
Usai bersenda gurau katane kegalauan seorang Zakka, kemudian Tuan Ganan mengajak keluarga untuk makan malam bersama.
"Sayangnya tidak ada Rey, ya. Andai saja ada Rey dan istrinya, pasti akan tambah ramai nih. Jadi penasaran dengan istri Rey, perempuan yang sudah diperebutkan oleh kakak beradik." Ucap Omma Qinan membuka suara ketika akan dimulai makan malamnya.
"Ngobrolnya dilanjutkan nanti, sekarang ini lebih baik kita selesaikan dulu makan malamnya. Nanti kebanyak ngobrol yang ada selera makan kita berkurang, mulut kita sudah capek duluan." Timpal Kakek Angga yang hendak meraih sendok.
"Ya, Kek ..." jawab semuanya dengan serempak. Setelah mendapatkan peringatan dari kakek Angga, semuanya disibukkan dengan porsinya masing masing hingga selesainya menikmati makan malamnya bersama keluarga.
Usai menikmati makan malam, semua berpindah ke ruang keluarga untuk berbagi cerita.
Sedangkan di Toko kueh milik Aishwa, Sela masih disibukkan dengan pekerjaannya.
"Sela, sudah malam nih. Kamu serius mau lembur? nanti kalau kamu sakit, bagaimana? sayangi kesehatan kamu itu loh."
Sela hanya diam, ia tak ada minat sedikitpun untuk menjawabnya. Entah apa yang membuatnya terlihat bersedih, hingga Sela lebih banyak untuk diam.
"Sela, kamu melamun?"
"Eh Kak Marwa, Sela lagi banyak pikiran aja kok. Biasa di rumah sedang ada sedikit kendala." Jawab Sela beralasan.
"Kendala apa, Sela? ayo dong cerita sama Kakak. Kak Marwa janji tidak akan membeberkan ceritamu." Tanya Marwa penasaran.
__ADS_1
"Kak Marwa janji ya?" pinta Sela sedikit takut jika keluh kesahnya akan diketahui oleh yang lainnya dan juga akan ditertawakan.
"Ya Sel, Kak Marwa janji. Seperti siapa saja, Kakak kan yang dekat sama kamu selain Aishwa." Kata Marwa meyakinkan, Sela akhirnya mengangguk.
"Begini Kak, ayahnya Sela sedang sakit. Nah, sedangkan biaya untuk berobat dan operasinya sangat mahal. Sela bingung, ditambah lagi ada dua adik yang harus diberi nafkah. Sela mau pinjam uang, pinjam ke siapa. Sedangkan Sela sangat membutuhkan uang yang tidak sedikit. Uang untuk pengobatan ayah dan juga uang untuk mencukupi kebutuhan adik adiknya Sela Kak." Ucap Sela sambil menundukkan kepalanya.
"Sayangnya Kak Marwa tidak bisa bantu Sel, maafkan Kakak ya. Bisa bantu juga hanya sedikit. Apakah kamu sudah mengetahui semua biaya nya? katakan saja yang jujur, siapa tahu Kakak bisa bantu untuk menggalang dana pengobatan ayah kamu."
"Kurang lebih nya 150 juta, uang dari mana saya bisa mendapatkan jumlah nominal yang sebanyak itu Kak." Kata Sela dengan raut wajahnya yang terlihat sedih.
"Banyak banget ya Sel, kamu yang sabar ya. Ah ya, kenapa tidak meminta bantuan Aish saja. Suaminya kan orang tajir melintir, coba aja loh. Bukan kah Aish sangat baik sama kamu, kenapa tidak kamu coba aja dulu."
"Kamu kan belum mencobanya Sel, bagaimana kalau aku bantu kamu untuk menyampaikan keluh kesah mu sama Aish. Kita harus mencobanya, siapa tahu bisa membantu mu. Positif thinking aja dulu."
"Tidak lah Kak, Sela tidak mau merepotkan Kak Aish. Sela akan bekerja dengan giat, supaya bisa mengumpulkan biaya untuk pengobatan ayahnya Sela. Jugaan Sela sudah selesai ujian Kak, sudah banyak waktu luang untuk menambah penghasilan." Ucap Sela yang tidak ingin merepotkan orang yang ada disekitarnya.
