Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Fokus belajar


__ADS_3

Selama perjalanan menuju Kampus, Aish mengalami kemacetan di jalanan. Hingga membuatnya sedikit terlambat, namun tidak mengurangi semangatnya untuk menggapai cita citanya setinggi langit.


"Nona, kita sudah sampai." Ucap pak Dirwan selaku supir kepercayaan dari keluarga Wilyam.


"Terima kasih ya Pak, lain kali jangan panggil saya Nona. Tetapi panggil saja Aish, atau Zahra." Kata Aish yang merasa tidak nyaman dengan sebutan Nona, ia merasa terlalu dibesar besarkan dengan panggilan itu.


"Sudah menjadi kebiasaan saya, Nona. Kalau begitu, Nona silahkan masuk ke dalam Kampus. Didalam sudah ada arahan dari seseorang yang sudah kami hubungi, jadi Nona tidak perlu menyibukkan diri dengan antrian yang panjang. Karena Nona sudah terdaftar sejauh jauh hari, Nona cukup menyerahkan berkas yang ada di tangan Nona." Ucap Pak Dirwan memberi arahan.


"Iya Pak, terima kasih banyak atas kemudahan yang bapak lakukan. Kalau begitu saya permisi, Pak." Jawab Aish dan berpamitan, sedangkan Pak Dirwan mengangguk.


Sambil berjala menuju Ares Kampus, Aish celingukan kesana kemari. Berharap dirinya dapat nememukan kedua sahabatnya yang sudah janjian untuk ketemuan di Kampus.


"Aish!! tunggu." Seru seseorang memanggil nama nya, kemudian Aish langsung menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya dua orang yang tengah berlari untuk menghampirinya.


"Yunda, Afwan, kalian baru berangkat?" panggil Aish dan bertanya.


"Tidak sih, kita sudah berangkat dari tadi. Kamu sendiri baru berangkat?"


"Iya, habisnya macet dijalanan. Oh iya, tempat pendaftaran nya dimana ya?"


"Tempat pendaftarannya ada disana, ayo kita kesana. Urutannya panjang, kita harus bersabar untuk menunggu antrian." Kata Afwan, Aish hanya menganggukkan kepalanya.


'Alhamdulillah, akhirnya aku telah sampai juga di Kampus. Disinilah aku akan mengarahkan cita citaku, semoga aku bisa membawa keberhasilan sesuai harapan yang aku cita citakan sama ini.' Batin Aish penuh harap.


Setelah sampai di tempat pendaftaran, Aish melihat Antrian yang sangat panjang.

__ADS_1


"Permisi Nona, apakah Nona yang bernama Aishwa Zahra?" tanya seseorang tengah berdiri tegak dihadapannya.


Aish maupun Yahya dan Yunda ikut terkejut saat melihat sosok laki laki dengan postur tubuh bak body guard.


Dengan ragu Aish ingin menjawabnya, tiba tiba ia teringat akan pesan dari Pak Dirwan. Disaat itu juga Aish tersadar dari lamunannya.


"Iya Pak, nama saya Aish." Jawab Aish berusaha untuk tetap tenang.


"Bolehkah saya meminta berkas berkas pendaftaran nya?"


"Ini, ambil lah." Kata Aish sambil menyerahkan map yang berisi berkas berkas pendaftaran.


"Terima kasih, Nona bisa langsung pulang dan tidak perlu mengantri dengan antrian yang panjang." Ucap nya.


"Apa!! Aish langsung bisa pulang, Pak? kok begitu. Bukannya harus mengantri sesuai nomor urut? Bapak bukan orang jahat 'kan?" tanya Yunda dengan rasa tidak percaya ketika melihat Aish dengan mudah nya untuk mendaftar menjadi mahasiswi.


"Oooh begitu ya, Pak. Saya baru tahu, saya kira harus melakukan pendaftaran seperti yang lainnya." Kata Yunda yang baru menyadarinya kemudian orang tersebut langsung pergi begitu saja.


"Yah, langsung pergi orangnya." Sahut Afwan ikut menimpali.


"Iya tuh, semoga saja bukan Dosen. Kalau iya, terus masuk kedalam ke kelas kita, bisa bisa tegang terus deh." Kata Yunda mengomentari.


