Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Saling meminta maaf


__ADS_3

Rey yang mendengar ucapan dari sang ayah, ia masih terdiam. Rey tak mampu menatap sang ayah yang ada dihadapannya itu, menunduk itu jauh lebih baik pikirnya.


Tuan Ganan yang mengerti akan kegundahan yang sedang dirasakan putranya, Beliau maju beberapa langkah dan memegangi kedua pundaknya dan Rey mendongakkan pandangannya.


"Mau sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini? hah. Kalau kamu merasa bersalah, lantas apa yang akan kamu lakukan untuk menebus kesalahan kamu? apa ya, kamu akan melepaskan istrimu? tidak mungkin. Sama saja, kamu menyakiti banyak orang. Bahkan, calon anakmu sendiri telah kamu sakiti." Tanya Tuan Ganan dan tak lupa mengingatkan putranya.


Rey semakin penat memikirkannya, bahkan dirinya masih saja diam sambil menelan salivanya terasa susah. Seakan tenggorokannya terasa tercekik dan napasnya yang serasa panas.


"Sekarang kamu sudah berkeluarga, yang harus kamu pikirkan adalah istrimu dan calon buah hati kamu. Ada dua hati yang harus kamu jaga dan juga kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya. Soal Zakka, Papa yang akan bertanggung jawab. Dari awal Papa dan Kakek sudah siap menanggung konsekuensinya. Apapun yang terjadi, Papa siap menanggung akibatnya. Mulai sekarang lebih baik kamu fokus dengan istri mu yang sedang mengandung calon anakmu, darah daging mu. Bukan kah dari dulu kamu sangat menginginkan Aish untuk menjadi istrimu, sekarang kamu lah pemilik sepenuhnya. Buat lah istrimu bahagia, lupakan masalah kamu dan Zakka." Ucap sang ayah panjang lebar, seketika Rey menitikan air matanya.


Disaat itu juga, Rey langsung memeluk sang ayah begitu erat. "Maafkan Rey, Pa. Rey berjanji, Rey akan membahagiakan Aish, Rey tak akan menyia nyiakannya. Rey tak akan membiarkan Auah terluka dan juga bersedih." Kata Rey sambil memeluk sang ayah.


Setelah itu, Tuan Ganan melepaskan pelukannya dan menetap putranya dengan senyum.


"Papa pegang omongan mu, buktikan sama Papa jika kamu mampu melakukannya. Percayalah dengan Papa, jika Zakka juga akan bahagia seperti mu dan mendapatkan seorang istri yang baik seperti Aish." Ucap sang ayah menyemangati putranya.


"Nah, begitu dong. Ini namanya Kakaknya Neyla yang bertanggung jawab, Neyla bangga memiliki dua saudara laki laki yang sama sama baiknya." Ucap Neyla ikut menimpali dan tak lupa melempar senyuman manisnya.


Rey yang kaget ketika saudara perempuannya ada didekatnya pun, tanpa pikir panjang Rey langsung menjapit hidungnya Neyla yang mancung itu.


"Sok tahu kamu, dari dulu sukanya ngintip orang aja." Kata Rey yang tak melepaskan japitannya.


"Kak Rey, lepaskan dong. Hidung aku sakit, tau." Kata Neyla sambil berusaha melepaskannya, tetap saja Neyla tak mampu melakukannya.

__ADS_1


Seyn yang melihat tingkat kakak beradik bagai Tommy and Jerry, hanya bisa menahan tawanya.


"Dah, Kakak lepasin." Ucap Rey yang tak lupa menekannya lagi.


"Aw! sakit, tau." Kata Neyla sambil mengusap usap pangkal hidungnya.


"Sudah sudah, kalian berdua itu tak pernah ada damai damainya. Seyn, bawa istri kamu ini pulang." Perintah Tuan Ganan pada menantunya.


"Baik, Pa. Sayang, ayo kita pulang." Jawabnya dan mengajak istrinya pulang.


"Papa kok mengusir Neyla sih?" tanya Neyla dibuat cemberut.


"Lebih cepat itu lebih baik, catet." Kata Rey ikut menimpali, sedangkan Neyla hanya mengerucutkan bibirnya dan berdecak kesal sambil berkacak pinggang.


