
Aish yang masih terjaga kesadarannya, ia tetap memejamkan kedua matanya. Rey yang merasa istrinya tengah tidur pulas, dengan senyumnya ia bangun dari tidurnya dan duduk dengan posisi kedua kaki yang diluruskan.
Dilihatnya dengan lekat wajah Aish, pelan pelan Rey mendaratkan ciu*mannya tepat pada keningnya. Aish sontak kaget dan sekujur tubuhnya terasa mendapatkan setruman.
Rey yang sudah tidak dapat lagi menahan rasa kantuk karena perjalanan yang sangat jauh, membuat anggota tubuhnya terasa capek dan remuk.
Pelan pelan, Rey berbaring disebelah istrinya. Dengan sangat hati hati, Rey mengubah posisinya dengan tidur miring sambil memeluk erat istrinya.
Seketika, Aish kembali tercengang. Sekujur tubuhnya terasa terkunci dan sulit untuk digerakkan serta sulit untuk melepaskan diri dari dekapan sang suami.
Rey yang tidak peduli apabila sang istri memberontak, Rey memilih untuk tetap memeluk istrinya.
"Jangan bergerak, aku ingin tidur. Seluruh anggota badanku terasa remuk, jadi biarkan aku lelap dari tidurku. Aku tahu, kamu belum tidur. Makanya, aku mengunci tubuhmu agar tidak mudah untuk kabur." Ucap yang tidak mau melepaskan istrinya yang barada dalam dekapannya.
Aish yang sedikit kesusahan untuk bernapas, akhirnya ia menoleh kearah suaminya. Disaat itu juga, sepasang netranya saling bertemu. Aish masih saja bengong, apa yang dihadapannya saat ini seakan hanyalah sebuah mimpi.
Aish mencoba memejamkan kedua matanya, berharap apa yang ada dilihatnya bukan lah mimpi semata. Naas, justru Rey mengambil kesempatan emas nya ketika mendapati istrinya memejamkan kedua matanya.
Dengan pelan, Rey mendaratkan sebuah ciu*man hangat tepat pada bibir ranum milik istrinya. Seketika, Aish membelalakan kedua bola matanya saat mendapatkan sentu*han lembut dari suaminya. Rey memilih untuk menyudahinya dan kembali keposisi semula. Setelah itu, Rey memejamkan kedua matanya hingga tak sadarkan lagi dan terlelap dari tidurnya.
Namun tidak untuk Aish, justru dirinya tidak dapat mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan. Pernapasannya seakan terasa sesak akibat detak jantungnya yang terus berdegup dengan kencang.
Sambil mengatur pernapasannya, Aish berusaha untuk menenangkan detak jantungnya agar kembali normal. 'Apakah barusan aku sedang bermimpi?' batin Aish yang masih terasa mimpi.
__ADS_1
Saat dirasa cukup tenang, akhirnya Aish memilih untuk beristirahat. Lambat laun, rasa kantuk yang ia tahan akhirnya dapat membuatnya terlelap dari tidurnya.
Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan Aish ketika mendapatkan pelukan hangat dari suaminya. 'Jika dia meminta haknya, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin jika diriku ini hanya untuk dijadikan obat naf*sunya semata, apa yang harus aku lakukan? pernikahan macam apa ini.' Batin Aish yang pada akhirnya dirinya sulit untuk terbawa dalam mimpi.
Karena pikiran terasa pusing ketika dirinya memikirkan status pernikahan serta status siapa dirinya, akhirnya Aish memilih untuk tidur tanpa alas bantal dan memilih untuk dijadikan teman tidurnya, yakni untuk dipeluk bantal tidurnya.
Disatu sisi, di kediaman Tuan Ganan ada sosok laki laki yang sedari tadi sulit untuk memejamkan kedua matanya. Perasaan gelisah mulai menghantui jalan pikirnya.
"Si*al! kenapa aku jadi gelisah begini, coba. Mana aku tidak bisa tidur, padahal cuaca diluar sangat lah dingin. Mana kak Rey mau pulang, lagi. Sudah gitu, aku belum juga mendapatkan cinta dari Aish. Apa perlu aku meminta Papa untuk mencarikan jodoh untuk kak Rey? aaah!!! benar benar membuatku kesal." Gumam Zakka berbagai umpatan dan mengacak rambutnya karena merasa prustasi.
