
Sambil berjalan menuju rumah yang pernah Aish singgahi, Ibu Melin begitu cemas memikirkan keadaan Aish. Sampainya didepan rumah, Ibu Melin celingukan dan memperhatikan keadaan rumah, tatap aja masih terlihat sama. "Sepi! kemana perginya Aish? apa mungkin dia sedang beeada di Toko kueh? bisa jadi sih." Gumam Ibu Melin ketika tidak mendapati keberadaan Aish di rumah lamanya. Sambil berpikir, Ibu Melin segera beranjak pergi dari halaman rumah orang tua Aish.
"Mang Ocan! Mang, tunggu." Panggil Ibu Melin saat sepasang matanya melihat tukang ojek tengah lewat dijala raya, disaat itu juga Ibu Melin segera menghampirinya.
"Ya Bu, ada apa Bu Melin?" tanyanya sambil mematikan mesin motornya.
"Antarkan saya ke Toko kueh nya Aish ya, Mang." Jawab ibu Melin yang sudah tidak sabar ingin segera menemukan keberadaan keponakannya sendiri. Mau bagaimana pun, Ibu Melin mempunyai tanggung jawab penuh atas keponakannya.
"Baik Bu, mari." Ucap Mang Ocan, kemudian menyalakan mesin motornya.
Sedangkan didalam ruang kamar yang dijadikan tempat untuk istirahat, Rey tengah berc*umbu mesra dengan istrinya. Meski tidak menuntutnya lebih, sebisa mungkin Rey berusaha untuk menahannya. Ia tidak ingin menambahkan rasa sakit pada tubuh istrinya karena ulahnya di pagi hari, setidaknya ada jeda untuk beristirahat beberapa waktu.
"Sudah sore, sayang. Kamu mandi duluan, ya. Aku tunggu kamu dibawah bersama karyawan mu yang lainnya, mandi yang bersih." Pinta Rey sambil merapihkan pekaiannya yang terlihat kusut, kemudian ia segera bergegas untuk keluar. Aish yang menganggukkan kepalanya.
"Tunggu, kamu tidak ..." tiba tiba Aish tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.
Rey yang mengerti maksud dari istrinya, ia kembali mendekatinya yang tengah berdiri kaku dengan raut wajah yang terlihat gelisah . "Aku sudah mengatakannya padamu, jika aku inu tidak bisa shalat, apakah kamu belum juga mengerti? tapi bukan berarti aku tidak mau belajar. Aku masih butuh waktu memantapkan niatku, dan tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan." Sahut Rey dengan tatapan cukup serius, kemudian ia meraih tangan istrinya dan meletakkan didada bidangnya.
"Aku butuh kamu, ya kamu." Ucapnya singkat, padat, dan menyentuh hati istrinya. Aish kembali menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk mencerna ucapan dari suaminya itu.
Karena tidak ingin mengulur ngulur waktu, Rey langsung pergi meninggalkan istrinya begitu saja. Sikap dingin yang kapan saja bisa berubah, begitu juga dengan sikap manis yang kapan saja bisa muncul.
__ADS_1
'Apa aku harus mengajarinya untuk beribadah? tapi aku takut jika dirinya tidak merasa nyaman saat aku mengajaknya untuk belajar. Apa yang harus aku lakukan? sikap dingin yang terkadang berubah secara tiba tiba, bahkan sikap manis dan manjanya terkadang membuatku senam jantung dan membawaku melanglang buana. Bahkan aku serasa terhipnotis dengan ucapan dan pengakuannya.' Batin Aish dengan berbagai macam pertanyaan mengenai suaminya yang mudah berubah ubah, pikirnya.
Karena tidak ingin berlama lama berada didalam ruangan istirahat, Aish segera membersihkan dirinya dengan air hangat. Berharap rasa pegal, sakit, dan lainnya pun segera berkurang. Ditambah lagi dengan waktu yang tidak lama lagi akan menjadi malam, pikiran Aish kembali melanglang buana.
"Kenapa juga aku harus memikirkannya, ada apa dengan isi kepalaku ini? oh! tidak. Sepertinya semakin hari semakin tidak karuan pikiranku ini, aku harus tatap rileks. Agar otot ototku tidak menjadi tegang, dan juga tidak membuatku semakin gelisah." Gumam Aish sambil berjalan menuju kamar mandi.
Rey yang ikut berkumpul bersama para karyawan lainnya, ia ikut membantu menyelesaikan pekerjaan yang tengah dikerjaan bersama karyawan istrinya.
