
Setelah berpamitan dengan sang kakek dan Omma Qinan, Rey segera kembali ke kamar untuk bersiap siap selagi saudara kembarnya pulang ke rumah utama.
Sampainya didalam kamar, dilihatnya sang istri tengah bersiap siap didepan cermin. Rey berjalan mendekati dan memeluknya dari belakang, serta tak lupa bersikap manja pas istrinya.
"Sayangku, hari ini kita harus pulang. Tidak apa apa kan, sayang? karena hari ini Zakka pulang dari rumah sakit. Aku tidak ingin menyakiti hatinya, karena kehadiranmu di rumah ini. Bukan berarti aku menyalahkan kamu, tidak. Aku hanya tidak ingin membuat kesehatan Zakka akan menurun, itu saja. Bukankah kamu sudah tau, jika Zakka menyukaimu. Maka dari itu, sebisa mungkin kita tak menunjukkan kehadiran kita dihadapannya." Ucap Rey setengah berbisik didekat daun telinga istrinya.
Aish langsung memutar balikkan badannya, lalu ia menatap wajah suaminya dengan lekat. Diperhatikan sepasang matanya terlihat ada sesuatu yang membuatnya menyimpan rasa ingin tahu.
"Kedua mata kamu kenapa? kamu habis menangis?" tanya Aish penasaran. Kemudian ia mengusap dengan ibunya jarinya sangat hati-hati.
Rey meraih tangan istrinya, lalu tersenyum dan mengecup pipi sebelah kanan. "Aku tidak apa apa, tadi aku kelilipan saat menata berkas di ruang kerjanya Papa." Jawab Rey dan menggenggam kedua tangan milik istrinya.
Rey memeluknya, seakan kerinduannya yang bertahun tahun lamanya telah terobati.
'Benar yang dikatakan Kakek, Aish membuatku nyaman dan tak akan bisa tergantikan.' Batin Rey masih dengan posisi memeluk istri tercintanya.
Dirasa sudah cukup, Rey melepaskan pelukannya. Rey kembali tersenyum pada istrinya, lalu mengecup puncak kepalanya. "Aku sangat mencintaimu, jadilah pelangkapku untuk selama lamanya." Ucap Rey setelah mengecup puncak kepalanya, dan ditatap nya lagi wajah ayu yang Aish miliki.
"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu, taat pada Agama mu, dan kamu juga tak pernah ada penolakan atas apa yang aku minta." Ucap Rey dengan senyum bahagia.
Aish pun bingung dengan sikap suaminya yang menurutnya sangat aneh dan juga penuh tanda tanya, pikirnya.
"Sebenarnya kamu itu kenapa, sayang? kenapa kamu tiba tiba jadi aneh begini sih. Perasaan dari kemarin kemarin itu, kamu biasa biasa aja deh. Kamu sedang tidak ada masalah, 'kan? jujur saja, sayang." Tanya Aish karena rasa penasaran yang sudah menguasai pikirannya.
Rey tertawa kecil ketika Aish mencurigai dirinya hanya karena ketahuan menangis dan dengan sikapnya yang menurutnya aneh, pikirnya.
"Aku tuh cuman kelilipan saja, sayang. Untuk apa aku berbohong, serius. Ngomong ngomong kamu sudah siap untuk pulang, 'kan? aku sudah tidak sabar nih untuk pulang." Jawab Rey tak lupa diakhiri dengan senyuman dan pastinya untuk meyakinkan sang istri dan juga tidak membuat istrinya curiga yang berlebihan, pikir Rey penuh harap.
"Aku sudah siap, sayang ... kamu?" Aish pun balik bertanya.
__ADS_1
"Aku tak perlu bersiap siapa pun sudah siap untuk mengajakmu pulang, sayang." Jawab Rey dan merangkul badan istrinya dan mengajak untuk keluar dari kamar.
Sambil menuruni anak tangga, Rey siap siaga menjaga istrinya sampai diakhir anak tangga.
Aish pun terkejut ketika kakek Angga dan Omma Qinan sudah berada dibawah anak tangga.
"Omma, Kakek, maaf sudah membuat Kakek dan Omma menunggu." Panggil Aish dengan reflek, dan tentunya merasa tidak enak hari ketika sudah ditunggu.
"Kakek dan Omma sangat senang bisa menunggu kalian berdua, karena setelah ini kalian akan jarang berada di rumah ini. Omma pasti akan kesepian, dan pastinya akan merindukan kalian berdua." Jawab Omma Qinan, kemudian Aish pun dipeluk nya oleh Omma Qinan. Tak lupa juga, Omma Qinan mencium kedua pipi mulus milik Aish secara bergantian.
Tidak hanya sampai disitu saja, Aish juga membalasnya dengan hal yang sama. Aish mencium kedua pipi milik Omma Qinan secara bergantian, yak lupa juga mencium punggung tangan milik Beliau.
"Omma pasti akan merindukan kamu, padahal Omma ingin sekali belajar banyak hal denganmu, yakni pengalaman serta ilmu yang kamu miliki." Kata Omma Qinan yang seakan merasa berat untuk melepaskan istri cucunya pergi dari rumah utama.
"Doakan kami, Omma. Semoga kami berdua masih diberi kesempatan untuk sering datang ke rumah ini untuk menjenguk Omma dan Kakek, serta Mama dan Papa." Jawab Aish tak lupa dangan senyum ramahnya yang membuat Omma Qinan tak ingin jauh dari istri cucunya.
"Pastinya, sayang. Omma akan selalu berdoa untuk kalian berdua, semoga semua masalah akan segera berlalu dan kembali bahagia tanpa beban dan juga kegelisahan." Ucap Omma Qinan yang begitu berat untuk berpisah, sedangkan Rey tiba tiba terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan, Rey yang bengong dan hanya menatap Omma dengan pikiran nya yang entah kemana.