"Sel, udah malam ini loh. Kita lanjutkan saja besok pagi, kasihan kesehatan kamu. Tidak baik jika kamu terlalu memaksa diri, yang ada nanti kamu jatuh sakit." Kata Marwa mengingatkan, takut jika Sela akan jatuh sakit karena terlalu memaksakan kehendaknya.
"Tapi Kak, Sela belum ngantuk. Lagian juga rumah Sela tidak jauh dari Toko kok, Kak. Sela masih bisa jika hanya sekedar pulang sendirian. Lebih baik Kak Marwa pulang aja, di tidak keburu jika harus pilang, Sela bisa tidur di dalam Toko ini." Jawab Sela mencari pembenaran atas dirinya sendiri.
"Sela ... sudah deh, kamu jangan memaksakan diri kamu itu. Nanti kalau kamu jatuh sakit, apa kamu tidak kasihan dengan ayah kamu dan adik adik mu. Mereka membutuhkan mu, jika kamu sakit, siapa yang akan menjadi pengganti mu? ayo lah kita pulang. Masih ada hari esok yang bisa kamu gunakan untuk mencari rizki. Percuma jika kamu memaksakan diri, dan pada akhirnya kamu jatuh sakit." Ucap Marwa mencoba untuk mengingatkan, disaat itu juga Sela terasa tersentil hatinya.
__ADS_1
"Maafkan keegoisannya Sela ya Kak, saat ini pikiran Sela sedang penat. Baik lah, Sela akan turuti nasehat Kakak. Benar juga apa yang dikatakan Kak Marwa, Sela masih ada ayah dan adik adik yang membutuhkan Sela." Jawab Sela merasa malu ketika dirinya tetap bersikukuh atas pendiriannya itu.
"Nah, gitu dong. Ini baru yang namanya Sela yang Kakak kenal, percaya diri dan tidak mudah untuk menyerah." Ucap Marwa tersenyum lega.
"Kalau begitu, Sela mau siap siap dulu ya Kak. Nanti kita pulangnya bareng, kebetulan kita kan satu arah." Kata Sela yang kini sudah dapat sedikit tersenyum, meski senyumannya itu masih menyimpan kesedihannya.
"Ya Sel, ayo kita bersiap siap." Ucap Marwa mengajak Sela untuk segera bersiap siap pulang ke rumahnya masing masing.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya dimana Aish dan suami yang tengah berada didalam kamar dengan posisi santai. Yakni dengan posisi Aish yang bersandar di kepala ranjang tempat tidurnya dan dengan kedua kakinya yang diluruskan. Sedangkan Rey dengan posisi yang berbeda, yaitu tiduran dalam pangkuan istri tercintanya. Kemudian dengan mesra Aish mengusap rambut tebal milik sang suami dengan lembut.
Rey yang posisinya sedikit miring menghadapi perut milik istrinya sambil mengusapnya pelan dan berulang ulang.
"Sayang, ingin rasanya aku mengulang masa lalu kita bersekolah. Coba aja dulu kita menikahnya masih sekolah, seru kali ya." Kata Rey sambil bernostalgia, Aishwa membulatkan kedua bola matanya. Rey tersenyum melihat ekspresi sang istri yang terlihat menggemaskan itu.
"Salah kamu sendiri pergi jauh, coba aja kamu masih tetap kuliah di dalam Negri." Jawab Aish yang tak mau kalah dari suaminya.
"Ya kan aku harus menyelesaikan pendidikan ku, sayang."
"Hem, gitu ya." Kata Aish dibuat cemberut, Rey yang melihat istrinya seperti tengah marah. Dengan cepat, Rey bangkit dari posisi tidurannya. Tanpa pikir panjang Rey langsung menci*um bibir ranum milik istrinya tanpa ampun, cukup lama keduanya menikmati kelembutan disetiap gerakan bibir masing masing yang saling bertautan satu sama lain.
Tidak hanya itu saja, Rey mulai menuntutnya lebih. Bahkan ia tak mampu untuk mengendalikan keinginannya yang sudah menggebu didalam sana.
__ADS_1