"Hem, tidak baik membicarakan orang lain. Oh iya, kita mau kemana nih? masa iya, mau berdiri disini terus." Sahut Aish mengingatkan, serta mengajak kedua sahabatnya untuk mencari tempat lain yang bisa untuk duduk bersantai.


"Bagaimana kalau kita pergi ke kantin saja?"

__ADS_1


"Boleh, kebetulan aku belum sarapan. Soalnya tadi aku buru buru." Sahut Aish yang baru teringat jika dirinya belum juga sarapan pagi, karena dirinya tengah sibuk dengan urus urusannya.


"Iya Yun, aku juga belum sarapan. Habisnya, kamu membuatku terburu buru. Baru aja mandi, kamu sudah heboh." Kata Afwan ikut menimpali.


"Ya maaf, aku kan takut terlambat. Setidaknya nomor urutan kita tidak lama lama amat, bentar lagi juga dipanggil." Jawab Yunda sambil berjalan beriringan menuju kantin yang berada didalam kampus.


Lagi lagi Aish kembali teringat sesuatu, dan sebisa mungkin ia segera menepis pikiran buruknya.


"Aish, kok tiba tiba kamu melamun? ada masalah dengan Yahya?" tanya Yunda membuyarkan Lamunan Aish.


"Tidak, aku tidak ada masalah dengan nya. Aku baik baik saja, tadi Yahya juga datang ke rumah kok." Jawab Aish masih sambil berjalan.


"Kirain? soalnya semalam itu, Yahya bercerita soal bertemunya dengan perempuan yang bernama Maula. Yahya khawatir jika kamu salah paham dan juga cemburu, begitu." Ucap Yunda menceritakan, sedangkan masih tidak bergeming.


"Iya Aish, yang dikatakan Yunda benar. Kamu jangan memikirkan hal itu, percaya deh kalau Yahya orang yang super setia. Katanya nih, setelah pulang dan berhasil menyelesaikan pendidikannya, Yahya akan segera menikahimu." Kata Afwan ikut menimpali.


"Sudah lah, jangan kalian bahas lagi. Aku sedang ingin fokus dengan dunia belajarku, aku tidak ingin menyia nyiakan waktu hanya untuk memikirkan sesuatu hal yang sangat tabu. Masih banyak hal yang harus aku lakukan serta aku pelajari, aku ingin fokus dengan cita citaku. Berada di Kampus ini adalah kesempatan emas bagi orang sepertiku, hanya mengandalkan prestasi." Ucap Aish yang tidak ingin ada pembahasan soal cinta, cinta, dan cinta, pikirnya.


Kedua sahabatnya pun merasa tidak enak hati, keduanya telah tertawa arus yang hanya memikirkan dunia cinta. Bahkan tidak ada kata penyemangat pun yang keluar dari mulut mereka berdua.


"Maaf ya, Aish. Bukan maksud kita berdua untuk terus bercerita dengan masalah mu, hanya saja aku memperjelas kesalahpahaman mu dengan Yahya. Kita tidak ada maksud lain kok, serius." Kata Yunda merasa bersalah.


"Iya Yun, maafkan kita berdua ya. Kita janji, tidak akan lagi membahas hal yang seperti tadi. Kita hanya akan membahas masa depan dengan cita cita, ok." Sahut Afwan ikut menimpali, sedangkan Aish hanya mengangguk. Terasa malas baginya untuk menjawab, ia merasa bosan ketika yang dibicarakan tidak ada manfaatnya.


Sekarang Aish lebih memilih untuk fokus dengan dunia belajarnya, sebisa mungkin dirinya untuk berjuang menuju kesuksesan. Meski berat rintangan yang harus dilewatinya, Aish akan tetap berusaha untuk menjadi bagian orang orang yang berhasil menggapai kesuksesan.

__ADS_1


Impian yang pernah ia ukir bersama sang ayah, membuat Aish untuk bersemangat mengejar cita citanya. Meski tanpa ada orang tua yang menyemangatinya dan menemaninya hingga berhasil, Aish tetap untuk menggapainya.


__ADS_2