
Setelah mobil berhenti, Aish, Yunda, dan Afwan segera turun di perempatan jalan. Sedangkan Zakka memilih untuk turun yang paling akhir, karena tidak ingin rencananya gagal sebelum mendapatkan alamat rumah Aish.
"Aish, hati hati dijalan. Sampai bertemu besok, aku dan Yunda akan menghampirimu lagi." Ucap Afwan sebelum berpisah arah tujuan.
"Iya, aku tunggu kalian berdua besok pagi." Jawab Aish.
"Nanti jika Yahya menghubungimu, jangan lupa beri tahu aku." Ucap Afwan mengingatkan.
"Iya, kalian berdua tenang saja. Aku pulang, ya." Jawab Aish, kemudian segera pulang dengan jalan kaki.
Sedangkan Zakka yang melihat kedua teman Aish sudah berpisah jalan, dengan cepat ia segera turun dari mobil dan diikuti oleh sang kakak dari belakangnya.
Dengan sangat hati hati, Zakka mengikuti langkah kaki Ais dari belakang. Sesekali ia dan sang kakak bersembunyi ketika Aish menoleh kebelakang.
Dengan perasaan takut, tiba tiba Aish teringat dengan dua sosok laki laki yang menghantui pikirannya. Aish terus menoleh kebelakang, ia takut jika dirinya diikuti secara diam diam.
Tidak lama kemudian, Aish telah sampai didepan rumahnya. Rumah yang berukuran kecil, namun mampu memberinya kenyamanan tanpa berkeluh kesah.
Zakka maupun Reynan melihatnya seperti tidak percaya dengan kondisi rumah Aish yang jauh dari kata sederhana. Meski dilingkungan Aish dapat terbilang sederhana, namun menurut pandangan Reynan dan Zakka sangat jauh dari kata rumah sederhana.
"Sekarang kamu sudah tahu rumah Aish, 'kan? sekarang juga kita pulang. Jangan berbuat memalukan, ingat pesan kedua orang tua kita. Jangan sampai lupa tanggung jawab, hanya karena seorang perempuan." Ucap sang kakak mengingatkan.
"Iya sih, iya. Reseh lu kak, tidak suka apa lihat aku senang." Jawab Zakka, kemudian segera kembali ke tempat Asramanya bersama sang kakak yang selalu mengawasinya.
"Tenang saja, Aish. Aku akan perjuangkan kamu sampai waktunya tiba, tentunya setelah aku dewasa dan bisa bekerja dan pokoknya sukses lah, aku akan mendatangimu untuk aku pinang kamu." Gerutunya sambil berjalan.
__ADS_1
"Ngomong apaan kamu, ngelanturmu itu terlalu jauh Zakk. Kamu itu harus fokus belajar, masih saja mikirin perempuan." Sahut sang kakak, kemudian mempercepat langkahnya.
"Reseh banget lah, apa salahnya aku bermimpi. Selagi masih ada waktu dan kesempatan, kapan lagi, coba." Jawabnya dan mengejar langkah sang kakak yang semakin lebar langkah kakaknya, hingga membuatnya terburu buru.
Dilain sisi, Aish sudah berada di rumahnya. Sesekali ia mengingat kenangan bersama Yahya yang pernah ia lewati bersama kedua temannya, yaitu Afwan dan Yunda.
Aish yang berdiri mematung didekat jendela tidak ia menyadarinya, jika sang ayah sudah pulang dan melihat putrinya diambang pintu.
"Aish, kamu sudah pulang?" seru sang ayah memanggilnya, serta mengagetkan putrinya yang sedang berdiri sambil melamun.
"Eh, Papa. Jadi, Papa juga sudah pulang?" sahut Aish dan balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, Papa sudah pulang. Kebetulan, pintu kamu tidak ditutup. Jadi ayah memeriksanya, takut ada orang yang sudah masuk terlebih dahulu. Oh iya, Papa tadi beli sup buntut. Ayo, kita makan siang bareng. Nanti Papa mau berangkat kerja lagi." Ucap sang ayah mengajak putrinya untuk makan siang bersama.
Sedangkan Aish sendiri langsung mengunci pintunya dan segera mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Aish menoleh ke arah ponsel yang tergeletak diatas meja dan tepatnya di sebuah bingkai foto bersama teman teman satu sekolahnya. Difoto tersebut, ada sosok Yahya yang berdiri didekatnya. Masa masa SMP yang begitu penuh kenangan bersama teman dan sahabat sahabatnya.