Begitu berat yang Rey rasakan hingga dirinya tumbuh dewasa. Namun mau bagaimana lagi, Rey tak mampu untuk memberontak. Rey lebih memilih untuk mengalah, dan tak ingin melukai hati sang adik.
Bahkan dikala masa sekolah, Rey selalu menjadi penghalang ketika Zakka mendapatkan hukuman dari seorang guru karena sebuah kesalahan yang sudah ia perbuat. Rey pun tak pernah mempermasalahkannya, baginya menjadi seorang kakak adalah tanggung jawab pada adik adiknya.
Tak peduli jika dirinya harus menjadi tameng bagi adik adiknya, bagi Rey adalah pengganti dari kedua orang tuanya ketika ada di dekat adik adiknya.
Dan kini, Rey hanya mempunyai sebuah angan angan yang bisa ia pendam. Tak mampu untuk berteriak, apa lagi untuk memberontak, itu tak akan pernah bisa dilakukan oleh seorang Rey.
"Jangan banyak melamun, kasihan nih istri kamu. Masa ya harus menunggu kamu sampai selesainya melamun, yang benar saja kamu ini." Kata Omma Qinan yang tak lupa mencubit gemas kedua pipi milik cucunya.
"Aw! sakit, Omma." Ucap Rey dengan reflek dan langsung mengusap kedua pipinya berulang kali, Aish tersenyum ketika mendapati ekspresi suaminya yang terlihat gemas itu. Sedangkan Kakek Angga dan Aish tertawa kecil mendengar serta melihatnya.
__ADS_1
"Makanya jangan banyak melamun, kasihan Aish dong." Jawab Omma Qinan yang lagi lagi mengeluarkan kejahilan seorang Omma mencubit gemas pinggang milik Rey.
"Omma, ya ya ya ya deh." Kata Rey akhirnya menyerah.
"Nah, gitu dong. Ya sudah kalau kamu mau segera pulang, lagian juga sudah mau menjelang siang." Perintah Kakek Angga yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia istri dan cucu kesayangan.
"Kalau begitu Rey dan Aish mau berpamitan untuk pulang ya, Omma dan Kakek. Terima kasih atas nasehat kecil yang tak pernah lupa untuk selalu menasehati." Jawab Rey berpamitan, kemudian kembali mencium punggung tangan secara bergantian bersama sang istri.
Setelah berpamitan, Rey dan Aish segera keluar dari rumah utama. Rumah yang selalu dirindukan belaian dari seorang perempuan yang berstatus Ibu, namun tak sesuai angan angan Rey dari kecil hingga tumbuh dewasa.
Walaupun tidak ada yang menjadi seorang penjahat, tetap saja ada hati yang terluka dan harus menyimpannya dengan penuh kepalsuan atas sikapnya yang biasa biasa saja dan juga terlihat tenang.
Kini Rey dan Aish sudah dalam perjalanan pulang. Entah suasana yang sedang berkabung atau apalah, Rey mendadak membuat Aish kembali keheranan. Dilihatnya seorang suami yang tengah bersandar di jendela kaca mobil, dan menatapnya keluar dengan tatapan kehampaan.
Aish ingin rasanya menanyakan kembali atas pertanyaan yang sedari tadi nangkring diatas kepalanya itu, sayangnya Aish tidak mempunyai mental yang cukup kuat.
'Sebenarnya suami aku itu kenapa? perasaan dari tadi banyak kejanggalan pada dirinya itu. Mungkinkah ada masalah dengan kedua orang tuanya? atau ... memang ada sesuatu yang membuatnya banyak pikiran.' Batin Aish dengan penuh tanda tanya.
Karena tidak ingin membuat suasana hati suaminya bertambah karuan, Aish memilih untuk diam. Dengan caranya sebagai kebiasaan, Aish mencoba untuk meraih tangan suaminya yang tergeletak terlihat seperti tidak bertuan.
"Kamu itu ada apa sih, sayang? kenapa kamu mendadak menjadi pendiam seperti ini? ayolah lihat aku." Tanya Aish yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya yang sedang melamunkan sesuatu.
Disaat itu juga, Rey kaget dibuatnya. Dengan reflek, Rey menoleh kearah sang istri yang tengah menggenggam tangan kirinya itu.
"Kamu bilang apa tadi, sayang? maaf jika aku ketiduran." Jawab Rey dengan asal, padahal sang istri mengetahuinya sendiri jika dirinya tengah melamun.
Aish yang tidak ingin menuduh suaminya yang baru tersadar dari kesadarannya, Aish memilih untuk percaya dengan apa yang diakui oleh suaminya sendiri.
"Kamu kecapekan, ya? kamu pasti kurang istirahat. Makanya jangan sering bergadang, begini kan jadinya. Ngantuk banget pastinya dan juga bisa mengakibatkan masuk angin, kan sayang sama kesehatannya dong." Kata Aish yang pada akhirnya dirinya pun ikut berakting didepan istrinya sendiri.
__ADS_1
"Ya ya, mungkin aku kecapekan. Sini, aku peluk kamu." Jawab Rey dengan senyum mengembang, tak lupa juga untuk mencium puncak kepalanya. Aish yang mendapatkan perlakuan baik dari suaminya, ia menyandarkan diri pada dada bidangnya. Setelah itu, rasa kantuk yang menguasai kedua matanya, akhirnya Aish ikut terbawa dari mimpinya. Rey yang tidak mempunyai lawan bicara, dirinya juga merasa mengantuk, dan pada akhirnya Rey ikutan tertidur dengan posisi merangkul istri tercintanya.