Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Menuju pernikahan


__ADS_3

Didalam kamar, Zakka tengah bersiap siap dibantu oleh Aidan. Sedangkan di kamar Rey, kini tengah panik karena Aish sudah merasakan sesuatu didalam perutnya.


"Rey, cepat kamu hubungi Ibu mertua kamu untuk menemani istri kamu ke rumah sakit. Dan kamu, cepat bawa istri kamu ke rumah sakit." Perintah Bunda Maura, Rey mengangguk dan segera menghubungi Ibu mertuanya.


Aish yang sedari tadi merasakan kontraksi hebat, tidak henti tentinya ia berdzikir. Rey yang melihat istrinya yang tengah menahan rasa sakit pada perutnya. Secepatnya ia langsung menggendong istrinya sampai didepan rumah hingga masuk mobil dengan langkah kakinya yang terburu buru dan juga panik.


"Sayang, bersabarlah. Kita akan pergi ke rumah sakit, jangan panik." Ucap Rey sambil menggendong istrinya.


Tuan Ganan yang sekilas melihat putranya sambil menggendong dan dengan langkah kakinya yang lebar, Beliau langsung panik jika terjadi sesuatu dengan menantunya.


"Ma, Aish kenapa? kenapa menggendong Aish? apakah Aish jatuh? bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Ganan memberondong berbagai banyak pertanyaan.


Bunda Maura pun panik, jika terjadi sesatu dengan menantunya.


"Aish mau melahirkan, kita tidak bisa menemaninya karena bertepatan dengan hari pernikahannya Zakka. Mau bagaimana pun, kita harus bisa mengatur waktu. Kita temani Zakka sampai selesai acara ijab Qobul nya. Setelah itu, kita langsung pergi ke rumah sakit." Kata bunda Maura dengan panik, satu menikah, dan yang satunya melahirkan. Kedua duanya sama sama membutuhkan pendamping, tapi mau bagaimana pun harus bersikap adil.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Zakka, mana? sudah turun atau belum?" ajak Tuan Ganan dan mencari keberadaan putra keduanya.


"Mama, kak Aish kenapa? kok mobilnya terburu buru kelihatan panik begitu." Tanya Neyla yang baru saja datang.


"Kakak kamu mau melahirkan, ayo kita berangkat. Takutnya acaranya akan mundur, ayo." Jawab bunda Maura dan mengajak putrinya untuk segera berangkat ke acara pernikahan putranya.


"Apa? kak Aish melahirkan? keponakan, duh... padahal Ney pingin banget nememani kak Aish dan menerima keponakan baru." Kata Ney sedikit kecewa.


"Waktu kita tabrakan, nanti saja kalau acaranya sudah selesai. Kamu dan Senyn bisa pergi ke rumah sakit, karena sekarang ada acara yang juga penting." Jawab bunda Maura.


"Tapi Ma, siapa yang nemani kak Aish?"


"Ada ibu nya, kamu tidak perlu khawatir. Ayo kita berangkat, nanti kita telat."


"Ya, Ney. Nanti kita telah, ayo kita berangkat." Sambung ayahnya dan beliau segera bergegas pergi dari rumah.

__ADS_1


Sedangkan Zakka kini sudah berada didalam mobil, ia pun sudah mendengar jika Aish mau melahirkan. Lagi lagi ingatannya kembali muncul sosok perempuan yang ada dalam pikirannya, secepat mungkin Zakka langsung menepis bayangan dalam ingatannya.


Zakka kembali mengingat sosok perempuan yang akan menjadi istrinya. Senyum senyum tidak jelas, membuat Aidan semakin bergidik ngeri melihatnya. Takut takut, jika majikannya mengidap ketidak warasannya.


"Tuan sedang bahagia, bukan?" tanya Aidan yang akhirnya membuka suara. Zakka langsung menoleh ke sumber suara, kesiapa lagi kalau bukan pada Aidan. Lelaki yang dijadikan teman sekaligus sekretaris untuk Zakka.


"Tentu saja aku sedang bahagia, bukankah hari ini aku akan menikah? ada ada saja pertanyaan kamu itu." Jawab Zakka dan kembali menatap lurus kedepan.


"Kiran saya, Tuan muda tengah bermimpi disiang bolong begini." Kata Aidan tanpa canggung, Zakka mendelik.


"Hem, itu hanya cara berpikirnya kamu saja. Aku masih normal, tidak seperti mu."


"Seperti ku, Tuan?"