Aish mendekati foto tersebut, kemudian mengambilnya. Lalu djtatapnya foto Yahya dengan lekat, seketika ia merasa rindu dan ingin bertemu. Namun, orang tuanya selalu menghalanginya untuk dekat dengan Yahya maupun laki laki lainnya.
Prinsip dari ayah Aish benar benar sangat kuat dan tidak bisa dirubah sedikitpun, sekali tidak ya tidak.
'Yahya, kamu pasti mempunyai kehidupan baru di Pondok pesantren. Tidak hanya itu, kamu pasti memiliki teman baru dan semua serba baru. Mungkin saja kamu akan lupa denganku, dan pastinya juga aku tidak sebanding dengan kamu. Ah! kenapa aku memikirkan kamu, jelas jelas semuanya itu semu. Yang dulu belum tentu akan sama dengan yang akan datang, semua dapat berubah. Apalagi jalan pikiran seseorang itu bisa berubah ubah pikirannya, membuatku sulit untuk bertahan.' Batinnya sambil menatap foto bersama teman temannya. Kemudian, ia meletakkannya kembali ketempat seperti semula.
Karena tidak ingin sang ayah menunggunya lama, Aish segera keluar dari kamarnya dan makan siang bersama dengan sang ayah.
Saat akan melangkahkan kakakinya untuk keluar dari kamar, tiba tiba ponselnya berbunyi dan berkedip berulang ulang. Senyum mengembang pun terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya, Aish kembali menoleh kearah ponsel yang sempat ia abaikan.
__ADS_1
Ketika Aish melihat siapa yang memanggil, tanpa pikir panjang langsung menerima panggilannya.
"Assalamu'alaikum, Aish. Apa kabarnya kamu?" sapa diseberang telfon mengucapkan salam santun pada Aish.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, kabarku baik dan juga sehat. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Aish dengan santun, dan juga balik menyapa.
"Kabar aku juga baik baik saja, sehat juga. Oh iya, bagaimana hari hari kamu di sekolah? banyak teman pastinya." Jawabnya, lalu bertanya tentangnya.
"Tidak, aku belum banyak teman. Hanya Yunda dan Afwan yang aku kenal, tidak untuk yang lain. Selain aku murid baru, aku belum bisa beradaptasi dengan semua murid. Kalau kamu sendiri pasti sudah banyak teman di sekolah dan di lingkungan Pondok pesantren, secara kamu orangnya mudah akrab dan juga pintar dan ..." ucapnya yang tiba tiba saja berhenti.
"Kenapa kamu berhenti? lanjutkan saja kelanjutannya, aku siap mendengarnya." Sahut Yahya yang penasaran dengan ucapan Aish yang mendadak berhenti.
"Tidak ada, aku kelabasan saja berbicara dengan kamu. Oh iya, apakah kamu merasa nyaman tinggal di Pesantren?" jawabnya beralasan, kemudian ia memilih untuk bertanya.
"Hem, pengalihan dari pertanyaan. Aku tidak tahu, karena aku baru memulainya. Semoga saja aku nyaman tinggal di pesantren, setelah itu tidak terasa aku pulang dan membawa segudang ilmu seperti yang Papa kamu minta padaku." Ucap Yahya yang kembali teringat saat dirinya mendapat pesan jika ingin mendatangi Aish harus berbekal ilmu. Pesan yang selalu menghantui pikirannya terus teringat disetiap ia dalam keadaan sendirian atau mengingat Aish yang selalu ia rindukan.
Yahya tidak dapat memungkirinya, ia hanya manusia biasa yang tidak luput dari lupa. Terkadang ia sendiri tidak dapat mengontrol perasaannya, meski itu dilarang sekalipun.
Tok tok tok.
"Aish, kamu berbicara dengan siapa, Nak? ayo cepetan keluar. Keburu supnya dingin, tidak enak lagi nanti." Seru sang ayah mengagetkannya.
"Iya Pa, sebentar lagi." Sahut Aish dari dalam kamar, Yahya yang mendengarnya pun berubah menjadi khawatir. Dirinya takut, jika Aish akan mendapat hukuman dari ayahnya.
Sedangkan Aish sendiri pun kaget dibuatnya, tanpa mengucap salam langsung menutup panggilannya.
__ADS_1