
Karena derasnya hujan disertai suara petir yang menggelegar, membuat sepasang suami-istri telah terlelap dari tidurnya. Rey yang tiba tiba terbangun dari tidurnya, pelan pelan ia membuka kedua matanya.
Dilihatnya sang istri masih tertidur pulas dan juga terbalut selimut dengannya. Begitu lekat Rey memandangi wajah istrinya itu, hingga ia mendaratkan sebuah ci*uman lembut tepat pada kening milik istrinya.
"Maafkan aku, bukan niat hati untuk memaksamu. Karena aku terlalu bodoh untuk menyukaimu." Gumam Rey, kemudian ia melihat jam pada ponselnya.
"Sudah jam empat pagi rupanya." Gumam Rey dan segera bangkit dari tempat tidur, sedangkan Aish masih lelap dengan tidurnya yang pulas.
Karena merasa tidak nyaman, akhirnya Rey memilih untuk membersihkan diri. Cukup lama Rey berada dalam kamar mandi, disaat itu juga Aish terbangun dari tidurnya. Pelan pelan Aish meraba disekelilingnya, namun ia tidak mendapati suaminya.
"Rupanya dia sudah bangun, jam berapa ini?" gumam Aish sambil meraih ponsel yang ada didekatnya. "Apa! jam setengah enam? yang benar saja." Aish pun tercengang sendiri ketika melihat jam pada ponselnya. Cepat cepat ia segera bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri, Aish teringat apa yang sudah dilakukan oleh suaminya.
"Sudah bangun? buruan mandi, kita tidak mempunyai waktu lama di penginapan ini."
"Aku tidak punya baju ganti, bagaimana?" tanya Aish.
"Aku sudah memesan anak buahku untuk mengantarkan pakaian lengkap untuk kita. Jadi, buruan mandi. Kita tidak mempunyai waktu lama di tempat ini." Jawab Rey, Aish pun mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat sudah berada di dalam kamar mandi, Aish mengunci pintu kamar mandi. Kemudian ia melepas ikatan handuk kimono nya. Seketika, Aish terkejut melihatnya. Sebuah bekas yang tertinggal membuat Aish menitikan air matanya.
Bukan karena tidak ingin di sentuh, Aish merasa belum siap untuk menuruti keinginan suaminya. Karena tidak ingin terlihat sembab, Aish segera membersihkan diri secepat mungkin.
"Aku harus cepat pulang, aku tidak ingin terus terusan bersamanya. Aku benar benar belum siap, dan aku masih ingin meyakinkan perasaanku. Aku tidak ingin kecewa lebih dalam lagi, cukup Yahya dan bukan untuk yang kedua kalinya." Gumam Aish sambil membersihkan diri.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Aish selesai juga mandinya. Dengan perasaan takut, Aish berjalan membuka pintu kamar mandi.
__ADS_1
Saat menutup kembali pintunya, Pandangan Aish tertuju pada Rey yang sudah berpenampilan yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Penampilan dengan setelan jas yang begitu terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
"Ini pakaian kamu, ambil lah dan segera kamu pakai." Ucap Rey sambil menunjuk paper bag yang ada diatas tempat tidur.
Dengan malu malu Aish berjalan langsung mengambilnya. Kemudian, Aish kembali ke kamar mandi.
"Kamu tidak perlu mengganti pakaian kamu di kamar mandi, aku tidak akan melihatmu." Ucap Rey menghentikan langkah kaki Aish yang hendak berjalan menuju kamar mandi.
"Tapi aku malu," jawab Aish yang juga tidak menoleh kearah suaminya .
"Malu untuk apa? aku sudah melihatnya. Pakailah, karena aku masih banyak urusan." Ucap Rey, dengan terpaksa Aish menuruti permintaan suaminya. Ia sendiri menyadari apa yang sudah dilakukan suaminya ketika malam hari. Karena tidak ingin ambil pusing, Aish segera mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Aish berjalan menuju cermin untuk mengenakan kerudungnya. Sedangkan Rey memperhatikan istrinya alih alih sambil menyibukkan diri dengan benda pipihnya.