"Ya, seperti mu. Sejauh ini, kamu tidak pernah menunjukkan kepada publik jika kamu telah mempunyai pasangan." Tuduh Zakka tanpa menoleh, Aidan menelan salivanya dengan susah payah. Bahkan lehernya saja sudah terasa tercekik.


"Karena saya masih memiliki banyak cita cita, Tuan? wajar saja jika saya ini harus bertahan pada kejombloan kita, Tuan."


Sedangkan di rumah sakit, Aish tengah ditangani oleh seorang Dokter kandungan dan juga ditemani seorang bidan.


"Masih bukaan enam, Nona. Bersabarlah, banyak banyak untuk bergerak. Suami tidak lupa untuk membantu sang istri, jangan abaikan. Saya minta untuk tetap diperhatikan, kalau boleh saran untuk banyak bergerak." Ucap Ibu Dokter memberi saran.


Sedangkan Aish masih terus merasakan kontraksi yang begitu hebat rasanya. Ingin berteriak, itu tidak akan mungkin. Ingin menangis, itupun tidak akan mungkin Aish lakukan.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya kedua orang tua kandung Aish telah datang.


Panik, itu sudah pasti. "Aish, bagaimana keadaan kamu, nak? apa yang kamu rasakan ini sangat sakit dan tidak karuan?" tanya bunda Melin pada putrinya.


"Sakit yang sangat sulit untuk dijelaskan, Ma." Jawab Aish sambil memegangi perutnya.


Aish hanya bisa nurut ketika sang ibu yang hanya memberi arahan kepada putrinya tanpa lelah.

__ADS_1


Ditempat lain, kini Sela tengah dirias dengan dandanannya yang akan merubah nya menjadi sangat cantik.


"Mbak, sudah atau belum sih? aku sudah terasa sangat capek ini, mbak." Tanya Sela dengan lesu, pasalnya rasa kantuk nya kini tengah menguasai kedua matanya itu.


"Sebentar lagi juga selesai kok, Nona. Besabarlah sedikit, Nona." Jawabnya sambil merapihkan penampilan Sela yang benar benar sudah berubah.


Tidak lama kemudian, dandanannya pun telah selesai.


"Buka lah kedua matanya Nona, dan lihat lah hasil nya. Saya berharap, semoga Nona menyukai dengan penampilan nya.


Pelan pelan, Sela membuka kedua matanya tepat pada cermin yang ada didekatnya.


Alangkah terkejutnya ketika melihat penampilannya tepat didepan cermin. Lagi lagi Sela menepuk kedua pipinya, takut yang keduanya adalah hanya mimpi, pikirnya seperti tidak percaya.


Kedua orang perisa pun, tersenyum melihat ekspresi Sela yang dapat membuat orang lain tersenyum dengan tingkah nya yang lucu itu.


" Nona, ini bukan mimpi. Apa yang Nona lakukan barusan, itu adalah memang benar nyata. Lihatnya, Nona terlihat sangat cantik. Saya yakin jika suami Nona bakal kaget saat melihat penampilan Nona yang sekarang ini."


"Ah, mbak nya jangan bikin napasku sesak. Masih banyak lagi perempuan yang cantik nya melebihi saya, mbak." Kata Sela yang dari dulu tidak menyukai pujian, sekalipun bersama orang yang tidak dikenalinya.


Selesai tidak ada yang kurang dengan penampilan dari Sela, beberapa orang sudah datang dan mengajaknya untuk segera keluar.


Sela masih terasa gugup dan tentunya was was. Ingin rasanya berteriak, tetap saja tidak bisa. Sela hanya mampu untuk mengatur pernapasan nya agar tidak semakin panik dan juga gugup.


Begitu juga dengan Zakka yang sama paniknya ketika mau menghadapi kalimat sakral, sebisa mungkin untuk tetap terlihat baik baik saja.


Hai readers setia... maaf ya, jika otor telat update. Dikarenakan lelah, seharian penuh kemarin otor istirahat. Maaf juga jika tidak nyambung, kok tiba tiba Aish sudah berada di rumah sakit, jawabannya ada di bab sebelumnya ya. Kemarin otor tambahin banyak, sekitar ada 700 kata lebih. Takut tidak nyambung boleh dibaca lagi.


Untuk novel Menikahi mantan kekasih, maaf ada kesalahan update. Saking banyaknya bab yang kemarin di update tanggal 31, membuat otor salah up. Tapi sudah direvisi yang satu bab, yang dua sedang dalam perjalanan up.


Maaf banget ya readers... 🙏🙏🙏

__ADS_1


mulai hari ini up rutin ya.. biar cepat selesai dan kita bisa lanjut yang baru... semangat... 😘😘😘


__ADS_2