istri, pacar aja keknya belum deh." Ucap Sela, Pak Ramdan tersenyum mendengarnya.


"Kamu suka ya, sama Nak Zakka." Ledek sang ayah sambil nunjuk nunjuk putrinya.


"Papa, apa apaan sih. Zakka itu orang kaya, Sela jauh dari kata sederhana. Papa jangan mengada ngada deh, Sela tuh masih ingin mengejar cita cita dulu. Soal jodoh, nomor belakangan." Jawab Sela dengan polos.


"Jika kamu suka dengan Nak Zakka juga tidak apa apa, namanya menyukai itu hal yang wajar. Asalkan kita itu tidak menjadi seorang yang suka mengambil hak orang lain, seperti merebut pasangan. Itu sangat tidak baik, prilaku dan juga tindakannya." Kata pak Ramdan yang tak lupa untuk memberi nasehat kepada putrinya.


"Ya, Pa. Tenang saja, Sela tidak akan menjadi seorang perempuan yang disebutkan Papa tadi. Sela akan menjaga diri dengan sebaik mungkin, Papa tidak perlu khawatir." Jawab Sela meyakinkan sang ayah, Pak Ramdan pun tersenyum mendengarnya.


Sedangkan di perjalanan pulang, tidak terasa Zakka sudah sampai didepan rumahnya. "Akhirnya, Zakka sampai juga didepan rumah." Gumam Zakka yang merasa lega.


"Zakka, ayo kita turun. Kalau Papa capek, biar Mama yang akan nyuruh asisten laki laki untuk membantu Zakka turun dari mobil." Ajak Bunda Maura pada putranya, kemudian melepas sabuk pengamannya.


"Tidak perlu, Papa masih mampu untuk melakukannya. Lebih baik Mama masuk aja ke dalam, siapkan kamar tidurnya. Mulai sekarang Zakka akan tidur di kamar bawah untuk sementara waktu." Jawab Tuan Ganan, kemudian meminta pada istrinya segera menyiapkan kamar untuk putranya.


"Baik, Pa. Kalau begitu Mama duluan ya, Nak." Kata Bunda Maura dan segera turun dari mobil.


"Ya, Ma." Jawab Zakka.


Setelah itu, Tuan Ganan segera turun dari mobil dan membantu putranya dengan kondisi yang sadang tidak baik.


Dengan telaten, Tuan Ganan membantu putranya untuk pindah ke kursi Roda. Kemudian Beliau segera mendorongnya sampai kedalam rumah.


"Sini, biar kakek yang akan mendorong kurus rodanya. Meski sudah tua begini juga masih kuat, tenang saja." Kata Kakek Angga sambil menggantikan putranya, sayangnya Tuan Ganan mencoba untuk menolaknya.


"Jangan, Pa. Biar aku aja yang mendorong kursi rodanya, lebih baik Papa duduk dan temani Mama." Ucap Tuan Ganan yang tidak ingin digantikan.


"Kamu ini benar benar bandel, rupanya. Sudah sini, biar Papa saja." Kata Kakek Angga yang tetap pada pendiriannya.


"Ya ya ya deh, Papa ngalah." Jawab Tuan Ganan yang tidak ingin menyiakan nyiakan untuk mengalah dari orang tuanya sendiri.


"Papa, Kakek, jangan berebutan." Ucap Zakka melerai.


"Ada apa ini? kok jadi rame." Tanya Omma Qinan sambil berjalan mendekati suami, anak dan cucunya. Sepasang matanya langsung tertuju pada sebuah gambar yang dirasa sudah ada yang menempati rumah yang di lukisnya.


"Ini loh Omma, Kakek dan Papa itu sedang berebutan gadis cantik." Jawab Zakka sambil bersenda gurau.


"Hem, tidak mungkin jika tidak ada asap." Kata Omma Qinan sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


__ADS_2