
Sedangkan Aish masih berdiam diri sambil menatap kepergian Zakka." Hei Aish, kamu kenapa?" tanya Yunda penasaran.
"Ah, tidak apa apa Yun." Jawabnya singkat dan membuat Yunda penasaran.
"Kamu tidak sedang memikirkan Zakka, 'kan?"
"Ngapain aku mikirin anak itu, dia bukan siapa siapaku."
"Ya iyalah, kamu kan kepunyaan babang Yahya. Ups! maksudku Ustadz Yahya, cie ... yang nanti sore mau bertemu dengan pujaan hati sang calon ustadz." Ledek Yunda.
"Apa apaan sih, tidak lucu."
"Lucu juga tidak apa apa kok, Aish." Sahut Afwan ikut menimpali.
"Sudah sudah, nanti kita ketinggalan acara. Ayo, kita ikut kumpul bersama teman teman teman yang lainnya." Ajak Aish sambil menarik tangan Yunda. Sedangkan Afwan mengikutinya dari belakang.
"Yah! tidak ada bangku kosong, aku duduk dimana Yun?" sambil celingukan, Aish mencari kursi kosong yang ada disekitarnya. Namun, satupun tidak ada bangku yang tersisa.
"Sudah, sama aku aja Yun. Cukuplah satu bangku untuk kita berdua, atau gak Afwan yang disuruh berdiri. Nanti gantian, bagaimana?"
"Jangan lah Yun, kasihan Afwan kalau disuruh berdiri. Biar aku aja yang berdiri, aku sudah terbiasa kok." Jawab Aish yang tidak ingin merepotkan yang lainnya.
"Ini, kursi untuk kamu." Ucapnya yang tiba tiba memberikan kursinya pada Aish.
Disaat itu juga, Aish maupun Yunda menoleh kebelakang. Dilihatnya seorang laki laki yang selalu ada buat Aish ketika berada dalam mode membutuhkan sesuatu.
__ADS_1
"Maaf, terima kasih. Kamu pasti butuh tempat duduk juga, ini sudah menjadi resiko datang terlambat." Jawab Aish berusaha menolaknya.
"Jangan bandel, duduklah. Apa perlu aku memaksamu untuk duduk dipangkuanku, hem." Ucapnya menggertak, Aish hanya bisa pasrah saat mendapatkan pilihan yang tidak masuk akal itu.
"Oh! kamu mau jadi pahlawan kesiangan, Rey." Sahut Afwan yang tiba tiba sudah berdiri didekat Aish.
"Pahlawan kesiangan, lucu sekali tuduhanmu itu. Aish, duduklah." Sahut Rey, kemudian segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sudah deh, Afwan. Ngapain sih kamu selalu emosi dengan Rey, bikin malu aja tau gak sih." Ucap Aish mencoba melerai.
"Kok kamu jadi belain dia sih, apa jangan jangan kamu diam diam naksir ya sama Reynan." Tuduh Afwan mencurigai.
"Terserah kamu saja deh, mau nuduh aku yang bagaimana." Jawab Aish dan memilih untuk duduk dan mendengarkan sambutan sambutan dari beberapa dewan guru.
"Sudah deh Afwan, jangan saling berantem dong. Hanya masalah Reynan ngasih kursi sudah pada emosi. Lagian juga Reynan tidak salah, tuh lihat sendiri. Reynan sendiri duduk dengan santai, dia juga duduk di kursi. Berarti dia sedang tidak mencari kesempatan, ada ada saja kamu Afwan. Pacar bukan, perhatiannya melebihi kekasih." Sahut Yunda yang juga ikut emosi.
"Hem! tapi tidak segitunya juga, kali." Ucap Yunda dengan ketus.
"Aku mau mengambil kursiku." Ujar Afwan mengambil tempat duduknya untuk bergabung dengan kedua temannya. Yunda hanya mengangguk. Sedangkan Aish yang malas membahas sesuatu yang tidak penting, ia memilih untuk fokus pandangannya ke panggung.
Waktu demi waktu, tidak terasa sudah berada diujung babak akhir. Yakni, acara memberikan ucapan selamat untuk siswa siswi yang berprestasi. Tidak hanya murid yang dibuat tegang, semua wali murid pun ikut juga merasa tegang saat pengumuman akan segera diumumkan.
