
Acara pernikahan akan segera berlangsung, Sela masih dengan perasaan yang tidak karuan, termasuk dengan detak jantung nya yang berdegup sangat lah kencang.
"Nona, mari ikut saya." Ajaknya pada Sela, disaat itu juga datanglah seorang laki laki paruh baya yang mendekatinya. Seseorang yang sudah merias Sela pun, ia menyingkir dari hadapan pak Ramdan dan Sela.
"Sela, putriku. Bagaimana perasaan kamu hari ini nak? papa berharap kamu bahagia hari ini." Ucap sang ayah dan bertanya pada putrinya.
Sela tersenyum mendengarkannya, kemudian menatap serius pada sang ayah. Yang mana sebentar lagi akan menikahkan putrinya dan menyerahkan nya pada suaminya nanti.
Sedih, bahagia, kini telah bercampur aduk menjadi satu. Dari kecil, Sela hidup bersama sang ayah dan ibu tiri dengan waktu yang tidak lama. Semua butuh keikhlasan dan kesabaran untuk melewati perjalanan hidupnya.
Dipandanginya wajah orang tua yang tidak lagi muda, kantung mata yang mulai berkerut. Kini tidak terasa usia Sela yang beranjak dewasa.
Usia yang masih sangat muda, tapi tidak menunjukkannya tentang kesedihannya yang harus menikah di usia mudanya.
Cita cita yang masih panjang pada anak sebaya nya, kini harus berujung pada sebuah pernikahan.
Ingin rasanya berteriak, itu tidak akan bisa mengubahnya. Sela hanya bisa pasrah dengan apa yang harus dijalaninya.
Dengan hati yang sudah di tekadkan, dan juga sudah menjadi pilihannya. Sela tidak mungkin untuk menjadi seorang yang ingkar, janji tetap lah janji.
"Sela bahagia, jika mendapatkan restu dari papa." Jawab Sela dan lagi lagi ia tersenyum dan menunjukkan pada orang tuanya bahwa dirinya baik baik saja.
"Syukur lah, papa tenang mendengarkan nya." Ucap sang ayah dan juga ikutan senyum mengembang.
"Permisi, maaf sebelumnya, Nona diminta untuk segera berkumpul bersama para saksi dan tentunya bersama calon suami." Ucapnya, Sela mengangguk dan berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan untuk pengucapan kalimat sakral.
Dengan sangat hati-hati, Sela berjalan menuju tempat duduk nya.
__ADS_1
Dilihatnya calon suaminya yang tengah duduk di antara para saksi yang lainnya. Kemudian Sela dibantu untuk duduk disebelah sang suami.
Sudah pasti, Sela merasakan detak jantung nya berdegup sangat kencang. Napas yang awalnya terasa longgar, kini seakan terasa sangat sesak. Bahkan baju yang ia kenakan tiba tiba terasa gerah.
Menengok ke sebelah nya pun tidak, Sela tetap memilih dengan posisi menundukkan kepalanya.
Ingin menangis, itu sangat sulit bagi Sela. Selain malu, Sela juga merasa tidak ada artinya untuk menangis didepan umum.
Sedangkan Zakka, kini memilih untuk diam. Selain diam, Zakka tengah menghafalkan bacaan bacaan yang akan diucapkan nya didepan para saksi.
Berulang kali Zakka mengulangi kalimatnya, tetap saja masih ada rasa ketidak percaya dirinya. Takut, jika ada kesalahan dengan sebutan nama dan yang lainnya.
Setelah semuanya tengah berkumpul dan tidak ada yang tertinggal, Zakka mulai diberi sebuah pertanyaan sebelum kalimat sakral nya lolos dari pengucapan nya.
Kini mulailah acara akan segera dimulai, sebelumnya kedua calon pengantin di beri sebuah pertanyaan satu persatu secara bergantian.
"Saya terima nikahnya Seyla Azzahra bin Ramdani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" dengan lantang Zakka berhasil mengucapkan kalimat sakral nya.
"Saksi sah."
