
Usai mengobati kerinduan, Aish tersenyum bahagia saat berada di tengah tengah kedua orang tuanya. Ibu Melin yang telah diterima sebagai Ibu kandungnya merasa bahagia yang begitu besar. Begitu juga dengan Pak Soni, Beliau pun sangat bahagia ketika harapannya yang sudah lama ditunggu tunggu kini telah nyata didepan mata.
Rey dan Tuan Ganan akhirnya bernapas lega, akhirnya dapat menyatukan kembali keluarga yang pernah bercerai berai kini kumpul bersama lagi seperti harapan dari Pak Soni dan juga mantan istrinya.
"Ma -- Mama," panggil Aish sedikit kaku. Bagaimana tidak kaku, Aish yang kesehariannya hanya mempunyai seorang ayah dan tidak pernah mendapatkan belaian dari seorang Ibu. Bahkan Aish sama sekali tidak memiliki panggilan seorang ibu dari kecil. Nasib Aish tak semanis nasib teman temannya, yang memiliki orang tua lengkap dan kasih sayang yang sempurna. Sedangkan Aish hanya memiliki figur seorang ayah tanpa pendamping hidupnya.
"Ya, sayang." Jawab Ibu Melin sambil memegangi kedua tangan milik putrinya. Setelah itu Aish menoleh kearah sang ayah dan menatapnya begitu lekat.
"Pa," panggil Aish tanpa ragu.
"Ya Nak, ada apa? apakah kamu menginginkan sesuatu? katakan lah."
"Aish ingin, em ...." tiba tiba Aish terhenti dari ucapannya, kemudian ia menunduk tak kuasa untuk meminta sesuatu kepada kedua orang tuanya. Takut, permintaan yang diharapkannya tak akan terkabulkan.
"Kamu ingin apa, Nak? katakan sama Papa dan Mama kamu. Jangan kamu pendam sesuatu yang kamu inginkan, Nak." Kata Pak Soni, kemudian mengangkat dagu milik putranya untuk menatapnya tanpa ada rasa takut.
"Aish ingin ... Aish ingin Papa dan Mama kembali lagi. Aish juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua yang masih lengkap, bukan bercerai berai seperti ini. Cukup kerinduan Aish yang sudah bertahun tahun lamanya untuk memiliki kedua orang tua yang utuh tanpa harus bercerai berai seperti ini, Ma ... Pa." Pinta Aish penuh harap.
Rey yang melihat dan mendengar permohonan istrinya sendiri pun, tanpa disengaja Rey menitikan air matanya. Betapa rindunya dari seorang anak pada kedua orang tuanya yang sudah sekian lamanya. Bahkan belaiannya pun tidak pernah ia dapatkan, yang Aish dapatkan hanya sebuah kebohongan semata.
Pak Soni dan Ibu Melin saling menatap satu sama lain, keduanya bingung untuk menjawabnya. Dengan tekad yang bulat dan dengan keberanian tanpa rasa malu, akhirnya Pak Soni membuka suaranya.
"Papa tidak keberatan jika kamu meminta Papa untuk kembali bersama Mama kamu, tapi apakah Mama kamu masih mau menerima Papa? lihatlah Papa mu ini yang tidak lagi muda dan hanya menjadi seorang ayah pecundang. Bahkan status ayah untuk Papa rasanya tidak pantas, karena tidak pernah menafkahi mu." Ucap Pak Soni memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari putrinya.
Ibu Melin yang mendengarnya pun terasa tersentil hatinya. Tidak dapat dipungkiri, Ibu Melin sendiri masih menyimpan serta menjaga rasa cintanya untuk Pak Soni meski sudah menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya.
__ADS_1
Karena tidak mampu menyembunyikan perasaannya, akhirnya Ibu Melin menyerah dengan perasaannya. Pada kenyataannya, Ibu Melin membuka suara dihadapan putrinya.
Senyum mengembang terlihat pada kedua sudut Ibu Melin, kemudian menatap wajah putrinya dengan lekat.
"Mama siap menerima permintaan mu, sayang. Mama mau kembali lagi dan membangun kembali rumah tangga yang pernah hancur karena keegoisan yang kini telah terkubur bersama keangkuhan diri." Ucap Ibu Melin, Aish akhirnya tersenyum bahagia dan memeluk ibunya kembali.
Ibu Melin yang bahagianya berlipat ganda, Beliau langsung mengecup kening putrinya dengan lembut. Aish membalasnya dengan mencium kedua pipi milik ibunya secara bergantian.
"Sekarang juga aku akan panggilkan seseorang untuk menikahkan kalian berdua lagi secara agama, untuk secara hukum menyusul dihari yang dimana Ibunya Aish sudah pulih dari sakitnya, bagaimana? setuju, ya." Ucap Tuan Ganan angkat bicara, Beliau tidak ingin keduanya tanpa ikatan, secepat mungkin harus sah untuk menjadi suami istri, pikir Beliau.