"Aish, semangat dong. Kenapa kamu jadi lesu dan tidak bersemangat begini sih, Aish?"
"Aku takut mengecewakan orang tuaku, Yun. Aku takut gagal, dan Papaku pasti kecewa jika sampai aku gagal." Jawab Aish dengan lesu.
__ADS_1
"Iya Ish, kenapa kamu jadi pesimis seperti ini sih? seharusnya kamu semangat dan optimis. Aku yakin jika kamu lah yang akan menjadi juaranya, dan kamu akan melanjutkan kuliahnya dengan gratis." Sahut Afwan menyemangati.
"Iya, benar itu yang dikatakan Afwan. Kamu pasti bisa menjadi sangat juara, yakinlah." Ucap Yunda yang juga menyemangati.
"Kamu tahu? wakil dari pemilik perusahaan ternama nanti akan naik ke panggung memberi sambutan hangat untuk siswa siswa yang siap untuk melanjutkan kuliahnya. Tidak hanya itu, yang berprestasi akan mendapat pembelajaran gratis. Kamu pasti juaranya nomor satu, aku percaya itu." Sahut Afwan yang terus memberi semangat.
"Iya Ish, sambil menunggu keberhasilan Yahya menuntut ilmu di negri orang. Kamu tidak kalah sibuknya dalam belajar, jadi tidak terasa lama menunggu pujaan hati untuk pulang." Ujar Yunda mengingatkan.
"Tepat! sekali, sudah sudah ... sekarang kita dengarkan baik baik yang akan diumumkan." Ucap Afwan, Aish mapun Yunda sama sama begitu serius mendengarkan kalimat demi kalimat dari kepala sekolah yang siap untuk membacakan siapa siapanya yang telah mendapatkan prestasi.
'Semoga aku tidak mengecewakan Papa, aku takut jika harapanku hilang bagaikan ditelan bumi.' Batin Aish penuh harap, ingin sekali diakhir sekolahnya dapat memberikan hadiah untuk orang tuanya.
"Baik lah, akan saya panggil siswa ataupun siswi yang mendapatkan prestasi yang gemilang. Untuk yang namanya tidak dipanggil, mungkin belum nasibnya. Dan keberhasilan tidak melulu tentang juara, tetapi ketekunan dan kerja keras tentunya." Ucap Bapak Kepala Sekolah.
"Agar tidak semakin penasaran, akan saya panggil nama nama yang sudah dinyatakan berprestasi. Yakni diantaranya adalah ... satu, dari yang paling bawah ya ... akan ada 4 murid yang akan saya panggil. Saya panggil dari urutan yang ke empat, ya. Empat, Zakka. Untuk Zakka, silahkan untuk naik ke panggung." Ucap Bapak Kepala sekolah, sedangkan Zakka segera naik ke atas panggung dengan percaya diri.
Semua siswi yang berada ditempat acara pelepasan, tidak ada yang tidak terpesona melihat ketampanan seorang Zakka. Laki laki yang selalu jadi pandangan setiap murid perempuan.
"Itu anak makannya apa, ya? meski tingkahnya menyebalkan, Zakka selalu berprestasi seperti Reynan." Ucap Yunda penuh keheranan.
"Makannya nasi lah, sama kek kita." Sahut Aish.
"Hem, tapi kan aneh aja gitu."
"Tidak ada yang aneh, yang aneh tuh kamu. Masa kalah dengan Zakka, padahal dia biang reseh disekolahan loh. Tapi kamu gagal total untuk menyaingi kepintaran Zakka." Balas Aish, kemudian kembali fokus pandangannya kedepan.
__ADS_1
"Zakka, Terima lah penghargaan dari hasil prestasi kamu. Semoga kamu akan terus berkarya dimasa yang akan datang, dan tentunya sukses atas kerja kerasmu dalam belajar." Ucap Bapak Kepala Sekolah dan menyerahkan piagam serta micnya ke Zakka.
"Pertama tama, saya ucapkan terima kasih banyak untuk para guru yang sudah bersedia membimbing kami menjadi kepribadian seorang murid yang teladan. Meski pada kenyataannya kami yang sering berulah layaknya anak kecil yang berebut mainan, maafkan kami guru guruku. Jasamu, tidak akan pernah terlupakan. Karenamu, kami bisa." Ucap Zakka dan menarik nafasnya panjang.