"Sudah, ayo kita pulang. Eh tapi kamu ajak Omma dulu, sayang." Ajak Seyn sambil menarik tangan istrinya.


"Sudah sana sana cepetan kamu pulang. Seyn, bawa istri mu ini pulang." Usir Rey pada adik perempuannya, lalu pergi meninggalkan adik perempuan dan adik iparnya begitu saja untuk menyusul sang ayah yang lebih dulu berjalan menuju ruang rawat putranya.


Sampainya didepan ruang pasien, Tuan Ganan menunggu putranya sampai. Beliau tak akan membiarkan putranya masuk sendirian.


"Papa, kenapa belum masuk?" tanya Rey.


"Papa menunggu kamu, ayo kita temui Zakka." Jawab sang ayah dan mengajaknya untuk masuk.

__ADS_1


"Papa duluan aja, Rey akan mengikuti Papa dari belakang."


"Ayo, kita masuk." Ajak Tuan Ganan dan segera masuk ruang rawat putranya, Rey mengikutinya dari belakang. Sedangkan didalam hanya ada Omma Qinan dan Bunda Maura tengah menemani Zakka yang sedang duduk bersandar.


Dengan pelan, Rey berjalan mendekati Zakka saudara kembarannya. Bunda Maura dan Omma Qinan memberi ruang untuk Rey yang tengah mendekati.


"Zakka, bagaimana dengan kaki kamu?" tanya sang kakak yang masih menyimpan rasa bersalah. Meski sudah diingatkan untuk tidak memikirkan kondisi saudara kembarannya pun, Rey tak dapat memungkiri nya jika dirinya masih memikirkan kondisi sang adik. Tidak hanya fisiknya, tetapi hatinya.


PUK!


Tuan Ganan menepuk punggung milik putranya, kemudian merangkulnya dari samping.


"Kalian berdua ini jagoan Papa, ayolah berteman. Bukankah kalian lahir dihari yang sama? hanya saja, kalian berdua harus bergantian untuk menatap Dunia. Begitu juga menggapai sesuatu yang diinginkan, kalian berdua harus bergantian. Ada kalanya bersama, ada kalanya untuk mengantri." Ucap Tuan Ganan yang tak lupa menasehati dengan sebuah perumpamaan, berharap kedua putranya akan kembali berdamai. Tidak hanya didepan mata, tetapi juga hatinya ikut berdamai.


Rey maupun Zakka pun tersenyum mendengar nasehat kecil dari sang ayah. Meski sangat berat untuk diterima oleh masing masing, Zakka maupun Rey sama sama berusaha untuk menerima kenyataan dengan lapang dada.


Sakit, itu sudah pasti. Bukan berarti jika sakit harus dipenuhi keinginannya, tidak. Semua akan mendapatkan gilirannya masing masing, hanya diminta untuk bersabar dan terus bersemangat untuk menggapainya.


Apapun yang sudah terjadi, ya itu yang harus dilewati dan dijalani. Bukan untuk menyerah ataupun lari dari kenyataan, itu sangat salah dan sangat disayangkan.


"Ayo lah, kita bertiga berdamai. Rey, Zakka, dan Papa." Ucap Tuan Ganan yang juga merasa bersalah. Tetapi tidak untuk menyalahkan siapa siapanya, yang ada masing masing untuk memperbaikinya.


"Zakka, aku minta maaf. Aku ingin kita berdamai seperti dulu, ketika kita tak mempunyai merasa paling benar." Ucap Rey sambil mengulurkan tangan kanannya pada saudara kembarnya, Zakka pun tersenyum mendengar dan melihat saudara kembarnya sendiri.

__ADS_1


"Aku pun meminta maaf atas keserakahan aku yang ingin semua berpihak denganku. Sekarang aku sadar, tak perlu meminta orang berpihak padaku jika memang itu bukan yang terbaik untukku. Aku juga ingin kita berdamai seperti dulu, yang tak pernah merasa paling benar." Jawab Zakka, kemudian menerima uluran tangan dari saudara kembarnya.


Setelah itu, Rey memeluk saudara kembarannya. Keduanya sama sama menepuk punggung satu sama lain. Tuan Ganan, Bunda Maura, dan Omma Qinan bernapas lega. Apa yang ditakutkan, kini tidak lagi menjadi kekhawatiran.


__ADS_2