Pak Soni maupun Ibu Melin sama sama menganggukkan kepalanya dengan sedikit rasa malu. Rey dan Aish bersemangat untuk mendukung.
Setelah memdapatkan persetujuan dari kedua orang tua Aish, Tuan Ganan segera menghubungi anak buahnya sesuai perintahnya.
Dengan khidmat, pengucapan kalimat sakral pun telah terucap oleh Pak Soni tanpa ada beban apapun yang dipikulnya. Rey dan Aish mengucap puji syukur atas harapannya telah terkabulkan.
Setelah selesai, kini sudah waktunya Aish dan Rey maupun Tuan Ganan untuk berpamitan pulang. Dan tinggal lah Pak Soni dan Ibu Melin yang masih berada di rumah sakit.
Usai berpamitan, Tuan Ganan beserta anak dan menantu segera pulang.
Berbeda dengan perjalanan Zakka yang sedari tadi masih mengitari Hotel tanpa bosan. Karena Zakka juga merasa bosan dan capek, akhirnya ia menambah kecepatannya agar segera sampai ke tempat tujuan.
'Akhirnya sampai juga aku nya, lelah banget nih tanganku dari tadi nyetir mulu. Yang enak mah Kak Rey, berduaan sama istri. Lah aku, disuruh muter muter tidak jelas kek gini. Sudah kek nyari jodoh aja, muter muter ujung nya yang didapat nah! itu itu aja orang nya. Eh! ngomongin jodoh, kapan aku segera berjodoh. Nasib ku kenapa mesti kek Kakek Zio segala, ngenes jagain jodoh orang.' Batin Zakka, kemudian mematikan mesin mobilnya.
"Kita udah sampai, ayo kita turun." Kata Zakka sambil melepas sabuk pengaman nya.
__ADS_1
"Mana aku bisa turun, kedua mata aku saja ditutup." Jawab Rena sedikit kesal, pasalnya dari tadi hanya diajak muter muter tidak jelas.
"Eh iya, bodoh nya aku ini. Bentar, aku turun dulu." Ucap Zakka, kemudian ia segera turun dan membukakan pintu untuk Rena serta melepaskan sabuk pengamannya.
Karena tangannya tidak ingin menyentuh Rena, Zakka langsung menyuruh anak buahnya untuk menggandeng tangan milik Rena sampai didalam ruangan yang sudah dipesankan. Ruangan apa lagi kalau bukan ruangan yang sangat sepesial, pikir Zakka sambil menjadi juru bicara anak buahnya yang bertugas menggandeng tangan milik Rena sang pembuat masalah.
"Kok banyak orang berseliweran dengan hentakan kaki, kita sedang berada di Hotel beneran, 'kan? awas loh kalau sampai bohong." Tanya Rena dengan rasa penasarannya, namun ia tetap berpikiran positif terhadap Zakka yang sudah memberikan janji pada dirinya.
"Memangnya dimana lagi kalau bukan hotel, hem. Jangan berpikiran aneh aneh, bentar lagi kita sampai ke ruang kamar istimewa. Sabar dikit dong, jalannya jangan terburu buru. Percayalah denganku, aku tidak membohongimu." Jawab Zakka untuk meyakinkannya, Rena tersenyum merekah ketika tangannya semakin diremat oleh anak buah Zakka.
Sampainya di ruangan yang sudah disiapkan agar tidak kabur dengan seenaknya. Akhirnya Zakka tersenyum puas dan merasa lega ketika urusannya telah berhasil.
"Kita sudah sampai, aku akan membuka penutup matanya." Ucap Zakka, Rena pun mengangguk dan tersenyum merekah mendengarnya.
Dengan pelan dan hati hati disertai penjagaan yang cukup ketat, akhirnya Zakka melepaskan kain yang menutup kedua mata milik Rena.
Seketika, Rena terkejut melihat yang ada dihadapannya itu.
Hei readers setia, otor ada Novel Baru nih, yaitu novel kelanjutan Novel Pernikahan Bayaran yakni kisah Niko yang berjudul Nona Tajir Istriku sudah update ya...
Untuk novel Terjebak Sang Duda untuk sementara of dulu, otor mau namatin novel Zahra istri Pilihanku terlebih dahulu, sebab bentar lagi mau tamat, tinggal kisah Zakka dan setelah itu beres.
Maaf ya jika novel baru harus rilis ditanggal satu, karena ada hajat yang harus diselesaikan mengenai novel yang pertama. Jadi, mohon pengertiannya ya...
Otor usahain untuk bisa update dan tidak meninggalkan tanggung jawab, terima kasih banyak atas perhatiannya. Salam bahagia untuk readers setia 😘😘
__ADS_1