"Nak Rey, kamu ada disini? dimana Aish, dimana Nak?" tanya Ibu Melin yang tiba tiba sudah berada didalam Toko. Rey sendiri terkejut melihatnya, ia segera menyudahi kesibukannya yang tengah membantu mengemasi barang barang dagangan milik Toko kueh istrinya itu.
"Tante Melin, ada apa?" tanya Rey sambil berjalan menuju tampat cuci tangan. Sedikitpun Rey tidak menunjukkan sikap kekesalannya karena ulah dari putrinya.
"Dimana Aish?" tanya Ibu Melin sembari celingukan.
"Tante sangat mengkhawatirkan keadaannya, Tante ingin mengajaknya untuk pulang." Jawab Ibu Melin dengan gusar, tentu saja Beliau tengah dihantui dengan rasa bersalahnya atas kepulangan anak perempuannya.
"Aish akan tinggal bersama Rey, Tante. Sebelumnya Rey mau minta maaf, jika Rey harus membawa Aish pulang ke rumah Rey yang baru. Dan maafkan Rey yang tidak bisa mengajak Tante untuk tinggal bersama kami, dikarenakan ada Rena putri Tante. Bukan maksud Rey tidak mau mengajaknya, Rey tidak ingin istri Rey terganggu." Ucap Rey sambil menangkupkan kedua tangannya penuh permohonan atas rasa ketidak adilan nya karena sesuatu hal yang tengah menghalanginya, yakni kehadiran Rena yang menurutnya bisa menjadi bumerang dalam rumah tangganya, pikir Rey dengan matang matang.
"Tidak apa apa, Tante bisa memakluminya. Tante akui, putri Tante si Rena sudah bersikap tidak baik pada Aish. Kamu berhak membawanya pergi, karena Aish sudah sah menjadi istrimu. Tante hanya bisa berpesan, jaga Aish dengan baik. Berikan kasih sayang mu dengan tulus untuknya, karena Aish satu satunya harta yang paling berharga milik Tante."
DEG!
__ADS_1
Rey terkejut saat mendengar ucapan dari Ibu Melin mengenai bahwa Aish satu satunya harga paling berharga.
"Maksud Tante?" tanya Rey yang ingin mengetahuinya lebih jelas lagi.
"Maksud apaan, Nak Rey?" tanya Ibu Melin yang tidak mengerti.
"Tante bilang bahwa Aish harta satu satunya yang paling berharga, itu maksudnya apa Tante? tolong jelaskan pada Rey."
"Oooh soal itu, karena Tante sudah menganggap Aish seperti anak kandung Tante sendiri." Jawab Ibu Melin dengan tenang, Rey yang mendengarnya pun masih tidak mempercayainya.
"Begitu ya, Tante. Maaf Tante, Rey terlalu jauh menangkap ucapan dari Tante Melin." Ucap Rey mencari alasan.
Saat sedang mengobrol, tiba tiba sepasang mata Rey tertuju pada istri tercintanya yang tengah menuruni anak tangga. Rey tersenyum mengembang saat memperhatikan sang istri yang terlihat begitu cantik dan anggun dengan penampilannya.
"Tante Melin, sama siapa Tante datang kesini?" tanya Aish sambil berjalan mendekat. Ibu Melin tersenyum melihatnya, Aish membalasnya dengan senyum manisnya.
"Tidak dengan siapa siapa, Tante datangnya sendirian. Tante mengkhawatirkan keadaan kamu, takut terjadi sesuatu pada diri kamu. Makanya, cepat cepat Tante mendatangi Toko kueh kamu ini. Sebenarnya kedatangan Tante kemari mau mencari keberadaan kamu dan meminta maaf atas kesalahan Rena terhadap kamu. Karena Tante sendiri tidak tahu jika Rena akan pulang hari ini, maafkan kesalahan Rena ya, Nak." Ucap Tante Melin dengan perasaan tidak enak hati.
Aish meraih kedua tangan Ibu Melin dan menatap beliau dengan senyumannya.
"Aish tidak apa apa kok Tante, serius. Tante tidak perlu meminta maaf sama Aish, karena Aish tidak mempermasalahkannya. Hal yang wajar jika seorang anak merasa cemburu karena kasih sayang, Tante. Oh ya, Aish yang mau meminta maaf, jika Aish tidak bisa pulang ke rumah Tante. Em ... soalnya Aish, em ...." Ucap Aish terasa berat untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Aish mau tinggal bersama Rey, Tante." Timpal Rey yang langsung menyambar ucapan dari istrinya.