
Yevi masih terus memeriksa deretan nama murid murid satu kelasnya, rasa penasarannya pun terus menghantui pikirannya itu.
"Reynan Wilyam!"
Deg!
Seakan akan detak jantungnya tengah berhenti, Yevi benar benar shock membacanya. Masih penasaran dengan Zakka, Yevi melanjutkan deretan nama selanjutnya.
"Zakka Wilyam!"
Seketika, Yevi terasa mimpi ketika membaca nama Rey dan Zakka. Sesekali Yevi menarik napasnya pelan, kemudia membuangnya pelan.
Yevi masih benar benar tidak percaya, nama yang berbeda dan berakhiran yang sama. 'Apakah mereka satu keluarga? atau mereka berdua sepupu? pantas saja, waktu di Mall Zakka bisa menggunakan kartu tanpa batas. Rupanya Zakka adalah anak pemilik perusahaan GARUDA MANDIRI.' Batin Yevi dengan gemetaran, setelah itu senyum mengembang pun terpancar diwajah ayunya.
"Bagaimana? apakah kamu sudah menemukannya?" tanya Bapak Kepala Sekolah.
"Maaf Pak, saya mau bertanya lagi. Apakah Reynan dan Zakka adalah saudara kandung? maksud saya kakak beradik, atau ... kakak beradik sepupu?" jawab Yevi dan kembali bertanya.
"Oooh, Rey dan Zakka. Mereka berdua memang kakak beradik kandung, mereka berdua adalah saudara kembar." Kata Bapak Kepala Sekolah.
Lagi lagi Yevi benar benar terasa mimpi, jika Zakka adalah saudara kembar Reynan. Lelaki yang pernah disukainya karena ketampanannya dan sikap dinginnya yang membuat banyak teman sekolahnya menyukai sosok Rey, meski dinginnya kelewatan.
"Jadi, Reynan dan Zakka saudara kandung ya, Pak?" tanya Yevi untuk memastikannya.
"Ya, benar. Mereka berdua saudara kandung, satu ayah dan satu ibu. Reynan maupun Zakka sama sama anak dari keluarga ternama." Jawab Beliau memperjelas status Zakka dan Reynan.
'Kemana perginya Reynan, ya? apakah dia sudah menikah? secara sudah tidak bersama Zakka. Ya, aku sangat yakin jika Reynan sudah menikah. Berarti yang sekarang ini tinggal lah Zakka, aku harus bisa mendapatkannya. Apapun itu, aku harus masuk menjadi bagian keluarga Wilyam.' Batin Yevi dengan rasa percaya dirinya untuk mengambil hati seorang Zakka.
__ADS_1
Karena sudah mendapatkan informasi yang menurutnya cukup akurat, Yevi segera berpamitan untuk pulang. Ucapan terima kasih telah ia ucapkan kepada Bapak Kepala Sekolah dengan santun, kemudian Yevi pamit pulang.
Selama perjalanan, Yevi terus mencari cara untuk bisa mendekati Zakka. "Apapun caranya, aku harus bisa mendekatinya." Gumam Yevi sambil mencari ide nya.
Sedangkan di rumah Ibu Melin, Aish tengah disibukkan dengan berkas berkas yang sudah direncanakan untuk mendaftar di Perusahan yang tertera dalam selebaran kertas yang sudah Aish simpan dengan rapi.
"Aish," panggil Ibu Melin yang sudah diambang pintu kamar milik keponakannya.
"Ya, Tante." Jawab Aish sambil membereskan berkas berkasnya.
"Kamu yakin nih, kalau kamu mau mendaftar di Perusahan GARUDA MANDIRI? apa tidak sebaiknya kamu lanjut kuliah lagi."
"Maaf Tante, Aish sudah tidak sanggup untuk melanjutkan kuliahnya. Auah mau bekerja saja, Tante." Sahut Aish yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Bukankan kah sudah ada suami yang mampu untuk membiayai kuliah mu? jangan kamu sia siakan kesempatan emas ini, Aish." Kata Ibu Melin mencoba untuk membujuk keponakannya.
"Maksud kamu dengan Afwan dan Yunda?" tanya Ibu Melin untuk memastikannya.
"Ya, Tante. Siapa lagi kalau bukan Yunda dan Afwan, hanya mereka teman dekat Aish." Jawab Aish.