Dengan perasaan canggung, Aish duduk disebelah sang suami dengan posisi menghadap lurus ke depan.
"Ada apa?" tanya Aish.
"Aku mengizinkan kamu untuk melanjutkan kuliah mu lagi, aku memberimu kebebasan untuk menggapai cita citamu. Hari ini juga, aku terpaksa meninggalkan kamu lagi. Aku masih ada tugas dari Papa, dan ini terakhir kalinya aku berada di luar Negri dalam kurun waktu 2 tahun. Aku akan tetap menafkahimu, dan tanggung jawab atas semua kebutuhan kamu dan Tante kamu." Ucap Rey menjelaskan.
Aish masih tidak percaya jika sosok Rey yang ia kenal dengan sikap dinginnya itu telah menyimpan tutur kata yang cukup lembut untuk didengar.
"Aku sudah tidak ingin melanjutkan kuliahku, aku ingin belajar berkarir. Karena aku tidak tahu nasibku kedepannya, setidaknya aku bisa belajar untuk bekerja. Tepatnya, aku mencoba untuk terjun ke lapangan." Jawab Aish berusaha untuk menolaknya dengan baik.
"Aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan tetap memberimu nafkah."
__ADS_1
"Itu terserah kamu, aku juga tidak memaksamu. Karena pernikahan kita hanya sebuah syarat." Ucap Aish dengan menunduk. Disaat itu juga, lagi lagi Rey langsung menc*ium istrinya. Aish kembali tercengang.
"Aku tidak pernah menganggap pernikahan kita adalah syarat, aku menganggapnya sesuatu yang sakral." Kata Rey setelah menc*ium istrinya.
Aish yang mendengarnya pun, pikirannya semakin tidak karuan. Ingin rasanya berteriak, namun ia tidak kuasa.
"Apakah kamu lupa dengan permintaan orang tuamu? yang mana telah memintaku untuk menjagamu, itu pesan dari orang tuamu. Karena aku bukan orang yang pengecut untuk mengabaikan pesan dari Ayah mu." Ucap Rey memperjelas ucapannya.
"Maaf," jawab Aish dengan singkat.
"Pesanku, jauhi Zakka. Karena anak itu tidak ikut bersamaku, dan dia akan tetap berada di Kota ini." Kata Rey mengingatkan.
"Zakka? ada hubungan apa, antara kamu dengannya?" tanya Aish penasaran.
"Dia adalah adikku, saudara kembarku. Maaf, jika aku sudah menyembunyikan identitas ku. Aku mempunyai dua saudara kembar, yang ketiga perempuan bernama Neyla. Suatu saat kamu akan bertemu dengannya, entah kapan dan dimana." Jawab Rey menjelaskan.
Aish yang mendengar pengakuan dari Rey, dirinya hanya bisa diam. Marah! pastinya, namun Aish berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalannya. Sebisa mungkin Aish berusaha untuk tetap tenang.
"Ayo, aku antarkan kamu pulang. Sebelum pulang kita sarapan pagi terlebih dahulu, kamu pasti lapar." Ajak Rey, kemudian ia segera berdiri dan berjalan untuk keluar diikuti Aish dari belakang.
Saat berada dalam mobil, sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya Aish. Dengan fokus, Aish menatap lurus kedepan.
'Aku tidak tahu kemana aku harus berlabuh, tujuanku saja aku tidak tahu. Apakah mulut lelaki itu sama? berkata janji, tapi ... dibalut dengan luka. Bod*ohnya aku, bukankah aku sendiri sang pembuat luka itu? mungkin sudah menjadi garis hidupku. Harapan yang tak kan menjadi nyata. Semu, seperti statusku ini.' Batin Aish penuh bayangan bayangan yang menakutkan, pikir Aish dengan lamunannya.
Tidak lama kemudian, akhirnya Rey dan Aish telah sampai di sebuah Restoran yang pernah ia datangi bersama ketiga temannya. Naas, kebersamaan yang dikira akan sampai titik bahagia, namun telah berbanding terbalik.
__ADS_1