Dengan posisi tengkurap, akhirnya Zakka dapat memejamkan kedua matanya hingga tertidur pulas karena rasa kantuk yang sudah tidak mampu untuk ia tahan.
Sedangkan di rumah Ibu Melin, tidak terasa malam begitu cepat. Aish terbangun dari tidurnya ketika terdengar suara orang yang sedang mengaji di Masjid dekat rumah Tantenya.
Dengan perasaan takut, Aish mencoba memberanikan dirinya untuk membangunkan suami yang sedang tidur pulas.
'Aku harus memanggilnya dengan sebutan apa? Mas? Abang? Rey? Suamiku? kenapa jadi rumit begini sih? mau memanggil saja harus memilih sebutan panggilan segala.' Batin Aish yang merasa kebingungan.
"Em ... sudah adzan, waktunya untuk shalat subuh." Ucap Aish didekat telinga suaminya sambil menggoyangkan badan suaminya yang masih tidur dengan pulas.
Rey yang mendengar istrinya bicara, ia menoleh kearah sang istri. "Ada apa?" tanya Rey menatap istrinya sambil mengucek kedua matanya.
"Sudah adzan subuh, apakah kamu tidak mau shalat?" kata Aish memberikan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa shalat, aku ngantuk. Kamu aja yang shalat, aku mau tidur." Jawab Rey dan menarik selimutnya kembali dan melanjutkan tidurnya.
Disaat itu juga, hati Aish terasa teriris ketika mendapatkan jawaban dari suaminya dengan terang terangan. Aish pun menitikan air matanya ketika mendapati jawaban dari suaminya yang begitu enteng ketika menjawab pertanyaan darinya.
Ingin marah, itu tidak mungkin. Aish hanya menarik napasnya yang terasa sesak. 'Apa yang membuatnya seperti ini? apakah surga Dunia nya sudah menguasai jalan pikirannya?' batin Aish dengan perasaan kecewa.
Ia mengira ketika pulang, suaminya akan ada perubahan. Namun pada kenyataannya masih sama seperti dulu. Aish tidak bisa berbuat apa apa selain mengajak dan mengingatkannya.
Disaat itu juga, Aish teringat akan ucapan dari suaminya itu. 'Dia tidak bisa shalat? benarkah? lantas, selama ini didikan apa yang diberikan oleh kedua orang tuanya? tapi ... perasaan dulu lolos waktu ujian praktek shalat. Tapi ... dulu kan ujiannya shalat jenazah, mungkin dia menghafalinnya dengan mendadak.' Batin Aish sambil mengingat ingat masa lalu suaminya ketika masih sekolah.
Karena takut terlambat shalat subuhnya, Aish segera bergegas untuk berangkat ke Masjid.
"Aish, suami kamu mana?" tanya Ibu Melin.
"Em ... ada didalam kamar, Tante." Jawab Aish sedikit malu ketika suaminya tidak kunjung bangun dari tidurnya.
"Kamu yang sabar ya, pelan pelan pasti akan berubah. Yang terpenting kamu jangan menunjukkan kekesalan pada suami kamu, yang ada kamu akan mendapatkan kekecewaan. Kamu tidak berhak untuk membencinya, apa lagi untuk berpikiran yang tidak tidak tentang suami kamu. Buruknya pasangan ada pada pasangannya, yaitu kamu." Ucap Ibu Melin mengingatkan, serta memberinya nasehat kecil.
Aish yang mendengar nasehat kecil dari Beliau, ia menganggukkan kepalanya mengerti.
"Ya, Tante. Terima kasih sudah mengingatkan Aish." Jawab Aish dengan anggukan.
"Ayo kita berangkat ke Masjid, nanti keburu iqomah." Ajak Ibu Melin, Aish pun mengangguk dan segera pergi ke Masjid.
__ADS_1
Sedangkan didalam kamar, Rey masih tidur yang tengah terbalut dengan selimut. Karena sudah terlanjur membuka matanya ketika sang istri membangunkan, setelah itu Rey tidak dapat untuk memejamkan kedua matanya kembali untuk melanjutkan mimpinya.