"Wah ... cincin yang kamu pakai sangat bagus sekali, Nak. Apakah Rey yang membelikannya untuk mu?"
"Ya, Tante. Rey yang membelikannya untuk Aish, ada kalung dan juga gelang." Jawab Aish malu malu, Ibu Melin pun tersenyum saat keponakannya mendapatkan perhatian dari suaminya.
"Tante ikut bahagia mendengarnya, kamu boleh simpan gelang dan kalungnya. Kamu bisa pakai setelah suami kamu pulang, kalau sekarang ini takut ada yang mempergokimu dan melempar sebuah pertanyaan. Tidak hanya itu saja, semua orang akan bertanya tanya tentang kamu. Cukup cincin ini yang melingkar di jari manismu. Bukannya Tante melarang mu, bukan karena iri, tidak. Tante hanya takut saja jika ada orang yang julid denganmu. Sebelum suami kamu pulang, lebih baik kamu tetap dengan kesederhanaanmu ini." Ucap Ibu Melin memberi sedikit nasehat untuk keponakannya.
"Ya, Tante. Terima kasih banyak atas nasehat nya untuk Aish."
__ADS_1
"Kamu yang sabar, Ya. Tante akan terus menyemangati kamu hingga kamu sukses dan bahagia." Ucap Ibu Melin menyemangati.
"Assalamu'alsikum." Ucapan salam telah mengagetkan Aish dan Ibu Melin yang tengah mengobrol di dalam kamar Aish.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Aish dan Beliau serempak. Kemudian Ibu Melin segera bergegas keluar untuk membukakan pintunya, sedangkan Aish sendiri cepat cepat membereskan buku buku yang berceceran di atas meja karena mau sisusun dengan rapi untuk disimpan.
"Yunda, Afwan. Ayo silahkan masuk, Aish sedang beres beres." Ucap Ibu Melin.
"Sebelumnya kita mau minta maaf, Bu. Jika kita berdua tidak bertanggung jawab saat mengajak Aish." Ucap Yunda sekaligus mewakilkan temannya.
"Tidak apa apa kok, jugaan Aish baik baik saja. Sekarang Aish sedang beres beres di dalam kamarnya, katanya kalian bertiga mau mendaftar kerja di Perusahan yang waktu itu membagi brosur di Kampus kalian, benarkah?" jawab Ibu Melin dan bertanya.
"Ya, Bu. Kita bertiga rencananya hari ini mau mendaftar pekerjaan, apakah Ibu Melin mengizinkan kami untuk mengajak Aish bekerja? jika tidak, kami tidak akan mengajak Aish untuk bekerja." Jawab Yunda yang tiba tiba merasa tidak enak hati, dan tentunya ada rasa takut.
"Tantu saja, Ibu akan mengizinkan Aish untuk bekerja. Hanya saja untuk tidak dibagian OB, kasihan Aish." Ucap Ibu Melin yang takut jika Aish tetap melamar pekerjaan ketika kuota telah habis, pikir Ibu Melin yang sedikit khawatir.
"In shaa Allah Aish tidak akan menjadi OB, Bu." Sahut Afwan ikut menimpali.
"Oh iya, ngomong ngomong kalian berdua tidak ikut takziah ke rumah nya Yahya, apa?" tanya Ibu Melin yang baru sadar jika Beliau mendapatkan kabar duka telah wafatnya orang tua Yahya.
"Sudah, Bu. Tadi malam kita usahakan datang, meski diguyur hujan lebat. Mau bagaimana pun, Yahya adalah teman sekaligus sahabat kami. Oh ya Bu, Apakah Aish sudah mendengar kabar tersebut?"
"Aish belum mendengarnya, kebetulan sudah tidak ada penyiaran ulang. Jadi, Aish tidak mendengar kabar duka itu. Biar lah, jugaan Aish masih terpukul." Ucap Ibu Melin yang tersadar jika Beliau keceplosan soal Yahya.
"Ibu Melin tau dari mana jika Yahya sudah menikah?" tanya penasaran.
"Dari tetangga tadi subuh, kebetulan Ibu ikut shalat berjamaah di masjid. Saat pulang, banyak Ibu ibu yang membicarakan pernikahan Yahya di rumah sakit secara mendadak." Jawab Ibu Melin.
__ADS_1