"Sah!" jawabnya dengan kompak dan juga dengan senyum bahagia pada para tamu undangan dan juga saksi.
Begitu juga dengan Winda yang sudah dianggap sebagai saudara, tidak lupa untuk datang dan tersenyum bahagia ketika melihat Sela tengah menikah.
"Kak Win, kok nama Sela jadi Seyla Azzahra? bukankah nama Sela itu, Sela Ramdani?" tanya Didin penasaran.
"Ya, nama Aslinya itu, Seyla Azzahra. Sela Ramdani itu nama setelah ibu tirinya ada." Kata Winda mengingat curhatan dari Sela.
__ADS_1
"Ooh, begitu ya." Kata Didin.
"Ya, benar." Jawab Winda.
Karena tidak ingin berlama lama, Winda dan Didin segera berpindah tempat. Kedua menikmati makanan yang sudah dihidangkan bersama para tamu undangan yang lainnya.
Kini, Zakka dan Sela tengah bersama orang tuanya. Disaat itu juga, Tuan Ganan dan bunda Maura teringat dengan menantunya yang sedang berjuang hidup bersama cucu pertama nya.
Karena waktu harus dibagi dengan yang satu dan yang lainnya, Tuan Ganan segera berpamitan sebentar bersama sang istri.
"Zakka putraku, dan Sela yang sekarang sudah menjadi anak Mama, selamat ya sayang atas pernikahan kalian berdua. Semoga bahagia selalu dan rukun dalam berumah tangga. Maafkan mama yang tidak bisa memberi hadiah yang lebih, hanya doa yang mama punya untuk kalian berdua. Bahagia selalu untuk kalian berdua ya, sayang." Ucap bunda Maura.
"Terima kasih banyak ya, ma. Doa dan restu dari mama itu sudah jauh lebih baik dari segalanya." Kata Zakka, begitu juga dengan Sela yang tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada ibu mertuanya atas doa yang baik untuk dirinya dan sang suami. Kemudian sang ayah pun ikut mengucapkan selamat untuk putranya dan menantu perempuan.
"Zakka dan Sela, selamat atas pernikahan kalian berdua. Papa doakan, semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan dalam rumah tangga kalian. Maafkan papa yang tidak bisa memberi hadiah yang lebih dari kata sebuah doa untuk kalian. Bahagia lah selalu untuk kalian." Ucap sang ayah memberi ucapan selamat untuk anak dan menantunya.
Keduanya pun menjawabnya dengan serempak, setelah itu datang pak Ramdani mendekati menantunya.
Zakka mulai sedikit canggung dan juga malu, malu jika dirinya akan menjadi pengkhianat kepada putrinya.
"Selamat ya, untuk pernikahan kalian berdua. Bahagia selalu dalam berumah tangga, dan juga saling menerima kekurangannya masing masing masing." Ucap pak Ramdan berhenti sejenak dan menarik napasnya pelan.
"Zakka," panggil pak Ramdan pada menantunya.
"Ya, pak." Jawab Zakka setengah menunduk, karena sadar yang ada dihadapannya itu adalah ayah mertuanya yang harus bersikap sopan kepada yang lebih tua. Sedangkan Tuan Ganan dan bunda Maura tengah menyimak pembicaraan dari Zakka, Sela, dan juga menantunya.
"Nak Zakka, bapak mohon sama kamu. Bapak mohon, tolong jaga putri bapak dengan baik. Jika putri bapak melakukan kesalahan, bapak mohon beri nasehat untuk nya. Jika sebuah nasehat tetap saja tidak didengar, beri ketegasan pada Sela. Jika kamu merasa kualahan dan tidak sanggup lagi, antarkan pulang ke rumah bapak. Begitu juga jika kamu sudah tidak mencintai putri bapak, kembalikan dengan baik baik, seperti bapak menyerahkan nya kepada kamu. Jangan kamu sakiti putri bapak melebihi sakitnya tentang hidupnya selama ini." Ucap pak Ramdan, seketika beliau menitikan air matanya.
__ADS_1